Fly to You

1286 Kata
Takdir macam apa ini? Jangan-jangan, ini jawaban dari semua doa yang aku panjatkan selama tiga tahun terakhir. Ya, ampun! Terima kasih banyak, ya Allah! - HAPPY READING - Petualangan mengejar Faris akhirnya resmi dimulai, ketika pesawat yang membawaku terbang di angkasa dan melintasi separuh Indonesia, mendarat dengan selamat di Bandara Changi, Singapura. Dengan berat hati, Mande membatalkan rencana kerja praktik, karena kondisi mamanya yang belum juga membaik sampai sekarang. Tinggal aku sendiri yang tetap lanjut. Untungnya, pihak sana tetap menerima. Aku juga sudah beberapa kali berbicara lewat telepon dengan Aninda, asisten pribadi Takiga. Suaranya terdengar ramah dan baik. Jadi aku optimis, kerja praktikku pasti bisa berjalan dengan lancar. Awalnya aku kira, persyaratan yang Mama kasih belum pasti, tapi ternyata tidak. Perjalananku dari Jakarta hingga ke Singapura, ditemani oleh seorang bocah lelaki yang sebentar lagi akan menjadi anak SMA. Sebetulnya dia sudah tidak bocah, sih. Tetapi, kalau orang tuanya saja masih menganggap dia bocah sampai harus aku jaga, berarti dia memang masih bocah, kan? Farhan namanya. Dua tahun lalu, kami sudah sempat bertemu satu kali, ketika aku menemani Mama arisan. Karakternya tidak berubah. Masih cuek dan irit bicara. Berkali-kali aku harus menegur, supaya dia mau mengalihkan sedikit perhatiannya dari game online yang sedang dia mainkan untuk menjawab pertanyaanku. Di tengah perjalanan, akhirnya aku menyerah. Pasti dia bakal bicara kalau sudah merasa lapar atau harus pergi ke toilet. Jadi, aku diamkan saja. Sebelum keluar dari area bandara, aku mengabsen satu per satu koper yang berjejer rapi. Koper berwarna pink dan biru gelap milikku, juga koper berwarna abu tua milik si bocah. Mataku sesekali menoleh ke arah ABG bertampang datar tanpa semangat yang berjalan di sebelah. Kayak terpaksa banget pergi liburan. Padahal aku yakin, pasti anak-anak seusianya itu seharusnya penuh semangat. Aku saja lagi semangat empat lima sekarang. Oh, iya. Mama dengan jelas berpesan untuk memastikan Farhan sampai di tujuan dengan selamat. Mamanya Farhan juga melakukan yang sama. Sebelum aku dan Farhan pergi, beliau memberiku amplop berisi ongkos untuk naik taksi dari bandara sampai ke apartemen. Katanya, jangan naik MRT. Bawaan kami banyak. "Farhan, kamu mau ke toilet sebelum naik taksi, nggak? Takutnya jalanan macet," kataku ketika melihat papan penanda bergambar symbol laki-laki dan perempuan. Anak itu hanya menggeleng, tanpa melambatkan langkah kaki. Aku sempat mendengkus sebal. Sepertinya, tingkat keimananku benar-benar sedang diuji sekarang. Udara panas dan lembab yang disertai oleh tiupan angin berkecepatan sedang, menyambut kami begitu keluar dari pintu kedatangan. Sebelumnya, aku sudah pernah ke Singapura. Namun, ini pertama kalinya aku menggunakan taksi untuk pergi ke pusat kota. Biasanya aku naik MRT yang jelas lebih terjangkau biayanya. Papan petunjuk di bandara Changi yang sangat lengkap dan jelas, agaknya begitu membantu. Tidak butuh waktu lama, aku sudah bisa menemukan di mana barisan taksi bandara berada. Aku memilih taksi berwarna merah, yang berada di barisan paling depan. Menurut info yang aku dapat, taksi dengan warna merah, kuning dan biru, tarif argometernya lebih murah jika dibandingkan dengan taksi berwarna hitam, abu-abu, putih dan krem. Farhan lebih dulu masuk ke dalam taksi. Sementara aku memastikan koper-koper kami sudah dimasukkan semua ke dalam bagasi, sebelum menyusulnya. Setelah memperlihatkan kertas bertuliskan alamat apartemen pada supir taksi, kendaraan pun mulai melaju bersamaan dengan detak jantungku yang berpacu semakin cepat. Telapak tangan ini tiba-tiba basah. Padahal, ketemu Farisnya masih entar. Namun, gugupnya sudah melonjak dari sekarang. "Teh Ira, kata Aa, dia lagi pergi. Jadi aku dikasih tau password pintunya, nih," ujar Farhan bikin aku langsung menoleh ke arahnya. Tumben sekali dia yang lebih dulu berbicara. "Oh ... ya, udah. Btw, Farhan. Besok aku udah mulai masuk kerja, ya. Kamu sendirian nggak apa-apa, kan?" Setelah aku teliti, Farhan ini anaknya cukup mandiri. Sendirian di apartemen dari pagi sampai sore, seharusnya aman-aman saja. Asal ada makanan lengkap. "Iya, Teh. Besok rencananya Aa mau cuti, terus ajak aku keliling, kok. Tapi hari Sabtu, Teh Ira bisa ikut ke Sentosa, nggak?" Aku mengangguk. "Kalau nggak masuk, ya? Soalnya aku belum tahu, hari Sabtu libur apa enggak. Takutnya, libur hari Minggu doang." Farhan membalas dengan dehaman cukup panjang, lalu kembali fokus dengan ponselnya. Sampai sekarang aku belum tahu pasti siapa nama dari lelaki yang akan menjadi teman satu apartemenku, selama empat puluh lima hari ke depan. Mama menyebutnya Esa, sementara Farhan hanya memanggilnya dengan panggilan 'Aa' saja. Sebetulnya aku agak penasaran, tapi berkenalannya pas ketemu sajalah. Kalau banyak tanya, takut dikira kepo. Dua puluh menit berlalu tanpa terasa. Taksi yang membawa kami berdua, berbelok ke jalan yang lebih sepi. Barisan pertokoan berlantai tiga dengan warna cat yang hampir senada, menyambut kedatangan kami. Sejak tadi, mataku sibuk mengamati sekaligus menghafalkan rute jalan. Yang paling menarik perhatian itu, barisan restoran dan kafe yang berhasil membangkitkan jiwa tukang jajanku. Namun, dengan sekuat tenaga aku tepis. Aku sadar, kalau harus benar-benar berhemat jika ingin hidupku aman dan damai sampai kerja praktikku selesai. "Teh, udah sampe," Farhan menegur sembari menyenggol lenganku. Ternyata, terlalu fokus berpikir membuatku tidak lagi melihat ke depan. "Oh, oke. Farhan, tolong bantuin bawa koper, ya," pintaku padanya. Farhan mengangguk, lalu keluar dari dalam sedan menyusul supir taksi yang sudah lebih dulu pergi membuka bagasi. Setelah melihat berapa total biaya taksi dan memastikan tidak ada yang tertinggal di dalam mobil, aku pun ikut keluar. Untung saja, anak ini cukup penurut. Tanpa perlu diingatkan lagi, ia sudah membantu supir taksi memindahkan koper dari bagasi ke tangga keramik yang ada di depan pintu masuk apartemen. Aku mengamati dalam diam. Ingin mengetes sejauh mana tanggung jawab si Farhan. "Thank you, Sir," kataku pada sang supir taksi ketika menyerahkan beberapa lembar uang dolar Singapura. Ia mengangguk, tersenyum, lalu tangannya bergerak gesit menghitung ulang bayaran yang ia terima. Setelah pria paruh baya itu pamit, aku baru bisa melihat dengan jelas penampakan apartemen yang akan aku tempati. Bangunan tiga lantai yang cukup lebar, dengan d******i warna keabuan berdiri tegak di hadapan. Kosen-kosen jendelanya berukuran sedang. Terbuat dari kayu yang disusun teratur dari atas hingga ke bawah. Mirip dengan model kosen rumah khas Betawi, tetapi dengan sedikit sentuhan modern. Lingkungan sekitar sini bersih dan tenang. Sepanjang mataku memandang, tidak ada sampah berserakan di trotoar jalan. Farhan lebih dulu berjalan masuk ke dalam lobi apartemen dengan membawa kopernya. Aku mengikuti sembari menarik paksa koper biru gelapku, yang berukuran besar. "Farhan, tunggu dulu, ya! Koper Teteh satu lagi masih di depan. Jangan naik lift dulu. Tungguin!" seruku sebelum berbalik untuk mengambil koper pink yang masih teronggok di tangga. Langkah kaki yang semula lebar langsung berhenti dalam satu hentakan, ketika mataku beradu pandang dengan sosok lelaki yang menjadi tujuan utamaku pergi ke Singapura. Faris! Dia, ada di hadapanku. Sekarang. Detik ini juga. Berdiri dalam diam, persis sepertiku. Waktu rasanya seperti berhenti berputar. Mata dan mulutku terbuka lebar, saking kagetnya. "A Esa!" seru Farhan dari arah belakang. Aku masih terdiam mematung di tempat. Namun, kepalaku ikut bergerak mengikuti pergerakan Farhan yang berlari menghambur ke arah Faris. Esa? Jadi, ternyata Esa ini, Faris? Oh. Faris Mahesa. Esa. Takdir macam apa ini? Jangan-jangan, ini jawaban dari semua doa yang aku panjatkan selama tiga tahun terakhir. Ya, ampun! Terima kasih banyak, ya Allah! Senyumanku pun merekah, sangat lebar. Rasanya aku ingin berteriak dan menari-nari. Kalau ketiga sahabatku tahu, pasti mereka heboh bakal banget, deh. Aku menanti dengan gugup, sembari memegang jantung yang sekarang berdetak sangat cepat. Kakiku melemas. Sepertinya, tidak lama lagi aku bakal pingsan. "Hai, Ra! Apa kabar?" sapanya riang, seraya menyodorkan tangan kanannya padaku. Ini pertama kalinya dalam dua tahun terakhir, aku mendengar suara Faris secara langsung tanpa perantara apapun. Dan dia, memanggil namaku. Menyapaku sembari tersenyum manis. Persis seperti yang aku lihat dulu. Aku berupaya menahan diri, sambil mengangkat tangan untuk bersalaman dengannya. Namun, belum sempat tanganku meraih uluran tangan Faris, kedua kaki sudah menyerah lebih dulu. Disusul dengan kegelapan yang tiba-tiba menyelimuti pandangan. Aku pingsan di tempat, guys. Bye! to be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN