Sebetulnya aku sadar, keinginanku ini sudah sangat menyusahkan Papa. Namun, untuk kali ini saja. Aku ingin benar-benar memperjuangkan cintaku pada Faris.
- HAPPY READING -
"Mama nggak kasih izin ya, Ra. Misalnya nanti kamu ada apa-apa di sana, gimana? Sedeket-deketnya Singapura, tetep aja jauh Mehira ...."
Berkali-kali aku membujuk, tapi tetap saja Mama menolak. Ucapannya telak, seakan tidak bisa diganggu gugat. Arah kedua mataku mulai beralih pada Papa. Berharap beliau masih mendukungku seperti sebelumnya. Namun, tatapan memelasku tampaknya tidak ampuh kali ini. Papa bergeming, tidak membalas sepatah kata pun.
"Terus kesempatan buat KP di desainer yang oke, harus terbuang sia-sia gitu aja, Ma? Ira bisa sendiri, kok. Ira bisa jaga diri. Ira udah gede, Ma, Pa," bujukku sekali lagi. Mama terlihat sedang berpikir keras, sedangkan Papa tidak berhenti melihat ke arah Mama. Aku sadar betul, kalau keputusan sebenarnya berada di tangan Mama, bukan Papa.
"Mama coba tanya ke temen Mama dulu, deh. Kalo nggak salah, anak temen Mama ada yang kerja di Singapura. Siapa tahu dia sewa apartemen yang gedean, gitu. Terus bisa disewa salah satu kamarnya. Kalau sewa kamar doang kan, pasti jauh lebih murah."
"Tapi, Ma ... Mande kan, udah mau sewa apartemen. Udah bayar DP malah. Aku takutnya enggak bisa dibatalin," sanggahku sekali lagi.
"Mumpung masih DP, Ra. Kamu coba bilang ke Mandenya. Siapa tahu pemiliknya bisa dinego. Di refund gitu. Ya, walaupun enggak semuanya. Minimal ada yang balik."
"Tapi, Ma."
"Masalahnya, Ra. Kemarin kalian bayarnya mau patungan. Kalo kamu tetep tinggal di sana tapi cuma Papa yang bayarin, jatohnya mahal banget. Kamu nggak kasihan sama Papa? Papa sampe nyairin deposito demi kamu, loh! Tahu, nggak?" bentak Mama galak sembari memelotot hingga bola matanya hampir keluar.
Tatapan garangnya tidak beralih hingga beberapa detik, sampai bikin aku sempat lupa bernapas. Sebetulnya aku sadar, keinginanku ini sudah sangat menyusahkan Papa. Namun, untuk kali ini saja. Aku ingin benar-benar memperjuangkan cintaku pada Faris.
Akhirnya aku mengangguk pasrah. Lalu Mama pergi berlalu ke kamar, hendak menelepon teman yang ia sebutkan tadi. Papa meremas tanganku perlahan. Tatapan sendunya, membuat aku semakin tidak enak hati.
"Pa ... maafin Ira, yah. Ira memang nyusahin banget jadi anak," cicitku sedih.
"Jangan merasa gitu, dong, Sayang. Setiap orang tua, pasti akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya. Jadi, tentu aja Papa akan mendukung kamu, sebisa Papa. Udah, jangan sedih begitu. Cantiknya hilang nanti," hibur Papa seraya tersenyum padaku.
Bukannya mereda, kesedihanku malah semakin memuncak sampai akhirnya aku mulai menangis. Yang kini terasa, antara takut gagal ketemu Faris dan merasa tidak enak pada mereka berdua. Mana sekarang sudah libur kuliah. Aku jadi tidak punya tempat curhat face to face. Ay, Nadia dan Nuri sudah pulang ke rumah masing-masing. Mereka juga akan beredar untuk kerja praktik di kota yang berbeda. Yang paling jauh Ay Ay. Enak banget dia kerja praktik sambil berlibur di Bali.
"Ira! Papa! Mama dapet solusi, nih!" seru Mama yang tiba-tiba muncul dengan wajah antusias.
Pergerakannya sempat terhenti sebentar, ketika melihat aku yang terburu-buru menghapus air mata. Kemudian, tatapan Mama melembut. Pasti beliau tahu kalau aku lagi super sangat begitu galau saat ini. Mama duduk di hadapanku, dan menarik napas panjang sebelum mulai berbicara.
"Mama akan izinin kamu tetep berangkat ke Singapura, asal kamu menyetujui persyaratan yang Mama kasih. Gimana?" tanyanya sembari bersedekap.
Setelah berdeham beberapa kali untuk menormalkan suara, baru aku menjawab pertanyaan Mama. "Persyaratannya apa aja gitu?"
"Pertama, kamu tinggal di apartemen yang lagi disewa sama anaknya temen Mama. Kebetulan dia sewa apartemen dua kamar. Sekarang yang dipake cuma satu kamar, jadi kamu bisa sewa kamar yang nggak dipake. Temen Mama juga kasih diskon gede-gedean. Jadi harga sewanya jauh lebih murah dari harga pasaran," jelas Mama semangat.
"Anaknya temen Mama itu laki-laki apa perempuan?" tanyaku memastikan.
Sebab, menurutku tinggal sama orang asing itu susah-susah gampang. Apalagi kalau orangnya menyebalkan. Aduh, jangan sampai, deh.
"Hm ... kayaknya laki-laki deh, Ra." Mama berkata ragu-ragu.
Aku sampai menelengkan kepala. Tidak habis pikir dengan mamaku ini. Masa anak gadis satu-satunya dilepas begitu saja sama laki-laki dewasa? Kalau aku sampai di apa-apain sama anaknya temen Mama itu, gimana?
Ini, aku enggak lagi di prank, kan?
"Ma! Masa Ira kita izinin tinggal bareng sama laki-laki? Nanti apa kata orang, Ma?" tegur Papa yang sangat tidak setuju.
Kupikir Mama bakal kayak kebakaran jenggot, karena salah menyuarakan ide. Namun, bahunya malah naik disusul oleh senyum penuh percaya diri. Mataku jadi menyipit, saking penasarannya.
"Kalau masalah itu, tenang aja. Mama juga nggak rela kali, kalau Ira tinggal berdua sama laki-laki yang bukan muhrim. Nanti kena fitnah, pula. Oleh karena itu ... anak bungsunya temen Mama yang bakal jadi orang ketiga. Kebetulan dia lagi libur sekolah juga. Jadi sekalian liburan. Nanti temen Mama rencananya juga bakal nyusul. Jadi Papa sama Ira tenang aja. Anaknya temen Mama baik, kok. Kerjaannya juga bagus. Kalaupun sampai ada sesuatu, Mama pasti langsung kasih restu," ucap Mama mengakhiri perkataan dengan senyum lebar dan tawa yang ia tahan. Aku yakin, pasti ada maksud terselubung dari persetujuan Mama ini.
"Ini Ira enggak dikirim buat sekalian dijodohin kan, Ma?"
"Nggak, kok. Ya, kalau ujung-ujungnya kalian berjodoh, alhamdulillah. Kalau nggak juga nggak apa-apa. Minimal Mama bisa sedikit tenang, kalau ada yang bisa dititipin."
Omongan Mama tidak salah juga, sih. Akan tetapi, tetap saja agak janggal buatku. Rupanya Papa berpikiran sama. Ia menyilangkan kedua lengan. Menatap lurus ke mata Mama. Mereka seakan sedang berdialog dalam keheningan. Memang beda kalau sudah menjadi suami-istri lama, ya. Saling tatap saja sudah paham maksud masing-masing.
"Nama anaknya temen Mama itu siapa? Ira mau kepoin."
"Eleuh ... lupa ditanyain, Ra. Sa apa gitu. Esa kali, ya. Lupa."
"Mama gimana, sih? Kok bisa lupa?" cibirku seraya memutar bola mata. Mama menyengir, sambil terkekeh kecil.
"Oke, kalau gitu. Papa juga setuju. Papa percaya sama keputusan Mama. Awas aja kalau sampai anak kita kenapa-napa ya, Ma," ucap Papa setuju meski bernada mengancam.
"Insyaallah aman, Pa. Sekarang Ira gimana? Setuju, nggak?"
Aku juga mengangguk untuk mengiakan. Yang terpenting mah, aku jadi terbang ke Singapura dulu, deh.
"Lanjut, ya. Terus yang kedua, kamu harus mau bantu beres-beres apartemen. Kalo bisa, masak juga sekali-sekali. Minimal masak nasi, lah."
"Loh? Tapi, tiap hari banget, Ma? Kalau Ira lagi sibuk, gimana?" tanyaku panik.
"Nanti kamu nego aja sama anak temen Mama." Ya, sudah. Mau tidak mau aku harus mau. Demi Faris, apapun aku lakukan!
"Oke, deh."
"Yang ketiga. Nanti kamu sama anak bungsunya temen Mama itu, berangkatnya bareng. Terus selama di Singapura, kamu temenin dia jalan-jalan, ya?"
Sontak mataku membeliak. Aku kehabisan kata-kata. Sudah jadi tukang bersih-bersih, lalu jadi pengasuh juga? Syarat macam apa ini?
"Ma! Ira itu ke Singapura mau kerja praktek, bukan jadi TKW! Udah mah kudu beres-beres, kudu masak, sekarang kudu jaga anak juga? Please atuh, meni nggak masuk akal syarat, teh," protesku keras. Secara tiba-tiba bahasa sundaku mengalir dengan lancar, saking emosinya.
"Eh, salah. Maksudnya pas kamu libur aja, Ra. Bukannya nanti kamu nggak langsung masuk kerja setelah sampe di sana, yah?" Mama bertanya dengan wajah tanpa beban.
Aku jadi menghela napas dalam-dalam, saking tidak tahu harus merespons bagaimana. Perasaan aku sudah bilang dengan begitu jelas, kalau satu hari setelah sampai kerja praktikku langsung dimulai.
"Mamaku tersayang ... Ira kan udah bilang, kalau besokannya Ira langsung masuk kerja. Palingan pas weekend. Tapi, nanti siapa yang jagain dia pas aku sama anak temennya Mama pergi kerja?"
Lalu wajah Mama berubah bingung. Aku jadi ikutan bingung. Papa pun sama.
"Wah ... iya juga. Nanti Mama tanya lagi, deh. Yang penting, kamu menyanggupi apa, nggak? Kalau sanggup, minggu depan kamu berangkat ke Singapura," ucap Mama tegas, bertanya sekali lagi. Aku sempat menoleh sekilas ke arah Papa. Beliau mengangguk, meyakinkan aku.
"Oke! Ira terima semua persyaratannya, Ma." Aku mengangguk satu kali dengan penuh keyakinan dan semangat yang bergelora. Daya juangku tiba-tiba berkobar.
Faris ... I'm coming!
to be continued