Sore Bersama Faris

1472 Kata
Ia mengalihkan pandangannya ke arahku, lalu mengangguk. Bikin aku tersenyum semanis-manisnya. -HAPPY READING- Aku sudah duduk manis di selasar gedung CC Timur yang tidak begitu ramai sore ini. Saat jam istirahat tadi, Faris meneleponku. Dia memberi tahu kalau tutornya di kampus. Sebenarnya aku sempat berharap di kafe atau resto gitu, tapi ini kan judulnya tutor. Jadi aku harus menerima kalau Faris mau ketemu di kampus saja. Sambil menunggu dia datang, aku mengerjakan tugas Gambar Konstruk yang belum selesai, mumpung masih fresh materinya. Tidak terasa ternyata sekarang sudah pukul empat sore lewat sedikit. Faris belum juga kelihatan. Aku mulai gelisah. Kepalaku celingak-celinguk melihat ke segala arah, sambil berdoa semoga sosok Faris segera datang. "Mehira! Sorry gue telat, tadi ketemu dosennya kelamaan," ujar Faris yang muncul tiba-tiba dari arah belakang. Aku menyambut dengan senyum lebar. Pandanganku tidak juga beralih darinya sampai kami bertatapan satu sama lain. Aku langsung mengalihkan pandangan sebentar, berharap Faris tidak tahu kalau aku sempat menatapnya dengan tatapan penuh cinta. "Nggak apa kok, Kak. Aku juga baru sampe." Padahal sudah hampir setengah jam aku duduk sendirian di sini. Faris duduk di depanku. Ia menaruh tas, lalu mengeluarkan beberapa tube cat air dari dalamnya. Aku juga membereskan kertas tugas Gambar Konstruk yang tadi sedang kukerjakan. Kemudian mengambil wadah cat air yang aku bawa dari rumah. "Langsung aja ya, Ra? Takut kesorean," kata Faris lagi. "Oke, Kak." Tangan Faris mulai mengoles cat air ke kertas yang ia bawa. Awalnya ia mewarnai bidang besar, dengan warna primer sebagai background. Setelah itu baru memberi detail-detail objek dengan kuas yang lebih kecil. Aku memperhatikan dengan serius. Berusaha menghafalkan step by step dari teknik mewarnai yang Faris ajarkan. Setelah selesai melihat contoh, aku mencoba meniru cara Faris mewarnai dengan cat air. Dan, hasilnya masih berantakan. Sulit sekali ternyata. Faris sampai memicingkan mata saat melihat hasil gambaranku. "Masih kacau ya, Kak?" tanyaku sembari ikut memandangi kertas yang sekarang ada di genggamannya. Faris malah tersenyum, lalu geleng-geleng kepala. "Ra ... Ra ... lo harus rajin latihan, nih. Coba ambil kertas lagi, Ra. Gambar sekali lagi, ya?" pintanya. Aku hanya bisa mengangguk pasrah dan menyobek satu lembar kertas lagi dari sketchbook yang kubawa. Setelahnya baru mulai fokus mewarnai memakai kuas. Dengan sabar Faris menungguku yang sedang berusaha keras berdamai dengan kuas dan cat air. Sembari terus dikoreksi, ketika ada yang salah atau kurang. And finally, selesai juga gambaran keduaku. Menurutku hasilnya better, sih. Faris pun mengakui, kalau kemampuanku sudah mendingan. Meningkat sedikit dari hasil gambaran yang pertama. Walaupun masih kalah jauh jika dibandingkan dengan hasil gambaran Faris. Sebelum mengakhiri sesi tutor, ia memberiku tugas untuk terus berlatih, dan akan diperiksa hari Selasa minggu depan. "Kak Faris, sekarang tuh udah tingkat 4, ya?" tanyaku basa-basi sambil membereskan wadah-wadah cat air dan kuas. Cowok berkemeja biru gelap itu mengangguk. "Iya, Ra. Kenapa?" Faris berpindah tempat duduk jadi di sebelahku, lalu menyandarkan punggungnya ke dinding. "Udah ada planning mau bikin tugas akhir apa, Kak?" tanyaku penasaran. Faris berpikir sebentar sebelum menjawab. "Sebenernya udah ada satu topik yang kepikiran, tapi belum fix, sih. Masih ngumpulin data-data dulu. Kalo lo udah mau penjurusan, kan? Udah kepikiran mau ambil prodi apa?" "Kayaknya Kriya Tekstil sih, Kak. Soalnya nilai matkul studioku yang paling mendingan, 2D aja. Sebenernya Konstruk juga lumayan, tapi akunya agak ragu-ragu. Takut nggak cocok lagi, kayak tahun lalu." Aku ikut bersandar ke dinding begitu selesai membereskan barang-barang ke dalam tas. "Emang tahun lalu lo udah kuliah?" tanyanya kaget. "Udah, Kak. Tapi cuma 1 semester doang. Aku nggak sanggup nerusin. Kayak ngebingungin gitu kuliah di sana." "Emang ambil jurusan apa?" "Desain Produk, Kak." "Oh, gitu. Kriya Tekstil juga bagus, kok. Tapi kalo bisa semua nilai bagus dong, Ra. Nggak lama lagi udah mau UAS, kan?" "Iya, Kak. Makanya aku bersyukur banget Kak Faris mau ngajarin begini. Aku paling lemah di Gambar Bentuk soalnya," aku mengaku jujur. "Eh iya, Kak. Ada bocoran ntar UAS-nya ngapain, nggak?" Siapa tahu dapat bocoran, kan. Faris malah melipat kedua tangannya di depan d**a, lalu menggelengkan kepala. "Kalaupun gue tahu, nggak mungkin gue bocorin, dong. Ntar gue bisa diamuk Pak Alvano, Ra," jawaban serius Faris, membuatku cengar-cengir sambil menggaruk kepala. "Nanya doang kok, Kak. Iseng. Hehehe ...." "Eh, Ra. Udah mau gelap, nih. Balik, yuk!" Faris bangkit dari duduknya, diikuti olehku yang agak tidak ikhlas karena harus berpisah. Ternyata sekarang sudah hampir pukul setengah enam sore. Aku keasyikan mengobrol kali ya, sampai tidak sadar kalau hari sudah mulai malam. Dari samping Faris, aku mendongak dan melihat ke arah langit. Warna yang tengah menghiasi sore kali ini bagus banget. Seperti lukisan yang tak ternilai harganya. Apalagi, di sebelahku sedang berdiri cowok yang begitu aku damba. Rasanya lengkap. "Kak Faris mau langsung pulang apa mau ke mana dulu?" Ia mengecek ponselnya sekilas, lalu kembali menatapku. "Mau ke kosan temen dulu, nih. Lo ke gerbang depan apa belakang?" "Depan, Kak." "Ya, udah. Ayo bareng." Aku berjalan mengikutinya. Melangkah bersisian, di bawah langit senja. Kami melewati jalur pejalan kaki yang berada di antara gedung CC Barat dan CC Timur. "Kak, sekali lagi makasih banget, ya, udah mau ngeluangin waktu. Kapan-kapan aku traktir makan, boleh nggak?" tanyaku hati-hati dengan penuh harap. Aku meneliti ekspresi wajah Faris dari samping. Ia mengalihkan pandangannya ke arahku, lalu mengangguk. Bikin aku tersenyum semanis-manisnya. "Boleh, dong. Kalo gratisan mah, hayu," jawabnya. Rasanya aku ingin meloncat kegirangan saat ini juga. Aku bahagia, malah terlalu bahagia. "Hati-hati nyetirnya ya, Ra," ucapnya sebelum aku menyeberang ke arah parkiran mobil. Aku sempat melambaikan tangan padanya sekali lagi dan diam-diam terus memperhatikan sampai sosoknya tak terlihat. Begitu duduk di dalam mobil, kukeluarkan ponsel dari dalam tas untuk memeriksa ada chat dari siapa saja. Puluhan notifikasi di grup chat Ukhtis, segera menyita perhatian. Aku membaca satu per satu sambil menunggu mesin mobil panas. Memang dasar ya, mereka ini. Heboh amat. Aku sampai geleng-geleng kepala saat membaca obrolan mereka bertiga. * "Selamat pagi Mama sayang ...," sapaku pada Mama yang lagi sibuk di dapur. Mama melirik sekilas. Mungkin dia aneh melihat kelakuan anak gadisnya yang tidak biasa. Pagi ini dimulai dengan mood super bagus. Sejak keluar kamar sampai ke meja makan, aku tidak berhenti tersenyum. Semenjak tutor private beberapa minggu lalu, hubunganku dengan Faris semakin baik dan semakin dekat. Sekarang aku sudah berani mengajaknya berbicara lebih dulu, dan membicarakan banyak hal selain kuliah. Namun, masih ada satu yang mengganjal. Kedekatan Faris dan Dita pun masih terus berlanjut. Aku masih waswas. Takut tiba-tiba dengar berita kalau mereka berdua resmi berpacaran. Ah, lebih baik aku selalu berpikiran positif saja, deh. Jangan sampai kekhawatiran ini malah membuatku patah semangat lebih dulu. Selama janur kuning yang bertuliskan nama Faris Mahesa belum melengkung, kesempatanku untuk mendapatkannya masih ada. Semangat, Mehira! Mama yang tadi sedang bikin sarapan di dapur, tiba-tiba sudah muncul di sebelahku. "Ira, kamu lagi jatuh cinta, ya?" "Enggak kok, Ma. Biasa aja ini," jawabku berusaha terlihat santai. Kemudian Mama berbalik dan berjalan menuju dapur setelah memperhatikan aku selama beberapa saat. Rasanya lega sekali. Hampir saja ketahuan. Hari ini kebetulan tanggal merah, jadi aku tidak punya agenda apa-apa. Cuma mau menghabiskan waktu seharian di rumah. Tidak lama, Mama datang dengan membawa sepiring besar nasi goreng yang masih berasap. Tanpa disuruh, aku sudah menyendok beberapa kali dan duduk manis bersiap menyantap sarapan. "Oh ya, Ra. Hari ini temenin Mama pergi, ya?" tanya Mama ketika sudah duduk di hadapan. "Mager, Ma. Mau diem di rumah," tolakku cepat. Minggu depan sudah mulai persiapan UAS, jadi pasti aku sibuk mengerjakan tugas. Mumpung ada hari libur, harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Contohnya seperti menonton film, atau kangen-kangenan sama oppa-oppa korea di drakor dan variety show. Itulah definisi mager versi Mehira. "Temenin Mama atuh, Ra. Nggak lama, kok. Ntar Mama jajanin, deh." "Jajanin apa dulu, nih?" "Ya, kamu maunya apa? Tas? Sepatu? Baju?" "Tumben Ma, mau jajanin Ira tanpa syarat. Biasanya kan, kalo aku minta beli baju baru, Mama suka rempong. Kasih syarat ini itu. Nggak langsung dibolehin. Sebenernya mau ke mana, sih? Penting amat, ya?" Mama masih acuh tak acuh walaupun aku sudah sangat penasaran. "Temenin arisan, Ra. Nggak aneh-aneh, kan? Mau, ya? Paling lama 2 jam, deh. Abis itu pulang." Aku manggut-manggut sambil berpikir. Kalau arisan sih, masih okelah. Aku tinggal bawa headset sama powerbank yang penuh. Sebelumnya aku pernah ikut Mama arisan satu kali. Agak bosan, sih. Namanya juga perkumpulan ibu-ibu. Aku tidak paham mereka membicarakan apa, tapi sedikit-sedikit mereka ketawa terus. Palingan aku kebagian ditanya sekolah di mana sama sudah punya pacar apa belum, tapi lumayan dapat makanan enak sama minuman gratis. Sudah begitu, biasanya Mama membolehkanku menambah camilan sepuasnya. Asyik! "Boleh, deh. Di mana acaranya? Bajunya santai aja, kan?" Mata Mama terlihat berbinar saat aku setuju untuk menemaninya pergi. "Santai tapi cantik ya, Ra," jawab Mama sambil berlalu ke dapur. "Ya, udah. Aku mandi dulu deh, Ma." Baru saja mau beranjak dari kursi makan, eh, Mama berteriak dari dapur. "Perginya nanti sore jam 3 ya, Ra!" Hm, kukira dalam waktu dekat. to be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN