Pupus

1648 Kata
Mereka berempat lagi asyik mengobrol dan tertawa bersama. Berbanding terbalik denganku, yang rasanya ingin menangis di tempat. - HAPPY READING - Setelah tiga puluh menit mengemudi, aku dan Mama tiba di kafe tempat acara arisan diadakan. Waktu mendengar tempat arisannya itu di jalan Progo, aku tidak kepikiran sama sekali kalau di sinilah tempatnya. Aku kira di restoran yang cocok buat emak-emak gitu. Tahunya di kafe yang lagi in di kota Bandung. "Bahkan aku belum pernah ke sini lho, Ma." Aku mengaku sesaat setelah mematikan mesin mobil. "Ah, masa? Mama aja udah dua kali ke sini. Kamu kurang gaul berarti," sindir Mama dengan wajah penuh kepuasaan. Aku mendengkus, sembari menyipitkan mata. Padahal aku selalu mengumbar pada Mama dan Papa, kalau menongkrong di kafe adalah salah satu hobiku. Namun, nyatanya pencapaian selama ini masih kurang maksimal. Sebagai anak muda, aku merasa gagal. "Hayu, turun. Temen-temen Mama udah pada nungguin," imbuhnya sedikit mendesak. Bibirku mencebik. Mengiakan setengah hati, sebelum mengikuti langkah kaki Mama yang sudah jalan terlebih dahulu. Seorang waitress berseragam cokelat muda menyapa kami berdua. Ia melangkah gesit, memimpin kami setelah mendengar jawaban Mama, hingga sampai di ruangan yang sudah dipesan. Sebuah private room berukuran cukup besar, yang terletak di bagian belakang kafe. Aku agak membungkukkan badan ketika memasuki ruangan. Sementara Mama, langsung menyapa riang seluruh temannya. Seperti sudah lama tidak bertemu, padahal aku yakin, palingan minggu lalu juga ketemuan. Ada dua buah meja panjang yang bisa memuat sampai sekitar dua puluh orang di dalam ruangan ini. Pandanganku berhenti di penampakan taman kecil yang berada di balik jendela. Beberapa pohon tinggi yang dihias dengan lampu-lampu kecil tampak memenuhi setiap sudut taman. Aku yakin, kalau malam pasti bagus banget, deh. Tanpa aku sadari, obrolan emak-emak sudah dimulai. Mama menggiringku ke hadapan para ibu-ibu gaul untuk diperkenalkan. Semacam ajang pamer anak. Hal lumrah yang sering terjadi di setiap perkumpulan ibu-ibu berusia lebih dari setengah abad. Aku sih, mengikuti saja. Manggut-manggut seraya menyunggingkan senyum termanis yang aku punya. Setelah sesi memamerkan prestasi anak usai, Mama berbisik sekilas. Memintaku untuk duduk di meja yang terletak di sudut ruangan. Ada dua anak yang sudah lebih dulu duduk di sana. Kayaknya mereka bernasib sama denganku. Seorang cewek, yang kelihatan seperti sudah kuliah dan satu anak cowok yang berusia jauh lebih muda. Dia sedang asyik bermain game di tab-nya sampai tidak menyadari kehadiranku. Wajah mereka terlihat mirip. Jangan-jangan, mereka kakak beradik. "Halo, gue Ira. Nama lo siapa?" tanyaku pada si cewek berambut pendek. Dia membalas pertanyaan dengan tersenyum lalu menjulurkan tangannya. Aku juga ikut menjulurkan tangan untuk bersalaman. "Gue Kiana. Ini adek gue, Farhan. Dia masih kelas 1 SMP," jawabnya sambil melirik ke arah sang adik. "Dek, salaman dulu. Taro tab-nya sebentar," perintah Kiana pada bocah lelaki itu. Meski tampak enggan, Farhan tetap meletakkan benda canggih kesayangannya, sebelum menjulurkan tangan ke arahku. "Aku Farhan, Teh," balasnya singkat. Aku menyambut uluran tangannya yang hanya sekilas ia angkat. Sedetik kemudian, ia langsung kembali ke kegiatan bermain game, yang sempat tertunda. "Kiana, lo udah pesen makanan belum?" tanyaku membuka obrolan. Kiana mengangguk lalu menyodorkan buku menu yang berada di dekatnya. "Gue sama Farhan udah pesen tadi. Lo pilih-pilih aja dulu." Aku mengangguk kemudian berterima kasih, sembari tetap tersenyum. Barisan menu makanan dan minuman langsung memenuhi pandangan. Aku membaca dengan teliti setiap menu yang tertera. Ternyata, makanan dan minuman yang kusuka, tersedia cukup banyak di sini. Setelah yakin, aku berdiri dan berjalan keluar ruangan untuk memesan makanan. Sebenarnya bisa saja aku memanggil pelayan dari posisi dudukku. Namun, berhubung mau lihat-lihat dan ke toilet, jadi sekalian saja aku keluar. "Mbak, saya mau pesen dong," kataku begitu menghampiri waitress yang sedang berdiri sambil melamun. Dia tidak menyadari kehadiranku sampai aku memanggil namanya. Mungkin dia sedang lelah. Sekarang memang sudah sore, sih. "Oh iya. Boleh, Kak. Duduk di mana?" tanyanya sembari mengeluarkan notes dari saku kemeja. "Di private room yang di belakang, Mbak." "Baik. Pesanannya apa aja, Kak?" "Mau Lasagna satu sama Ice vanilla latte satu ya, Mbak." Setelah selesai mencatat pesananku, waitress itu pamit pergi. Sedangkan aku lanjut berjalan ke tempat tujuan. Langkah kakiku berhenti di tengah ruangan utama. Pandangan kuedarkan ke sekeliling. Tampaknya sebelum dibuat menjadi kafe, bangunan ini merupakan rumah dari zaman Belanda. Sebab, meski sudah direnovasi sana-sini, aura jadulnya masih sangat kentara. Atau, mungkin saja memang ini konsep yang diusung. Menyatukan sisi kuno dan modern dalam satu bidang. Secara keseluruhan, aku suka sama interiornya yang unik. Banyak pot-pot tanaman dan ada beberapa ornamen berhias lampu neon, yang ditempel di dinding. Aku iseng ingin mengambil foto interior kafe, sebagai kenang-kenangan. Namun, begitu terkejutnya aku ketika melihat apa yang tampak di layar ponsel setelah mengarahkan lensa kamera ke arah area meja-meja di sisi kanan pintu masuk. Aku sampai mengucek-ngucek kedua mata, takut salah lihat. Akan tetapi, aku yakin apa yang aku lihat ini benar. Itu Faris, yang sedang makan bersama teman-temannya, dan, Dita. Mereka berempat lagi asyik mengobrol dan tertawa bersama. Berbanding terbalik denganku, yang rasanya ingin menangis di tempat. Sesaat sebelum lepas kendali, kupaksa tubuh yang kaku untuk berbalik dan berjalan kembali menuju toilet. Aku masuk ke dalam bilik, dan mengunci rapat-rapat pintunya. Perasaan sakit akhirnya datang menghampiri, ketika sadar kalau Faris dan Dita duduk bersebelahan. Bahkan kalau tidak salah, Dita sempat menyentuh ujung-ujung rambut Faris dengan mesra. Ya, aku yakin. Ketajaman penglihatanku malah melonjak tajam di saat seperti ini. Satu tetes. Dua tetes. Tiga tetes, hingga beberapa tetes cairan bening perlahan mengalir dari kedua sudut kelopak mata. Aku patah hati, untuk yang kedua kali dengan orang yang sama. Namun, sekarang rasa sakitnya lebih menusuk. Melebihi yang aku rasakan beberapa waktu lalu, ketika tahu kalau ada kemungkinan Faris menyukai Dita. Kini semuanya sudah jelas. Aku benar-benar ingin segera pergi dari sini, tapi alasan apa yang bisa kukatakan pada Mama? Tidak mungkin kan, kalau tiba-tiba aku menghilang tanpa pamit? Lagi pula, tasku masih tergeletak di kursi. Aku tidak punya pilihan lain selain mencoba menenangkan diri. Berupaya menghilangkan sejenak perasaan yang sangat menyesakkan. Memenuhi d**a hingga rasanya sulit sekali bernapas tenang. Aku tahu ini akan membutuhkan waktu yang lama. Semoga saja Mama tidak menyadari kalau anak gadisnya raib. Sepuluh menit kuhabiskan dengan menangis tanpa suara. Mata dan hidung sampai gatal-gatal dan memerah. Meski belum sepenuhnya mereda, aku tidak bisa berlama-lama lagi di dalam bilik sempit ini. Bagaimana kalau ada yang menungguku keluar dalam diam? Mataku membola, saat mendapati orang pertama yang kulihat adalah Dita. Cewek dengan rambut yang diikat kuda itu, sedang mencuci tangan seraya menyunggingkan senyum. Ia sedang bahagia. Terlampau bahagia. Miris sekali nasibku sore ini. Perumpamaan sudah jatuh tertimpa tangga, tampaknya sangat tepat menggambarkan situasiku sekarang. "Eh, Mehira? Kamu sama siapa ke sini?" tanyanya saat baru menyadari keberadaanku yang sedang berdiri mematung di dekatnya. Tidak ada niatan sama sekali untuk menyapa atau mengobrol dengannya. Aku ingin segera keluar dari sini. Namun, tanganku harus dicuci pakai sabun karena sudah dipakai untuk menyeka air mata, ingus sekaligus keringat. Jadi mau tidak mau, aku menunggunya selesai memakai wastafel yang hanya ada satu di toilet ini. Aku mencoba tersenyum dan bersikap biasa saja. Meski yakin, usahaku percuma. Tatapan aneh sudah mengarah padaku, di detik pertama ia menyapa. "Hai. Aku sama Mama. Nemenin arisan," balasku pelan tanpa menjiwai. "Oh ... kok, nggak kelihatan? Kamu duduk di mana?" tanyanya lagi. Tumben banget seorang Dita penasaran sama hidupku. Biasanya juga ia cuek banget. Bahkan terkadang aku merasa kayak tidak berada di dunia yang sama dengannya. Padahal beberapa kali kami duduk bersebelahan waktu tutor Gambar Bentuk, tapi ia tidak mengajakku berbicara sama sekali. Itu juga yang menjadi alasan utamaku tidak begitu menyukai Dita, terlepas karena ia adalah cewek yang Faris suka. Sifat dan kepribadiannya sangat jauh berbeda jika sedang menghadapi lawan jenis. Bikin aku ingin menjambak rambutnya. Argh kesal! Dasar rubah betina! "Aku duduk di private room yang di belakang. Kamu udah selesai pake wastafelnya? Bisa minggir, nggak? Aku mau cuci tangan," jawabku sedikit ketus tanpa tersenyum sedikit pun. Mata Dita sempat melebar beberapa saat sebelum melangkah mundur. Pasti ia tidak menyangka kalau aku akan terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan terhadapnya. Dengan masih acuh, aku menyalakan keran air dan membasuh kedua tangan. Sementara Dita—entah mengapa—masih berdiri di belakangku. Matanya tidak terlepas memandang lewat pantulan cermin. Aku tahu itu. Meski sejak tadi terus menunduk dan berdiri membelakanginya. "Gue duluan ya, Dit." Tanpa menunggu jawabannya, aku bergegas berjalan keluar. Langkahku semakin cepat, karena ingin segera sampai di meja. Setidaknya, makanan lezat pasti bisa meredakan sedikit pilu. Lebih baik bersedih dalam keadaan perut kenyang daripada saat kelaparan, bukan? * Setelah hampir dua jam terjebak di situasi yang mengharuskanku menahan emosi, senyumku mulai mengembang ketika akhirnya Mama mengajak pulang. Kepalaku langsung mengangguk dan dengan cepat tanganku bergerak memasukkan barang-barang yang ada di atas meja. "Kiana, Farhan, gue duluan, ya! Sampe ketemu lagi kapan-kapan." Mereka berdua tersenyum, sembari mengiakan. Kemudian aku menghampiri Mama, yang sedang berbicara dengan salah seorang temannya. Kemungkinan besar, teman Mama ini adalah Mama dari Kiana dan Farhan, karena wajah mereka semua memiliki kemiripan satu sama lain. "Ira tuh, di FSRD ITB, ya? Anakku yang cowok juga di situ, tapi dia udah tingkat 4 sekarang," ucap Mama Kiana. Belum sempat mamaku menjawab, kehadiranku lebih dulu berhasil menyela pembicaraan mereka. "Ma, hayu pulang," panggilku pelan. Mama terpaksa menyudahi pembicaraan dan berjanji bakal mengobrol lagi sesegera mungkin. Setelah pamit ke semua teman Mama yang masih ada, kami berdua berjalan ke arah pintu. Aku sempat menoleh ke tempat Faris dan Dita duduk tadi. Mereka sudah tidak ada di sana. Kegetiran kembali merayap peralahan. Mulai merenggut senyum yang semula berhasil kupertahankan. "Ra, kunaon meni sedih kitu mukanya? Perasaan tadi masih senyam-senyum?" tanya Mama setelah menutup pintu mobil. Kepalaku langsung menoleh cepat, begitu mendengar pertanyaan Mama. Apa kegalauanku terlalu kelihatan jelas, ya? Buru-buru kugelengkan kepala, lalu memasukkan kunci ke dalam lubangnya. "Ira baru inget, belum ngerjain tugas, Ma. Hehehe ..." "Eleuh, tumben rajin. Kirain teh kenapa. Nanti pesen piza, mau? Mama lagi males masak." "Wah, asyik! Tau aja makanan kesukaan aku." "Biasanya Mama suka makan banyak pas lagi galau, sih." "Hah?" to be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN