- HAPPY READING - Punggung tegang Takiga yang pertama terlihat saat aku membuka pintu ruang kerjanya. Ia berdiri tegak dengan tangan bersedekap sembari melihat ke luar jendela. Saking heningnya aku bisa mendengar jelas suara tarikan napas Takiga yang begitu berat. Bisa kutebak, sejak tadi ia mengawasiku dari sini. Berkutat dengan pikiran-pikiran yang dipenuhi kecemburuan. Tinggal menghitung waktu saja sampai pertanyaan menginterogasi keluar dari mulutnya. "Permisi, Mas." Aku berkata sembari meletakkan tas di atas kursi yang terletak di balik meja kerjaku. Takiga menoleh, tapi hanya memperlihatkan sisi wajahnya. "Dia ngomong apa?" tanyanya singkat. Atasanku ini memang jarang basa-basi. Always to the point. Suara Takiga terdengar tenang di telinga. Tidak menuntut seperti tebakanku barusa

