Gaya gravitasi Alaska

1137 Kata
Di ruang kelas XII MIPA 2 yang begitu rusuh, hiduplah para manusia-manusia tak tahu malu yang konon katanya memiliki IQ tinggi-tinggi. Entah hanya mitos atau bukan, tapi itu sudah tersebar luas di SMA p****g Beliung. Jangan heran kenapa namanya begitu, karena kalian akan dibuat pusing jika memikirkannya. Namanya juga p****g beliung. “I’m on the next level!!” “Woi, berisik lo Sholeh! Suara lo kayak kaleng pecah tau, gak?!" teriak Si Arya tatkala Sholeh sedang menyanyikan lagu girl group favoritnya yang baru saja come back. “Ganggu tidur gue aja lo, Sat!” umpat David yang tidurnya tidak nyenyak. “Santai dong lo berdua, Indonesia itu dikenal sebagai negara yang paling santuy. Masa lo berdua suka ngegas?!" Si Sholeh tak terima diprotes. “Santai sih santai, tapi lo bikin telinga gue katarak, monyet!” Pagi-pagi suasana kelas ini memang selalu rusuh, sepertinya bukan diisi dengan murid-murid yang pintar-pintar, melainkan dihuni oleh segerombolan manusia yang otaknya sudah terjual. “Hai Syifa, selamat pagi!” “Hai Ucup, pagi juga!” sapa Syifa pada pria yang dikenal sebagai tukang jahilnya kelas XII MIPA 2. “Mana temen lo yang gak guna itu? Gak masuk, ya?” “Maksud Ucup, Keke?” “Iya si Keke, siapa lagi temen lo yang gak guna selain si Keke?” Sepertinya Ucup mencari mati. “Siapa yang gak guna, Cup?” “Si Keke!” jawab Ucup menyahuti seseorang yang bertanya di belakangnya. “Siapa? Coba diulang lagi!” “Eh Keke, sejak kapan lo di belakang gue?” Ucup baru menyadari jika yang mengajaknya bicara adalah orang yang ia jadikan topik pembicaraan. “Sejak negara api menyerang!” Tanduk Keke sudah siap untuk melempar Ucup ke danau Toba sana. “Kapan, tuh, kok gue gak tau?” Ucup menyengir bodoh. “Gausah banyak tanya, deh! Gue cincang juga, ya, lo lama-lama.” Keke menggulung lengan seragamnya yang sudah pendek, “siapa yang lo bilang gak guna, hah?” “Si Muhammad Fatah, iya si Fatah, gak guna banget hidupnya!” jawab si Ucup lalu melarikan diri. “UCUP b******n!” *** “Karena pertemuan sebelumnya ibu sudah mereview kembali pelajaran kelas sepuluh, jadi sekarang ibu akan mengadakan kuis agar di ujian-ujian nanti kalian tidak kesusahan dalam menjawab soal. Yang bisa menjawab dengan benar, ibu akan memberikan nilai tambah.” “Oke, pertanyaan pertama, apa yang dimaksud GLB? Yang mau jawab bisa angkat tangan!” kata bu Dian seraya maju ke depan. “Saya, Bu!” sahut Mira. “Iya, silahkan!” “GLB adalah suatu gerak lurus yang mempunyai kecepatan konstan, Bu.” “Bagus sekali Mira, poin tambah buat kamu.” “Makasih, Bu!” “Iya, pertanyaan selanjutnya. Apa yang menyebabkan terjadinya gaya gesek?” “Saya mau jawab, Bu. Gaya gesek terjadi apabila dua buah benda bersentuhan. Benda-benda tidak harus berbentuk padat, melainkan dapat pula berbentuk cair ataupun gas.” “Bagus, satu poin buat kamu.” Bu Dian tersenyum puas karena muridnya menjawab dengan benar, “selanjutnya, apa hubungan antara tekanan dan gaya?” “Saya, Bu, saya!” “Silahkan, Cup!” “Hubungan antara tekanan dengan gaya adalah berbanding lurus. Itulah kenapa si Sholeh banyak tekanan, karena dia kebanyakan gaya.” Sontak saja jawaban Ucup mengundang tawa di ruang kelas itu, selain mengundang tawa juga mengundang kemarahan si Sholeh. “Woi Cup, yang bener aja, dong, kalo ngomong, emosi nih gue.” “Udah-udah. Cup, jawaban kamu memang benar, tapi nyeleneh. Lain kali yang benar kalau menjawab, karena sudah jawan, satu poin untuk kamu.” “Terima kasih ibu dian yang cantik!” “Selanjutnya, apa yang dimaksud dengan tegangan permukaan dan berikan contohnya!” Sekelas hening tak ada suara. “Ada yang bisa jawab?” tanya bu Dian. Sesaat kemudian Syifa mengangkat tangannya karena tidak ada yang menjawab. “Tegangan permukaan adalah kecenderungan zat cair seolah-olah terdapat selaput yang tegang, sehingga dapat menahan benda. Ini terjadi karena adanya gaya tarik menarik antara partikel zat cair. Contohnya, serangga air dapat berjalan di atas permukaan air.” “Bagus, Syifa. Seperti tamu ibu harapkan. Selanjutnya, Ibu kasih kesempatan untuk kalian bertanya. Dan akan dijawab oleh teman kalian yang lain, mengerti?” “Mengerti, Bu!” “Saya mau bertanya, Bu!” “Iya, David, silahkan!” “Menurut hukum newton, semua benda yang jatuh ke bumi disebabkan oleh gaya gravitasi bumi. Lalu, apa penyebab hati david jatuhnya ke ibu?” ***  Chatroom Barisan Cogan Gak Ada Duanya Adrian, David, Jonathan, Anda.   David : P P P P P Adrian : Spam lo, njing! Jonathan : Sungguh kumerasa resah .... Adrian : Korban t****k atas gue Jonatahan : Gue resah guys, tanah air kita nggak aman lagi, kita seakan berperang dengan saudara sendiri   David : Bener tuh kata si Jojo, dan yang paling bikin gue gundah gulana adalah negara kita nggak santuy lagi. Demo di mana-mana! Adrian : Sampek-sampek si David yang dikenal sebagai manusia yang suka molor, ikut turun aksi. Gokil nggak, tuh? Indonesia kita benar benar hancur, cuk! Jonathan : Nah bener, tuh, kalau gini terus, kayaknya rencana gue yang dulu akan segera gue wujudkan. David : Rencana lo yang mana? Jonathan : Rencana pindah ke Korea, untuk bertemu mailoplop Airin red velvet♡ Adrian : Bangun nak, tidurmu kemiringan! Alaska kembali menutup group chat yang isinya celotehan unfaedah sahabatnya, ia mematikan layar ponselnya. Ia sudah mempersiapkan buku untuk mata pelajaran besok. Sekarang Alaska bingung harus melakukan apa, karena tugasnya juga sudah ia kerjakan. Terlihat layar handphone Alaska menyala, Syifa meneleponnya. Pria itu tersenyum lalu menggeser tombol hijau. “Halo!” “Halo, Aska!” sapa gadis di seberang sana. “Iya, sayang, kenapa nelpon? Kangen?” goda Alaska. “Dih, pede banget!” “Kalo gak kangen apa dong?” “He he, iya, Syifa kangen Aska!” “Apa? Aska nggak denger, diulang lagi coba!” Alaska semakin menjadi-jadi. “Syifa kangen Aska!” greget Syifa. “Gak kedengeran sayang, coba suaranya dibesarin lagi.” “Udah, ah, bikin bete aja. Syifa matiin aja telponnya!” “Jangan dimatiin, iya deh maafin Aska.” “Permintaan maaf Aska ditolak!” “Kok gitu?” “Aska ngeselin, sih!” “Yaudah Syifa mau apadeh, nanti Aska kasih.” Alaska mengubah posisi duduknya menjadi berbaring. “Beneran?” Suara Syifa di seberang sana menjadi riang, sepertinya suasana hatinya membaik. “Jemput Syifa, kita ke pasar malem!” Tut tut! Alaska menggelengkan kepala, Syifa-nya sangat menggemaskan. Ingin ia gigit rasanya. Tidak tahukah Syifa kalau dia benar-benar membuat Alaska sudah terjatuh sedalam-dalamnya? Simpel, Alaska hanya memakai kaos hitam polos dan jeans selutut dilengkapi sneakers biru dan topi hitam. But damn, he is so gorgeous! Tak bisa dipungkiri, aura menawan Mr. Demian memang sangat kuat. Jika bumi mampu menarik kembali benda yang di lempar ke atas, maka Alaska mampu menarik Syifa ke dalam pesonanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN