Kuusap peluh di kening, lalu leher yang terasa basah. Ah … tidak hanya kening dan leherku saja yang basah. Tapi juga seluruh tubuhku, setelah nyaris setengah jam membersihkan kamar. Menggeser semua perkakas, hanya demi menemukan satu hewan yang membuatku terkejut setengah mati. Bisa-bisanya hewan pemakan serangga itu masuk ke dalam kamarku. Kenapa harus kamarku?? Kenapa bukan kamar Galah saja?? Kesalku. Hari minggu yang seharusnya bisa kupakai untuk bersantai, harus tersita demi menemukan si curut yang entah sejak kapan menjadikan kamarku layaknya rumah untuknya. Mengingat jika mungkin selama beberapa bulan sekembaliku dari Yogya aku tidur di tempat yang sama dengan si curut—membuatku bergidik. “Ini Mbak … minum dulu.” Galah datang dengan membawa satu gelas besar berisi jus jeruk yang en

