SEAN-- Ku ketuk daun pintu yang sudah setengah terbuka--dua kali, kemudian aku melongok ke dalam. “Masih lama, Dok??” tanyaku pada seorang wanita cantik, dengan snelli putih yang melapisi dressnya. Dokter Ana yang semua sedang menulis, mengangkat wajah, lalu menoleh ke arah pintu. “Sedikit lagi. Masuk saja, Dok,” pinta dokter Ana, setelah mendapatiku di ambang pintu. Dokter Ana tersenyum. Kuanggukkan kepala lalu kubawa langkahku masuk ke dalam ruang kerja dokter seniorku ini. Kutarik pelan kursi di seberang meja, untuk kududuki. Dokter Ana sudah cukup lama bekerja di rumah sakit ini. Dia juga yang banyak membantuku selama aku menginjakkan kaki di tempat bekerjaku sekarang. “Berapa orang yang ikut bersama kita kali ini??” tanyaku. Sembari masih melanjutkan aktivitasnya menulis, dok

