Aku berteriak sekuat tenagaku, menangis dan merintih menahan perih berharap rasa sakitku akan mereda. Kemaluanku seperti dihujani ribuan jarum menyakitkan sekali. "Rahma, sabar sayang, baca doa ya. " Bisik mas Hendrik di telingaku. Aku tahu dia panik meskipun dia menampakkan wajah tenang. "Sakkkiiit, Mas. " Pekikku. "Aku tahu sayang. " Aku menggeliat seperti ular kepanasan, mencoba berlindung pada tubuh tegap suamiku. Sakitnya luar biasa. Mendengar teriakanku, mama, anak-anakku juga adikku datang ke kamar. Mama begitu gelisah hingga meminta mas Hendrik menuju rumah salah seorang ustadz. Mas Hendrik pun mengiyakan. Saat Mas Hendrik pergi, rasa sakitku sedikit demi sedikit berkurang hingga kemudian gilang. Aku pun terlelap. Saat terbangun ku lihat Mas Hendrik telah datang

