Aku duduk di beranda, surat pernyataan talak itu ku timang-timang. Ternyata di talak itu menyakitkan. Mungkin kalimat itu hanya kalimat biasa namun sangat ampuh luar biasa. Bahkan bisa mengguncang Arsy, begitu ilmunya. Sebelum ini aku memang pernah mengalami perpisahan namun tidak setragis ini. Tidak semenyakitkan hari ini. Aku masih ingat perjuangan Pak Rahmad memperoleh cintaku saat itu. Ia begitu gigih hingga mampu mendapatkan hatiku. Terbayang saat ini ia justru terkulai tak berdaya. Mungkinkah istrinya menyiksanya? Aku bingung bukan kepalang. Mengapa kondisinya bisa sedrastis itu? "Tapi, ach, semua sudah terlanjur. " desisku di antara hening yang tercipta. Aku menyandarkan kepalaku di ting penyangga kaca, tiang yang terbuat dari kayu jati, ada pohon palm yang bergerak s

