Hendrik telah pulang ke rumahnya, tinggal aku merapikan hati menuju hari pernikahan ku. Kami belum bicara pada mama karena kami berpikir masih ada waktu menyelesaikan semuanya nanti saat semua sudah tenang. Baru saja aku bercerai dengan pak Rahmat lalu sekarang aku harus juga berangkat menuju pernikahan ke tiga ku. Ach, apa kata anak-anakku nantinya? Malu sekali rasanya harus menikah berkali-kali. Anak-anak tidak akan mau tahu kejadian apa yang menimpa. Yang mereka tahu bahwa mamanya berkali-kali menikah. Itu akan sangat memalukan sekali. Tapi bila Tuhan berkehendak, apa boleh buat? Semalam aku sudah meminta kepada Hendrik untuk menunggu sampai masa iddahku selesai. Tidak baik bila aku tidak melewati masa itu. Beruntung Hendrik memahami hal itu, ia setuju untuk menungguku. S

