Langit New York siang itu dilapisi warna kelabu, dengan angin musim semi yang menggigit lembut pipi siapa pun yang berjalan di trotoar. Suasana padat dan gemerlap Manhattan seakan tak pernah berhenti berdetak, tetapi di sebuah sudut apartemen tinggi di Midtown, Selena tengah menarik diri dari hiruk-pikuk dunia yang selalu menuntutnya sempurna. Ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa beludru abu-abu, masih mengenakan hoodie oversized dan legging hitam. Rambutnya diikat ke atas seadanya, wajah tanpa make-up—sebuah kemewahan langka yang hanya ia nikmati saat berada di rumah. Ponselnya berdering. Olivia. "Aku sudah berada di depan pintu apartemenmu. Jangan pura-pura tidak ada, Selena." Selena mendesah dan bangkit, melangkah menuju pintu dengan malas. Begitu dibuka, Olivia Johnson—calon kakak iparn

