Theodore kembali ke ruang ganti. Ruangan itu sepi. Ia menatap bayangannya di cermin—mata yang letih, garis rahang yang mengeras, dan sorot kosong yang tidak pernah ia tunjukkan di hadapan kamera. Tangannya bergerak ke ponsel yang tergeletak di meja. Ia menatap nama "Selena" yang masih tersimpan di daftar panggilan terakhir. Matanya tajam, namun jemarinya gemetar nyaris tak terlihat. Mungkin ia harus menekan nomor itu sekali lagi. Bukan untuk mengatakan sesuatu. Bukan untuk meminta maaf. Tapi hanya untuk memastikan bahwa... ia belum benar-benar kehilangan sesuatu yang bahkan belum ia miliki. Pria itu masih berdiri di ruang ganti, menatap layar ponselnya. Nama “Ashana Selena” terpampang di sana, seperti menghantuinya sejak semalam. Jemarinya hendak menekan tombol panggil, sekedar untu

