Bab 27

875 Kata

Suara hujan di luar terdengar semakin deras, seolah dunia tengah menyanyikan lagu sendunya sendiri. Di dalam apartemen itu, cahaya lampu hangat menyelimuti ruang tamu. Kopi di tangan mereka sudah hampir dingin, tapi tak ada yang sempat meminumnya lagi. Obrolan mereka perlahan berubah menjadi diam. Bukan karena tak ada yang ingin dikatakan, melainkan karena terlalu banyak hal yang ingin disimpan. Selena melirik ke arah Theodore. Pria itu duduk di ujung sofa, tampak lebih tenang dari biasanya. Namun tangannya yang mengetuk-ngetuk pelan sisi cangkir menunjukkan kegugupan yang tak biasa. "Jadi," ucap Theodore pelan, mencoba mencairkan suasana, "kau biasa tinggal sendiri di sini?" Selena mengangguk. "Aku suka punya ruang yang benar-benar milikku. Tempat di mana aku tidak harus menjadi siapa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN