Hari yang setengah mati ingin ku hindari itu akhirnya tiba. Hari dimana Aku dan Mas Adji harus berkunjung ke rumah mertuaku seperti kesepakatan yang telah kami buat.
Hanya sekedar makan lalu pulang.
Meski ogah-ogahan, Aku tetap effort membuatkan mertuaku milk bun kesukaannya. Berbekal tutorial cara memasak di youtube dan keterampilanku membuat olahan manis, akhirnya kue asal Thailand itu jadi juga.
"Loh, Mas kok masih santai?" tanyaku heran melihat Mas Adji yang masih anteng di depan laptop padahal waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore.
"Iya, ini sudah selesai. Ayo shalat dulu baru berangkat," ajak Mas Adji sambil membenahi laptopnya dan beranjak dari sofa.
Aku mengekor langkahnya sambil memainkan ujung dasterku yang ketumpahan tepung tanpa melihat ke depan. Rasanya untuk bergerak kakiku sampai ku seret-seret, berat sekali.
'Bugh'
"Aduh Mas, kok ngerem mendadak," pekikku sambil mengusap dahi yang menubruk punggungnya. Asli, rasanya emang beneran kayak habis nabrak gerbang ibukota, agak puyeng.
"Kamu lagi mikir apa?"
Aku menggeleng, "Nggak ada."
"Jawab jujur Gina," Mas Adji melayangkan tatapan yang menurutku sangat mengintimidasi. Sudahlah mana bisa Aku menang melawan Mas Adji.
"Kalau Ibu, Ayah atau Oma nanya soal cucu gimana, Mas?" cicitku sambil mencebik lesu.
"Gina harus jawab apa? Sampai sekarang Gina kan masih belum ada tanda-tanda hamil."
Aku menunduk tak berani menatap matanya. Mas Adji menghela nafas dalam. Mungkin kasian melihat istrinya yang biasa ceria mendadak melow.
Jujur kalau omongan orang-orang di luar sana Aku nggak peduli. Tapi kalau yang ikut bicara adalah keluarganya Mas Adji, rasanya Aku nggak kuat untuk membela diri.
Mas Adji mengangkat daguku dan mengarahkan ke wajahnya, hingga kami bisa saling menatap dengan sangat dekat.
"Saya tidak terlalu memikirkan soal anak. Misal Allah menitipkan kita anak, Saya akan bersyukur. Jika tidak pun, Saya akan tetap bersyukur karena ada kamu di sisi Saya. Kamu hanya harus peduli tentang pendapat Saya, Gina. Jangan memikirkan omongan orang yang tidak penting, oke? Karena kita yang menjalaninya, jadi hanya kita yang tahu rasanya."
Aku memeluk Mas Adji, menghidu aroma tubuhnya yang menenangkan. Di saat seperti ini untungnya Mas Adji sangat membantu Aku yang sudah insecure dengan diri sendiri.
"Bener Mas Adji nggak akan ninggalin Gina walau selamanya kita hanya berdua?" Aku memastikan.
Mas Adji melepas pelukan kami, menatap mataku dan mengangguk dengan meyakinkan. Ada sedikit rasa lega menyeruak melihat senyum tulus suamiku.
"Mandi Gin, muka kamu ditepungi udah kayak mochi," Mas Adji meledek penampilanku yang acakadul kemudian mendorong tubuhku ke kamar.
"Kalo gitu mau dong jadi mochi, biar dimakan Mas Adji, kiw kiw..." godaku pada suami sambil mengedipkan sebelah mata nakal.
"Astaga Gina, kalau kemalaman ke rumah Ibu, kita pasti disuruh nginap," suara Mas Adji berat.
***
Rumah mewah bercat putih dengan banyak tanaman hias disekelilingnya itu menjulang bak istana. Terlihat seorang laki-laki berseragam satpam tergopoh-gopoh membuka gerbang tinggi hingga mobil kami bisa leluasa masuk.
"Mas Adji sama Mbak Gina sudah ditunggu Ibu dari tadi," sambut Pak Nardi ramah.
Meski Mas Adji berulang kali menguatkan, tetap saja hatiku merasa gundah. Entahlah, insting seorang istri yang tidak bisa ku jelaskan.
"Assalamualaikum Bu, Mbak Hanum..."
Aku masuk ke dalam rumah disusul Mas Adji yang menenteng paper bag berisi milk bun buatanku.
"Gina..." pekik Ibu yang berjalan cepat dari arah ruang makan.
"Bu," Aku membalas pelukan erat Ibu mertua yang begitu antusias menyambut kedatanganku.
"Ibu kangen sama kamu, Gin. Kok jarang main ke sini sih?"
Ibu merapikan kerudungku yang agak berantakan karena ulahnya. Aku benar-benar diperlakukan seperti putri kandung sendiri oleh mertua. Sangat beruntung.
"Gina sibuk gosip Bu, sama Ibu-ibu komplek," celetuk Mas Adji sambil melengos meletakkan paper bag di meja.
"Ihh fitnah, Bu," elakku pada mertuaku yang tertawa nyaring setelahnya.
"Kamu jadi jail sekarang, Mas," katanya sambil memeluk suamiku.
"Malam ini kalian nginap kan?" tanya Ibu lagi penuh semangat.
"Nggak Bu, kita nggak bawa baju," jawabku cepat. Lupa kalo punya mertua orang berada. Kalau hanya sekedar baju, tentu saja ada.
"Gampang, kamu mau baju model apa, nanti Ibu minta Santi antar ke sini. Nanti malam Ibu, Ayah, sama Oma, mau antar Mbak Hanum ke bandara. Kamu sama Mas Adji ikut aja yah?"
Santi adalah asisten Ibu mertuaku di butik miliknya.
Aku hanya mampu nyengir bingung. Mana tega mematahkan hati mertuaku yang kelihatan sangat berharap ini. Aku melirik Mas Adji yang malah mengangkat kedua bahunya lalu memasang tampang lempeng kayak biasa.
"Mama Naaa," suara melengking dari arah tangga menyita atensi kami. Mbak Hanum dan Jihan putrinya mendekat ke arah kami.
"Zia," Aku meraih tubuh mungil balita empat tahun itu dan menggendongnya.
"Apa kabar? Kamu kok pucat, Gin?" tanya Mbak Hanum yang ikutan berpelukan.
"Ah masa Mbak, padahal tadi Aku udah dandan," panikku sambil memegang wajah.
Mbak Hanum terkekeh, "Tapi tetap cantik kok. Adji aja bucin gitu," sindirnya pada sang adik.
'Bucin? Amin aja deh. Bilang sayang aja belum pernah, apalagi cinta,' batinku bermonolog.
"Ini Bu, milk bun kesukaan Ibu," Aku meraih paper bag di atas meja dan memberikannya pada Ibu mertua.
"Wahhh, ingat aja kesukaan ibu," sambut Ibu sumringah.
"Kue beli aja bangga," sinis seseorang dari belakang kami.
Nah, ini dia muncul si nenek gayung.
"Oma," sapaku dan mendekat lalu menyalami tangannya takjim. Meski kurang suka dengan perangai Oma, tapi Aku masih menghormatinya sebagai orang yang paling tua sekaligus yang paling berjasa dalam melahirkan Ayah mertuaku. Kalau Ayah mertuaku nggak ada, otomatis Mas Adji juga nggak ada kan?
"Gina bikin sendiri kuenya, Oma." sahutku kemudian. Sedangkan Mas Adji sudah melengos masuk ke ruang tengah. Nggak ada niat buat nolongin istrinya yang lagi terjebak dalam suasana awkward ini.
"Paling juga bantet."
Elah, yang keluar dari mulut nenek gayung, emang nggak ada yang bagus, semuanya nyakitin.
"Ayo kita cobain kuenya dulu," ajak Ibu mertuaku dan menggiring kami ke ruang keluarga. Beberapa pelayan lalu menyajikan kue buatanku ke dalam piring-piring kecil lengkap dengan teh hangat dan irisan buah segar.
Aku duduk sambil memangku Zia, sementara Mas Adji dan Ayah mertuaku duduk sedikit jauh dari kami, sepertinya sedang membicarakan pekerjaan. Meski tidak terlibat langsung dalam perusahaan Ayah, tapi suamiku memiliki saham yang patut di perhitungkan di sana.
"Enak banget Gin, kok bisa sih kamu bikin kue gini. Mbak nggak nyangka, selain cantik juga jago masak," puji Mbak Hanum dan di setujui oleh Ibu mertuaku, dia manggut-manggut sambil menyuapkan lagi potongan kue yang kedua.
"Udah bakat dari lahir kali Mbak," sahutku jumawa.
Wajah Oma yang duduk di samping kiriku terpantau masam. Dia nampak enggan mencicipi kue yang sudah tersaji di depannya. Walau Ku lihat beberapa kali Oma menelan ludah. Egonya memang setinggi gunung Everest.
"Oma nggak makan? Ini less sugar kok Oma?" tawarku padanya.
"Alah, kalau Oma nggak mau sini Hanum yang habisin," tanpa permisi Mbak Hanum meraih kue di depan Oma dan memakannya. Tak bisa mencegah, wajah Oma kulihat semakin masam kayak perasaan jeruk nipis.
"Kapan kamu hamil?" tanyanya tiba-tiba.
"Si Mayang yang waktu nikahnya berdekatan dengan kamu, sudah mau melahirkan sekarang."
Nah kan, mulai mulai.
Nanya balik 'Kapan situ mati?' boleh nggak sih?
Ibu mertuku dan Mbak Hanum tampak sekali tidak suka dengan kata-kata Oma. Kelihatan sekali ingin memojokkanku.
"Gina sama Mas Adji usaha terus kok, Oma," sahutku kalem.
Iyalah usaha terus, tiap ada kesempatan malah. Kalau nggak lagi halangan, Mas Adji selalu nagih jatahnya.
Oma kira bikin anak kaya bikin kue apa, habis di adon langsung jadi. Ya Aku mana tahu kapan hamilnya.
"Adji itu anak laki-laki, dia perlu penerus untuk bisnis keluarga. Yah, walau Adji sekarang nggak terlibat di perusahaan. Tapi tetap saja suatu saat bisnis itu akan diwariskan kepadanya."
Diam, semua diam. Tak ada yang berniat menyahut kala nenek gayung sudah ngomong ngelantur.
"Hanum anaknya perempuan, mana bisa diandalkan. Sedangkan Aldi suaminya, hanya orang luar. Oleh karena itu, kamu harus bisa memberi cucu laki-laki dalam keluarga ini."
Aku melirik Mbak Hanum yang tiba-tiba kehilangan selera makan. Lagi pula apa salahnya anak perempuan? Banyak kok perempuan yang sukses memimpin perusahaan besar bahkan duduk menjadi pejabat penting di pemerintahan.
"Kamu sudah pernah periksa ke dokter kandungan?"
Haduh, kapan berhentinya sih nih orang ngomong. Kupingku rasanya udah panas. Tapi Aku mencoba mengalihkan perhatian dengan terus menyuapi Zia buah.
"Gina, jawab Oma?"
Aku mengangkat wajah memandang ke arah Oma, "Belum Oma," cicitku.
"Kenapa? Kamu takut ketahuan mandul?"
Deg. Tiba-tiba saja perutku mules, mataku berkaca-kaca. Lidahku kelu dan nafas rasa tercekat. Sakit banget rasanya kala mendengar kata 'mandul' itu keluar dari bibir Oma. Benarkah Aku seorang wanita mandul?
"Ma, udah dong. Jangan ngomong gitu, kasian Gina. Mereka baru dua tahun menikah. Masih penganten baru," bela Ibu mertuaku dengan nada rendah, nampak sekali menahan emosinya.
"Penganten baru?" Oma terkekeh mengejek.
"Kamu nggak usah ikut campur Astrid, Aku yang berkuasa di rumah ini. Karena ini rumah peninggalan mendiang suamiku. Bahkan sebagian besar aset dan perusahaan juga milik suamiku," Oma langsung mengultimatum Ibu mertuaku. Dia lalu beralih menatapku garang.
"Kalau memang ternyata kamu mandul, kamu harus bersiap mengikhlaskan Adji untuk menikah lagi, Gina. Kamu dan Adji menikah karena perjodohan bukan? Jadi Oma juga bisa mencarikan dia istri yang siap memberinya keturunan," tunjuk Oma ke arahku dengan sikap arogannya.
Aku berkedip dan bulir air yang ku tahan akhirnya runtuh juga. 'Dasar cengeng. Jangan nangis Gina, jangan lemah di depan nenek gayung itu,' batinku.
Zia dalam pangkuanku menatap bingung dengan mata jernihnya. "Mama Na angis?" tanyanya polos dan menyeka air mataku dengan tangan mungilnya. Aku tersenyum kecut dan menggeleng samar.
Ibu mertuaku mendekat dan mengusap bahuku lembut. Oh Tuhan, Aku ingin sekali pergi dari tempat ini.
"Kalau ternyata Saya yang mandul gimana, Oma?" suara geram Mas Adji dari arah belakang terdengar lantang.