'Krik Krik Krik'
Makan malam yang digadang-gadang sejak jauh-jauh hari itu berlangsung dalam suasana tegang. Oma yang egois dan Mas Adji yang tak kalah arogan.
Aku jadi nggak aneh lagi darimana sikap dingin Mas Adji berasal, mengingat kedua mertuaku orang yang ramah. Rupanya tak lain dari nenek kandungnya sendiri a.k.a Oma a.k.a nenek gayung. Beruntung Mas Adji nggak suka julid ataupun ikut campur urusan orang.
Para pelayan sudah menyuguhkan aneka hidangan di atas meja panjang di depan kami. Tak ada yang bersuara, kecuali celoteh Zia yang menunjuk ini dan itu untuk diletakkan ke dalam piringnya. Yah setidaknya, ada yang merasa senang duduk di meja ini, karena belum mengerti apapun.
"Bu, ada tamu," kata seorang pelayan.
Belum sempat Ibu menyahut, suara dari belakangnya sudah merebut atensi kami lagi.
"Assalamualaikum... Tuh kan bener ada Adji!" pekikinya.
Seorang wanita hamil nampak berjalan kesusahan ke arah kami. Meski begitu, wajahnya nampak sumringah dan berseri-seri melihat ke arah suamiku.
"Mayang?" gumam Mas Adji sedikit terkejut.
Oh, jadi ini si Mayang yang disebut-sebut Oma tadi. Aku mencoba mengingat-ingat dimana pernah melihat wanita ini. Rasanya bukan pertama kali ini saja melihatnya.
Dan tanpa melihat orang-orang di sekitar, yang nggak tahu kenapa mendadak ngeblank berjamaah, Mayang langsung menyeruduk memeluk tubuh suamiku yang masih dalam posisi duduk.
What the...
"Aku lihat mobil kamu di depan, ternyata bener ada kamu Ji. Long time no see. I miss you so bad," katanya masih bersemangat.
Dan yang bikin Aku jadi bete, Mas Adji tidak berusaha untuk melepas pelukan wanita hamil itu. Dia membiarkan perut besar wanita itu menempel di tubuhnya.
'Sabar Gin, mungkin dia masih saudara Mas Adji,' malaikat baik berbisik di telinga kanan.
"Ekhm," suara Ayah yang sengaja berdehem.
"Eh, Om, Tante, Oma, Mbak Hanum apa kabar?" katanya spontan karena semua mata menatap horor ke arahnya. "Dan..."
Tatapan Mayang berhenti ke arahku. Paham akan kebingungan wanita itu, Mas Adji lalu berinisiatif menjelaskan. Dia meraih tanganku, "Gina. Istri Saya," katanya sambil tersenyum ramah.
Entah hanya perasaanku saja, tapi Aku jelas melihat perubahan signifikan diraut wajah wanita hamil itu. Tidak lagi secerah sebelumnya.
"Oh, hai. Aku Mayang," katanya hanya melambai sebentar dan kembali fokus ke Mas Adji.
"Duduk, May. Ayo ikut makan malam sama-sama," itu suara Ibu mertuaku yang baik hati.
Dan tanpa basa-basi, Mayang langsung duduk di samping Mas Adji. Posisinya Zia, Aku, Mas Adji dan Mayang duduk dalam deret bangku yang sama. Sedangkan Ibu, Oma dan Mbak Hanum di depan kami. Ayah duduk di bangku paling ujung sebagai kepala keluarga.
"Gimana kabar kamu? Kapan datang dari Palangkaraya?" tanya Ibu.
"Aku baik tante, rencana mau melahirkan di sini biar deket sama Mama. Deg-degan juga melahirkan pertama kali. Sudah dua hari Aku di sini, tapi baru sekarang ada kesempatan buat main ke sini. Maklum, jalan dikit udah begah tante," Mayang mengakhiri kalimatnya dengan tawa senang.
Seorang pelayan menyajikan piring di depannya yang disambutnya dengan suka cita. Semua atensi kini fokus pada wanita hamil itu. Syukur lah, semoga tidak ada lagi yang menyentil kekuranganku sebagai istrinya Mas Adji.
"Suami kamu?" tanya Ayah.
"Mas Adnan masih di Palangkaraya, ada tugas yang nggak bisa ditinggal," jawab Mayang singkat, nadanya tak seantusias di awal.
"Eh, Ji. Boleh nggak kamu pegang perut Aku sebentar. Enggak tau kenapa, sejak hamil tujuh bulan, jadi kepingin aja dipegang kamu. Biar nular ganteng dan pinter kayak kamu."
'Yaasalam, belum musnah nenek gayung, terbit lagi nenek sihir,' batinku emosi.
"Teori dari mana begitu?" tanya Mas Adji sambil meraih gelasnya untuk minum. Dia terkesan tidak tertarik untuk menuruti permintaan Mayang.
Mungkin karena tau Mas Adji akan berbelit-belit, Mayang langsung saja meraih tangan suamiku dan meletakkan di perutnya. Memutar-mutarnya agresif di sekujur perut buncitnya.
"May!" tegur Ibu mertuaku.
"Ck ck ck, anak muda zaman sekarang, memang nggak tau malu dan nggak punya aturan. Seenak jidat kelakuanmu seperti bukan wanita terhormat," komentar Oma dengan nada super nyebelin khas dirinya.
Nah nah, tiba-tiba Aku pengen nyium kaki Oma jadinya kalau begini.
Mendengar hal itu Mayang segera melepas tangan Mas Adji dan nyengir tanpa dosa, "Maaf Tante, Oma, kepengenannya ibu hamil emang suka aneh-aneh ya," katanya sambil garuk-garuk tengkuk, salah tingkah.
"Bukan minta maaf sama Ibu atau Oma, tapi sama istrinya Adji," sahut Mbak Hanum yang juga kelihatan kurang bersahabat.
"Kamu menyentuh suami orang, May. Walaupun sejak kecil kalian berteman tapi status kalian sekarang sudah beda. Ingat suami kamu juga," peringat Mbak Hanum lagi.
"Eh eh maaf ya Gina, bukan maksudku macam-macam. Emang dari dulu Aku sama Adji udah deket. Jadi terbawa kebiasaan lama. Sekali lagi maaf Mbak Hanum, Gina dan semuanya kalau Aku salah," Mayang menunjukkan wajah penyesalan.
"Makanya Gina, Oma bilang juga apa. Cepatlah hamil biar Adji elus perut kamu juga," itu Oma dengan nada sinisnya. Malas lah. Baru juga dipuji, nenek gayung mulai berulah lagi.
Speechless, Aku nggak tau harus bereaksi apa. Masalahnya nenek sihir menunjukkan kedekatannya dengan Mas Adji di depan semua orang, terang-terangan. Seolah sudah jadi kebiasaan dari dulu. Berkolaborasi dengan nenek gayung yang nggak ingat umur. Tapi kok Aku jadi sebelnya sama Mas Adji ya. Liat muka lempeng dia, jadi pengen ngereog.
"Orang tua kamu mana, May?" Ibu mertuaku mengalihkan pembicaraan.
"Ada di rumah Tante. Papa lagi kurang enak badan. Jadi Mama nggak bisa kemana-mana jagain Papa."
"Wah, sudah lama sakitnya?"
"Baru tadi siang kok, tan."
"Mama Na, mau itu," tunjuk Zia ke arah mangkok telur puyuh masak kecap.
Segera Aku meraih mangkok itu dan menuang beberapa ke dalam piringnya. Tapi yang bikin gerakanku berhenti di udara adalah ketika ekor mataku melihat tangan Mayang menghapus jejak air di dagu suamiku. Walau hanya sepersekian detik Aku sempat melihatnya dengan jelas. Semuanya memang fokus pada Zia dan makanan masing-masing tapi Mayang mengambil kesempatan itu.
Astaga, haruskah Aku pindah tempat duduk di sebelah Mayang? Selera makanku yang sejak awal minimum, sekarang semakin hilang.
Apa dulu mereka seakrab itu? Apa benar hanya sekedar teman? Apa tidak ada yang memendam perasaan diantara mereka? Dan banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam otakku.
***
Aku membaluri permukaan perutku dengan minyak telon berharap rasa tidak nyaman sedikit berkurang. Akhirnya Aku dan Mas Adji terpaksa menginap. Tapi untuk mengantar Mbak Hanum dan Zia ke bandara Aku memilih untuk tinggal. Membayangkan berada satu mobil dengan nenek gayung rasanya perutku semakin melilit.
Pandanganku memindai seisi ruang kamar Mas Adji sewaktu bujang, yang kutempati ini. Gotcha, Aku ingat sekarang di mana pernah melihat Mayang. Mataku memandang lurus pada sebuah foto yang ditempel di satu sudut dinding kamar bersama foto-foto lainnya. Foto Mas Adji ketika masih remaja.
Ada satu foto yang menarik perhatianku. Foto Mas Adji bersama Mayang. Mas Adji merangkul pundak Mayang memamerkan senyum terbaiknya sedangkan Mayang tak kalah sumringah sambil mengangkat sebuah piala.
Ada perasaan tak rela yang menggelitik di hati. Ternyata mereka memang sedekat itu dulu. Foto itu adalah satu-satunya yang menampilkan Mas Adji dengan senyum bahagia, karena foto lainnya adalah dia dengan tampang lempeng seperti biasa. Dan fotonya masih tersimpan rapi di kamar.
Mungkinkah Mas Adji dulu menaruh perasaan pada Mayang dan terpaksa menerima perjodohan denganku karena Mayang akhirnya menikah dengan laki-laki lain. Bermacam pikiran aneh berebut mengisi kepala membuat perutku semakin tidak enak saja.
'Tok tok tok'
Lamunanku buyar dan seluruh atensiku kini tersita ke arah pintu. "Masuk aja, nggak di kunci," teriakku tanpa mengubah posisi dari atas ranjang.
"Gin, Mbak pamit ya?" Mbak Hanum menyembulkan kepala dari balik pintu.
"Oh, udah mau berangkat? Ayo Gina antar sampai depan," Aku beringsut dari ranjang namun Mbak Hanum justru mencegahku. Dia mendekat dan duduk di depanku. Mbak Hanum menggenggam tanganku dan bicara serius penuh perhatian.
"Kamu nggak usah pikiran apa kata-kata, Oma," Mbak Hanum membuka pembicaraan.
"Oma dari dulu emang gitu, kita nggak ada yang betah lama-lama dekat dengan Oma. Termasuk Mas Aldi papanya Zia. Makanya dia ogah banget kalau di ajak pulang ke sini."
"Kenapa Mbak?"
"Dendam dia. Biasa, omongan Oma yang terus nyerempet masalah kerjaan yang dianggap Oma remeh. Padahal Mas Aldi udah merintis karir dari muda tanpa ikut campur orang tua apalagi Oma. Eh, kena-kena juga dinyinyirin."
Aku terkekeh melihat ekspresi enek Mbak Hanum yang tidak dibuat-buat.
"Ya mau gimana lagi, mau di lawan juga salah. Didengerin sakit hati. Kalau ditegur Oma makin-makin, malah segala kambuh penyakitnya. Udah tua juga, mungkin udah mulai pikun," Mbak Hanum sedikit berbisik saat mengucap kata terakhir.
"Iya Mbak, sebelum berangkat ke sini Mas Adji juga sudah ingetin," jawabku memaklumi.
"Nah bagus. Udah, jangan dimasukin dalam hati. Anggap aja anjing menggonggong."
"Huss, jangan ngomong jujur Mbak," hardikku yang kemudian disusul tawa kami.
"Eh ngomong-ngomong Adji sekarang berubah banget tau. Keliatan dia bucin banget sama kamu."
Aku terkekeh sambil menggaruk pelipis yang nggak gatal. Aminin aja deh, Mbak Hanum udah dua kali ngomong gitu.
"Banyak senyum dia sekarang," tambah Mbak Hanum.
"Dulu mah, boro-boro senyum, ngomong aja irit. Kita sampai nggak tau dia maunya apa. Lagi sakit, seneng, sedih mukanya lempeng mulu."
'Masih Mbak, sekarang juga masih lempeng," batinku.
"Mbak, boleh nanya nggak?"
Mbak Hanum menaikkan sebelah alisnya seolah mempersilakan.
"Mayang itu siapa?"
Mbak Hanum menarik nafas dalam sebelum mulai cerita.
"Tetangga, rumahnya di dekat persimpangan komplek, jarak dua rumah dari sini. Dari kecil sudah main sama Adji, mereka seumuran. Satu sekolah juga."
Aku hanya manggut-manggut mengerti, pantas saja mereka sedekat itu, orang dari orok sudah main bareng.
"Tapi...."
Aku memajukkan tubuh menunggu kelanjutan kalimat Mbak Hanum yang menggantung.
"Ini cerita sudah lewat sih dan Mbak hanya menebak-nebak. Karena sekali lagi kami nggak bisa baca pikiran Adji karena saking lempengnya."
Aku manggut-manggut lagi. Gila, udah kayak anak anjing dari tadi manggut-manggut.
"Mbak kira dulu mereka saling suka."
Sudah bisa ku tebak, karena Aku juga memiliki pemikiran yang sama.
"Kamu tahu sendiri Adji nggak banyak ngomong dan Mayang mungkin sebagai cewek juga gengsi confess duluan. Dan tiba-tiba, nggak ada angin nggak ada hujan kita semua dapat kabar kalau Mayang hamil. Dan dua minggu setelahnya Mayang menikah dengan suaminya sekarang. Kami sempat mengira Adji bakal patah hati. Eh, nggak tahunya B aja. Nggak lama setelah itu, Adji juga nikah sama kamu kan."
Otakku yang berkapasitas pentium dua mencoba mencerna dengan baik.
"O, jadi yang sekarang anak keduanya Mayang?"
"Iya, nggak tau kenapa setelah menikah Mayang malah keguguran. Makannya dulu dia nggak ada pas nikahan kalian. Selain juga ikut suaminya di Palangkaraya. Dan baru sekarang hamil lagi."
Aku manggut-manggut lagi sambil membentuk bibir dengan huruf O.
"Jadi, Mas Adji menikah sama Gina karena pelarian dari Mayang?" cicitku hampir tak terdengar namun Mbak Hanum merespon dengan tegas.
"Enggak kok Gin. Sekali lagi Mbak ulang, kita nggak ada yang bisa menebak isi kepala Adji. Ide perjodohan kalian emang sudah digadang-gadang jauh hari. Karena Ibu sama Mama kamu teman dari SMA. Trus pas ngumpul, mungkin mereka ngide buat jodoh-jodohin anak-anaknya. Mbak rasa nggak ada kaitannya sama Mayang."
'Iya, karena Ibu juga nggak tahu kalau Mas Adji sakit hati Mayang hamil sama laki-laki lain dan menerima perjodohan kami untuk mengalihkan sakit hatinya,' pikiran negatifku menghantui.
Mungkinkah dia cinta pertama Mas Adji?