7. Beri Aku Bayi

1613 Kata
Sementara itu, di lantai bawah tepatnya di balkon samping taman, Mas Adji dan Ayah nampak berbincang serius. "Gimana, kamu sudah pikirin tawaran Ayah?" Mas Adji menggeleng tegas, "Adji nggak mau ada sangkut pautnya dengan harta keluarga ini. Ayah lihat sendiri bagaimana 'Mama' Ayah itu memperlakukan istri Adji. Jujur Adji nggak suka." Ayah nampak menghela nafas, serba salah. Ayah tahu bagaimana perangai ibu kandungnya itu. Bahkan adiknya di Samarinda sudah angkat tangan mengurus ibu mereka ini hingga memutuskan untuk pindah. Masalah bisnis yang sudah dirintis oleh mendiang Opanya Adji mau tidak mau Ayah juga yang harus mengurus meski harus ditekan dengan bayang-bayang Oma yang mengatur kehidupan mereka. Pernah sekali Ayah menegur Oma karena sikap buruknya pada suami Mbak Hanum, tapi malah Oma tiba-tiba kolaps dan harus dirawat selama sebulan di rumah sakit. Tidak ada yang mengetahui perasaan Oma, di masa tuanya mungkin dia butuh lebih diperhatikan. Atau memang sengaja uji nyali agar anak cucunya jadi pribadi yang berhati baja. Tapi mana mungkin? Mana ada orang yang tahan dengan omongan Oma yang nyelekit itu. "Selain ekspor sawit, Ayah sudah mulai membuat anak perusahaan untuk pengolahan sawit menjadi minyak mentah. Untuk itu Ayah sangat keteteran harus bolak balik pabrik. Makanya Ayah sangat membutuhkan kamu." "...." "Lagi pula, apa kamu nggak bosen kerja dibawah tekanan orang terus?" sambung Ayah mencoba mempengaruhi. Mas Adji terkekeh kecut, "Ayah jangan manas-manasin Adji, nggak ngaruh. Adji sudah buktikan kalau tanpa harta dari peninggalan Opa, Adji bisa menghidupi diri sendiri dan istri dengan layak." "Ayah liat Gina belum punya mobil sendiri," kompor Ayah. Aku yang mencuri dengar dari balik pembatas ruang mesem-mesem sendiri. Ternyata Ayah memang pantang menyerah, tak mempan dengan tawaran anak perusahaan, Aku pula sebagai mantunya dibawa-bawa. Artinya Aku punya arti khusus kan di mata Mas Adji? Bukan hanya karena status istri. "Oh iya, Adji mau kasih kabar," katanya sambil mengulas senyum simpul. "Kalau sebenarnya Adji sudah dipromosikan menjadi kepala cabang Pelindo terminal peti kemas. Biar tempat kerja lebih jauh, tapi gajinya berkali lipat dari yang sekarang. Gina bisa pilih mobil sesukanya satu tahun dari sekarang." Mas Adji sungguh berbangga, nyerempet ke sombong a.k.a congkak. Nggak jauh kan sama sifat Omanya? "Baru promosi kan belum pasti. Kalau di perusahaan Ayah, kamu sudah pasti jadi direktur tanpa persyaratan apapun." "No Ayah. Silakan Ayah tawarkan sama Mbak Hanum atau Om Faisal," jawab Mas Adji tegas. Om Faisal itu adik kandung Ayah yang di Samarinda. "Gina, sepatunya Zia sudah kamu masukkin tas?" Aku berjengkit kaget mendengar suara Ibu. Berbarengan dengan kemunculan Ibu, Santi sang asisten mengekor di belakang dengan sebuah paper bag. "Kamu beneran nggak ikut? Awas loh, jangan pulang malam ini," peringat Ibu untuk yang kesekian kali. "Iya Bu, besok siang Gina sama Mas Adji pulangnya," jawabku sambil menyerahkan tas berisi sepatu Zia. "Ih enak aja. Pulang sore! Ibu mau ngajak kamu ke butik." Bahuku meluruh, mana bisa menolak kalau sudah diputuskan begini. "Ini Mbak Gina, baju ganti pesenannya," Santi menyerahkan paper bag padaku yang langsung ku sambut dengan ucapan terimakasih. Tak lama seluruh anggota keluarga sudah berkumpul di depan mengantar kepergian Mbak Hanum dan Jihan ke bandara. Setelah berada di sini empat hari, tiba waktunya mereka kembali ke Banjarmasin. Meski sudah renta, tapi Oma menolak untuk tinggal. Dia duduk di bangku penumpang depan dengan semangat. Sebenarnya Oma juga sayang dengan Zia, cicit pertamanya itu. Hanya gengsi saja, karena keinginannya untuk memiliki cicit laki-laki tidak kesampaian. Makanya Oma rela capek-capek ikut mengantar Mbak Hanum dan Zia malam-malam begini. Syukurlah, daripada kena siraman qolbu sama nenek gayung. *** Malam semakin larut, suasana rumah juga sepi karena para asisten sudah pulang ke rumah masing-masing. Aku membuka paper bag yang diberikan Santi tadi dan tertegun setelahnya. Ada beberapa helai pakaian dalam dan gamis panjang, lengkap dengan pasmina. Juga pakaian ganti untuk Mas Adji. Yang bikin Aku pangling adalah sepasang baju tidur dengan kain super lembut yang nyelepit diantara baju-baju lain. Emang sepasang karena warnanya senada, biru dongker. Hanya saja, gaun tidur untuk wanita terlihat sangat... menantang. Tali spageti dan panjangnya hanya tiga jari dari b****g. Pundak dan paha terekspos sangat sempurna. Mas Adji pasti kalang kabut kalau melihat Aku memakai gaun malam seperti ini. Berhubung Mas Adji masih memastikan semua pintu terkunci sempurna, Aku bergegas mandi dan terpaksa memakai gaun tidur yang ada. Aku sudah membungkus tubuhku dengan selimut saat Mas Adji masuk kamar dan membersihkan diri. Tak sampai sepuluh menit Mas Adji sudah bergabung ke ranjang dan memeluk tubuhku dari belakang. Wangi. Itulah kesan pertama yang bisa ku simpulkan akan keberadaan Mas Adji. Sebenarnya Aku cukup heran, kami memakai sabun dan shampo yang sama. Tapi kalau Mas Adji yang pakai, wanginya bisa semerbak kemana-mana. Padahal di Aku sendiri rasanya B aja. "Capek banget hari ini," celetukku. "Hmmm," jawabnya. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya di leherku. Aku mencebik memikirkan kalimat yang akan ku tanya padanya. Yah, memang selama ini Aku yang harus selalu inisiatif kalau mau deep talk dengan Mas Adji. Kalau nunggu Mas Adji ngomong, mending di tinggal tidur. "Mas, misal... misal ni yaa..." Mas Adji melingkari pinggangku dengan tangan kekarnya. "Di sebuah sungai, ada Gina dan teman perempuan Mas yang paling deket. Kita sama-sama tenggelam. Mas milih menyelamatkan siapa dulu?" "Apa sih Gina, kamu random banget," dengus Mas Adji sambil terkekeh pelan. Nggak tahu juga, tiba-tiba aja terbersit andai-andai itu di kepalaku. "Yaa kan Gina bilang misal. Jawab aja sih Mas. Gina cuma iseng sambil nyari-nyari ngantuk," Aku menggigit bibir bawahku, takut jawaban Mas Adji nyakitin. "Tapi sebelum jawab dipikir ya Mas, jangan asal jawab," peringatku. "Kamu lagi mau uji Saya?" katanya sambil menciumi punggungku yang terbungkus selimut. "Ish, jawab aja Mas," Aku mulai tak sabar. "Ehmmm, jawabannya tergantung," katanya lempeng. Deg, jantungku ketar ketir. 'Nyari penyakit gampangkan Gina?' batinku mengomeli diri sendiri. 'Bisa nggak, langsung jawab pilih Aku gitu Mas? Nggak usah muter-muter.' "Maksudnya?" tanyaku tak paham. "Kamu kan bisa berenang. Kalau teman Saya nggak bisa renang ya Saya tolong dia dulu." "Gitu ya?" cicitku kecewa. "Tapi kenyataannya Saya nggak punya teman perempuan, Gina." "Ooo jadi Mayang itu bukan teman? Mantan gebetan?" sahutku sedikit tinggi. Muka Mas Adji masih lempeng meski sampai membalik tubuhku agar menghadapnya. "Kamu jangan mikir yang aneh-aneh. Saya sama Mayang cuma teman, dulu dan sekarang," ucap Mas Adji tegas. Nggak ada ekspresi lain. Emang susah di tebak nih orang. "Mungkin tadi dia bersikap begitu karena lama nggak ketemu." "Dulu Mas Adji sedekat apa sama Mayang?" bertanya soal yang Aku sudah tahu jawabannya dari Mbak Hanum. Ingin menguji kejujuran Mas Adji saja. "Teman sejak kecil. Dia tetangga, masih satu komplek." "Mas Adji suka sama dia?" tembakku tanpa cacicu. Emang dasar kurang kerjaan, pakai nanya soal yang bakal menguji nyali sendiri. Dan jawaban Mas Adji... "Suka," katanya singkat. Aku melongo mendengar jawaban spontan Mas Adji. Hadeh, Dia kayak nabur garam di atas luka yang belum kering dari hasil karya Oma dan Mayang. Sudahlah jangan ditanya, mataku auto berkaca-kaca. "Gina jadi iri sama dia. Berati dia cinta pertama Mas Adji. Sampai sekarang Mas juga masih suka sama Mayang walaupun dia sebentar lagi mau brojol," Aku mencebik menyedihkan. Sungguh harusnya Aku sudah tahu akan begini, tapi kenapa rasanya masih sakit. Sebagai orang yang cinta sendiri, Aku tidak berani berharap lebih lagi. "Hey, what's wrong with you?" Mas Adji menyentuh ujung mataku yang berair dengan ujung jarinya. "Saya mau berteman hanya dengan orang yang Saya suka Gina. Kalau nggak suka, nggak mungkin bisa jadi teman Saya," terang Mas Adji dengan kalimat yang terdengar hanya dibolak-balik alias cuma alasan. Aku kadung menyimpulkan kalau Mas Adji memang masih menyimpan rasa terhadap teman masa kecilnya itu. Cukup lama kami bungkam, hingga akhirnya Aku bersuara lagi, "Mas, beri Aku bayi." Mas Adji menatap mataku dan menyeringai ambigu. "Kenapa? Kamu terpengaruh sama omongan Oma? Atau kamu iri liat perut Mayang?" "Iya," jawabku polos. Aku balik menatap matanya, mencari keseriusan dari setiap omongan yang dia lontarkan. Mas Adji terkekeh, "Kamu nggak bahagia kalau kita cuma berdua aja?" Berpikir sejenak, "Mas nggak mau?" tanyaku ambigu. "Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, Gina," katanya. "Asal sama Mas, Gina bahagia kok," jawabku akhirnya. "So? Cukup kamu fokus sama Saya aja. Sudah berulang kali Saya ingatkan, jangan memikirkan hal yang hanya akan buat kamu sedih dan terpuruk. Jangan overthinking!" "Jadi Mas Adji nggak mau?" tanyaku sekali lagi. "Maksudnya?" "Bikin bayi." "Katanya tadi perut kamu nggak enak. Harusnya besok kita coba cek ke dokter, supaya lebih jelas," sahut Mas Adji sambil mengusap perutku masih dari balik selimut. "Nggak usah Mas, paling juga mau haid. Kalau nggak tahan lagi Gina pasti minum obat kok," Aku menyakinkan suamiku. Soalnya dia sudah tahu kelemahan istrinya ini. Anti rumah sakit, anti minum obat. Lagipula Aku tidak mau kecewa lagi jika melihat lagi-lagi garis satu yang muncul di testpack. "Hmmm," gumam Mas Adji singkat. "Ya udah kalau Mas nggak mau. Jangan nyesel ya, Gina udah nawarin tadi. Dua kali malah," godaku padanya. Mencoba tersenyum. Aslinya Aku setengah mati nahan-nahan perasaan nggak enak karena tau bahwa Mas Adji 'suka' Mayang. "Iya Gina. Ayo tidur istirahat biar perutnya enakan." Mas Adji menyingkap selimut yang menutupi badanku, berniat ikut bergabung ke dalamnya. Tapi melihat gaun tidur seksi yang kontras dengan warna kulitku dia jadi salah fokus. Ditambah lagi posisi badanku yang miring dan menyangga kepala dengan sebelah tangan, sangat menantang. Kulihat Mas Adji meneguk saliva susah payah. "Ayo Mas tidur, istirahat," ucapku sambil tersenyum miring dan menepuk-nepuk space kosong di samping. 'Kena kamu Mas,' batinku ketawa evil. 'Di depanku kamu bilang suka sama wanita lain kan, Mas? Apa nggak bisa, bohong sedikit untuk menyenangkan istri? Sekarang kamu rasain pembalasan istrimu ini?' "Gina, tawaran kamu masih berlaku nggak?" "Tawaran yang mana?" Aku pura-pura bloon. Eh amit-amit, bloon beneran entar. "Bikin bayi," katanya lagi. Dia sudah masuk dalam selimut dan mulai menyentuh bahu polosku karena talinya melorot. "Maaf, Anda belum beruntung. Penawaran hanya berlaku sekali."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN