8. Orang Bodoh

1520 Kata
Rasanya belum setengah jam Aku terlelap, tapi suara bel pintu depan yang dipencet berulang-ulang sangat mengganggu telingaku. Mas Adji yang memang masih terjaga sontak saja bangun dan melepas tangannya dari perutku. Ya, rasa tidak enak itu kembali hadir sehingga Mas Adji dengan itikad baiknya mengelus perutku hingga akhirnya Aku bisa tertidur. Tapi suara berisik dari arah pintu memaksa kami untuk bangun dan melihat siapa pelakunya. Terdengar sangat penting dari intensitas bunyi bel yang tidak putus-putus. Karena seluruh asisten rumah tangga sudah pulang dan hanya tersisa Pak Nardi yang berjaga di pos depan dan tidak memiliki akses masuk ke dalam rumah, maka Mas Adji terpaksa bangkit. "Kamu tunggu di sini saja, biar Saya yang buka pintunya," titah Mas Adji. "Enggak Mas, Gina ikut. Gina mau tau siapa yang datang, Gina takut ada apa-apa," sahutku ngeyel. Mas Adji hanya menghela nafas dan membiarkanku turun dari ranjang. "Ya sudah, pakai kimononya," Mas Adji menyerahkan sebuah kimono panjang ke arahku. Aku memakainya asal dan meraih bergo hitam yang tersampir di dekat ranjang. Mas Adji juga memakai kaosnya meski masih menggunakan celana tidur. Aku melirik ke arah jam di dinding kamar yang menunjuk ke angka sebelas. Rupanya mertuaku juga masih belum kembali dari bandara. karena hanya kami yang terlihat keluar dari kamar menuju pintu. 'Ceklek' "Aduh maaf Mas Adji, Mbak Gina, Saya mengganggu kalian. Tapi ini darurat," suara pak Nardi yang panik begitu pintu terbuka. "Ada apa Pak?" Kami mengikuti ke arah pandang Pak Nardi dan terbelalak setelahnya. "Mayang?" Kami menghampiri Mayang yang meringis kesakitan di kursi teras depan. Bahkan air mulai merembes di sela-sela kakinya. "Tolong antar Aku ke rumah sakit Ji. Kayaknya Aku sudah mau melahirkan," katanya sambil tersengal-sengal. "Pak, harus cepat dibawa ke rumah sakit ini. Takutnya lahiran di sini," Pak Nardi semakin menambah kepanikan. "Mas," Aku mencengkeram lengan suamiku kuat. Harus ku akui, Aku juga kasian melihat Mayang yang meringis kesakitan tapi juga ada perasaan tak rela jika suamiku yang akan mengantarkannya ke rumah sakit. Memangnya keluarganya mana? "Papa Mama kamu mana?" tanya Mas Adji mewakili pikiranku. "Papa lagi sakit, Aku nggak mau mengganggu mereka. Cepat Ji, ini sakit banget," tangis Mayang pecah seiring dengan gerakannya menahan perut. "Mas, perutku juga ikutan mules," ucapku sambil meremas perut sendiri. Mungkin menular dari rasa iba karena melihat Mayang atau memang karena sakit yang tadi Aku rasakan. "Pak, tolong siapkan mobil," perintah Mas Adji yang langsung direspon Pak Nardi dengan berlari tunggang langgang ke arah carport. "Mas..." cicitku. "Gin, kamu tunggu di rumah. Saya dan Pak Nardi mengantar Mayang ke rumah sakit dulu." Mas Adji mulai mengangkat tubuh lemah Mayang ke bangku penumpang mobil begitu mobil siap. Mereka duduk di tengah sedangkan Pak Nardi di depan yang akan mengemudi. Ada perasaan nggak ikhlas saat melihat tangan Mayang melilit erat di leher suamiku. Rasanya Aku cemburu secemburu-cemburunya cemburu, walau tau Mas Adji hanya menolong. "Sebentar lagi Ibu datang. Saya juga akan cepat kembali," katanya lagi. Aslinya Aku mau ngomong, 'Jangan Mas, kamu jangan pergi! Aku mau kamu disini sama Aku.' Tapi yang keluar malah, "Sayangnya mana?" 'Payah.' "Gina, Saya lagi nggak bisa bercanda," sentak Mas Adji garang. Dia sudah membawa tubuh Mayang di kursi tengah dan bersandar pada tubuh besarnya. "Tolong, tutup pintunya," titah Mas Adji padaku menunjuk ke pintu mobil. Seperti hipnotis Aku menuruti perintahnya. Inikah jawabannya? Mengapa kata 'sayang' ataupun 'cinta' tak pernah terlontar dari bibirnya. Hancur. Aku hancur seiring laju mobil yang kian menjauh. Sekarang sudah sangat jelas, tubuh Mas Adji memang bersamaku tetapi hatinya milik wanita lain. Mas Adji hanya memakai tubuhku untuk pelampiasan nafsunya. Namun tidak ada Aku dihatinya. Aku bisa melihat dengan jelas kekhwatiran Mas Adji yang menurutku tidak seharusnya untuk Mayang. Padahal dia sendiri tahu kalau Aku juga sedang berada dalam kondisi yang kurang sehat. Aku tersenyum getir, menertawakan diri sendiri yang sungguh menyedihkan. Aku merasakan perutku yang semakin melilit dan keringat yang mengalir semakin deras. Berusaha masuk ke dalam rumah dengan ringisan dan tangis tertahan. Oh Tuhan, sakit sekali. Aku mendudukan tubuhku yang lemah di sofa ruang tamu. Memindai ke sekeliling untuk mencari bantuan. Sakit yang kurasakan semakin menjadi. Mengaduk dan bergejolak memaksa seperti ingin meledak. Handphone, Aku butuh handphone. Aku beranjak ke arah kamar dengan menggapai apapun yang bisa kujadikan pegangan. Hingga saat netraku melihat ke bawah, seketika jantungku rasanya berhenti berdetak dan nafas yang tercekat di tenggorokan. Sayup-sayup kudengar detak jantungku sendiri yang berkejaran seiring rasa sakit yang pedihnya tak terperi. "Darah," cicitku sambil menyentuh pelan sela-sela pahaku. Seketika kepalaku terasa bergoyang dan pandangan yang mulai mengabur. Perlahan, sinar yang bisa ditangkap indra penglihatku menipis, lalu gelap. *** Pov Author "Selamat Pak, bayinya perempuan. Sehat dan cantik seperti ibunya," kata seorang perawat kepada Adji yang duduk termenung di kursi tunggu bersama Pak Nardi. "Bukan bayi Saya, Sus," sahut Adji dengan nada datar seperti biasa. "Loh, jadi bayi Bapak ya?" tunjuk perawat itu lagi pada Pak Nardi. Keadaan mereka memang jomplang. Satu ganteng tapi berpakaian aneh, kaos polos dipadu celana tidur pendek warna biru dongker. Yang satu lebih tua dan klimis tapi mukanya mengundang buat minta di tabok, cengengesan. "Bukan juga, Sus," jawab Pak Nardi mesem-mesem sambil menggaruk tengkuknya. "Kalau begitu, silakan Bapak hubungi walinya dan segera selesaikan administrasi di loket depan," perintah sang perawat sedikit ketus. Mungkin dia merasa kesal karena terus salah menebak. Proses melahirkan Mayang memang tidak memakan waktu lama karena saat sampai rumah sakit pembukaan sudah lengkap. Sehingga tak sampai setengah jam bayi perempuan milik Mayang telah lahir. "Pak, Saya lupa bawa handphone dan dompet. Apa Pak Nardi bawa?" tanya Adji. Pak Nardi kembali cengengesan, "Sama Mas, Saya juga nggak bawa apa-apa. Terlalu panik tadi jadi lupa semuanya." Adji menghela nafas dalam, nampaknya salah satu dari mereka harus pulang untuk mengambil segala yang diperlukan sekaligus mengabari keluarga Mayang. "Ya, sudah Saya pulang dulu. Bapak tunggu di sini sampai keluarga Mayang datang." "Biar Saya saja yang pulang Mas. Kasian nanti Mas Adji bolak balik," sahut Pak Nardi. "Saya saja Pak. Sekalian mau lihat istri Saya," Adji kekeh. "Duh, baru sebentar ditinggal sudah kangen ya," Pak Nardi meledek Adji yang hanya dibalas tampang datar sang anak majikan. Dia bangkit dan mulai berjalan ke arah pintu keluar. Sebuah mobil yang Adji sangat kenali tiba-tiba saja mengerem mendadak tepat di depan lobby UGD. Lalu kasak kusuk orang dari dalam mobil menghambur keluar sambil berteriak panik. "Ibu?" gumam Adji melihat sang ibu keluar dari mobil dengan bersimbah air mata. Disusul Ayahnya yang buru-buru membuka pintu penumpang. Dia lalu menggendong seseorang yang terkulai tak berdaya keluar dari mobil. Seketika jantung Adji seperti berhenti berdetak mengenali kimono dan bergo hitam yang dipakai orang itu. "Gina..." lirihnya. "Dokter... Suster... Tolong anak Saya," teriak Ibu histeris. Mereka bahkan melewati Adji begitu saja seolah tidak saling kenal. Sampai Adji menghampiri dan meraih tubuh istrinya dari dekapan sang Ayah, barulah sepasang suami istri itu sadar keberadaan Adji. "Gina, kamu kenapa?" Adji mengguncang-guncang tubuh lemah istrinya. Wajah cantik Gina terlihat pucat pasi. "Gina kenapa Bu?" tanyanya lagi. "Kamu kemana aja Mas? Istri sakit malah ditinggal sendiri di rumah," tanya Ibu dengan nada tinggi. Dua orang perawat datang dengan sebuah brankar dan menyuruh Adji untuk meletakkan tubuh Gina di sana. Mereka lalu dengan segera mendorong brankar menuju ruang tindakan. "Ya Allah, tolong selamatkan menantuku," ratap Ibu sembari menunduk dan bersedekap di kursi tunggu. Sementara Gina sedang mendapat pengobatan di dalam. "Sebenarnya istri Adji kenapa Bu?" tanyanya lagi ikut duduk di samping. "Ibu juga nggak tau Mas, pas kami sampai Gina sudah tidak sadarkan diri di lantai depan kamar. Darahnya juga banyak keluar dari kaki," jelas Ibu sambil terisak. Adji meremas rambutnya kuat. Sekelebat bayangan Gina sering mengeluh sakit perut akhir-akhir ini menerbitkan sesal di hatinya. Bahkan sebelum pergi mengantar Mayang, Gina juga sudah mengeluh kesakitan. Dan dengan bodohnya Adji meninggalkan istrinya sendiri di rumah. Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari saat seorang dokter keluar dari ruang tindakan. "Keluarga pasien," sapanya. "Saya suaminya," Adji sigap berdiri menghampiri dokter perempuan yang masih terlihat muda itu. "Mohon maaf Bapak, dengan sangat menyesal Saya menyampaikan kalau janin yang ada dalam kandungan istri Anda tidak bisa diselamatkan. Jadi, kami harus melakukan proses kuretase secepatnya agar pendarahan bisa dihentikan," jelas dokter itu. "Janin?" sahut Adji pias. "Iya, apa Anda tidak tau? Ah, jangan-jangan kalian tidak menyadari kehadirannya. Sudah sekitar 7 minggu," jelas dokter lagi. Ayah menepuk pundak Adji dari kebisuannya. Pertama kali dalam hidupnya, Adji tidak tahu harus berbuat apa selanjutnya. Dia seperti orang bodoh sebodoh-bodohnya bodoh. Juga penyesalan yang tidak bisa dia gambarkan besarnya. "Silakan Bapak tanda tangan dan kami akan lakukan prosedurnya. Perawat akan membawa dokumen nyonya Gina." Dokter itu berbalik ke ruang tindakan meninggalkan Adji yang kemudian meluruh di lantai dengan sejuta sesal. "Ya Allah, cucuku..." Ibu sudah histeris sendiri dan segera ditenangkan oleh Ayah dengan memeluk erat. Seorang perawat menghampiri dan menyodorkan beberapa berkas untuk ditanda tangani, seperti orang bodoh Adji hanya menggerakkan tangannya sesuai instruksi. Dan begitu perawat pergi, kembali Adji limbung. 'Tes...' 'Tes...' 'Tes...' Untuk pertama kali seumur hidupnya Adji menangis walau dalam diam. Bahkan sewaktu kecil saat jatuh dan mengalami retak di kaki sampai harus menjalani operasi dia tidak menangis. Tapi sekarang, air di pelupuk matanya seolah berlomba-lomba untuk menghambur keluar. Dadanya sesak, kepalanya berputar dan nafasnya tercekat. "Gina, maafkan Saya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN