"Bude jadi nyesel nyuruh kamu manjat waktu itu. Maafin Bude ya Gina."
"Untung suami Ica liat kamu pas dibawa ke UGD. Makanya dia ngasih kabar dan kita langsung ke sini jenguk kamu. Kalau nggak, nyesel seumur hidup nggak ketemu kamu dan cepet minta maaf."
"Iya, Saya juga. Maafin kita semua ya Gin."
"Sekarang kamu istirahat aja. Nggak apa-apa jangan terlalu banyak pikiran, pasti nanti akan segera Allah ganti."
Samar-samar Adji mendengar beberapa suara melengking yang mengganggu tidurnya. Meski matanya masih terasa berat dan tubuhnya sakit, Adji seketika terkesiap mengingat peristiwa yang menimpa istrinya semalam.
"Gina..."
Atensi semua orang di ruangan itu kini berpusat pada Adji yang baru saja terbangun dari tidurnya di sofa di ruang rawat Gina.
"Eh, Pak Adji sudah bangun. Maaf ya kita ganggu," itu suara Bude Wahyu pimpinan geng triplet gemoy bersama Ica tetangga di komplek yang entah sejak kapan sudah berada di sana.
"Hmmm," balas Adji lempeng. Tak ada niatan untuk berbasa-basi.
"Gin, suami kamu bangun tidur, pake baju asal-asalan gitu tetap ganteng ya," bisik Bu Ningsih sempat-sempatnya komen dan masih bisa di dengar semua orang yang berada di ruangan itu.
Gina yang dibisiki hanya tersenyum kecut. Entahlah dia sedang menumpuk banyak kemarahan pada suaminya. Jadi, untuk sekedar melirik Adji saja dia malas.
"Ya sudah Gin, kita balik dulu ya. Kamu cepat sembuh. Kita kumpul lagi biar geng komplek lengkap," ucap Bude Wahyu yang langsung meraih tasnya di ujung ranjang Gina.
'Sejak kapan Gina jadi anggota geng?'
Masing-masing dari mereka memeluk Gina memberi semangat. Kamarnya kini semarak dengan aneka buah dan bunga yang dibawa oleh geng komplek pimpinan Bude Wahyu itu.
Sepeninggal mereka, suasana kamar menjadi hening. Adji melirik jam di dinding kamar yang ternyata sudah menunjuk angka sebelas. Rupanya sudah cukup lama dia tertidur setelah semalam berjaga dan menangis tergugu.
Adji melangkah mendekati istrinya, "Hey, gimana kabar kamu?"
"...."
"Ada yang sakit?"
Gina masih saja mendiamkan sang suami. Rasanya dia muak sekali dengan situasi ini. Gina tidak pernah berpikir, berdua saja dengan suaminya akan menimbulkan perasaan semarah ini. Sebelumnya dia selalu memuja Adji.
Adji meraih tangan Gina dan mengecupnya lembut, "Maafkan Saya."
Entah kenapa mendengar kata maaf terlontar dari mulut Adji membuat hati Gina semakin bergejolak dan air mata kembali berdesakan ingin keluar.
"Untuk apa?" jawabnya ketus.
"Maaf karena tidak ada di sisi kamu saat merasa sakit."
Adji menarik nafas dalam dan menghapus air mata di wajah sang istri yang langsung di tepis Gina.
"Maaf karena meninggalkan kamu, sayang."
Andai, andai saja kata 'sayang' itu diucapkan jauh sebelum situasinya seperti sekarang, pasti Gina akan merasa senang. Tapi kata itu sekarang tidak berarti apapun. Gina terlanjur beranggapan segenap perasaan suaminya bukan untuknya.
"Mas, sekarang Gina merasa sudah cukup mengerti tentang kita. Gina nggak akan memaksa Mas Adji lagi untuk membalas perasaan Gina."
Gina menarik nafas dalam sebelum kembali berucap, "Semoga kamu selalu bahagia Mas. Ayo kita akhiri saja."
Meski terlihat tegar saat mengatakannya tapi sungguh sesak di hati Gina tidak tertahankan hingga bulir air matanya semakin deras mengalir.
"Apa maksud kamu?" Adji mengerut alis dalam. Ada aliran kemarahan yang memantik saat kalimat itu keluar dari bibir istrinya. Dia berharap ucapan Gina yang ngelantur hanya karena efek obat bius.
"Ayo kita berpisah, Mas."
"Gina Rosalina!" teriak Adji marah sampai membuat Gina berjengkit kaget. Belum pernah melihat suaminya semarah ini.
"Tapi hati Mas bukan buat Gina..."
"Jangan mengambil kesimpulan sendiri," potong Adji cepat.
"Sampai matipun Saya tidak akan mau berpisah denganmu, Gina. Jangan harap. Kamu milik Saya selamanya!" cecar Adji lantang.
"Mas Adji egois. Mas Adji jahat," tuduh Gina sambil melempari suaminya bantal.
"Kalau menjadi jahat bisa membuat kamu selalu berada di sisi Saya, iya Saya jahat."
"For what? Kenapa Mas Adji ingin Gina tetap jadi istri Mas?"
'ceklek'
Suasana tegang teralihkan dengan suara pintu yang terbuka dari luar.
"Gina..."
Laras, Mama kandung Gina menghambur memeluk sang putri. Disusul sang Papa yang tidak mau ketinggalan dalam momen mengharukan itu. Mereka berpelukan dan menangis cukup lama.
"Kamu nggak apa-apa, sayang? Mana yang sakit?" tanya Mama beruntun mengkhawatirkan putri satu-satunya.
Ibu, Ayah dan juga Oma berturut-turut masuk ke dalam ruang perawatan Gina. Kini sang istri sudah dikerumuni banyak orang membuat Adji berangsur mundur untuk memberi kesempatan.
Adji kembali duduk di sofa dan meremas rambutnya frustasi. Sungguh dia tidak pernah membayangkan kalau aksinya menjadi pahlawan kesiangan akan membawa biduk rumah tangganya di titik pertengkaran sehebat ini.
"Kenapa kalian ceroboh sekali? Apa tidak ada yang sadar kalau Gina sedang mengandung?" Oma mulai memperkeruh situasi.
Adji mengangkat kepalanya dan menatap nyalang wanita tua itu.
"Ma, ini musibah. Kita semua tidak ada yang mengharapkan ini terjadi," bela Ayah.
"Hanya orang dungu yang membuang-buang kesempatan memiliki keturunan setelah sekian lama menantikannya," sanggah Oma sinis.
"Untuk apa Ibu dan Ayah membawa wanita tua ini ke sini? Kita semua tahu kehadirannya hanya akan membuat kacau." sarkas Adji dengan tatapan kesal dan menantang.
Tanpa bisa menahan diri, kemarahannya dia lampiaskan sekarang. Ada rasa sesal dihatinya. Jika saja dia tidak mengajak Gina ke rumah Ibu, mungkin saja semua ini tidak akan terjadi. Sementara dia tahu istrinya begitu tertekan berada di rumah Ibunya.
"Berani kamu sama Oma?!" teriak Oma tak kalah sengit.
"Apa Oma puas sekarang? Sudah tahu kan kalau Gina bukan wanita mandul? Jadi, jangan berkomentar apapun tentang urusan rumah tangga kami lagi!"
"Kalian memang pantas menerima musibah ini. Orang-orang yang tidak tau diri. Kamu lupa dari mana kamu berasal Sulaiman Adji? Berani kamu melawan Oma?"
"Saya tidak pernah meminta sepeserpun harta dari keluarga Anda. Kalau Anda menuntut biaya untuk membesarkan Saya sedari kecil, Saya akan membayarnya!"
Mama dan Papa Gina hanya terdiam pias mendengar ketegangan yang terjadi. Mereka mulai berasumsi kalau putrinya hidup dalam tekanan selama ini.
"Ma, ayo kita pulang," ajak Ibu menengahi. Dia tahu betul kalau dibiarkan, dua generasi beda usia ini akan semakin tersulut emosi. Sementara Oma sudah terlihat memegang dadanya dan bernafas tersengal-sengal. Dan Adji tidak menunjukkan tanda-tanda ingin mengalah.
"Ayo, Ma, Aku antar pulang," sambut Ayah yang langsung meraih tangan sang ibu dan membimbingnya meninggalkan ruangan.
Sebelum keluar Ibu sempat memeluk besan sekaligus sahabatnya itu.
"Maafkan sikap dan perkataan Mama mertuaku, Laras. Maaf juga tidak bisa lama di sini, Aku akan mengantar Mama pulang dulu," pinta Ibu sungguh-sungguh.
"Iya, Astrid. Hati-hati."
"Mas, ini pakaian ganti kamu. Jangan lupa makan, kamu juga harus jaga kesehatan biar bisa jagain Gina," pesan Ibu sebelum beranjak menyusul Ayah dan Oma. Adji hanya mengangguk dan ikut berdiri mengantarkan kepergian sang Ibu sampai depan pintu.
"Ma, Pa, Adji minta maaf karena membuat kalian harus melihat pertengkaran tadi," ucap Adji pada mertuanya setelah beberapa saat diam menenangkan diri.
"Sudahlah Ji, justru kami bersyukur saat kamu bersikap membela Gina," sahut Papa.
Adji mengulas senyum kecut, "Adji juga minta maaf karena tidak becus menjaga Gina dan anak kami. Semua salah Adji," ucap Adji penuh penyesalan.
Gina memalingkan wajah melihat suaminya tertunduk lesu. Ada rasa iba saat suaminya yang biasa menegakkan kepala kini menyalahkan diri sendiri sedemikian dalam, padahal semuanya bukan semata kesalahan Adji. Ada turut serta keteledoran dirinya yang tidak menyadari kehadiran calon anak mereka di rahimnya.
Biasa haid tidak teratur, membuat Gina tidak ingin terlalu berekspektasi tinggi karena takut akan kecewa seperti sebelum-sebelumnya. Nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Tidak ada yang perlu disesali lagi.
Sekarang Gina hanya perlu memantapkan hatinya untuk berhenti mencintai suaminya. Dia tidak ingin lagi bersaing dengan jerat masa lalu sang suami. Jika Adji masih mencintai wanita lain, dia akan berangsur mundur.
"Sudah, nggak ada yang perlu disesali lagi. Kalian masih bisa berusaha lagi. Toh, kesempatan untuk memiliki anak masih terbuka lebar," nasehat Papa bijak. Tak ingin menantunya menyalahkan diri sendiri.
"Sekarang kamu mandi dan makan di kafetaria rumah sakit. Isi tenaga, jangan sampai kamu sakit seperti kata Ibu mu barusan," Mama menyodorkan paperbag berisi pakaian sang menantu.
Menurut. Adji gegas mandi dan pamit keluar untuk mengisi perut. Sekaligus memberi kesempatan pada Gina dan orang tuanya saling berbagi kasih.
Di lorong menuju kafetaria, seseorang memanggil Adji dengan semangat. Rupanya itu adalah orang tua Mayang. Mereka nampak begitu sumringah. Kehadiran cucu pertama dari anak satu-satunya di keluarga mereka membawa kebahagiaan tersendiri.
"Adji, Om sangat berterimakasih sama kamu karena telah membantu Mayang untuk sampai ke rumah sakit dan melahirkan dengan selamat. Semalam memang tidak ada siapa-siapa di rumah, kebetulan semua pekerja sedang izin. Dan Mayang tidak mengabari Om dan Tante yang sudah tertidur di kamar. Beruntung kamu mau direpotkan," ucap Ridwan, Papa Mayang, penuh semangat. Tidak ada lagi guratan orang sakit seperti yang sudah diinfokan Mayang sebelumnya.
"Betul, Ji. Kami nggak tahu kalau nggak ada kamu. Ucapan terimakasih saja rasanya tidak cukup. Kamu memang teman sejati Mayang dari dulu sampai sekarang. Sayang kalian tidak berjodoh," seloroh Inggit, Mama Mayang, dengan maksud bergurau.
"Bahkan suaminya sendiri tidak bisa mendampingi dan lebih mementingkan pekerjaan," tambahnya lagi.
Adji hanya mengangguk, ingin segera mengakhiri basa-basi ini. Dia lebih baik segera makan dan kembali bersama istrinya ketimbang membuang waktu dengan beramah tamah.
"Kami juga turut berduka atas kemalangan yang menimpa istrimu. Semoga kalian segera diberi gantinya. Jangan menyerah, usaha terus," tawa Ridwan menepuk pundak Adji. Dia lalu kembali berjalan lurus menuju lobby rumah sakit untuk mengurus administrasi kepulangan putrinya.
"Hari ini Mayang sudah boleh pulang. Bayi dan ibu sehat jadi lebih baik beristirahat di rumah. Kamu main ke rumah ya, tante mengundang kamu dan istrimu untuk makan malam di rumah. Oh iya, sama Pak Nardi juga. Hitung-hitung ucapan terimakasih dan syukuran atas kelahiran cucu kami."
"Saya nggak janji tante," jawab Adji singkat.
Meski agak kecewa, tapi Inggit sudah sangat maklum dengan sifat Adji yang tidak suka basa basi dan terkesan dingin. Dia lalu permisi pergi menyusul suaminya.
Tak jauh di belakang mereka, Mayang yang duduk di kursi roda di dorong seorang suster, sambil mendekap sang buah hati kembali memanggilnya.
Adji berbalik malas, sudah tahu kalau itu Mayang. Dan dia tidak perlu ucapan terimakasih lagi.
"Ji, makasih ya..."
Tuh, Adji tidak salah menebak bukan? Sumpah, Adji bosan sekali.
"Hmm," jawabnya dan berbalik ingin pergi.
Mayang menahan tangan Adji cepat, "Ji, bisa kita bicara?"