1
Dress hitam tanpa lengan melekat di tubuh Kinara Rayhana hingga membuat pundak mulus gadis itu terlihat dengan jelas. Rambut panjangnya diikat tinggi-tinggi agar tidak menganggu aktifitasnya.
Bersama dengan ketiga teman baiknya Kinara berada di salah satu club malam yang terletak di ibu kota.
"Ada Jevan"
Kalimat singkat itu berhasil membuat fokus Kinara berpindah. Dia meletakkan gelasnya di atas meja lalu menatap ke sisi kanan dimana pria bernama Jevan itu berada.
Dari tempatnya duduk sekarang dapat terlihat jelas pria itu tengah menikmati minuman dengan dua wanita yang duduk di kedua sisinya.
Pemandangan yang sudah biasa terlihat.
Dia Jevan Abinaka. Pria yang sudah lama Kinara sukai. Satu-satunya orang yang berhasil menarik perhatiannya.
Bukan hanya Jevan, tapi kedua teman pria itu pun terlihat tengah berbincang ria dengan para wanita berpakaian minim.
"Gue bingung kenapa Kinara nolak Kak Gema yang ketua bem dan malah naksir cowok modelan Jevan yang otaknya enggak jauh-jauh dari s**********n sama dada."
Sindiran itu kembali mengalihkan fokus Kinara pada teman baiknya. Diantara yang lain mungkin gadis itu memiliki penampilan yang sangat berbeda.
Pergi ke club malam dengan celana jeans juga crop top yang dipadukan dengan kemeja hitam yang seluruh kancingnya terbuka.
Dia Teressa Anastasia.
"Pasti Kinara bakal bilang gini.. Dia red flag abis, tapi dia ganteng."
Kalau ledekan itu keluar dari bibir Laura Michelle. Si paling feminim dan sabar diantara mereka.
"Susah kalau udah naksir, mau kepribadiannya jelek juga kalau dia udah naksir bagus aja tuh orang dimatanya."
Nah kalau suara itu berasal dari Nayara Adisti. Salah satu yang paling dekat dengan Kinara dan selalu menjadi tempat curhatnya.
"Padahal kalau Kinara nembak Jevan enggak bakal di tolak." Kekeh Laura.
"Sok tau."
Laura tertawa pelan ketika mendengar tanggapan dari teman baiknya itu.
"Ra gue kasih tau, cowok kayak gitu enggak bakal buang-buang kesempatan..."
Mata Laura melirik ke arah Jevan yang tengah merangkul wanita di sampingnya.
"Kalau ada cewek cantik yang deketin dia pasti bakal disambut dengan baik." Kata Laura dengan penuh keyakinan.
"Cowok kayak Jevan kayaknya kalau sehari enggak flirty ke cewek cantik langsung sekarat." Ucap Teressa yang membuat Laura tertawa.
Kinara tak memberikan tanggapan lagi. Matanya kembali menatap ke arah Jevan dan tanpa dia duga pandangan mata mereka bertemu.
Pria itu balas menatapnya membuat Kinara secepat mungkin memutus pandangannya. Tidak sengaja bertatapan saja dia sudah lemas duluan.
"Dari awal masuk kuliah Jevan memang keliatan banget playboy nya. Dia masih maba aja udah pacaran sama kating." Kata Nayara.
Sepertinya pembahasan malam ini bertemakan Jevan Abinaka.
"Tiap bulan ganti lagi pacarnya anjir." Tambah Laura.
Kinara membenarkan perkataan itu. Sejak awal perkuliahan Jevan memang sangat di kenal.
Pria itu berpacaran dengan cewek paling populer di kampus. Banyak juga mahasiswi yang merasa diberikan harapan palsu olehnya.
Padahal udah kelihatan banget gimana aslinya Jevan, tapi bukan menjauh Kinara malah semakin suka.
Sebenarnya interaksi mereka berdua tidak lebih dari saling senyum ketika berpapasan. Bukan dengan Jevan, tapi Kinara malah dekat dengan teman pria itu.
Sayangnya matanya tidak mau menatap yang lain.
Bukan menatap Daffa yang jelas-jelas serius dia malah asik berharap pada pria b******k seperti Jevan.
••••
"Cantik ya Jev?"
Bryan Alastair bertanya pada Jevan dengan wajah meledeknya. Satu alisnya terangkat ketika dia menyadari jika Jevan terus menatap ke satu titik yang sama.
Seorang wanita yang duduk tidak jauh dari tempat mereka duduk.
"Apa?"
Jevan bertanya dengan malas. Dia hanya melihat saja, tapi benar apa yang Bryan katakan barusan.
Dia cantik.
"Yang lain aja Jev."
Perkataan itu keluar dari bibir Daffa Reagan Alexander yang terlihat begitu serius ketika mengatakannya.
"Kenapa? Gebetan lo?" Tanya Jevan.
Daffa mendengus kesal. Enggan memberikan jawaban apapun karena seharusnya Jevan sudah tau hal itu.
Bukan satu dua kali Daffa datang ke kampus atau pergi jalan berdua bersama dengan Kinara. Seharusnya pria itu sadar karena Daffa tidak pernah melakukannya dengan wanita lain.
"Dia yang nolak Gema kan?" Tanya Jevan.
Bryan mengangguk mengiyakan. Fakta itu sudah tersebar luas di kampus. Bahkan Kinara sempat menjadi bahan perbincangan para kakak tingkat yang menganggapnya sok kecantikan.
Alasannya karena dia menolak Gema yang merupakan incaran banyak wanita di kampus mereka.
"Bagus sih enggak cocok dia sama Gema..."
Jevan mendongak sambil menatap Daffa dengan senyuman miringnya.
"Cocoknya sama gue."
Tatapan Daffa berubah semakin tajam. Pria itu seolah ingin memukul Jevan sekarang.
"Lo bisa enggak usah kayak anjing enggak sih Jev?" Tanya Daffa emosi.
Bryan hanya bisa menghela nafasnya ketika merasakan perang dingin diantara Daffa dan Jevan yang sudah sangat sering terjadi.
"Gue deketin ya Daf? Nanti kalau gue udah bosen gue balikin." Kata Jevan dengan santainya.
Daffa langsung berdiri dan sudah bersiap untuk memukul Jevan dengan tangannya kalau saja Bryan tidak menahannya.
"Udahlah Daf enggak usah ditanggepin lo kayak enggak tau Jevan aja." Tukas Bryan.
Dengan sedikit paksaan Bryan menarik tangan Daffa agar pria itu kembali duduk disebelahnya.
Sedangkan Jevan malah tertawa melihat reaksi yang Daffa berikan atas apa yang baru saja dia katakan.
Ayolah mungkin dia bisa bermain sebentar dengan gadis yang temannya sukai itu.
••••
"Awh"
Kinara meringis pelan sambil mengusap bahunya yang terasa sakit karena tanpa sengaja menabrak seseorang.
Baru saja ingin meminta maaf suara berat yang terdengar itu membuat Kinara langsung mendongak.
Itu Jevan.
"Enggak papa kan? Sorry gue lagi buru-buru."
Selama beberapa detik Kinara terdiam, tapi setelah sadar dia menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
Jantungnya langsung berdegup kencang hanya karena berdekatan dengan Jevan dan hal itu membuat Kinara ingin segera pergi.
Tapi, baru beberapa langkah Jevan sudah kembali bersuara.
"Lo temennya Nayara kan?" Tanyanya.
Kinara berhenti dan kembali menoleh ke belakang. Dia dapat melihat pria itu tengah tersenyum ke arahnya.
"Iya."
Hanya jawaban singkat itu yang bisa Kinara berikan. Mereka tengah berada di parkiran. Kinara ingin pulang lebih dulu karena jujur dia sudah cukup mengantuk.
Ketiga temannya masih berada di dalam.
Tak lama setelah percakapan itu tubuh Kinara tiba-tiba terdorong oleh seseorang yang sepertinya tengah mabuk. Tanpa Kinara duga Jevan mendekat dan menahan tubuhnya yang nyaris oleng.
"Thank's"
Kinara terlihat sangat canggung. Dia benar-benar merasa bingung harus bereaksi seperti apa.
Maunya si histeris, tapi malu dong masa di depan crush begitu.
"Jevan."
Setelah berada di jarak yang seperti semula Jevan mengulurkan tangannya. Pria itu tersenyum dengan sangat lebar membuat Kinara semakin terpesona.
"Memang harus kenalan ya?" Kekeh Kinara sambil menyambut uluran tangan itu.
"Harus, biar resmi." Tanggapnya.
"Kinara."
Jevan mengangguk singkat. Saat Kinara ingin menarik tangannya Jevan malah mengeratkan genggaman tangan mereka.
Ibu jari pria itu mengusap lembut tangan Kinara.
"Katanya buru-buru." Ucap Kinara.
Jevan tertawa pelan lalu melepaskan genggaman tangannya.
"Sekarang udah enggak, kenapa pulang duluan? Naya masih di dalam kan?" Tanya Jevan.
"Iya, enggak papa udah ngantuk aja, jadi mau pulang." Jawab Kinara jujur.
Kata ngantuk yang keluar dari bibir gadis itu membuat Jevan tertawa.
"Bawa mobil?" Tanya Jevan.
Kinara menggelengkan kepalanya, "Tadi kesini sama Teressa."
"Terus balik naik apa?" Tanya Jevan lagi.
Oh dia mau modus sepertinya.
"Taxi."
"Sama gue aja bareng, soalnya gue juga mau pulang, ngantuk." Kata Jevan yang membuat Kinara menatapnya dengan mata memicing.
"Tadi lo bilang lagi buru-buru kan?" Kata Kinara yang merasa aneh.
Tawa pria itu kembali terdengar. Dia berjalan mendekat hingga membuat Kinara melotot dan refleks bergerak mundur.
"Iya buru-buru nyusulin takut lo udah keburu naik taxi." Katanya sambil tersenyum menggoda.
Kinara semakin mundur dan menjaga jarak dari Jevan. Bahaya sekali jantungnya seperti ingin melompat keluar.
"Emang ada orang yang baru kenalan langsung pulang bareng?" Tukas Kinara.
"Emang kita baru kenal? Tadi kan cuman perkenalan resmi sebelumnya kan udah saling tau nama." Elak Jevan.
Kinara semakin menatap Jevan dengan curiga. Kenapa kok tiba-tiba banget?
Aneh.
Ada yang enggak beres.
"Lo juga kenal baik sama temen-temen gue kan? Dan gue juga kenal sama teman-teman lo." Kata Jevan lagi.
Kini keduanya saling bertatapan. Dan dari jarak yang cukup dekat ini Jevan baru menyadari jika gadis itu sangat cantik.
Cantik sekali.
Pantas Daffa suka.
Tapi, sepertinya Kinara lebih cocok dengan dia dari pada dengan pria lain.
Ah mainan baru Jevan sudah datang.