ENAMBELAS

1537 Kata

Suasana ramai caffe seakan tak berarti bagi sepasang kekasih itu. Alunan musik akustik live yang fungsinya untuk menghibur para pengunjung juga tak bisa mengalihkan perhatian Septa dan Nandeka. Mereka asik dengan aktivitas masing-masing. Si cewek dengan roti bakar dan greentea lattenya sementara sang cowok dengan ponsel pintar. Keadaan yang terlihat aneh. Biasanya sesibuk-sibuknya Nandeka, ia akan menyempatkan diri ngobrol dengan Septa. Tapi kali ini berbeda, cowok itu tak mau berbicara dengan kekasihnya. Sebenarnya bukan tidak mau, hanya saja Nandeka masih ingin berdiam diri sembari berpikir. Ucapan Grace benar-benar menganggu pikirannya. Hell, tadi wanita itu menceritakan masa lalu anaknya pada Nandeka. Semua tanpa terkecuali. Hingga membuat Nandeka bingung. Haruskah ia percaya atau se

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN