"Ayah nanti Rara mau es krim rasa vanilla ya? Mm... Kalau ayah mau rasa apa? Gimana kalau samaan aja?" Celoteh gadis berbaju pink itu.
Septa memutar kedua bola mata- bosan. Sepuluh menit perjalanan membuat Rania tak henti berbicara. Ada saja yang diperbincangkan. Sebenarnya Septa tidak keberatan kalau gadis manis itu ikut mengajaknya ngobrol. Ah, setidaknya Rania membiarkan Septa ikut menjawab. Tapi, sayangnya sedari tadi cewek itu hanya diam saja. Bagaimana tidak diam kalau Rania selalu memotong ucapan Septa saat ia mulai berbicara. Poor Septania.
"Ayah kamu nggak suka rasa vanilla. Dia suka rasa coke-"
"Aku nanya ayah bukan kak Septa." Potong Rania cepat.
Damn!
Ingin sekali Septa membungkam mulut Rania. Jaman udah gila ya? Anak sekecil itu sudah bisa memotong jawaban orang lain. Mana perkataannya terdengar pedas pula. Rania-Rania ini seperti tidak pernah disekolahkan. Kali ini Septa benar-benar ingin memberi pelajaran pada gadis kecil itu.
Septa menghembuskan napas kasar. Ia memantapkan posisi duduknya pun bersiap menoleh ke belakang. Mengetahui akan terjadi sesuatu, Tomy langsung meraih tangan Septa. Ia mengelus tangan cewek yang duduk disebelahnya. "Rania masih kecil." Katanya.
Septa kembali menghembuskan napas kasar. "Ayah mau rasa cokelat aja. Rara suka rasa vanilla?" Ucap Tomy mencairkan suasana.
Gadis yang duduk dikursi penumpang belakang itu mengangguk mantap. "Iya, Rara suka vanilla. Cokelat juga suka."
"Ye lu mah rasa apaan juga pasti diembat. Dasar rakus." Cibir Septa pelan.
Tomy hanya bisa menggelengkan kepala. "Kak Septa mau rasa apa?" Tanyanya pada cewek yang kini asik memainkan ponsel.
"Rasa t*i," jawab Septa asal.
"t*i itu kan kotoran manusia. Mana ada manusia makan kotorannya sendiri-"
"Ih bacot dah." Potong Septa.
Sebenarnya Septa suka sama anak kecil. Ia juga suka pada Rania saat pandangan pertama. Tapi, karena sikap gadis kecil itu tidak bersahabat membuatnya malas. Ya namanya kan masih anak kecil, itu hal wajar.
Keadaan mobil mendadak hening. Rania tak lagi berbicara. Ia diam menatap nanar jalanan. Ibu dan Ayahnya dulu tidak pernah membentak Rania. Dan beberapa detik lalu orang asing yang kebetulan satu mobil dengannya tiba-tiba saja membentaknya. Septa tidak suka pada Rania?
Tomy melihat perubahan sikap gadis kecil itu pun melihat ekspresi Septa. Ternyata begini ya saat berada diantara dua wanita. Serba salah. Tomy hanya bisa diam. Ia tidak bisa memihak satu orang. Takut salah.
Dua puluh lima menit untuk mereka bertiga sampai di salah satu Mall besar Jakarta. Tomy membiarkan Septa turun lebih dulu. Setelah itu ia membukakan pintu untuk Rania. "Mau Ayah gendong?" Tanyanya.
Gadis itu menggeleng. Baiklah Tomy tidak memaksa. Mereka pun berjalan memasuki area Mall. Posisi Tomy ada di tengah seperti sengaja memisah Septa dan Rania. Sebenarnya bukan memisah hanya saja baik Septa maupun Rania tidak mau berjalan berdampingan. Lagi-lagi Tomy hanya bisa mengalah.
"Kita main atau makan dulu?" Ucap Tomy membuka obrolan.
"Makan." Ucap Septa.
"Main." Kata Rania.
Seketika cowok itu menghentikan langkahnya. Lagi-lagi harus dibuat bingung oleh dua perempuan itu. "Kita main dulu ya, Yah?" Kata Rania menatap Tomy berbinar.
"Gak bisa gitulah. Kita makan dulu, ngisi tenaga. Setelah itu baru boleh main." Ucap Septa.
Tomy mengangguk mentujui ucapan Septa. "Kalau kita makan dulu nanti kekenyangan terus males main." Kata Rania tak mau kalah.
Yang dikatakan gadis kecil itu ada benarnya juga ya? Mampuslah Tomy yang kembali dipusingkan untuk yang kesekian kali. "Ya itu lo aja kali gue-" belum sempat Septa melanjutkan ucapannya, Tomy sudah lebih dulu memberi isyarat supaya berhenti.
"Kita main dulu ya Kak Septa?" Kata Tomy meminta persetujuan.
Septa menganggukan kepala paksa. "Iya Ayah Tomy."
Setelah itu mereka menuju lantai tiga untuk menuruti keinginan Rania-bermain. Tomy membeli tiket masuk untuk Rania. Setelah itu ia membiarkan Rania bermain sepuasnya. "Rara main sendiri ya, Ayah sama Kak Septa tunggu di sini." Katanya.
Anak kecil itu mengangguk lalu berjalan meninggalkan Septa dan Tomy. Tapi, baru setengah perjalanan Rania membalikan badan lalu berlari ke arah Tomy. Ia memeluk tubuh tinggi sang ayah tiri. Mengecup kedua pipi Tomy sembari mengucapkan terimakasih. Setelah itu Rania benar-benar pergi.
Septa tersenyum miris sementara Tomy speechless. "Lo jampi-jampi Rara?" Tanya Septa ngawur.
Tomy terkekeh sembari menoleh. "Ya kali. Udah ah kita duduk ya?"
Septa dan Tomy duduk di depan area bermain. Mereka berdua melihat banyak anak kecil berlarian ke sana-ke mari. Entah mengapa di tempat seperti ini membuat Septa merasa... Nyaman. Ah, bukan nyaman. Tapi, ia seperti melepas rasa rindunya pada sang putri yang telah lama pergi.
Septa tersenyum manis. "Gue jadi berandai-andai deh Tom. Kalau anak gue hidup apa dia se-berisik Rania ya?"
Tomy ikut tersenyum. "Mungkin." Jawabnya singkat.
Sebenarnya Septa enggan berada diposisi seperti ini. Ia tidak suka mengungkit-ungkit masalalu terlebih memikirkannya. Demi Tuhan, Septa tidak suka. Tapi, apa mau dikata. Keadaan yang mengharuskannya berada diposisi seperti ini.
Tomy membawa tangan Septa. "Btw, lo posting foto apaan sampai-sampai akun gossip online ramai dengan nama lo?"
"Gue cuma ucapin selamat ulang tahun aja ke Tania. Emangnya salah?" Tanya Septa dengan polosnya.
Tomy menggeleng. Seulas senyum terbit pada bibir cowok itu. "Enggak salah sama sekali. Tapi,..." Sengaja tertahan.
Kali ini Tomy benar-benar duduk menghadap Septa. Ia menatap manik bening milik Septa. Tatapan yang terbalas. Jujur, Tomy rindu menatap sepasang mata hitam bening itu. Dan sekarang ia memiliki kesempatan untuk melepaskan rasa rindu.
"Tapi?" Ulang Septa.
"Lo nggak mikir dampaknya."
"Dampak apa? Masuk berita? Digosipin sama akun online?" Tanya Septa beruntun. Tomy mengangguk.
Cewek yang memakai jacket denim biru itu tersenyum masam. "Gue gak takut." Berjeda. Rasa sesak kembali dirasakan Septa. "Gue nggak mau munafik, Tom. Kalau ada yang nanya, ya gue akan jawab apa adanya. Gue akan jawab kalau sudah pernah melahirkan. Apa itu salah?"
Tomy menggelengkan kepala. "Tapi, itu semua pontensi hancurin karier lo Sep. Percuma dong si Tata sekolahin lo tinggi-tinggi, tapi semua seakan nggak berarti?"
Tanpa diminta, cewek itu menidurkan kepalanya dibahu Tomy. "Engggak. Gue nggak mau kecewain Bang Atta,"
Tomy mengelus rambut panjang Septa. "Ya maka-nya. Lo jangan gegabah lagi ya?"
Septa kembali menganggukan kepala. "Andai gue dulu pertahanin dia ya Tom? Andai gue nggak-"
Tau arah pembicaraan selanjutnya, Tomy langsung menegakan tubuh Septa. "Ssttt..." Katanya menempelkan jari telunjuk ke bibir Septa.
"Kita nggak akan maju kalau terus mengenang masa lalu."
"Lo bener."
Tomy kembali tersenyum. "Lo dan gue pasti bisa,"
"Bisa apa?" Tanya Septa.
"Bisa bikin juniornya Tania."
Lalu satu cubitan mendarat mulus diperut Tomy. Hingga membuat cowok itu mengaduh kesakitan. Septa beranjak, bersiap meninggalkan Tomy sendiri. Tapi, dengan cepat Tomy mencegah. "Mau ke mana?" Tanyanya.
"Cari minum. Haus."
Tomy ikut beranjak. Sebagai cowok gantleman, ia harus rela berkorban. Untuk itu, Tomy akan mengantikan Septa. "Biar gue aja," katanya lalu pergi.
Sepeninggal Tomy, Septa membuka ponsel. Puluhan pesan sudah masuk memenuhi ponselnya. Lolita. Cewek itu mengiriminya banyak pesan? Untuk apa?
Lolita A: *send a picture*
Lolita A: hey b***h ketemu lo!
Lolita A: lo boleh mainin cowok manapun. Tapi, nggak abang gue ya.
Lolita A: balik ke apartemen mati lo b***h!
"Huhuhu..." Belum sempat Septa melanjutkan membaca pesan Lolita. Tiba-tiba suara tangisan anak kecil mengintrupsi telinganya.
Septa memasukan ponselnya ke dalam tas sling bag. Lalu melihat asal suara tangisan itu. Dan betapa kagetnya ia ketika mendapati Rania menangis entah karena apa. Sebenarnya Septa ragu untuk membawa Rania dalam pelukannya. Tapi, kalau tidak begitu, ia tidak akan tau apa yang menyebabkan gadis itu menangis.
Berbekal nekat, Septa mengulurkan tangannya untuk meraih tubuh Rania. Dan herannya gadis itu menerima pelukan Septa. "Rara kenapa?" Tanya Septa mengelus rambut Rania.
"Tadi Rara didorong sama anak nakal." Adunya sesegukan.
"Siapa? Terus mana yang sakit?" Reflek Septa meneliti seluruh tubuh Rania. Takut terjadi apa-apa.
Dari jauh, Tomy melihat kedekatan Septa dan Rania. Tanpa pikir panjang ia mengambil ponsel lalu mengabadikan momen berharga itu. Tomy juga berdiri cukup lama sebelum akhirnya memilih untuk kembali.
Melihat Tomy kembali membuat Rania berlari menuju arahnya. Padahal baru saja Septa merasakan sesuatu. Rasanya aneh. Sebelumnya ia tidak pernah merasakan itu. Septa membiarkan Rania berlari dan mengadu Tomy.
Sekarang giliran Septa yang melihat kedekatan Rania-Tomy. Jujur ia merasa iri. Entah sejak kapan rasa cemburu itu hadir. Intinya... Septa tidak suka melihat kedekatan kedekatan Tomy dan gadis kecil itu. Entah kenapa. Tapi, ia harus segera menghilangkan rasa cemburu itu.
...
Tiga jam mereka bertiga menghabiskan waktu untuk bermain-menemani Rania bermain lebih tepatnya- dan berkeliling mall. Orang awam melihat mereka seperti keluarga bahagia. Padahal kenyataanya? Septa lebih banyak diabaikan oleh Rania dan Tomy. Ck! Harusnya tadi Septa pulang saja.
Sekarang mereka sudah ada di restoran cepat saji. Duduk berdampingan menunggu pesanan datang. "Eh ntar deh Ayah kebelet. Ayah ke toilet dulu ya?" Ucap Tomy.
Septa dan Rania mengangguk bersamaan. Setelah itu Tomy menghilang. Sekarang hanya ada Septa dan Rania. Hanya berdua lengkap dengan tatapan tak suka Rania. Memang sejak kembalinya Tomy tadi, Rania kembali memusuhi Septa. Huh, sial.
Septa pura-pura tidak menganggap kehadiran Rania. Ia fokus pada layar ponselnya. Padahal dari tadi Septa ketar-ketir mengawasi Rania. "Kak Septa nggak pantes jadi Ibu aku." Kata gadis cilik itu tiba-tiba.
Malas bertengkar, Septa membiarkan Rania berbicara sesukanya. Maklum omongan anak kecil, jadi gausah dipikirin. Begitu pikirnya.
Rania masih terus berbicara. Terus memaki Septa sampai pada akhirnya... "Kalau aja Kak Septa nggak bunuh Tania, pasti sekarang hidup Kakak bahagia."
Tania? Rania tau tentang anaknya? Tapi, dari mana? Tomy tidak mungkin bercerita Tania ke sembarang orang. Apalagi bercerita pada Rania-yang notabenenya masih anak-anak. Tidak mungkin kan?
Jadi siapa Rania sebenarnya?
tbc.
jangan lupa tap love yaa, guys.
#sasaji