jangan lupa tap love yaa, guys.
happy reading.
#sasaji
...
"Kalau aja Kak Septa nggak bunuh Tania, pasti sekarang hidup bahagia."
Ucapan gadis yang tengah tertidur dipangkuan Septa itu berhasil membuatnya bertanya-tanya.
Dua puluh menit selama perjalanan menuju panti, Septa tak henti-hentinya berpikir. Bagaimana mungkin Rania bisa tau soal Tania? Tomy tidak mungkin menceritakan tentang anak mereka ke orang lain. Apalagi ke seorang gadis kecil. Itu hal yang mustahil.
"Lo yang gendong Rania ke dalam atau gue?" Tanya Tomy begitu sampai di halaman panti.
Matahari sudah tenggelam beberapa jam lalu. Mereka bertiga benar-benar menghabiskan waktu sampai larut malam. Buktinya Rania sampai tertidur saat perjalanan pulang. Mungkin gadis kecil itu merasa kelelahan.
Sesaat Septa menatap wajah gadis cilik itu. Kalau begini Rania terlihat semakin manis. Memang sebenarnya Rania manis. Tapi, tidak berlaku jika berhadapan dengan Septa. Ah, lupakan! Perlahan gadis itu juga akan suka pada Septa.
Cewek itu tersenyum lalu mencium kening Rania cukup lama. Melihat itu membuat hati Tomy menghangat. "See you anak cantik." Ucap Septa mengelus wajah Rania.
Puas memerhatikan wajah Rania, Septa menyerahkannya pada Tomy. "Gue tunggu di sini." Katanya.
Setelah mengambil alih Rania, Tomy segera masuk ke panti. Ia tidak mau gadis kecil itu merasa kedinginan lalu terbangun. Sepeninggal Tomy, Septa kembali meraih ponsel pintarnya. Ia menyalakan sambungan data. Dan boom, begitu banyak pesan masuk baik dari Lolita maupun Nandeka. Ah, soal Lolita apa maksud dari pesannya tadi siang ya? Untuk mencari tau, Septa kembali membuka kolom obrolannya dengan temannya.
Setelah beberapa menit membaca, Septa sekarang tau apa maksud dari pesan Lolita. Seringai licik terbit di bibir merah Septa.
Septania D: Iya sengaja.
Septania D: Gue emang mau bikin abang lo jadi gila
Septania D: ok see ya di apartemen gue
Centang dua.
Septa kembali mematikan ponselnya setelah menjawab pesan Lolita dan Nandeka secara bergantian. Sepasang kakak adik itu terlalu mengkhawatirkan keadaanya. Kalau Nandeka benar-benar mencemaskan keadaan Septa sementara Lolita? Cewek itu...
"Lo mau gue anter pulang ke rumah atau apartemen?" Tanya Tomy sudah duduk di kursi kemudi.
Tentu saja suara Tomy membuat Septa kaget. Cewek itu reflek mematikan ponsel lalu menaruhnya kembali ke dalam tas. "Club? Itung-itung gerayain ultah gue."
Tomy sudah melajukan mobilnya. Ia menoleh ketika mendengar jawaban Septa. "Sama gue?" Berjeda. "Berdua?"
Si cewek menoleh dan mengangguk mantap. "Kenapa?"
Tomy menggelengkan kepala. "Enggak papa. Emang anjing lo ke mana?"
Septa terkekeh. "Cari majikan baru. Huhu."
"Serius?"
Melihat wajah konyol Tomy membuat Septa menyemburkan tawanya keras. "Hahaha ya enggaklah b**o! Doi kan udah mengabdi jadi pembokat gue. Hahaha!!!"
Tomy tidak tau kapan terakhir bercanda dengan Septa. Hubungan mereka memang baik-baik saja. Tapi, seperti ada jarak yang terbentang di antara mereka berdua. Dan yang pasti bukan Tomy yang menjaga jarak melainkan Septa. "Btw, gimana kabar Tata?" Ucap Tomy membuat tawa Septa terhenti.
"Lo mau nanyain kabar Bang Atta atau... Cilla?"
Tenangkan dirimu Septania. Atur kadar sesak dalam dadamu, sialan! "Dua-duanya." Jawab Tomy.
Septa mengangguk dan tersenyum. "Mereka... Baik." Jawabnya singkat.
Tomy tau. Ia tau seharusnya tidak pernah bertanya apapun yang menyangkut Cilla. Dan kali ini ia melakukan kesalahan. Bisa dibilang fatal. "Maaf ya Tom sampai sekarang gue tutupin di mana keberadaan mereka. Bukan kemauan gue, tapi ini permintaan Bang Atta dan Cilla." Kata Septa merasa tidak enak.
Sekarang giliran Tomy yang tersenyum. Keadaan berbalik. Septa merasa bersalah. Tapi, untuk apa? Itu semua kan urusan mereka. Ya, walaupun rasa ingin tau Tomy kadang tidak dapat dibendung lagi. Ia sudah mencoba tidak peduli dengan cewek bernama Cilla-Cilla ini. Tapi, hasilnya selalu nihil. Seberapa kuat Tomy berusaha melupakan. Sesering itu nama Cilla terngiang dipikiran.
"Yang penting gue tau gimana keadaan mereka berdua. Itu udah cukup kok."
Kok, ya? Batin Septa.
Setelah obrolan itu suasana mobil mendadak hening. Baik Septa maupun Tomy sama-sama berfikir bagaimana cara memulai obrolan lagi. Demi Tuhan, keduanya tidak suka berada diposisi seperti ini. Septa dan Tomy bersamaan menghembuskan napas kasar. Lalu kebetulan lagi mereka menoleh hingga saling bertatap muka.
"Gue mau nanya," ucap mereka bersamaan.
Klasik banget, t*i!!!
"Ladies first," ucap Tomy.
Septa mengelengkan kepala. "Lo dulu deh,"
"Okay." Jawab Tomy berjeda. "Gimana hubungan lo sama Nandeka?" Lanjutnya.
Sebenarnya Tomy bukan tipe cowok yang suka kepo atau suka mengurusi hubungan oranglain. Tapi, dari pada mereka saling berdiam diri lebih baik Tomy bertanya pada Septa. Sebetulnya Tomy sendiri sudah mengenal baik Nandeka. Cowok yang menyandang sebagai kekasih Septa itu adalah klien tetap tempat Tomy bekerja. Ya, Nandeka sering ke Studio untuk membuat tatoo. Tentu saja ditemani Septa.
"Baik." Jawab Septa singkat. Mengingat sesuatu, Septa merubah posisi duduknya. "Eh btw beberapa hari lalu tuh ya Nandeka..." Lalu cerita mengalir mulus dari bibir Septa.
Cewek itu menceritakan semua tentang kisah kasihnya dengan Nandeka. Tentang apa saja yang menyangkut dengan hubungan mereka. Tentang Nandeka yang takut kehilangan Septa. Tentang Ibu cowok itu yang suka dengannya. Bahkan tentang ajakan menikah yang Nandeka lontarkan satu minggu lalu. Septa menceritakan semua pada Tomy. Tanpa terkecuali.
"... Terus ya Tom, Lolita kan nggak tau kalau lo temen gue. Jadi ya dia segala mau nampar gue karena udah berani bermain dibelakang Abangnya. Sumpah deh kocak banget itu bocah."
Tomy ikut tersenyum ketika mendengar cerita Septa. "Kayaknya Pabo cinta mati banget sama gue. Soalnya dia mau ngelakuin apa aja yang gue perintahin."
Tomy kembali tersenyum. "Beruntung dong lo." Komentarnya.
Mendadak Septa diam. Cukup lama. "Mungkin."
"Mungkin?" Ulang Tomy menaikan satu alis.
Septa mengerdikan bahunya. "Auah. Sekarang kita bahas lo aja."
"Tunggu dulu. Soal lamaran Nandeka, lo terima?"
"Enggak. Lebih tepatnya belum gue jawab."
Tomy menoleh. "Kenapa?"
"Kalau gue nikah sama Pabo, gue bakal ikut dia tinggal di Bali." Jelas Septa mulai menyalakan tape mobil.
"Bukannya impian lo emang tinggal dan menetap di Bali?" Tanya Tomy lagi.
Septa tersenyum sinis. Bahkan Tomy masih mengingat impiannya. Perlahan lagu King Princess berjudul 1950 mulai mengalun dalam mobil Tomy. Septa meraih satu bungkus rokok dari dashboard. Sebelum menjawab pertanyaan Tomy, ia meraik satu batang rokok lalu menyalakannya. "Kalau gue tinggal di Bali nanti lo kangen lagi." Jawabnya asal.
Tomy hanya bisa menggelengkan kepala. Ada-ada aja si Septa.
....
Tepat pukul setengah sebelas malam Tomy memarkirkan mobilnya di depan salah satu club malam. Sepasang manusia itu kembali menghela napas panjang sebelum akhirnya melepas seatbelt lalu beranjak keluar. Tomy sudah berada di luar sementara Septa masih mengatur napas. Tatapanya mengarah ke depan. Club malam itu...
"Septa lo mau ngentang di dalam sampai clubnya tutup?" Kata Tomy sedikit berteriak.
Yang dipanggil namanya kembali menarik napas dalam sebelum akhirnya berjalan keluar. Tomy memberikan tangannya untuk digengam Septa. Jadilah mereka bergandengan tangan. Sempat ada adegan saling bertatap muka sebelum akhirnya masuk ke dalam sembari melantunkan kata, "lets have fun! Yeah!!!"
Alunan musik disko, bau alkohol, dan kepulan asap rokok menyambut kedatangan keduanya. Setelah membayar tiket masuk, Septa dan Tomy langsung berjalan menuju salah satu meja kosong. Beruntung sekali mendapat meja di saat club padat pengunjung-mengingat ini hari malam sabtu.
Satu pelayan datang untuk mencatat pesanan. Tiga menit bertanya, pelayan itu memilih untuk mengundurkan diri. Sembari menunggu Septa dan Tomy larut dalam sebatang rokok dalam tangan masing-masing. "Lama kita nggak ke sini berdua," awal Septa menghembuskan asap rokok ke udara.
Tomy mengangguk setuju. "Lo terlalu dikuasai oleh masalalu." Katanya membenarkan.
Ya. Apa yang dikatakan Tomy memang benar. Septa terlalu dikuasai oleh masalalu. Di club ini semua bermula. Tepat di club ini Septa berani mengungkapkan pada Tomy kalau ia suka. Di club ini Tomy juga membalas perasaannya sama. Dan sepulang dari club ini kejadian bodoh terjadi. Kejadian yang awalnya nikmat. Tapi, berdampak mengerikan. Dan dampaknya sampai sekarang.
Septa memilih tak menjawab ucapan Tomy. Ia diam berusaha menyingkirkan kejadian-kejadian pada masalalu yang mendesak masuk. Mencoba tenang, Septa menikmati rokoknya.
Tak lama pelayan datang dengan sebotol minuman beralkohol. Tanpa ragu Septa langsung membuka botol kaca itu lalu meminumnya. "Makin brutal aja lo," komentar Tomy menggelengkan kepala.
Lagi-lagi Septa tidak menyauti ucapan Tomy. Ia lebih memilih larut dalam sebotol alkohol di tangannya. Semakin malam, club ini semakin ramai. Musik yang tadinya terputar dengan volume sedang sekarang terdengar lebih kencang. Kalau begini Septa jadi ingin berjoget di dance floor. "Tom, turun yuk." Ajak Septa.
Tomy menggelengkan kepala. "Sini aja." Katanya.
Bukan Septa namanya kalau tidak melanggar ucapan seseorang. Cewek itu beranjak, bersiap pergi ke dance floor. Tapi, dengan cepat Tomy menghentikan Septa. Ia menarik tangan Septa dan menyuruhnya kembali duduk. "Tertib atau kita pulang."
Mendengar kalimat dari mulut Tomy membuat Septa mau tidak mau menurutinya. Meskipun bibirnya komat-kamit, tapi Septa tetap melaksanakan perintah si cowok juga. Kemudian hening kembali. Septa seperti kemasukan setan yang haus minuman keras. Terbukti dengan tandasnya satu botol alkohol berukuran sedang.
Entah apa yang dipikiran Septa hingga ia kembali memesan dua botol minuman yang sama. Kalau dipikir-pikir sudah lama juga ia tidak minum alkohol seperti ini. Kapan terakhir kali Septa begini? Satu bulan lalu atau satu minggu lalu? Entahlah ia lupa.
Malam ini Tomy membiarkan cewek itu menikmati alkohol sepuasnya. Ia membiarkan Septa menghabiskan semuanya sendiri. Tomy tidak akan melarang dan menghentikan. Ini seakan sudah menjadi tradisi bagi mereka berdua. "Lo nggak mau Tom? Mumpung gue yang tlaktir."
"Kalau gue ikut mabuk, kita baliknya gimana?" Jawab Tomy.
"Ya tinggal balik aja susah amat."
"Iya tinggal balik aja. Ntar pulangnya gak ke rumah, tapi ke Neraka. Mau gitu?"
Septa diam sejenak. Ia juga menghentikan aktivitas. Lalu detik selanjutnya Septa tertawa. "Iya, gua mau nyusul Tania. Tapi, kita kumpulnya di Surga. Lo gak usah ikut Tom, Tuhan nggak suka lo masuk Surga soalnya."
Tomy hanya mengiyakan saja. Mungkin sekarang Septa sudah mulai tidak sadar. "Andai anak gue masih hidup ya..." Kata Septa lirih.
Ingatan tentang Tania akhir-akhir ini semakin mengusik Septa. Ia menjadi lebih sensitif. Kalau melihat anak kecil berjenis kelamin perempuan-misalnya-, ingatan Septa langsung tertuju pada bayi Tania. Perandaian-perandian juga sering menghantuinya. Ah! Jika terus-terusan memikirkan Tania bisa gila Septa.
Cewek berumur dua puluh dua tahun itu kembali menegak minuman alkoholnya. "Tadi Rania bilang gini dong Tom, 'Kalau aja Kak Septa nggak bunuh Tania, pasti sekarang hidup bahagia.' Lo cerita ke Rara tentang aib gue ya?"
Tomy menggelengkan kepala. Septa sudah benar-benar mabuk sekarang. Ucapan cewek itu benar-benar tidak masuk akal bukan? Mana mungkin Rania yang baru berumur enam tahun berbicara seperti itu. Hah, ada-ada saja! Sepertinya Tomy harus membawa Septa pulang sebelum semakin parah.
"Lo seneng banget sih Tom kalau gue dijauhin Rania? Kalau lo cerita gue pernah bunuh Tania, itu sama artinya lo gak suka gue deket sama Rara." Ucap Septa bernada keras.
Tomy menggelengkan kepala. Ia beranjak meraih tubuh Septa. Mengajak cewek itu berdiri. "Udah ya kita pulang."
Septa menggelengkan kepala. "Enggak!" Jawabnya menepis tangan Tomy. "Kalau lo nggak suka gue deketin Rania harusnya lo juga jauhin dia! Lo harusnya cerita kalau lo juga terlibat dalam pembunuhan Tania!"
Beberapa orang di dekat Septa dan Tomy mulai menoleh ke sumber suara. Sialan! Batin Tomy berteriak.
Sebelum semakin jadi, Tomy menarik tangan Septa paksa. Ia membawa cewek mabuk itu ke luar dari club malam. "Kenapa Tom, kenapa?" Tanya Septa menghentikan langkahnya tepat di depan mobil Tomy.
"Kenapa apanya?" Tanya Tomy dengan sabar.
"Kenapa dulu lo nggak cegah gue untuk gugurin Tania? Kenapa dulu lo-" belum sempat Septa meneruskan ucapan, Tomy sudah lebih dulu membungkan mulutnya.
"Diam kita pulang." Katanya membawa tubuh Septa ke dalam mobil.
Septa semakin merancau tidak jelas ketika masuk dalam mobil Tomy. Tapi, tak Tomy pedulikan. Biarkan saja Septa memaki dan memarahinya. Tidak ada orang yang tau. Septa masih merancau dan terus memaki Tomy. "Kalau aja dulu lo nggak tidurin gue pasti sekarang gue nggak terbebani dosa besar. Gue nggak akan merasa sebersalah ini."
"Iya suka-suka lu dah." Jawab Tomy setelah dari tadi diam mendengarkan.
Mendadak air mata Septa luruh. Cewek yang tengah mabuk berat itu menoleh dan menatap Tomy lekat. "Andai dulu gue nggak ungkapin perasaan suka ke lo. Andai aja lo bener-bener cinta sama gue," berjeda Septa kembali merasakan sesak dalam dadanya. "Dan andai gue bukan jadi sasaran pelampiasan. Mungkin nggak akan ada penyesalan yang tak berujung seperti ini." Lanjutnya mengalihkan muka menatap jendela.
Tomy memelankan laju mobilnya. Ia ikut berpikir. Iya... Andai saja dulu Tomy tak menjadikan pelampiasan atas kekesalannya pada Gattara. Andai saja ia tak menjadikan Septa pelampiasan atas penolakan cintanya pada Racilla. Mungkin Tomy juga tidak akan merasa sebersalah ini~