Kesabaran Septa sudah mencapai batas tertinggi. Sebentar lagi akan meluap berganti menjadi sebuah emosi. Ia tidak bisa—tidak bisa berdiam diri lebih lama. Kali ini tidak ada kata mengalah atau berlaku lembut pada Rania. Sudah cukup selama ini Septa mengelus d**a. Ia harus mencari titik terang alasan si gadis membencinya. Dengan emosi memuncak, Septa melangkah lebar menuju mobil Wukky. Ia menarik tangan Rania kasar lalu membawanya menjauh hingga beberapa meter. "Pergi ke sekolah sama gue atau masuk rumah." Ucapnya memberi pilihan. Rania menatap sengit Septa. Jika biasanya ada sorot lain yang bisa Rania temukan, tapi tidak kali ini. Biasanya manik cewek yang mengenggam tangannya itu memancarkan kelembutan. Septa juga tidak akan betah berlama-lama beradu tatap dengan Rania. Namun, berbeda

