Prolog
Aku menangis dalam keheningan malam. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri haruskah ini terjadi padaku? mengapa cintaku harus kandas ketika dua hari lagi pernikahanku? apakah aku tidak pantas bahagia? apa rencana Tuhan untuk hidupku?
Namun semua itu tidak bisa terjawab. Aku tidak sanggup, hatiku hancur ketika dia yang teramat aku cintai memilih untuk menyerah dari pada bertahan.
Kejujurannya bukan hanya membuatku terkejut tetapi juga terluka.
Mama............
Aku tidak sanggup, tolong aku mama
Aku hanya bisa menjerit dalam hati. aku tidak mau orang tuaku khawatir dan aku juga tidak mau dia terlihat buruk di mata orang tuaku.
Tapi jika teris aku pendam, rasanya semakin sakit apalagi ketika lagu dari Tiara Andini-Merasa Indah terdengar mengalun. Seolah lagu itu mengiringi kepedihan hatiku.
Apa yang harus aku katakan pada orang tuaku, jika pernikahanku dengannya tidak mungkin bisa terjadi?
Aku takut melihat wajah kecewa di wajah mereka. Tolong bantu aku Tuhan!
Ingin curhat kepada sahabatku juga tidak mungkin, dia sedang menemani suaminya keluar kota.
Dia...........
Aku tersenyum miris, jangankan untuk menemui orang tuaku untuk meminta maaf karena telah melukai hati anak mereka. Orang tuaku menghubunginya saja ponselnya tidak aktif.
Aku menghapus air mataku, tidak ada gunanya menangisi pria seperti dia. Aku bertekad untuk jadi wanita kuat dan tidak larut dalam kesedihan.
Aku yakin di balik kesakitan ini akan ada kebahagiaan yang menanti. Ada masa depab yang indah yang Tuhan siapkan untukku