Sebulan setelah acara lamaran, Deri sibuk mempersiapkan acara pernikahan yang akan dilaksanakan bulan depan. Ia bersyukur Ayah Ambar tidak keberatan dengan profesinya sebagai seniman, padahal bagi kebanyakan orang profesi itu dicap buruk. Bisa saja bukan Deri yang dilihat oleh keluarganya. Mereka tahu jika Deri adalah anak majikan Ambar dan ternyata pak Yusuf Hadiwijaya itu bukan orang sembarangan. "Mbar, kamu mau konsep pernikahan seperti apa?" tanya Deri. Ini adalah pembahasan yang ke sekian kalinya. "Adat Jawa saja mas, namun tidak perlu pesta besar segala." Ambar lebih suka kesederhanaan. "Yakin? Tidak mau dibuat meriah? Pernikahan ini cuma sekali seumur hidup." Deri kembali meyakinkan. Sejak sebulan yang lalu ia sudah mempersiapkan sedikit demi sedikit. Mulai dari membeli alat-a

