17. Username Chat

1282 Kata
  Acara belanja di tunda besok, menurutku itu okay saja. Dan aku bilang sama Mas Daisuke kalau aku besok ingin membeli hiasan buat kelas, Mas Daisuke ingin menyuruh orang untuk membeli hiasan-hiasan kelas tetapi aku segera menolak. Sebab ada keperluan lain yang tentunya tidak hanya membeli hiasan kelas. Untung saja Mas Daisuke percaya perkataan ku, jika tidak teman-teman mungkin akan kecewa. Sekarang aku berada di kamar, selesai membersihkan diri dan tinggal santai. Aku menatap wallpaper handphoneku yang gambarnya Kira, anime Koi to Producer: EvolXLove.     Jujur saja kalau aku sangat suka anime sekaligus gamenya, sayangnya kalau di gamenya harus sering 'top up' sedangkan aku, tidak mampu untuk itu. Hanya memandang foto atau melihat video yang memiliki durasi hanya dua menit. Aku sudah berhasil mendapatkan gambaran sekilas walau tidak bisa mendapatkan sensasi membaca novel.   Sebuah notif grup kelas muncul membuat mataku terbelalak melihat kabar bagus tentang usul Judy. "Wah!" pekik ku tidak biasa, aku membacanya sangat antusias. Tidak lama kemudian semua murid 1-E bermunculan dan membuat grup tersebut hidup dengan berbagai candaan garing. Seperti biasanya Dimas yang membuat semuanya heboh dan selalu saja korbannya adalah Jesse, lalu Fian Xian Lu yang jadi tameng mereka berdua. Orochi: Kalian ini bisa serius nggak sih! *emot marah* Koran: di marahin sama emak mu loh, Dimas *emot nunjuk atas* Dimas: bukannya emakku adalah April sedangkan bapakku adalah Haku. [Tag April dan Haku]. Xian: maaaf ya, kalau mau koar-koar mungkin anda suruh Jesse aja, kan dia manusia api. Orochi: *menyimak* Zulfa: Iya, Pak Sam. Bilang besok, kita akan suruh babu-babu saya untuk membelinya. Kembarannya Jungkok: nah, bagus. Itu, Zulfa. Mrs. Mendes: salfok sama namanya, itu saha?. Ku ketik kalimat tersebut karena aku baru masuk grup kelas tadi saat di kelas. Nomor yang aku simpan hanya tiga cewek sedangkan yang lain belum kecuali Daniel. Koran: itu Pak Samuel Jin, Atma. Yang username nya Kembarannya Jungkok*emot polos*   Aku yang membaca itu menutup mulut rapat-rapat ingin rasanya mengutuk diriku sendiri. Suasana hatiku merasa tidak enak setelah mengirimkan pesan itu yang tidak tahunya adalah guru sendiri. Habis username nya bikin salfok. Mata cokelat ku masih menatap layar begitu banyak isi chat yang bisa dibilang unfaedah belum lagi April yang protes sama Dimas. April: Awas aja kau! Besok aku akan menghukum mu @Dimas! Haru: Bu Ketua udah marah-marah tamatlah riwayatmu @Dimas. Xian: besok di sekolah bakal seru nih. Dimas: kan aku mengatakan hal yang sebenarnya. Hakken: siapa yang manggil-manggil aku? Situ kangen. Yuli: Hakken closplayer sampai ikut nimbrung di sini April: Hakken Kw itu. April: itu nomornya Jesse -_. Bukan perjudian: Bu ketua bisa gambar di dinding? Mas Daniel: nama username kalian kok aneh-aneh ya? Mrs. Mendes: sama kayak otaknya, Mas Daniel. Not normal. Dimas: Astagfirullah.. Jodohku kok bilang gitu ya @Mrs. Mendes. Hakken: di panah mati sama Daniel. Mampus loh! Dimas: sejak kapan Daniel bisa memanah? Xian: kan namanya Daniel Satria Arjuna yang pasti bisa memanah, benar kan Niel. Koran: aku jadi Robin Hood aja lah^_^ Orochi: aku jadi Peterpan aja. April: mulai not waras-_ Koran: Bahasanya loh, di campur kek es campur. Dimas: dih kok jadi Robin hood sama Peterpan. Nggak kayak aku... Yuli: memang nya kau ingin jadi apa Dim? Xian: pasti jadi pasangan .... Dimas: Sok tahu lu! Xian Mang! Xian: nama gue Fian Xian Lu. Xian Lu bukan Xian Mang! Mrs. Mendes: entah kenapa aku lebih srek di nama Xian Mang. Dimas: aku ingin jadi manusia aja dah kalau gitu:v Haku: aku akan jadi malaikat maut. Kalian bertiga kalau berisik gue bekukan sampai berkeping-keping kek kaca!   Sejak Haku mengirimkan kalimat itu, semuanya menjadi hening. Sugoi sangat Haku, bisa menenangkan grup yang penuh percakapan unfaedah. Hatiku masih tidak enak dengan Pak Samuel, gara-gara username nya saja sampai gitu. Menatap kembali notif sudah sepi kek kuburan jadi ponsel ku letakkan di atas nakas. Sedangkan aku keluar dari kamar untuk menonton televisi. Mas Taiga, dan Mas Daniel tengah menonton televisi sambil nyemil. Aku duduk di tengah-tengah kedua pemuda itu. Mas Taiga dan Daniel melirikku,datar. Aku hanya terkekeh saja. Datang-datang langsung duduk di tengah-tengah tanpa permisi. Mas Taiga sedikit memberiku ruang,berkata,"apa benar, kalau kelas mu merencanakan promosi sekolah?"tanyanya. Anggukan kecil sebagai jawabanku atas pertanyaan Mas Taiga. Pasti Mas Daniel sudah bercerita banyak hal tentang rencana murid 1-E. "Besok, kau juga pergi berbelanja dengan teman-temanmu?"tanya Mas Taiga lagi. Aku mengangguk sekali lagi melirik pemuda bersurai blonde panjang sebahu. "Yup dan mereka semua sudah setuju!"seruku tersenyum mengembang seraya menjabarkan secara detail rencana-rencana yang akan membuat semua orang sadar. Rumor buruk tentang sekolah aneh akan perlahan memudar. Aku sempat bertanya ke Mas Taiga masalah kekuatan. "Mas Taiga percaya kalau ada orang memiliki kekuatan kayak cerita fantasi?"tanyaku suara kecil. Pemuda itu diam, menatap layar televisi sejenak lalu menghela nafa berat. Ia menyandarkan punggungnya di sofa sembari melihatku,menunggu jawaban dari nya. "Antara percaya dan tidak!"katanya,"tetapi kalau mereka benar-benar memiliki kekuatan dan berbuat baik. Nggak masalah sih."lanjutnya menatap televisi yang film dinosaurus di dalam museum.    Aku juga kembali menonton televisi di ruang tengah tanpa ada yang jail. Di luar mendung tetapi tidak ada satu tetes pun yang turun. Jarum jam terus bergerak sampai pukul setengah sembilan. Langkahku segera berjalan menuju kamar sesekali menguap. Kenop pintu ku putar lalu mendorong pintu me dalam dan masuk, kembali menutup pintu. Angin malam sudah masuk ke dalam kamar membuat hawa dingin semakin menjadi. Aku memutuskan untuk menutup kembali.     Ponsel di atas nakas ku ambil melihat begitu banyak notif yang masuk ke dalam ponselku. "Hoam," lagi-lagi mulut menguap. Mata sudah sayup sayup ingin menutup mata. Jadi aku letakkan kembali ponsel itu tanpa mengecek. Aku membaringkan tubuhku di atas kasur empuk, zona nyaman. Tidak lupa menutup separuh tubuh dengan selimut tebal. Secara perlahan mataku terpejam dan terbang ke alam bawah sadar ku. - - - - - "Tolong!" "Lepaskan aku!" "Diam, atau aku akan membunuhmu!" ancam pria berkacamata hitam menyeret ku mengikuti mereka. Air mata terus mengalir, takut kalau aku akan di lukai dengan dua pria yang tidak ku kenal serta pria lainnya di belakang. "Lepaskan dia!" seru seorang pemuda memakai pakaian hitam serta mukanya serta kepala tertutup hanya memperlihatkan kedua mata yang tajam menatap pria berbaju jas hitam. Pria di sampingku menyuruh mereka semua menyerang pemuda. Satu lawan delapan orang , mana bisa. Pemuda itu dengan lihainya menebas kedelapan pria yang menyerangnya bersamaan. Pemuda itu melemparkan boom asap membuat pria yang mencekal ku terlepas. Jadi aku bisa melarikan diri. Salah satu pria berusaha mengejar ku di selah-selah batuk akibat bom asap itu. "Berhenti!"teriaknya. Kakiku bergerak cepat membela asap yang masih mengepul di udara. Jarak pandang penglihatan ku jadi minim tanpa sadar kakiku tersandung batu membuat ku terjatuh. "Auh!" ringis ku melihat lutut yang tergores. Rasa perih nan panas menjalar masuk ke tubuhku. Pria berjas hitam itu ingin mencekal ku kembali tetapi pemuda bertopeng datang dan menebas pria berjas dari organisasi 'Black Hawk'. Aku yang melihat itu dari jarak dekat menganga tidak percaya. Setelah menebas pria itu. Pemuda bertopeng seperti ninja atau mata-mata menoleh ke arahku. Angin berhembus kencang membuat jubah yang di pakainya sedikit berterbangan dan penutup kepalanya yang tidak terlalu rapat terbuka memperlihatkan rambut yang awalnya rapih. Kini acak-acak kan apalagi tertiup angin seperti itu. Membuatku kagum akan kerennya pemuda penyelamatan ku. Perlahan ia menghampiriku membuat menelan silvaku susah payah karena gugup. Ia jongkok dan mata kami saling beradu, mata hanzel tajamnya itu membuatku terpesona. Setelah mata kami saling bertemu. Pemuda itu menatap lutut ku yang tergores sedikit, mengeluarkan sedikit darah. Ia mengambil kain dari balik jubahnya lalu membalut lukaku. "Auh perih!" ucap ringis ku. Pemuda itu begitu rapih membalut luka kecil ku. Menatap pemuda itu lagi dengan senyuman,"terima kasih," ucapku. Ia sama sekali tidak merespon perkataan ku membuat aku bertanya-tanya. Siapa dia? Apakah aku bisa membuka topengnya? --- batinku. -Sekolah Aneh- Bersambung... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN