Prolog
"Berhenti!" teriak salah satu pria yang tengah mengejar ku. Aku terus menerus berlari sesekali melirik ke belakang ada sekitar lima orang yang mengejar ku.
Aku sama sekali tidak tahu, mereka menginginkan apa dariku yang jelas mereka akan membawaku ke tempat yang sepi lalu menyuruh keluargaku menebus uang agar aku bebas kembali.
'Gawat!'
Mataku terbelalak dan langkahku berhenti ketika ada sekelompok pria tiba-tiba muncul di hadapanku. Sekarang, aku sudah terkepung dan sudah tidak ada jalan lagi untuk melarikan diri. Aku yakin, mereka akan membawaku ke tempat yang sepi dan tidak ada siapapun di sana.s
Keringan dingin sudah mengucur deras di pelipis ku, keringat dingin sekaligus badan bergetar.
"Kau sudah tidak bisa kemana-mana lagi!" ucap pria berkacamata hitam dengan setelan jas hitam serta ada teknologi yang canggih yang ada di bagian tubuhnya.
Gigiku menggertak, ekor mata bergerak ke kanan dan ke kiri. Aku memasang kuda-kuda walau jujur saja aku tidak jago dalam bela diri. Melawan sepuluh orang sekaligus itu sulit.
"Ja-jangan mendekat atau aku akan memukul kalian semua!" ancam ku bergetar di balas tawa kecil mereka mengejek,"kalian mau apa mengejar ku ha!" lanjut-ku berteriak kencang ketika kalimat terakhir.
"Gadis kecil, kau sudah tidak bisa lari lagi. Kalau kau ingin selamat maka ikut kami ke Black Hawk. Karena kekuatan mu sangat besar." ucap pria itu membuat mata ku berhasil membulat sempurna mendengar nama 'Black Hawk'.
Black Hawk adalah sebuah organisasi aliran hitam di Kota Sidoarjo. Mereka adalah organisasi besar dan orang-orang yang di sana sangat kuat. Mereka juga menculik anak-anak, remaja sampai orang dewasa sekitar umur 35 tahunan untuk menjadi kelinci percobaan eksperimen.
Aku tahu organisasi mereka dan tujuan-tujuan mereka untuk menguasai dunia. Kata rumornya Black Hawk mencari seseorang yang memiliki kekuatan besar sejak lahir, sayangnya orang itu, susah di cari. Energinya tersembunyi. Jadi mereka kesulitan mencari target itu maka 'menculik' seseorang menjadi jalan keluarnya.
Iming-iming kalimat "kau memiliki kekuatan besar" agar target tergiur ikut dengan mereka dan kelinci percobaan akan di mulai.
"Dengar ya, kekuatan itu tidak ada. Apalagi kekuatan bawaan waktu kecil. Ini sangat di luar nalar." ucapku terkekeh geli.
Salah satu dari mereka berkata kalau omonganku adalah salah besar. Seperti nya imajinasi mereka terlalu tinggi, batinku.
Saat aku masih asik tertawa bak orang gila salah satu dari mereka mengeluarkan api dari tangannya. Aku yang tertawa, berhenti sedangkan ia tersenyum miring.
Tidak hanya satu pria itu saja melainkan semuanya mengeluarkan kekuatan aneh, kekuatan element dasar. Semuanya tersenyum miring lalu menyerang ku secara bersamaan.
Api
Air
Tanah
Es
Tumbuhan
Mengarah semua ke arahku. Ku pejamkan mataku dan berteriak kencang.
"Aaaaaa!"
*Sekolah Aneh*
"Aaaa!"
Pintu terbuka lebar secara kasar dan tidak begitu elitnya dia mendorongku dari kasur sampai aku benar-benar berteriak. Lebih tepatnya berteriak kesakitan.
"Ups, maaf adik manis. Aku sengaja mendorongmu agar kau berhenti berteriak membangunkan kelelawar di pagi hari." suara di imut kan terdengar jelas di kupingku.
Mataku mencoba terbuka tapi tidak bisa. Dorongan kakakku ini bisa di bilang kuat padahal badannya masih kurus dan masih tahap awal membentuk tubuh tapi dorongannya itu loh. Kuat banget, aku sampai heran dia makan apa setiap pagi.
Tangan memegang kepala dan perlahan menggantikan posisi yang awal tengkurap, jidat mencium lantai sangat keras--jidat ku udah lebar tambah lebar. Ingin potong poni nanti panjangnya sebelah lagi karena kakakku ini tidak bisa memotong rambut cewek. Ya, masa iya rambutku di potong cowok entar ganteng dong.
Ku lirik sinis kakakku yang sekarang tengkurep memeluk bantal memandangku dengan senyuman manis, tanpa dosa. Rambut pirangnya ingin aku jambak aja apalagi masang wajah sok imut kek boneka barbie.
"Mas Taiga, nggak bisa apa bangunin adiknya secara elit. Tepuk-tepuk pipi atau apa gitu. Nggak dorong adiknya sampai jatuh juga kali," protes ku pada Kakaku, Mas Taiga.
Nama panjangnya adalah Putra Taiga Satria. Karena ayahku namanya Satria dan anehnya nama kakakku ini huruf belakangnya berakhir 'A'.
"Enakkan dorong kau sampai jatuh. Kalau tepuk pipi sambil ngomong bangun-bangun. Nggak pantes!" kata Taiga padaku. Tanpa basa-basi lagi aku lempar bantal dan selimut ke arah kakak tampan yang laknat.
Aku bangkit berdiri menuju ke kamar mandi. Lalu Mas Taiga berteriak,"cepat mandinya! makananmu bakal di habisin sama Daniel loh. Kan tuh anak tukang makan!"
Beberapa menit kemudian aku sudah siap-siap berangkat sekolah dan langsung pergi ke ruang makan. Di sana ada 4 kakak ku yang semua, laki-laki. Jadi di rumahku ini ada 5 laki-laki (termasuk ayahku) dan dua perempuan. Kata mama, syukur kalau aku lahir dengan jenis kelamin perempuan kalau tidak. Mama akan sendirian, tidak ada yang di ajak ngobrol.
Mamaku bilang setiap ia melihat Taiga, itu kayak cewek. Wajahnya imut-imut gimana gitu dan rambutnya pantas di panjangin. Imut-imut gimana gitu? Kalau aku boleh jujur dia amit-amit.
Kami berlima umurnya selisih 2 tahun. Kakak ku yang nomor satu itu namanya Sultan Fajar Satria, umurnya masih muda 24 tahun. Di susul oleh kakakku yang ke dua, namanya Daisuke Yuma Satria, umurnya 22 tahun. Lalu ini kakakku yang paling laknat dan dia ini harusnya cewek ternyata cowok hahaha, namanya yang tadi aku sebutkan yaitu Putra Taiga Satria umurnya 20 tahun. Lalu ini kakakku yang doyan makan tapi dia cepat juga nurunin berat badan serius, ajaib gitu--Dia adalah Daniel Satria Arjuna, umurnya 18 tahun. Sedangkan aku masih berumur 16 tahun.
Benar-benar selisih 2 tahun, bukan.
"Nanti Atma sama Daniel di antar sama Mas Daisuke ya?" kata Mama ketika aku sudah selesai makan.
"Loh ma, bukannya sekolah ku dan Mas Daniel satu arah dengan Mas Fajar ya?" tanyaku ke mama. Entah mengapa aku merasa tidak enak mendengarnya.
"Kamu dan Daniel sudah ayah pindahkan ke sekolah baru. Apa kau tidak di bilangin sama Taiga?" kata ayah. Aku masih shock dengan kalimat pindah sekolah. Pantas saja, Mas Daniel tidak terkejut dengan hal ini, dia santuy banget.
Aku melirik sinis ke arah Mas Taiga. Mama menggeleng dan berkata,"Taiga, apa kau tidak menyampaikan ke Atma? Soal pindah sekolah?"
Dia malah nyengir.
Ya allah, ingin aku lempar kakakku ini ke rawa-rawa.
"Aku lupa hehehe. Atma, aku minta maaf ya." ucapnya.
"Tidak, ada kata maaf bagimu. Mas Dai, kita berangkat. Aku jijik sama Mas Taiga." ucapku sudah berdiri.
"Ma, aku nanti agak terlambat pulang kerja." kata Fajar memakai topi sebagai petugas menegakkan ke adilan, polisi.
Ia memiliki tugas yang sulit di pecahkan entah tugas apa? Kalau tidak salah organisasi besar di kota ku ini. Kalau tidak salah nama organisasinya yaitu 'Black Hawk'. Aku tidak sengaja menguping pembicaraan saat Mas Fajar berbicara ke ayah, Mas Daisuke dan Mas Taiga.
Sebagai kakak tertua memang penting ya kalau aku dan Mas Daniel belum waktunya. Mobil hitam mewah keluar dari garasi rumah, bisa di bilang kakakku yang sukses itu, kakakku nomor dua, dia menjadi ahli IT di sebuah perusahaan besar. Tidak hanya itu saja, Mas Daisuke ini suka sekali menggambar. Hebat sekali, aku sampai iri.
Selama perjalanan aku diam saja seraya mendengarkan lagu dari headphone yang selalu aku bawa dan ku kalung kan ke leher. Aku sangat menikmati lagu dance, Why Don't We--Fallin terus di lanjutin lagu dari Snow man - Stories.
Lumayan, dapat sedikit tenaga dari lagu.
Mobil berhenti tepat di depan gerbang. Sekolah ini sangat sepi oy, apa ini benar-benar sekolah atau kuburan?.
"Sudah sampai di sekolah baru kalian. Kalian tidak boleh cari masalah," kata Daisuke datar. Aku dan Mas Daniel salim lalu turun dari mobil. Kakakku ini selalu memberikan kami permen mint.
"Atma, yuk masuk!" ajak Daniel, aku hanya mengangguk mengiyakan ajakannya.
-Sekolah Aneh-
Bersambung..