Sekolah yang besar dan megah. Namun, memiliki kesan yang menyeramkan. Ketika kami berdua masuk ke sekolah ini, rasanya bulu kudukku berdiri semua. Padahal cuaca hari ini sangat cerah benderang, tidak ada awan mendung sama sekali. Kakiku tiba-tiba berhenti melangkah, bergetar hebat seperti aku melihat hantu. Tidak hanya kakiku saja yang bergetar melainkan bibirku juga ikut bergetar.
Mas Daniel yang sudah melangkah sedikit jauh berhenti, menoleh ke arahku yang posisi berdiri mematung dengan wajah ketakutan dan kaki bergetar.
"Kenapa wajahmu ketakutan begitu?"tanyanya. Aku menggeleng,tidak tahu.
Mas Daniel menarik pergelangan tanganku dan berlari masuk detik itu juga. Rasa menyeramkan yang aku rasakan hilang secara mendadak. Ini aneh sekali, batinku. Kami berdua masuk ke dalam ruangan kepala sekolah. Mas Daniel berkata secara detail dan kepala sekolah itu mengangguk.
Kepsek itu menunjukkan jalan pada kami berdua ke dalam kelas yang sama padahal aku sama Daniel, tingkat kelasnya berbeda dan tidak mungkin satu kelas.
"Maaf pak, bukannya aku kelas 3 sedangkan adikku kelas 1. Bukan kelas 1-E?" kata Mas Daniel sopan sambil mengemut permen lolipop mangganya.
Kepsek hanya tersenyum dan membuka pintu. Semua orang yang ada di dalam kelas seketika menoleh ke pintu.
"Anak-anak kalian mendapatkan dua teman baru!" umum kepsek lalu guru yang mengajar itu menunjukkan senyum sumringah mendengarnya.
Kami masuk ke dalam kelas. Ruangan yang awalnya panas tiba-tiba terasa dingin seperti ada AC padahal di sini hanya ada satu kipas yang ada di tengah-tengah kelas. Aku melihat semua murid rata-rata laki-laki sampai akhirnya aku menemukan sebanyak tiga cewek yang ada di belakang.
"Namaku adalah Daniel Satria Arjuna, panggil saja Daniel, Niel, Arjun, Arjuna, Juna. Terserah kalian. Umurku 18 tahun." kata Daniel memperkenalkan diri.
Aku menghela nafas sedalam-dalam nya untuk mengusir rasa gugup yang ada di dalam tubuhku,"namaku adalah Putri Atma Eliza. Umurku 16 tahun." kataku memperkenalkan diri.
Lalu semua murid di kelas yang memiliki jumlah sedikit hanya 14 di tambah kami berdua jadi 16 orang. Aku dan Mas Daniel saling beradu pandang karena semua orang angkat tangan padahal tidak ada quiz sama sekali.
Seorang pemuda berambut abu-abu dengan netra ungu angkat bicara. Aku sempat tidak percaya kalau di sini ada yang memiliki warna mata ungu atau ia memakai lensa mata? Aku sendiri tidak tahu.
"Namaku Iris Haku. Aku adalah ketua kelas 1-E jadi kalian berhak untuk tahu, ketua kelas, wakil ketua kelas, sekretaris dan bendara." kata pemuda tersebut, wajahnya yang tegas dan sedikit kalem itu membuatku sedikit terkesima. Dia mirip seperti tokoh-tokoh fantasi China, rambutnya panjang diikat.
Lalu seorang gadis berkacamata berdiri, warna kulitnya cokelat manis, berbadan gemuk, rambutnya keriting diikat dua.
"Namaku Zulfa Nur Tiara. Aku adalah bendahara kelas 1-E." kata Zulfa sekaligus menjadi bendara kelas. Dia terlihat penyabar dan memaklumi jika ada teman yang tidak bisa membayar kas maupun infaq, sudah terlihat sekali dari wajahnya.
Lalu di belakang berdiri seorang gadis tinggi semampai, rambutnya keriting gantung berwarna hitam lebam. Dia sepertinya gadis humoris tetapi kalau sekali ngomel, agak menyeramkan. Ah entah lah aku hanya menebak-nebak saja tidak sok tahu.
"Namaku Ayu Apriliana Shinta. Aku adalah wakil ketua kelas." ucapnya singkat dan padat.
Lalu berdiri seorang pemuda seperti badboy gitu,wajahnya saja seperti anak nakal dan ku pastikan dia adalah sekretaris kelas 1-E.
"Namaku Fian Xian Lu. Ingin mengatakan. Apa saya boleh keluar ke toilet bentar?" ucapnya membuat yang lain melongo dan sebagian menahan tawa mendengar ucapannya barusan.
"Ya allah, aku kira tadi kau mau bilang apa? Fian Xian Lu!" ucap pemuda berkacamata berbadan gemuk menggeleng melihat salah satu temannya tidak bisa melihat keadaan yang lagi serius.
"Kebiasaan itu Haru, kalau Fian Xian Lu berdiri. Ucapannya akan jauh dari topik awal." sahut pemuda berkacamata di balas angguk pemuda di sebelahnya. Wajah mereka berdua sama, anak kembar.
"Sana kamu minggat ke toilet biar aku yang duduk sama anak baru itu!" usir pemuda berambut merah.
"Cowok?" kata Fian pada temannya itu.
"Yang cewek lah, masa aku duduk sama cowok terus entar aku di kira homo lagi."ucapnya langsung di jitak oleh teman belakangnya.
"Hayalan lo terlalu tinggi, Jesse."katanya.
"Kayak nggak biasa aja, lu duduk sama cowok. Dulu lu sama Pak Sam suruh duduk sama April, lu nggak mau, sok jual mahal."sahut Fian Xian Lu melirik sinis.
"Kalau lihat ada yang bening langsung mepet, cowok playboy emang." celetuk Fian Xian Lu langsung ngacir keluar kelas.
Aku hanya menggeleng. Kami duduk di bangku sesuai guru arahkan. Aku duduk di sebelah April, dua orang di depanku itu bernama Zulfa dan Yuli.
Pelajaran pun segera di mulai, di selah-selah pelajaran ada-ada saja kelakuan yang sama sekali tidak guna. Jadi aku ingat Mas Taiga, kakak laknat itu. Aku harap di sini tidak ada laki-laki yang memiliki sifat sama seperti Mas Taiga.
"Judy, kau jangan tidur entar semua terjebak lagi!" celetuk pemuda yang ada di sebrang bangkuku.
"Aku ngantuk lah, Rudy. Kalau pelajaran matematika." kata pemuda berkacamata pada pemuda satunya.
Aku sama sekali tidak mengerti apa yang mereka katakan. Rudy menyuruh Judy tidak tidur saat semua orang masih ada di kelas. Pemuda bernama Rudy mengajak Judy ngobrol terus lalu Haru juga ikut ngajak Judy ngobrol agar tidak mengantuk.
Haku selaku ketua kelas sama sekali tidak menyuruh mereka untuk diam, suara Rudy dan Haru sangat keras. Mas Daniel yang merasa terganggu memutuskan mendengarkan musik dengan menyumpal telinga dengan headseet yang menggantung di bajunya sedari tadi.
Hanya satu kata yang bisa aku katakan.
Kelas 1-E sangat berisik. Anehnya, guru yang mengajar sama sekali tidak marah atau tidak memberikan peringatan sama sekali. Aku yang ingin mendengarkan guru jadi terganggu.
"Semuanya kok berisik sendiri-sendiri sih, kan kasian sama gurunya yang dari tadi jelasin tapi nggak di dengerin." komentarku kesal. Dahi berkerut, mengeluarkan helaan nafas kasar.
Yuli menoleh ke belakang dan berkata,"anak 1-E pintar-pintar kok jadi aman." jawabnya singkat lalu kembali menghadap ke depan.
Otakku yang masih lemot pun tidak mengerti sama sekali, maksudnya.
"Ha?"
Hanya itu saja yang bisa keluar dari mulutku. Mimik wajah sudah ku pastikan sudah kayak orang bodoh.
Lalu Dimas yang berada di bangku depan sendiri menyahut,"kalau Judy, benar-benar tertidur kelas 1-E bakal tidak aman!" teriak Dimas dari depan bersamaan benda persegi panjang melayang ke arah Dimas membuat pemuda itu mengadu kesakitan.
"Dimas! Kamu jangan berisik di dalam kelas. Nanti aku suruh keluar kelas sekarang juga!" ancam guru pada Dimas.
"Jangan! Nanti aku belajar apa kalau aku diusir dari kelas." ucap Dimas mayun.
"Serius dikit aja, susah bener." celetuk Yugo.
Lalu Haku angkat tangan dan berkata,"Rudy, mau tidur bu!"
"Baiklah, bawa dia di uks aja!" titah guru itu. Rudy selaku kembarannya mengajak Judy yang terlihat sangat ngantuk. Mata panda-nya sudah terlihat serta raut wajahnya itu terlihat sangat kelelahan.
Aku sekolah di hari pertama ini sangat bingung dan aneh sekali dengan murid-murid di sini. Sebenarnya aku masih banyak pertanyaan-pertanyaan di pikiranku tentang sekolah ini. Mengapa di sekolah besar seperti ini hanya ada dua kelas saja yang aktif? Walau sebelumnya waktu di kantor kepala sekolah ada sedikit berbincang ada dua kelas yang aktif.
Tetapi waktu aku dan Mas Daniel berjalan menuju kelas 1-E, tidak ada sama sekali kelas yang seperti kelas hidup. Semua kelas yang sekitar ada 15 ruangan kelas, kosong kecuali kelas 1-E.
*Sekolah Aneh*
Bersambung...