02. Cerita Sekolah

1241 Kata
  Setelah selesai belajar dan waktunya untuk istirahat. Anak laki-laki semuanya mulai beraksi seperti banyak tingkah gitu. Ada yang bawa sapu sebagai gitar, taplak meja jadi kerudung. Aku melihat itu hanya bisa menggeleng. Ternyata sekolah ini hampir sama seperti sekolah lainnya yang berisikan murid banyak tingkah dan ada-ada saja yang di lakukan. Aku melirik ke April, ia menggambar tokoh anime yang nggak salah namanya "Aomine Daiki" di salah satu anime berjudul Kuroko no Basket. "Itu gambaran mu, bagus sekali?" ucapku memujinya. April tersenyum,"iya, ini gambaran ku. Aku sudah banyak gambar. Aku sudah gambar Hinata anime Haikyu." Ada dua gambar yang di tunjukkan padaku, semuanya bagus. Sayangnya belum di warnai. Tapi April suka dengan versi hitam putih tidak berwarna sebab kalau di kasih warna bakal jelek. "Aku tidak terlalu jago mewarnai jadi biarkan begini saja," aku mengangguk-angguk. Yuli menoleh dan begitu pun Zulfa,"kalian tidak di kantin?" tanya Yuli dibalas angguk Zulfa. "Kantinnya letaknya di mana?" tanyaku. "Nanti tahu sendiri, Ma. Jesse dan Niall, kalian nggak ke kantin?" kata April padaku lalu memanggil dua pemuda yang sibuk main game di ponsel. "Nggak. Aku lagi main game sama Niall nih, nanggung kalau keluar begitu saja skillku bisa-bisa berkurang," kata pemuda berambut merah yang sama sekali tidak mengalihkan pandangan mata dari ponselnya. "Awas aja kalau kalian minta jajan. Aku denda nih!" ancam Zulfa pada mereka berdua. "Tidak usah bacot lah. Aku titip ayam goreng aja sama teh hijau loh ya, kalau tehnya rasa original aku nggak mau!" kata pemuda blonde di sebelahnya. "Teh rasa melati kalau Jesse nggak nitip?" kata Yuli seolah dia tahu, teh favorit pemuda itu. Yuli ketawa sendiri membuatku mengerit heran,"kenapa kau tertawa?" "Niall, lu bagi makan sama Jesse kasihan itu dia," ucap Yuli. Niall melirik ke pemuda berambut merah, Jesse hanya membalas kekehan kecil.   Kantin sangat luas seperti restoran di dalam mall, sungguh. Beberapa makanan pun tertata rapih, kami berempat makan di kantin ini. Ada beberapa makanan gratis dan yang bayar. Zulfa sudah membelikan makanan buat Niall dan Jesse lalu makanan itu di letakkan di atas robot pengantar. "Loh, tadi buat membeli makanan Niall itu pakai uang mu?"tanyaku Zulfa menggeleng. "Tidak, dia pakai uangnya sendiri." jawab Zulfa enteng. "Perasaaan ia sama sekali tidak berpindah tempat mana bisa?" ucapku tidak percaya. Secara logika itu tidak masuk akal. Dia sama sekali tidak berpindah tempat dan bagaimana bisa uang itu berpindah. Jikalau Niall sudah nitip ke Zulfa buat nitip makanan sejak awal, itu mungkin. "Sepertinya kamu belum tahu cerita sekolah ini ya?" ucap April sembari memakan basonya, aku menggeleng. Kami berempat sibuk memakan baso masing-masing sebelum April mulai bercerita tentang sekolah ini. Kantin yang biasanya ramai penuh murid tapi ini beda, kantin seperti kuburan dan tubuhku sudah merasa seperti awal aku menginjakkan kaki di sekolah ini. Ada hawa horornya. Semua mangkok sudah kosong—bersih dan perut sudah terasa kenyang. Baso di sekolah ini sangat lezat sama seperti baso-baso pedagang kaki lima dan warung pinggir jalan. Kalau aku punya aplikasi gojek mungkin aku sudah kasih bintang lima. "Aku akan mengisahkan kisah sekolah ini secara detail dan pasti kau banyak berpikir kalau di sekolah ini kok ada dua kelas saja. Dan satu kelas lagi dimana? Kok hanya ada 1-E?" ucap April. Entah mengapa rasanya bulu kudukku berdiri semua dan hawa di sini mulai naik ke film horor. Kedua telingaku mulai mendengar sebuah cerita mistis yang keluar dari mulut April. Dulu sekolah ini adalah sekolah paling terkenal dan terbesar sebab jumlah muridnya mencapai 1000 murid. Aku begitu takjub sekali mendengar murid sebanyak itu kalau ngumpul semua, seperti semut kalau di lihat dari atas. "Waktu sekolah ini sejahtera. Insiden demi insiden. Peristiwa demi peristiwa. Kejadian demi kejadian..." "Bukannya tuh kalimat sama saja. Kenapa berulang kali di sebutin kayak baca puisi saja." komentar seseorang membuat April berhenti berucap. Kami berempat menoleh melihat seorang pemuda yang tidak asing di mataku lagi. "Mas Daniel, kenapa di sini?" tanyaku. "Mencarimu." "Kenapa?" "Jangan banyak tanya, apa kalian tidak sadar bel masuk udah berdering. Masa nggak dengar nanti di alfa sama Dewa loh." kata Mas Daniel, aku menghela nafas berat. Ah tidak bisa mendengar cerita Full sekolah ini padahal pengen banget tahu secara detailnya, batinku. "Ya sudah. Ayo kita ke kelas. Makasih loh Niel," kata Yuli. - - - - - -   Selama pelajaran aku sangat mengantuk sekali, semua murid nampak anteng tidak seramai waktu istirahat tadi. Mulutku menguap dan segera aku tutup, ngantuknya. Kedua tangan di lipat di atas meja lalu ku tenggelamkan kepala dan memejamkan mata. Bayangan-bayangan mimpi tadi pagi mulai tergambar lagi dimana aku berlari di kejar-kejar oleh sekelompok pria dan memaksaku ikut masuk ke organisasi Black Hawk. Keringat dingin mulai mengucur deras di pelipis ku, tepat mereka semua ingin menyerang ku. "Aaa!" Teriakku langsung bangun dari tidurku dan mendapatkan tatapan aneh. Guru yang ada di depan kaget mendengar teriakan ku barusan. "Kenapa kau berteriak kencang seperti itu,Ma?" tanya April di sebelahku. Duh, sungguh memalukan. Baru saja aku memejamkan mata mimpi itu muncul lagi. Jantungku berpacu sangat cepat. "Ada apa nih. Siapa yang berteriak tadi?" tanya guru. Aku angkat tangan,"maaf bu, saya tadi ketiduran dan mimpi buruk." ucapku jujur. "Cuci muka biar nggak ngantuk!" perintah guru padaku. Aku hendak berdiri, Fian Xian Lu juga berdiri. "Aku antar cuci muka, Ma!" kata Fian Xian Lu semangat. "Ya nggak boleh lah. Kalau cewek itu sama cewek kalau cowok itu sendiri. Ngapa lu menawarkan diri nganterin Atma." kata Dimas nggak terima. "Eh cowok playboy dan cowok m***m, mending kalian diam dan duduk. Nggak ada buka jasa nganterin cewek ke toilet." kata Jesse datar. "Diam lu. Lu juga cowok playboy ngaca! Lu yang m***m, bukan gue. Kan gue cuman nganterin dan duduk di depan bukan ikutan masuk ke dalam. Astagfirullah, maafkan aku ya allah, bahasa-ku terlalu vulgar." kata Dimas protes ke Jesse. "Njir, aku nggak m***m ow! Sok tahu!" kata Jesse nggak terima. "Kalian berdua ini tidak pernah akur sama sekali. Fian Xian Lu duduk sama Dimas aja. Yugo biar sama Jesse!" titah guru yang pusing melihat mereka berdua tidak akur banget. "Ya nggak bisa gitu, Bu!" kata mereka berdua kompak. "Atma, biar aku anterin!" kata April ku balas anggukan. Aku mendengar Dimas dan Jesse malah tambah ribut. "Kalian berisik atau aku suruh Zulfa mencatat nama kalian!" kata Haku tegas.   Aku dan April yang masih sampai di depan pintu hanya menggeleng melihat tingkah laku mereka berdua. Kata April mereka berdua memang tidak bisa akur.   Kran ku putar lalu keluar air begitu derasnya aku segera mengusap wajahku. Rasa segar, aku bisa rasakan. Setelah selesai aku mematikan kran tersebut tidak lupa membenarkan rambutku yang sedikit acak-acakan di cermin kecil. Aku keluar dari toilet lalu berjalan beriringan dengan April. Gadis itu menceritakan sedikit tentang sekolah ini selama perjalanan menuju ke kelas. Mendengar cerita sekolah ini sangat sedih sekali bagaimana tidak sedih? Hampir semua muridnya ada yang terbunuh secara misterius dan hilang tanpa jejak. Belum lagi kasus pembullyan sekolah dan lain sebagainya. Ada juga kisah horor terutama di toilet dan ruangan yang tiba-tiba muncul secara misterius. "Apa semua itu benar?" tanyaku ke April masih tidak percaya dengan ruangan yang tiba-tiba muncul secara misterius. April mengangguk mantab kalau yang di katakan itu benar adanya. Dalam pikiranku masih tidak menerima tentang ruangan yang tiba-tiba muncul dan menghilang misterius. Benar-benar sekolah aneh. "Pasti kau mengira kalau aku ini bohong?" aku mengangguk. Sepertinya April tahu, apa yang aku rasakan atau ia pandai membaca mimik wajah seseorang? "Kalau aku berkata murid 1-E memiliki kekuatan seperti cerita fantasi. Apa kau percaya?" tanyanya tiba-tiba membuat langkahku berhenti menatap April tidak mengerti. *Sekolah Aneh* Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN