03. Somplak

1533 Kata
"Kalau aku berkata murid 1-E memiliki kekuatan seperti cerita fantasi. Apa kau percaya?" tanyanya tiba-tiba membuat langkahku berhenti menatap April tidak mengerti. "Apa? Kekuatan hahaha, apa kau bercanda? Aku merasa kalau aku berada di cerita fantasi," ucapku tidak percaya, menggeleng sambil tertawa hambar. Aku berjalan duluan ke depan lalu menoleh ke belakang melihat April yang tersenyum. Dia menghela nafas panjang,"baiklah, kalau gitu. Nanti kamu bakal tahu, Ma. Ayo buruan! Masuk ke kelas, nggak baik berada di luar kelas lama-lama kalau jam udah bel masuk."kata April menyuruhku mempercepat langkah ke kelas. Aku sama sekali tidak mengerti dengan sekolah ini. Begitu banyak murid yang mati dan hilang secara misterius. Kalau aku pikir-pikir lagi pasti ada yang menyamar, tidak tahu menyamar sebagai murid atau guru atau mungkin berkedok makhluk lain. Ah, aku jadi kepikiran dengan mimpiku, apa ini azab menguping pembicaraan orang tanpa izin saat Mas Fajar menceritakan kasus tentang organisasi Black Hawk. Hatiku merasa kepo dengan kelompok organisasi itu yang benar adanya di Krias ini dan apa benar markas mereka berada di Kota Sidoarjo. Sampai di kelas kami berdua segera menulis materi dan soal. Pensilku mencoret-coret kertas kosong itu menjadi deretan kalimat perkalimat dan soal yang bisa dibilang jawabannya panjang. Cuaca yang awalnya cerah kini berubah menjadi hitam tanda hujan akan turun dengan deras membasahi bumi. Ruangan kelas menjadi sedikit gelap jadi pandangan kami kurang karena cahaya yang masuk di mata juga berkurang. Fian Xian Lu bangkit berdiri mencoba menekan saklar lampu akan tetapi tidak bisa. Empat lampu yang ada di dalam kelas sama sekali tidak berfungsi. "Loh kok, tidak bisa nyala?" Fian Xian Lu menekan beberapa kali lampunya tidak bisa. "Apa kau lupa? Lampu dan kipas di sini sering mati. Di benerin terus mati. Sepertinya ada makhluk halus atau orang yang merencanakan semua ini," ucap pemuda yang duduk di pojok kanan sendiri. Ia bermuka datar, rambutnya hitam, sebelah matanya tertutup kain hampir menutup separuh wajahnya. "Ya allah, padahal aku sudah bayar SPP bulan ini," ucap Dimas caper. "Awakmu nggak isok ta? Nggak usah lebay kek gitu. Untung listriknya sempet di benahi daripada nggak di benahi sama sekali. (kamu tidak bisa? Tidak perlu lebay seperti itu. Untung listriknya sempat di benahi daripada tidak di benahi sama sekali)."ucap Jesse nyolot ke Dimas. "Iya-iya, lu benar. Gue salah, puas lo sekarang!" kata Dimas berkacak pinggang. "Eh kalian nggak sadar apa? Dari tadi di amati sama guru lo. Kalau debat tidak melihat suasana anjir kayak anak gadis aja," komentar Haru seraya membenarkan kacamata. "Efek isi kelasnya laki semua sih jadi gitu. Dimana ada emak dimana ada anak?" celetuk Niall. "Niall, nggak sadar kalau di sebelah bangkunya ada empat cewek," kata Judy sambil nunjuk dua bangku yang ada empat cewek. Aku hanya menggeleng melihat tingkah laku semua murid di sini, entah mengapa rasanya kelasnya menjadi hidup dan tidak terlalu menyeramkan seperti awal aku masuk ke sini. "Ya sudah, tutup tirai jendela semuanya!" titah guru dengan segera semua murid menutup seluruh jendela. Yang awalnya gelap tambah gelap di sini. Tiba-tiba keluar cahaya yang bersinar melebihi lampu. Aku menutup mata dan menghalangi wajahku dengan tangan, silau. "Semua menyanyi biar nggak ngantuk!" suruh Dimas. "Rudy, jangan nyanyi ya entar semua kena efek!" itu suara Fian Xian Lu. "Ya, nasib ku kok nggak enak sih," keluh Rudy. "Aku akan mewakili kakak," kata Judy membuat Rudy tersenyum. Oh jadi Rudy itu kakaknya toh, aku pikir Judy yang kakak hehe, batinku. Semua murid di sini mulai menyanyi lagu dengan nada slow dan tinggi. Awan mendung datang Membuat cahaya tertutup awan hitam. Dunia menjadi gelap Hati ikutan gelap. Datang lah cahaya datang lah cahaya. Usir awan hitam dengan cahaya mu. Cahaya cahaya cahaya Cahaya yang menyilaukan Membuat siapa saja akan merasa senang. Hati akan merasa senang.  Jangan, jangan,jangan malu. Aku akan menunggu cahaya yang akan menyinari kehidupan ku dan hati yang sudah berada di dalam kegelapan. Cahaya cahaya cahaya Cahaya yang menyilaukan Membuat siapa saja yang akan merasa senang. Hati akan merasa senang [nada tinggi].   Semuanya berhenti menyanyi lalu cahaya yang menyilaukan itu kini sedikit meredup. Mataku terkejut kalau rambut Zulfa bisa bersinar seperti lampu dan helaian rambutnya seperti diterpa angin. April menggambar sesuatu di kertasnya sebuah kunang-kunang, dahiku berkerut. "Kunang keluarlah!" serunya seketika gambar itu keluar dari kertas milik April. Aku yang melihat itu melongo tidak percaya. Kunang-kunang itu terbang di atas rambut Zulfa seperti mengirimkan sebuah energi cahaya berjumlah besar. Setelah selesai menyerap semua cahaya yang ada di rambut Zulfa, kunang-kunang itu terbang di tengah-tengah kelas lalu ukuran kunang-kunang itu menjadi besar dan ekornya menyala seperti lampu. "Silahkan di kerjakan terus di kumpulkan." kata guru. Aku hanya bisa melongo tidak percaya menoleh ke April masih tidak percaya dengan semua ini. "Apa?" ucapnya seperti ia risih dengan tatapanku. "Bagaimana bisa? Itu tidak mungkin kan?" ucapku masih shock. Mataku melihat kunang-kunang itu menjadi lampu dadakan di tengah kelas dan Mas Daniel, begitu santuy tidak terkejut atau apa gitu?. Sekarang pikiranku banyak sekali pertanyaan. Zulfa angkat bicara tanpa menoleh,"kerjakan cepat, cahayanya tidak akan terus menyala!" Tanganku langsung bergerak mengerjakan tugas. Ya allah, barusan itu tadi apa? Apa benar yang di katakan oleh April kalau murid 1-E memiliki kekuatan. Bukannya kekuatan itu tidak ada?aduh kalau di pikirin terus kepalaku langsung pusing. -Sekolah Aneh-    Hujan di luar sangat deras sehingga kami semua memutuskan untuk tinggal di dalam kelas sedikit lama setelah bel pulang sekolah. Guru sudah keluar dari kelas dari tadi. Anak laki-laki memindahkan bangku-bangku ke pinggir. Dan menyuruh semua duduk melingkar di tengah-tengah kelas. Aku duduk melingkar dengan lainnya dan melihat wajah-wajah teman baru ku secara jelas. Ternyata ada dua pemuda yang memiliki wajah datar termasuk pemuda penutup mata sebelah itu. Hanya dua pemuda itu yang tidak aku ketahui namanya. Dan aku juga penasaran, mereka semua memiliki kekuatan apa? Sepertinya hanya aku dan Mas Daniel aja yang manusia normal. Yuli melirik ku dengan kode mata yang membuat ku tidak mengerti. "Kita main bisik-bisik aja, gimana?" kata Yuli pada mereka berdua. "Nah setuju!" seru Fian Xian Lu melirik ke arah Jesse tersenyum miring. Jesse menghela nafas berat,"kalau bermain begini firasatku merasa tidak enak." Semua yang mendengar keluhan Jesse tertawa. "Kalau gitu kita mulai dari Atma dan terakhir Niall!" ucap April sepihak. "Loh,aku harus ngomong apa?" ucapku kaget dan bingung harus membisik apa di telinga mereka semua. "Terserah, syaratnya harus sulit," kata April tertawa kecil. "Ayo Atma!" kata Zulfa tersenyum menyemangati. Sebenarnya tidak ada kata-kata yang pas di kepalaku. Aku membisik di telinga Yuli lalu nyambung-nyambung dan ada beberapa yang tertawa. Aku jadi penasaran, sampai bisik-bisik itu sampai ke Niall. "Apa tadi Jud?" tanya Niall dan Judy membisik ke telinga Niall lagi. "Kok aneh?" katanya bangkit berdiri. "Yang keras Niall!" teriak Fian Xian Lu tertawa. "Apa seh? Telinga ku kok ngerasa aneh sama mulutku harus ngomongnya kek gimana? Sulit,"kata Niall garuk-garuk tengkuknya tidak gatal. Aku juga penasaran dia mau ngomong apa?, batinku. "Kakap ceplok nang rel, kakap ceplok nang rel, mangkap ceklok nang rel," kata Niall cepat sampai tiga kali seketika semua orang tertawa. "Kok jadi gitu sih bahahaha!" kata Jesse. "Yang bener apa? Atma!"tanya Rudy padaku. "Laler menclok nang rel, laler menclok nang rel, laler menclok nang rel," ucapku cepat muka polos. "Niall, lu kok bisa jadi Kakap ceplok nang rel?" tanya Dimas tertawa terbahak-bahak. "Ikan kakapnya bisa ceplok telur di rel hahaha!" "Mati duluan itu kakap sebelum ceplok telur!" "Memangnya Laler itu apa sih? Aku tinggal di jawa udah lama tapi belum paham sama sekali?" tanya Niall lebih polos. "Laler itu lalat, Niall. Makanya kamu jangan pulang pergi ke luar negeri dong!" ejek Fian Xian Lu. "Jesse aja orang luar tapi bisa bahasa jawa ngewes." kata Dimas nunjuk Jesse. "Jesse orang Amrik, aku orang inggris!"kata Niall. Aku yang mendengar celoteh mereka menutup telinga. Aduh telingaku merasa sakit oy. Pas mereka masih ribut kek orang debat sedangkan Fian Xian Lu jadi orang yang bilang 'tenang' sedangkan Jesse jadi patung. Aku memanggil April,"Pril, mereka benar-benar orang luar negeri?"tanyaku ragu. "Hooh. Kalau nggak percaya tuh tanya aja sekretaris kelas," kata April nunjuk pemuda bermuka datar yang dari tadi nunduk ke bawah. Apa dia jadi sekretaris kelas? Kok orang nya diam,batinku. Aku tersenyum ke April. "Nggak jadi deh, Pril. Aku takut sama dia." kataku pelan. April mengangguk,"atau aku yang ngomong?" "Nggak perlu!" ucapku terlalu keras sehingga menyebabkan debat yang berlangsung berhenti, mereka menatapku. "Ada apa Atma? Mau ikut debat juga?" tanya Dimas. Masya Allah, kenapa aku bisa bertemu dengan orang yang jauh lebih menjengkelkan dari Mas Taiga sih? batinku. "Kalau mau debat, ayo debat sama Niall dan aku. Biar Fian Xian Lu jadi wasitnya." kata Dimas. "Wasit konon, aku bukan wasit," kata Fian Xian Lu. "Terus sapa dong?" kata Niall. "Aku jadi Satpam," jawab Fian Xian Lu enteng. Haku hanya menggeleng melihat tingkah laku temannya yang sangat b**o nggak ketulungan. "Yang sebenarnya debat itu Niall dan Jesse karena sama-sama orang luar negeri. Ini nggak, yang debat malah Niall dan Dimas sedangkan Jesse anteng." komentar Haku dingin. "Lah iya. Baru sadar gue. Jesse silahkan debat sama Niall biar satpam Fian Xian Lu yang menenangkan kalian," kata Dimas tepuk jidat Fian Xian Lu. "Ah males, mending main kartu aja deh,"kata Jesse. "Nggak boleh, main kartu sama dengan main judi,"kata Dimas. Judy menoleh ke Dimas,"apa manggil-manggil? Orang dari tadi diam." Aku yang mengamati hanya menggeleng melihat ke somplakkan mereka semua. -Kelas Aneh- Bersambung... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN