Cuaca di luar masih tidak baik, hujan masih belum kunjung berhenti. Ruangan kelas semakin gelap dan memberi sedikit kesan horor. Suasana menjadi dingin akibat hujan di luar sana. Rasa dinginnya menusuk ke dalam tulang-tulang dengan segera aku menggosokkan kedua telapak tanganku agar tubuh menjadi hangat. Setidaknya ada rasa hangat walau sedikit.
Mas Daniel melirik ke arah jarum jam yang ada di atas papan tulis sudah menunjukkan angka 4 sore. Ia menatap layar ponselnya, menekan-nekan layar ponsel itu, pasti ada yang mengirim chat. Murid laki-laki sudah duduk anteng dan sibuk sendiri.
Ini membuatku tenang, mereka bisa diam tidak berisik seperti tadi saat debat. Mereka berisik banget ngalahin orang demo padahal cuma dua orang siapa kalau bukan Dimas dan Niall di tambah sama Fian Xian Lu. Jesse sama sekali tidak angkat bicara dan memutuskan main kartu yang ia bawa.
Aku tidak menyangka aja kalau Jesse jago banget main kartu begituan sampai yang main sama dia, nyerah.
"Kapan hujan bakal reda?" tanya April melihat tirai-tirai yang terbang karena angin kencang. Dan Haru selalu membenahi jendela yang terbuka karena angin. Aku melihat langit-langit kelas, tidak ada yang bocor.
Bisa dibilang atap kelas ini seperti sudah lama tidak di urus atau pihak sekolah tidak mampu untuk membenahi karena minimnya murid. Bayangkan saja, di sekolah ini hanya ada dua kelas saja yang entah kelas satunya dimana? Kelas yang berisik. Dan kelas ku ini hanya ada 16 orang terdiri 4 perempuan dan 12 anak laki-laki.
Yuli menoleh ke April,"aku sendiri tidak tahu, kapan hujan akan redah. Bosan ya?" jawab Yuli dibalas anggukkan mantap dari April.
"Bosan banget," kata April berkeluh menatap laki-laki yang asik main kartu, sibuk main ponsel dan ada yang sibuk dengan pikiran masing-masing.
Aku juga merasa bosan sedari tadi diam, tidak melakukan apapun. Ketika semua hanyut dengan kegiatan masing-masing tidak ada yang ngelucu, bertingkah aneh atau hanya sekadar mengobrol santai.
"Atma!" panggil Mas Daniel padaku. Aku menoleh ke Mas Daniel.
"Ada apa?"
"Kata Mas Taiga kalau hujan tidak kunjung redah, kita di suruh menetap di sini dulu. Dan jangan pulang dulu." kata Mas Daniel padaku.
Tentu saja aku membulatkan mata tidak percaya mendengar hal itu dan kenapa harus Mas Taiga yang jemput. Harusnya kan Mas Daisuke. Huh, rasanya tidak mungkin kalau Mas Daisuke yang jemput karena ia sibuk banget dengan pekerjaannya jadi tidak sempat untuk 'menjemput'.
"Kita nginap di sini!" pekikku membuat semua orang lagi-lagi menatap ku. Entah kenapa akhir-akhir ini aku lebih suka teriak sehingga mengalihkan perhatian orang lain? Entar di kira caper lagi.
"Ya, nggak nginap juga." kata Mas Daniel menghela nafas panjang.
Setelah Mas Daniel berkata seperti itu, tiba-tiba suara gledek terdengar begitu keras.
Duar!!
Sehingga membuat semua orang kaget. Aku refleks memeluk Yuli yang ada di sebelahku, kaget. Suara gledek terdengar lagi dan lagi. Aku melihat Jesse dan Dimas pelukan, sontak saja yang melihat itu melongo.
Jesse dan Dimas yang sadar segera melepaskan pelukan refleks itu, membersihkan najis lalu mereka berdua berkata kompak,"Jijik!" memalingkan wajah.
"Kalian berdua lucu sekali hahaha!"kata Rudy.
"Diam lu. Kenapa sih pakai acara peluk Jesse? Jijik! Euy!" kata Dimas.
"Dih, aku juga moh meluk awakmu. Mending aku peluk cewek cantik daripada kamu," ucap Jesse melirik sinis ke Dimas bentar lalu mengalihkan pandang ke arah lain.
Fian Xian Lu yang masih memegang dua kartu menghela nafas kasar, "kalian tidak bisa anteng dikit apa? Berisik terus." katanya.
"Tumben lu, perhatian gitu. Biasanya cari masalah sama gue," kata Dimas ke Fian Xian Lu. Pemuda itu hanya memutar bola matanya enggan menjawab pertanyaan Dimas.
Judy membenarkan kacamata yang hampir melorot turun dari batang hidungnya, "mending kita cerita horor aja, biar nggak bosan!" usulnya.
Aku yang mendengar itu langsung menegang. Bagaimana tidak menegang? Di sekolah ini hampir terasa seperti rumah hantu bukan sekolah biasa. Apalagi kata April banyak murid yang hilang dan mati secara misterius. Belum lagi ruangan kelas yang tiba-tiba muncul dan hilang.
Di sekolah ini banyak misterinya.
Ekor mataku melirik ke arah Mas Daniel yang asik bermain ponsel sendiri. Mas ku yang satu ini seolah tidak memperdulikan habitat barunya yang aneh atau ia pura-pura tidak tahu. Dahiku berkerut samar.
Pemuda bermuka datar dan mata sebelahnya di tutup oleh kain tidak setuju dengan usulan Judy.
"Itu sangat berbahaya! Entar mereka juga ikut nimbrung. Apa kamu nggak sadar, Jud. Kalau di belakangmu ada siswi yang terbunuh secara misterius." kata pemuda itu membuat badan Judy menegang, matanya terbelalak.
Rasa takut menjalar ke seluruh tubuhnya, ia menelan silvanya susah payah dan memeluk tasnya erat-erat. Judy melihat pemuda itu serius mencoba menyembunyikan rasa takut dari makhluk tak kasat mata.
Kalau benar di sekolah ini banyak penunggunya maka tidak heran kalau aku menginjakkan kaki untuk pertama kali disini udah nyabe(merinding). Jika aku melihat pemuda dingin itu, ia sepertinya anak indigo.
Sebagaimana ia tadi memberitahu Judy letak dimana makhluk tidak kasat mata itu berada?
"Sepertinya di sini banyak makhluk halusnya ya?" celetukku bertanya. Aku sengaja bertanya seperti itu yang entah pertanyaan itu ke siapa?
Pemuda gemuk meletakkan kacamata miliknya ke dalam tas,"bisa di kata begitu. Semua makhluk di sini minta bertanggung jawaban atas kematian mereka yang misterius. Alvin, waktu talking dengan mereka. Hampir semua yang ada di sini tidak menjawab." ucapnya membuat bulu kudukku semakin lama semakin berdiri.
Rambut Zulfa bersinar-sinar memberikan penerangan. Aku masih terdiam mencoba untuk mencerna perkataan Haru barusan.
"Jangan banyak tanya tentang sekolah ini. Sekolah ini begitu banyak cerita mistis karena insiden besar itu." celetuk Haku.
"Apa sebegitu parahnya insiden itu sampai sekolah ini terlihat mati dan tersisa 14 orang saja." sahut Mas Daniel menyimpan ponsel nya di saku celananya.
Angin berhembus masuk melewati ventilasi udara, sepertinya di luar sana hujannya sedikit redah. Namun, suara gledek masih terdengar keras.
Haku menatap Mas Daniel serius, "parah, kau sama sekali tidak akan mengerti secara detail," katanya menghela nafas panjang,"bentar lagi hujan redah dan kalian bisa pulang."
"Alhamdullillah, bisa pulang juga!" seru Dimas mulai berisik.
"Kayak tidak pernah pulang aja, Dim," celetuk Yugo tersenyum.
"Ah, aku ingin rebahan." kata Dimas.
"Kalau aku pengen buat Brownies. Biar, kerjaannya nggak makan terus." kata Niall tersenyum.
Mas Daniel menatap Niall datar,"secara tidak langsung kau menghinaku, Niall."
Pemuda berambut blonde berlensa biru itu melotot lalu tertawa hambar, "ah, aku tidak bermaksud menghinamu, Niel." ucapnya.
"Daniel merasa kalau ia tukang makan,"komentar Dimas.
"Karena aku hanya makan saja tidak ikut membantu memasak. Aku jujur, kenapa harus gengsi tutup-tutup? Enak, jadi orang terbuka daripada orang tertutup, nyakitin diri sendiri entar merambat ke mental."kata Mas Daniel.
Aku hanya tersenyum tipis mendengar kalimat Mas Daniel yang bisa dikatakan menjadi Quotes kecil. Saudaraku yang paling terbuka adalah Mas Daniel. Kalau yang lainnya juga terbuka hanya saja menunggu waktu yang tepat baru membuka suara. Beda sekali dengan Mas Daniel yang blak-blak kan, nada dingin.
Dimas langsung kincep mendengar kalimat Daniel. Yuli tersenyum sendiri, aku sempat mengira kalau Yuli memiliki kepribadian ganda atau kelainan, batinku seraya melirik ke Yuli.
"Aku bisa membaca pikiran dan hati seseorang." kata Yuli tiba-tiba seolah ia mendengar apa yang aku katakan di hatiku tadi.
Yuli tersenyum padaku menepuk bahu,"tidak apa-apa. Kau boleh berpikir begitu karena kau belum tahu kekuatanku."kata Yuli padaku.
Hujan sudah mulai redah dan semua murid 1-E pulang ke rumah masing-masing. April di jemput sama ayahnya sedangkan yang lain membawa sepeda motor. Aku dan Mas Daniel menunggu Mas Taiga datang menjemput.
Menoleh ke belakang melihat sekolah yang megah seperti sekolah pada umumnya harus kehilangan 'kesejahteraan' atas insiden lama itu. Sekolah yang benar-benar aneh dan menyimpan banyak misteri. Bahkan murid yang kini menjadi temanku memiliki kekuatan.
Bukannya itu sudah berada di luar nalar manusia. Tidak ada manusia memiliki kekuatan. Aku akan mencari semua keganjalan yang membuat pikiranku selalu bertanya-tanya tanpa henti. Kisah misteri sekolah serta Organisasi bernama 'Black Hawk'.
-Sekolah Aneh-
Bersambung...