Roda berputar begitu laju menerobos jalanan basah. Akibat hujan deras yang tidak kunjung berhenti membuat jalanan terlihat sepi dan ada beberapa kendaraan yang melintas. Mataku melihat luar jendela dengan menopang dagu. Aku sedang berpikir tentang sekolah baru yang selama 9 jam ada di sana. Begitu banyak keganjalan.
Apa ayah sengaja memasukkan ku dan Mas Daniel di sana? Ku lirik, mas laknat yang di sampingku sibuk menyetir.
"Bagaimana sekolah barunya, seru bukan?"tanyanya.
Aku sebenarnya malas buat ngejawab tapi Mas Daniel sibuk memakan camilan yang selalu sedia di mobil milik Mas Daisuke. Keluargaku yang cuman punya mobil adalah Mas Daisuke kalau Mas Fajar, mobil Dinas kepolisian.
"Aneh," ucapku singkat.
"Apa aneh?maksudnya?" tanya Mas Taiga balik sembari melirikku bentar lalu menatap ke depan.
"Sekolah itu aneh, Mas Taiga. Dan banyak sekali misterinya. Coba Mas bayangkan, di sekolah itu berisikan 14 murid yang memiliki kekuatan terus kata Kepsek kalau ada dua kelas. Aku cuman lihat kelas 1-E saja, tidak ada kelas tetangga hanya 1-E. Waktu istirahat juga sepi," kataku menceritakan singkat tantang sekolah aneh itu, aku menoleh ke Mas Taiga,"apa kau percaya?"
Ia menghela nafas panjang lalu angkat bicara,"percaya aja deh. Pasti kau berhalusinasi lagi," ucapnya enteng tanpa dosa sedikit pun.
"APA!? JAWABAN MACAM APA ITU! Wah parah, Mas Taiga!" ucapku lantang, menggeleng mengalihkan perhatian kembali menatap luar jendela mobil.
"Apa kau tidak bisa mengecilkan volume suaramu? Telingaku hampir tuli!" protes Mas Taiga tapi aku mah bodoh amat.
Daniel yang selesai menghabiskan dua camilan lalu menyibukkan diri bermain game,"Atma, waktu di sekolah juga teriak. Mungkin suasana hatinya tidak baik perlu makan ice krim." katanya. Aku menoleh ke belakang, datar.
"Bukannya kau yang pengen makan ice krim? Kenapa kau menjadikanku kambing hitam?" kataku ke Mas Daniel. Pemuda itu sama sekali tidak mengubris.
Mas Taiga tertawa dan membelokkan ke super market yang sudah berjajar setiap sudut.
"Lebih baik kita belanja terlebih dahulu. Dan Daniel harus berhemat!" kata Mas Taiga.
"Mas Daniel sudah turun duluan dari mobil yang artinya ia akan menghabiskan isi dompetmu, Mas Taiga." kataku datar membuka pintu mobil.
Mas Taiga terkejut bukan main dan segera menyusul Mas Daniel sebelum anak itu benar-benar membuat kantungnya menipis. Aku hanya tertawa terbahak-bahak dalam hati seraya berkata, 'rasain lo!' Melihat saudara menderita sedikit membuat hatiku sedikit bahagia, hahaha.
Rasa dingin dari Ac terasa sejuk ketika aku membuka pintu super market seraya mendapatkan penyambutan ramah dari pegawai. Pandang ku melihat mereka berdua sudah memilih belanjaan. Aku mengambil keranjang, siapa tahu kalau aku ikutan membuat dompet Mas Taiga menipis. Raut wajah nya pasti akan lucu.
Hampir semua orang kalau melihat aku bersama Mas Taiga berjalan berdua. Mereka mengira kalau kami berdua kembar dan ada yang berkata kalau jalan berdua mesti ada yang berkata.
"Atma, di sebelahmu itu kau versi cowok?"
"Taiga, di sebelahmu itu kau versi cewek?"
Gambarannya seperti itu apalagi kalau mengetahui nama depanku dan nama depan Mas Taiga, mereka akan berpikir kalau kami benar-benar kembar dan umur yang terpaut 4 tahun bukan jam apalagi bulan.
Aku memasukkan camilan kripik kentang yang selama ini aku incar dan pilus. Camilan favoritku adalah kripik kentang dan pilus saat tanganku mengambil pilus ada tangan lain yang sama buat mengambil camilan yang sama.
Aku terkejut dan menoleh melihat seorang pemuda mengenakan jaket berlogo polisi saat pemuda itu menoleh aku kaget.
"Haku!"pekikku kaget.
"Atma, kau ada disini?" tanya Haku menurunkan tangannya yang sempat bersentuhan dengan tanganku.
"Kau menyukai pilus?" tanyanya aku hanya mengangguk.
"Aku tidak menyangka kalau kau suka juga makanan pilus dan kau juga jadi polisi?" ucapku tatapan polos. Sekarang, aku seperti orang bodoh bertemu dengan ketua kelas di super market pakai acara canggung.
Haku mengambil pilus dua yang satu ia taruh ke keranjang ku sedangkan yang satunya lagi untuk dirinya sendiri.
"Aku pergi dulu, ada urusan," ucapnya dingin bak es. Aku hanya berdiri diam melihat punggung Haku menuju ke kasir.
Tiba-tiba ada seseorang yang menggertak ku dari belakang membuat jantung ini hampir lompat dari tempatnya. Ku menoleh cepat, sinis ternyata Mas laknat yang mengagetkanku.
"Ih, Mas Taiga. Jantungku hampir copot tahu!" protesku padanya.
Pemuda itu tertawa terbahak-bahak lalu mencubit pipiku gemas dengan kasar aku menepis tangan Mas Taiga.
"Udah belanjanya buruan ke kasir. Kau juga tidak membeli ice krim juga. Entar ngiler loh." kata Mas Taiga mengiming-iming ku kalau ia membeli dua ice krim pasangan kekasih.
Padahal dia jomblo pakai acara beli ice krim buat pasang kekasih,batinku tersenyum miring mengejek.
"Ya, ice krim yang di bawa Mas Taiga aja."ucapku.
"Yeah, nggak bisa. Ini ice krim buat aku seorang. Meski jomblo beli ice krim dua couple," kata Mas Taiga pergi ke kasir. Aku berjalan menuju lemari ice krim, waktu aku asik memilih melihat Mas Taiga yang nampak kecewa.
Kecewa tidak bisa membeli ice krim couple kata pegawai tuh ice krim buat sepasang kekasih. Kalau jomblo mah mana bisa beli. Mas Taiga menoleh ke arahku dan menyuruhku untuk menghampirinya.
"Nih, Mas. Pacarku. Jadi bisa beli bukan ice krimnya dan sekalian belanjaannya saya bayar!" kata Mas Taiga sombong akut nadanya. Dan dia ngerangkul ku mesrah.
Eh nih apa-apaan njir, aku adik bukan pacar. Nih nih, contoh kakak laknat yang tega menjadikan adiknya seorang pacar dadakan! --batinku melirik Taiga penuh pembalasan.
"Thank you, Mas."
Waktu Daniel sudah ada di kasir dan meminta Mas Taiga membayar belanjaannya.
"Bayar sendiri! Dompetku udah nipis!"
"Nggak bisa gitu, aku sudah beli banyak nih. Aku nggak bawa uang."
"Ya, berarti kau harus bersih-bersih super market ini, Niel." jawabnya enteng tanpa dosa.
Mas Daniel tersenyum miring tidak mau kalah dengan Mas Taiga,"oh nggak mau bayar ya. Aku bilangin ayah untuk memotong uang belan---"
"Eh jangan! Yah yah, aku yang bayar. Gitu aja pakai ngaduh!" kata Taiga muka datar. Aku yang ada di sebelahnya tertawa ngakak. Kalau debat, Mas Daniel selalu menang daripada Mas Taiga.
-
-
-
-
-
Sesampai rumah aku segera membersihkan badanku, sumpah lengket banget apalagi pipiku yang kena ice krim karena Mas Taiga itu orangnya memang usil.
Ku hidupkan shower lalu keluarlah air begitu deras membasahi tubuhku. Mataku terpejam berusaha untuk berpikir tentang sekolah yang kini menjadi sekolah baruku. Jika di tanya sama ayah dan mama nanti, aku akan menceritakan segi positif yang sangat minim.
Masalah mimpi, aku tidak tahu tentang mimpi itu. Aku sudah bermimpi 4 kali dan isinya sama seperti itu. Apa itu nyata atau apa itu akan terjadi? Aku sendiri tidak tahu.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian santai aku segera menuju ke ruang tengah buat menonton televisi dan aku baru sadar kalau aku belum menutup jendela kamar.
Ketika aku menutup jendela mataku melihat ada surat yang di gulung rapih.
"Eh surat?" tanyaku pada diri sendiri saat aku melihat sekeliling ada seekor burung yang terbuat dari kertas terbang di atas langit.
"Apakah itu burung kertas? Kok bisa terbang kayak burung asli?" monolog ku terdiam dengan segera aku menutup jendela rapat-rapat lalu membuka gulungan apik itu.
'Hai Atma, aku April. Besok ada waktu atau nggak? Aku, Zulfa dan Yuli mau keluar jalan-jalan pulang sekolah. Nih di bawah ada nomorku 083xxxxxxxxx ^_^'.
Seulas senyum terukir jelas di bibirku setelah membaca surat dari April.
-Sekolah Aneh-
Bersambung...