06. Mimpi itu lagi

1453 Kata
"Ma, aku besok pulang terlambat. Aku di ajak teman baruku jalan-jalan, apa tidak apa-apa?" izinku ke mama yang tengah memasukkan bawang ke dalam panci. Beliau melihatku berdiri di ambang pintu, tersenyum,"tidak apa-apa. Tapi pulangnya jangan lama-lama nanti mama khawatir."kata mama terang-terangan. Aku memberikan hormat ala kapten ke mama. "Siap, laksanakan komandan!" ucapku tersenyum sumringah. Lalu aku menuju ke ruangan tengah di sana sudah ada Mas Taiga yang menyetel film Rapunzel. What Rapunzel? Kartun itu salah satu kesukaan Mas Taiga, aku juga begitu pokoknya alur ceritanya bagus--aku suka.   Pemuda pirang di sampingku begitu fokus menatap layar televisi sedangkan aku melirik camilannya, tanpa izin aku mengambil camilan itu masuk ke dalam mulut dan menonton film. Mas Taiga melirikku sinis, saat aku ingin mengambil lagi, bungkus camilan itu menjauh sontak aja aku menoleh. Aku ingin mengambil, tidak bisa. Aku dan Mas Taiga saling tatap menatap serius, "aku ingin camilan itu!" "Tidak boleh. Kau kan sudah aku belikan," ucap Mas Taiga tidak mau kalah denganku. "Males ngambil. Kalau gitu ambilin!" ucapku mencoba meraih bungkus camilan itu dengan cepat Taiga menyembunyikan camilan di belakang punggung. "Bagi sama adiknya dong!" "Nggak!" "Pelit!" "Biarin! Mana gue peduli sama lu!" "Oh iya!" ucapku beranjak berdiri seraya berkacak pinggang menatap tajam Mas Taiga. "Awas aja, kalau beli ice krim couple lagi. Aku ogah jadi pacar kau!" ucapku lagi melipat kedua tangan di d**a membuang muka. "Eh jangan! Nih-nih semua buat kau aja!" ucapnya memberikanku camilan snacknya padaku. Hatiku sangat senang mendapatkan camilan bekas dia, yang penting ada camilan sambil menonton film. Nikmatnya, sangat enak. Aku tersenyum senang ke Mas Taiga,"Thank you so much, my brother. You right my love brother," sambil terkekeh.   Mas Taiga mendengus sebal mengeluarkan rasa emosinya yang hampir meluap. Ia terlihat seperti gadis yang bete, mimik wajahnya lucu bat gila. Tidak salah kalau aku sangat dekat sama Mas Taiga--ia memang good brother yang humoris. "Up to you!" jawabnya menonton film Rapunzel. Aku menyodorkan camilan ke Mas Taiga,"satu untuk berdua aja." Mas Taiga tersenyum ke arahku,"nggak pakai Share it sama bluetooth kan!"ucapnya polos. Seketika aku tertawa mendengarnya,"ya, nggak pakai lah. Memangnya aku ini teknologi apa?"   Kami berdua asik menonton televisi saking serunya nonton dan menghabiskan camilan berdua. Selama menonton tidak ada sama sekali yang membuka suara. Mas Daniel dan mama juga ikut menonton televisi bersama.   Senja perlahan sudah menghilang. Bulan purnama mulai menampakkan diri di langit malam penuh taburan bintang. Angin berhembus kencang membuat daun-daun ikut bergoyang dan beberapa daun gugur tertiup angin. Cahaya-cahaya lampu dari bangunan memberi pencahayaan buat kendaraan dan jalanan yang minim cahaya. Detik jam terus berjalan sampai jarum jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Aku masih berada di ruangan tengah menonton televisi sebab film favorit super hero ku main. Siapa lagi kalau bukan Chris Evans karakter kapten amerika. Kapten hatiku--batinku senang. Aku melihat film itu dengan serius dimana kapten amerika akan melawan ironman. Tapi adegan itu nampaknya masih lama karena filmnya baru di mulai beberapa menit yang lalu. "Hoaam!" sesekali aku menguap karena ngantuk. Oh ayolah, aku ingin melihat pertarungan mereka padahal aku sudah menontonnya berkali-kali tapi tetap saja selalu ketinggalan adegan utama yang seru dalam cerita. Mataku sudah sayup-sayup ingin tidur dengan segera aku menggeleng cepat mengusir rasa kantuk. Sudah berkali-kali aku menguap. "Loh, belum tidur?" tanya seseorang. Aku menoleh mendapati Mas Daisuke yang sudah datang dari pekerjaannya. "Aku mau lihat karakter favoritku, Mas, Hoaam..." ucapku sesekali menguap. Mas Daisuke menggeleng melihatku dan menyuruh untuk masuk ke kamar. Aku menggeleng cepat. "Nanti, kalau bergadang nggak baik untuk kesehatan. Besok juga, kamu sekolah," kata Mas Daisuke dibalas anggukkan pelan dariku. Aku melihat Mas Daisuke ke belakang sepertinya ia ingin membersihkan diri. Berhubung Mas Daisuke di belakang, aku masih stay di depan televisi. Dalam hatiku terus berucap 'buruan cepat, adegan itu ah lama andai kau youtube. Aku sudah skip ke tengah aja'--gerutuku dalam hati. Ku tekan tombol pinggir sofa seketika di bawah kakiku naik membuat kedua kakiku lurus ke depan lalu sandaran punggung sedikit ke belakang. Nah kalau gini kan enak, bisa rebahan sambil nonton televisi. Tidak sia-sia Mas Daisuke beli sofa yang bisa jadi sofa santai ini. Perlahan mataku mulai terpejam, aku berusaha untuk tetap membuka mata tapi tidak bisa. Pandanganku sudah menjadi gelap sebelum aku pergi ke alam mimpi, indera pendengaranku menangkap suara Mas Daisuke. "Masya allah, malah ketiduran di sini." *Sekolah Aneh*     Kedua kakiku terus berlari secepat mungkin dari kejaran lima pria yang terus menerus mengejarku. Aku lari sekuat tenagaku menuju jalan yang sepi. Salah satu pria berteriak menyuruhku berhenti tetapi aku tetap berlari meskipun aku lelah berlari sesekali menoleh. "Berhenti!"teriaknya lantang. Saat aku melihat ke depan mataku terbelalak dan langkahku terhenti, melihat kelompok orang yang sama. Aku menoleh ke belakang dan ke depan, posisiku sudah terkepung dan tidak ada jalan lain. "Kekuatanmu sangat kuat, ikut lah dengan kami Black Hawk." ucap salah satu pria mengulurkan tangannya padaku, mengajak. Aku mundur sedikit,"aku tidak akan ikut kalian!" ucapku menolak mentah-mentah lalu mereka semua mengeluarkan kekuatan element dasar. Langkahku mundur dan salah satu pria berhasil menangkapku serta mengunciku. Aku tidak bisa melepaskan diri meskipun berontak, cekalan tangannya sangat kuat hampir tubuh ini tidak bergerak. "Lepaskan aku!" ucapku terus berusaha melepaskan diri. "Aku tidak akan melepaskanmu sampai kau masuk ke Black Hawk!" ucap pria itu geram. "Tolong!" teriakku meminta tolong tapi percuma saja teriakkanku tidak akan mempan. Sebab tempat ini sepi dan tidak ada orang sama sekali. Pria yang mencekalku ini mengeluarkan kekuatan api di dekat leherku. Sontak aja aku menjadi diam jika aku menoleh sedikit, api kecil itu akan membakar leherku. Sialan! "Seseorang tolong aku," ucapku pelan ingin menangis tetapi tidak bisa. Air mataku kering jadi tidak bisa nangis. Pria itu menyeretku ikut dan di awasi oleh teman-teman lainnya, saat aku ingin di bawa oleh sekelompok Black Hawk. Tiba-tiba dari langit jatuh sebuah benda berbentuk lingkaran. Semua mata tertuju oleh benda yang kira-kira besarnya seukuran bola kasti. Salah satu pria mendekati benda itu seketika benda tersebut mengeluarkan asap membuat siapa saja terbatuk-batuk. Bom asap. Asapnya dari benda itu sangat tebal lalu mataku melihat ada kilatan seperti petir bergerak cepat menebas orang-orang dari organisasi Black Hawk. Pria yang mencekalku menderet tubuhku seraya menutup mulutku agar tidak berteriak. Kedua pria yang tersisa dari sepuluh orang berusaha untuk kabur. Aku berusaha untuk melepaskan diri tapi tidak bisa, nyatanya tidak seperti adegan film maupun novel. "Lepaskan dia!" ucap seseorang lantang. Suaranya yang tegas, menggunakan penutup mulut dan penutup kepala, kain. Pakaiannya serba hitam seraya menodongkan pedang yang masih bagus bahkan aku bisa bercermin di sana. Pria itu berusaha mengancam pemuda yang menurutku tampan jika penutup mulut dan kelapa terlepas. Ia akan terlihat pangeran idaman--haluku meningkat dalam situasi seperti ini, mumpung masih sempat.   Leher kananku sudah merasakan panas dari kekuatan pria ini dan ia berusaha untuk membisik tepat di telingaku,"jika kau tidak akan membiarkan kami pergi, maka gadis ini akan mati terbakar hidup-hidup!" ucapnya mendekatkan jari telunjuknya dengan api itu ke leherku. Aku berusaha menjauh. "Ar-"mataku terpejam agar aku tidak-- Gedebuk! - - - - - Bahkan rasa sakitnya sampai ke dunia real juga! --batinku berteriak kencang.   Mataku berusaha memberanikan diri untuk membuka. Perlahan tapi pasti. Satu yang menjadi pandangan pertamaku adalah... Lantai dan tubuhku masih tertutup selimut, posisi tubuhku tengkurap. Yang pasti suara barusan adalah tubuhku yang jatuh dari kasur. Gigiku menggertak kesal gara-gara aku jatuh dari kasur, mimpi yang selalu datang menghampiriku harus ada kata 'bersambung'. Ah padahal aku ingin sekali melihat bagaimana pemuda misterius itu menyelamatkanku dari organisasi Black Hawk! Aku menerbangkan selimut ke udara dan berdiri melihat atas kasurku tidak ada orang. What! - pekikku dalam hati bersamaan selimut yang ku lempar kembali menutup tubuhku lagi. Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Aku ingin memarahi Mas Taiga tidak jadi sebab pemuda itu baru datang ke kamar pukul lima pagi, waktu aku bangun tadi pukul setengah lima. Dan pelakunya bukan Mas Taiga karena kakakku itu waktu memasuki kamar tanpa mengetuk pintu, ia kaget dan langsung menutup pintu kamar kembali. Dan berkata,"I'm Sorry, I'm forget for knock door!" "Aku sudah bangun mending kau pergi, nggak sopan banget! Masuk kamar cewek tanpa nengetuk!" protesku sambil mencibir Taiga.   Jika Mas Taiga masuk ke kamarku mesti penuh dengan ke jailan seperti membangunkanku dengan mendorong sampai jatuh dari kasur. Selalu saja begitu. Sampai aku sering bertengkar sama Mas Taiga. Mendingan mama atau Mas Fajar kalau bangunin, lembut. Kalau yang bangunin Mas Daisuke. Wah parah, ia akan membuat suara-suara atau gambar dari hologram yang serem. Waktu aku bangun, teriakan yang memekik akan terdengar sampai luar rumah ini. Kalau Mas Daniel tidak jauh beda dengan Mas Daisuke. Ia juga mengagetkanku dengan cara muncul tiba-tiba dan memakai topeng serem. Kakakku memang sungguh tega pada adiknya sendiri, huhuhu.   Sekarang aku sudah bersiap-siap seraya berpikir tentang mimpi itu lagi. Kenapa aku sering memimpikan di kejar oleh Black Hawk dan mereka seolah menginginkanku? *Sekolah Aneh* Bersambung.... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN