Bola mata Griya berbinar dengan bibir sedikit terbuka. Pelan, pandangannya bergulir, menatap sosok menjulang di hadapannya; dari celana denim yang membungkus sampai lutut, hingga kaos berleher V neck yang sosok itu kenakan. Ah, dan jangan lupakan wajah tampannya yang nyaris seperti pahatan patung dewa yunani. Begitu agung, kokoh dan juga... dingin. "Subhanallah." jemari Griya meraba struktur otot bisep itu, membelai tiap jengkal kehalusan kulit berwarna pucat itu perlahan-lahan. Sedang yang disentuh pun diam saja. Nyaris tidak terganggu sama sekali. "Griya lo apa-apaan sih. Malu tau diliatin orang banyak." Griya mengibaskan tangannya. Memberi isyarat pada Alvira supaya tidak banyak bicara. Tatapannya masih fokus pada keindahan dunia yang terpampang jelas di depan matanya. "Susah tau Vi

