"Kamu mau saya cium di mana? Bibir atau dahi?" Alvira menggerjabkan mata, ditatapnya Adreno yang menunjukkan raut wajah serius, seolah sedang meminta izin untuk menciumnya. Alvira gelagapan, bibirnya terasa kelu dan otakknya mendadak tidak bisa diajak kerja sama. Beku. Ia merasa kaku di bawah sorot kelabu mengagumkan itu. Kemana perginya sosok Alvira yang garang dan tidak kenal takut? "Hahaha. Kamu lucu. Saya bicara seperti itu saja kamu sudah seperti patung. Bagaimana jika saya memintamu menjadi pacar saya?" Alvira merasakan kedua pipinya ditarik, tiba-tiba perasaan kesal bercampur malu menggelayuti hatinya tanpa bisa ia cegah. Sialan. Kenapa Adreno bisa membuatnya terlihat t***l dan mengerjainya seperti ini? Menghiraukan raut wajah menggoda serta tawa jahil cowok itu,

