10. Bertemu (Lagi)

1677 Kata
Me: Ya besok saya ke kampus. Temui saya antara jam 9 sampai dengan jam 4 sore. Monday January, 8th. Alya berjalan dengan bahu tegap, dan dagu terangkat. Langkahnya lebar, berjalan dengan sangat percaya diri seperti biasanya. Tentang Mark? Lupakan. Alya akan menganggap kalau mereka tidak pernah bertemu seperti kesepakatan akhir di pertemuan mereka. Masalah Mark akan menggodanya atau akan mengancamnya dengan kejadian malam tahun baru itu, ia akan pikirkan lagi nanti. Ia hanya akan menghadapinya step by step tanpa harus berpikir berlebihan lagi. “Selamat pagi Bu.” Seorang mahasiswi mendekat, dengan wajah yang terlihat gugup. “Pagi.” “Ibu saya datang untuk bimbingan. Kira-kira jam berapa ibu berkenan menerima bimbingan hari ini?” “Seperti biasa jam 9 sampai jam 4 sore.” “Baik. Saya akan menunggu sampai jam 9.” Alya melihat arloji di tangan kanannya. 8:45 a.m. “Kalau mau sekarang ayo. Sebelum mahasiswa lain datang.” “Boleh bu?” Mata mahasiswi itu berbinar. “Boleh. Ikut saya.” Sudah menjadi kebiasaan untuk Alya, datang lebih awal dan pulang tepat waktu atau terakhir. Atas didikan ayahnya, Alya tumbuh menjadi wanita disiplin dan paling tidak suka dengan yang tidak disiplin. Sehingga, Alya akan menyukai kalau ada anak yang menyempatkan datang lebih awal, menunggunya seperti ini. “Sampai mana bimbingan minggu lalu?” Alya mndengarkan penjelasan Mahasiswanya terlebih dulu yang sedang memaparkan bagian yang sebelumnya di revisi serta hasil revisinya. “Bagus.” Ujar Alya kemudian mengeluarkan pulpen kebanggannya, lalu membubuhkan tanda tangan di lembar pengesahan. “Loh bu? Sudah ACC? Saya baru tiga kali bimbingan.” “Tidak peduli berapa banyak kamu bimbingan, bagi saya yang terpenting substansi dari proposalnya. Good luck selamat sidang.” Alya tersenyum tipis melihat senyuman lebar mahasiswi tersebut. “Kalau begitu saya permisi Bu. Saya akan segera bimbingan ke pembimbing dua juga dan segera daftar sidang. Sekali lagi terima kasih bu.” Alya kembali menarik ujung bibirnya, tersenyum tipis seraya mengeluarkan barang bawaannya. “Oke. Hari ini diawali hal baik. Aku harap hari ini berakhir baik juga.” Baru saja ucapan itu keluar, ponsel Alya berdering. Sebuah pesan yang sedikit menjengkelkan masuk. Unknown Number: Selamat pagi Bu saya Harvey, izin bertanya Bu. Apakah ibu sudah ada di kampus? Saya ingin memperlihatkan hasil revisi bimbingan pertemuan sebelumnya. Terima kasih sebelumnya bu. Me: Posisimu dimana sekarang? Unknown Number: Saya masih berada di Bogor Bu, rencana berangkat ke kampus jam 1. Setelah Sholat Dzuhur. Me: Jadi saya yang harus mengikuti jadwalmu? Unknown Number: Maaf Bu bukan begitu maksud saya. Saya akan segera berangkat. Alya mendengus. Sepertinya ia salah. Harinya tidak akan benar-benar tenang, apalagi saat menghadapi Mahasiswa seperti itu. Selalu saja seperti itu, mereka seperti tidak memiliki keseriusan untuk mengerjakan tugas akhir. Memang tidak bisa bertanya padanya saat mereka sudah ada di kampus? Bukannya sebelum berangkat begitu. Aneh sekali Mahasiswa jaman sekarang. Sangat berbeda dengan jamannya dulu, yang baru berani bertanya tentang keberadaan dosen saat sudah berada di kampus atau lebih baiknya membuat janji temu satu atau dua hari sebelumnya. Padahal ya ia sudah bilang di grup anak bimbingannya kalau hari ini bisa mulai bimbingan lagi di jam biasa, jam 9 sampai jam 4 sore. Bisa-bisanya masih bertanya begitu? Clek! “Selamat pagi.” Alya menoleh. “Selamat pagi Pak.” Sapanya pada William yang baru saja datang. “Bu Mahasiswi atas nama Azizah ada menghubungi Bu Alya untuk meminta tanda tangan?” “Azizah? Oh, yang dosen pembimbing satunya itu Pak William ya? Ada. Tapi saat itu saya sudah tidak di kantor jadi saya belum sempat tanda tangani.” “Begitu ya? Saya mendengar anda menolak menandatanganinya?” “Tidak. Kapan?” Kening Alya mengerut. “Saya tidak pernah menolak menandatangani skripsi siapapun kalau menurut saya skirpsinya sudah cukup layak. Beberapa menit lalu juga ada Mahasiswi bimbingan saya yang sudah dapat tanda tangan saya hanya dengan tiga kali bimbingan.” “Begitu ya?” Alya tersenyum masam. Sebenarnya bukan hal baru lagi ia mendengar fitnah-fitnah tentangnya, atau rumor yang di besar-besarkan. Sampai pernah ia mendapat teguran dari Pak Eric, Ketua Yayasan sekaligus ayah dari rekan dosennya. William. Tapi ya… ia tak salah, mereka saja yang iri padanya dan tidak bisa mengikuti standarnya. “Saya tidak mengerti, gosip darimana itu?” Alya ingat, kalau tidak salah tanggal 29 Desember ia memang sempat menolak melakukan tanda tangan. Tapi ia melakukannya tentu saja dengan alasan yang logis, bukanhanya menggunakan emosi. Tak lama kenudian Alya bangkit dengan ponsel di tangannya. “Ini chatnya. Anda bisa menilai sendiri bagaimana Mahasiswa anda menghubungi saya.” Unknown Number: Selamat sore Ibu saya Azizah. Saya izin meminta tanda tangan Ibu untuk persyaratan sidang. Kebetulan dari pembimbing 1 Bapak Dr. William Aditama, S.Mb, M.B.A. sudah di ACC. Terima masih sebelumnya bu. Me: Jadi maksudnya kamu cuma butuh tanda tangan saja? Unknown Number: Tidak ibu bukan bermaksud begitu. Saya akan menemui Ibu sekarang juga. Me: Saya sudah meninggalkan kampus. “Silahkan anda perhatikan waktu dia mengirim saya pesan. Di sana tertera jelas kalau anak itu mengirimkan pesan pada saya jam 4 lebih 5 menit. Sementara saya dengan seluruh mahasiswa bimbingan saya sudah sepakat bimbingan dilakukan hanya di jam 9 pagi sampai jam 4 sore.” William mengangguk kecil. Setelah itu mengembalikan ponsel Alya lagi. “Pasti gosip itu sudah tersebar sampai Bapak Ketia Yayasan kan?” William mengangguk lagi. “Tapi tenang saja. Pak Eric sudah percaya sama kamu jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun.” Tok Tok! “Masuk.” Alya berbalik begitu pintu ruang kerjanya terbuka. Deg! Alya mematung sesaat. Terkejut. Terkesiap hingga sekujur tubuhnya meremang saat iris matanya melihat pria muda yang telah berbagi ranjang dengannya itu. Seketika napas Alya tertahan saat aroma maskulin itu mulai menyeruak masuk ke hidungnya. Aroma memabukkan yang berhasil membuatnya lupa diri dan lupa daratan. “Bu Alya?” “Ah… ya Pak William?” “Anda tidak apa-apa?” “Tidak Pak.” Alya kembali berbalik menatap ke arah pria muda yang masih berada di ambang pintu. Masih tidak menyangka kalau pria muda yang ia temui malam itu benar-benar mahasiswa bimbingannya. Mark. Pria muda itu… dia benar-benar datang menemuinya, dengan penampilan rapih, rambut tertata, juga mengenakan celana bahan dan kemeja berwarna senada. “Selamat pagi Bu. Perkenalkan. Saya Mark William Uwais. Mahasiswa bimbingan anda yang sebelumnya dibimbing Prof. Wahyudi. Mohon bimbingannya.” Sebelah alis Alya naik. Sekali lagi ia pindai penampilan Mark dari ujung rambut sampai kaki, menatap lamat iris mata pria muda itu yang tidak memberikan ekspresi apapun. Dia benar-benar bertingkah seolah mereka tidak mengenal satu sama lain. Alya kemudian mengangguk kecil, menerima perkenalan itu. “Duduk.” Alya pun kembali ke tempat duduknya. Begitu mereka dekat, Alya semakin menahan napas, berusaha menepis aroma maskulin Mark yang begitu memabukkan itu. Sesaat kemudian Alya menghembuskan napas pelan—berusaha senormal mungkin—seraya meraih pulpennya. “Mari kita lihat apa yang sudah kamu siapkan.” “Ini proposal lama saya ketika saya bimbingan dengan Prof. Wahyudi.” Alya membaca proposal yang sebenarnya sudah mendapatkan tanda tangan dari pembimbing sebelumnya. Proposal yang sebenarnya tidak perlu ia permasalahkan lagi, sebab setingkat Profesor saja sudah menyetujuinya. Tepat seperti dugaannya. Mark ini bukan Mahasiswa malas, terbukti dari isi proposalnya yang menurut Alya cukup baik. Tidak seperti Mahasiswa nakal lain yang bahkan untuk membuat proposal saja harus dengan joki. “Kenapa kamu mengambil judul penelitian ini? Apa latar belakang kamu melakukan penelitian ini? Dan metode apa yang akan kamu lakukan dalam melakukan penelitian ini?” Beberapa saat tak ada jawaban dari Mark. Sampai kemudian Alya mengangkat kepala, menatap langsung mata Mark yang sedang menatapnya intens. “Kenapa tidak menjawab? Jangan bilang sebenarnya proposal ini bukan kamu yang buat?” “Alasan saya mengambil judul penelitian ini—.” Barulah Mark menjelaskan detail tentang penelitiannya begitu mata mereka saling bertemu. Mark menjelaskan dengan detail tentang judul, alasan pengambilan judul, rumusan masalah, metode penelitian hingga variable yang tidak ia tanyakan pun Mark jawab dengan sangat tegas dan terperinci. Jawaban yang jarang sekali diberikan Mahasiswanya di pertemuan pertama. Sesaat Alya terpukau dengan penjelasan Mark yang begitu tenang dan lugas, terutama dengan tatapan matanya yang begitu tajam, dalam dan sangat meyakinkan. Gerakan bibirnya pun tidak ada keraguan sama sekali, justru terlihat sangat memukau. Akan tetapi sedetik kemudian ia sadar kalau Mark ini COO, pria muda itu pasti sudah terbiasa melakukan presentasi dan menjawab pertanyaan dalam kondisi kepepet. “Cukup.” Alya memalingkan wajah dari Mark. Menatap pria muda itu terlalu lama benar-benar membuatnya kacau. Tidak… ini tidak boleh terlalu lama terjadi padanya. Ia harus kembali bersikap normal, dan profesional. Mark menghentikan penjelasannya. “Sebenarnya proposal kamu sudah di tanda tangani Pak Prof. Wahyudi kan? Saya tidak ragu lagi dengan isinya. Jawaban kamu juga cukup bagus. Besok bawa proposal baru. Saya bisa langsung memberimu ACC.” Mata Mark membesar. “Kenapa kamu menatap saya begitu?” Tanya Alya. “Tidak apa-apa.” “Yasudah silahkan pergi, atau mau bimbingan pada Pak William lebih dulu? Silahkan pindah. Saya masih memiliki pekerjaan lain.” Setelah Mark bangkit, Alya pun bangkit, keluar dari ruangan dosen menuju ujung lorong, tempat dimana toilet khusus Dosen berada. “Hhhhhh….” Kedua tangan Alya tumpukan di ujung wastafel. Beberapa kali ia menghembuskan napas berat, mengatur napasnya yang mulai memburu. Sungguh ia sangat lelah menahan napas, apalagi semakin lama dekat, aroma Mark semakin menusuk, memabukkan dan menyesakkan dadanya. Membuat kilatan-kilatan kejadian malam itu datang, menghantui pikirannya. “Alya… lo jangan gila anjir. Dia mahasiswa lo!” Alya menatap wajahnya nyalang, kesal dengan dirinya sendiri. “Dia aja bertingkah gak kenal sama lo. Lo gak usah aneh-aneh! Gak usah inget lagi masa lalu. Gak usah inget lagi apa yang terjadi diantara kalian!” Alya menunduk, kembali mengatur napasnya beberapa saat. Berhenti memikirkan dia Alya, lo yang pengen dia lupain semuanya. Lo juga yang pengen kita saling melupakan. Tapi apa iya Mark bisa melupakannya begitu saja? Melupakan kejadian malam itu begitu saja? Oh s**t! Al apa yang lo pikirin?! Emang apa yang lo harapin? Pacar-pacar lo aja ninggalin karena lo membosankan. One night stand doang pasti lebih mudah lupainnya. Lupain Al! Lupain!!! Lo bisa lupa! Lo bisa!!! Dia aja bisa bertingkah kayak gak kenal sama lo! Lo juga bisa!!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN