9. Identitas Mark.

1570 Kata
January, 3rd. Mark William Uwais. Satu nama yang berhasil menghantui Alya, mengganggu pikirannya di setiap waktu. Gundah. Bingung. Takut. Bersatu padu membuat pikiran dan perasaan Alya semakin kacau. Sejak awal, Alya tidak berpikir Mark belum lulus kuliah. Terlebih jika melihat bagaimana penampilan pria yang lebih muda darinya itu. Terlihat lebih matang dari usianya. Plot twist, ternyata Mark belum lulus dan sekarang akan menjadi Mahasiswa bimbingannya. Siapa sangka? “Lagian kok bisa dia belom lulus? Apa alesan dia belom lulus? Mukanya gak keliatan kayak bocah tengil males kuliah kok. Keliatan berpendidikan.” “Kenapa di saat 24 tahun gue udah lulus S2 dia baru mau skripsi?!” Rutuk Alya berulang kali, meski percuma saja, tak ada jawaban yang bisa masuk ke dalam otaknya. Drrrtt… Drrrtt… Ella memanggil… Alya menarik napas sesaat, menenangkan diri. Mengontrol emosinya. “Hallo La. Ada apa? Tumben-tumbenan lagi liburan nelpon begini.” “Ini penting Al. Anjir. Gila. Sumpah Al gue gak ekspektasi sama sekali.” Alya mendesah pelan, ini apa lagi? Ella tidak tahu apa ya kalau dia tuh sedang pusing. “Pelan-pelan La, pelan-pelan.” “Lo punya mahasiswa bimbingan baru?” Mata Alya mengerjap, ia membasahi bibirnya yang mendadak kering. “Hm. Kenapa emangnya?” “Lo udah tahu belum orangnya? Kok Bisa setenang ini sih?!” “Mark?” “Mark William Uwais Al! Anaknya Affandi Saputra Uwais. Gila anjir. Gue kaget. Gue hampir banting hp.” “Alay lo.” Ella berdecak. “Jangan bilang lo gak tahu Mark William Uwais?” “Mahasiswa hampir DO kan?” “Bener-bener lu.” “Apaan?” Tanya Alya dengan jantung yang mulai berdegup kencang. Ella ini cukup up to date, dia tahu banyak tentang gosip. Informasi apa yang tidak ia tahu tapi Ella tahu tentang Mark? “Wah lu… bener-bener lu Al. Belom sampe tiga bulan lu ngobrol sama Pak Affandi masa lupa? Dia yang punya Saputra Development, Tbk ege! Mark itu COO!!!” “HAH?” “Anjir… ah lu parah. Serius lu gak tahu anak bimbingan lu COO?” Alya meneguk ludah kasar. Mark… anak Pak Affandi? COO Saputra Development, Tbk? Itu artinya… Saputra Hotel juga punya dia dong?! Alya meringis. Bego. Pantesan pelayan malem itu kayak kaget banget. Anjir. Begi lo Al. Bego. Bisa-bisanya lo minta ketemu di tempat itu Al? Mana sok sokan minta split bill. “Bego.” “Emang lo tuh bego Al. Masa gitu aja gak tahu!” Seru Ella. Alya meringis. Bukan itu maksudnya. Ah sudahlah. Alya pusing. Kepalanya terasa berputar. “Udah dulu La. Bye.” “Eh eh Al Alya—.” Alya menyimpan ponselnya. Bagaimaba ini? Bagaimana kalau di kantor Mark tiba-tiba kesebar gosip yang enggak-enggak? Apalagi mereka melihat perempuan yang datang bersama Mark. Mereka melihat wajahnya! “ARGH!!!!!!! Alya bego. Bego. Bego!!!!” *** Sore itu Mark masih berada di kantor, mengurus beberapa dokumen yang harus segera ia pelajari untuk melakukan meeting project dua hari yang akan datang. Di tengah fokus bekerja, ponselnya berdering. Pertanda sebuah panggilan dari orangtuanya masuk. “Hallo. Pa.” “Hallo Mark.” “Mark Papa udah registrasi buat kuliah kamu.” Gerakan Mark terhenti, mulai menyimak ucapan ayahnya. “Papa juga udah dapat nama pembimbing pengganti Prof. Wahyudi.” “Papa sudah pastikan kalau kamu mendapatkan dosen terbaik supaya nilai akhir skripsi kamu juga bagus dan gak akan ngaruh apa-apa ke nilai kamu sebelumnya.” Mark yang sedang memeriksa beberapa laporan, menghentikan kegiatannya. “Bukannya masih libur Pa?” “Kamu ini mau menyelesaikan tugas akhir Mark. Tidak perlu menunggu sampai perkuliahan normal. Kamu bisa bimbingan mulai Senin depan.” Mark menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. “Makasih Pa. Padahal Mark juga bisa urus sendiri Pa. Papa kenapa repot-repot?” “Papa sekalian aja kemarin ketemu sama Eric.” Eric itu ayahnya William—Ketua Yayasan Pendidikan Kampusnya. “Oh. Gimana katanya?” “Aman. Kamu akan diusahakan untuk lulus semester ini. Persiapkan saja semuanya.” “Hm.” Gumam Mark. “Oh ya. Nanti Papa kirim kontak pembimbing kamu.” “Iya Pa.” “Yasudah kalau begitu kamu cepat pulang. Libur begini jangan bekerja terus.” Pesan ayahnya sebelum mengakhiri panggilan. Ting! Sebuah pesan masuk dari ayahnya. Papa: Dr. Alya Reva Pratiwi, S.Mb., MM. 081222223314 Deg! Mark tertegun. Jantungnya serasa meloncat-loncat. Terkejut menerima pesan yang baru saja ia terima. “Alya Reva Pratiwi?” Ini Alya yang ia kenalkan? Nama lengkapnya sama persis dengan nama Alya yang ia ingat. Buru-buru Mark menutup roomchat tersebut, kemudian mengirimkan pesan pada sahabatnya. Me: Bang, bantu gue lagi. Bara: Ada apa? Me: Orang lo yang kemaren bantu gue lacak orang bisa bantu cariin identitas lengkap orang gak? Bara: Aneh lo. Lacak orangnya aja bisa, nemu identitas doang cetek kali Mark. Me: Ok. Dia lagi libur gak? Bara: Kagak. Dia leader security guard semua program gue jadinya gak bisa libur. Me: Ok. Gue chat dia ya. Minjem bentar. Bara: Lo mau cari siapa lagi? Me: Pembimbing 1 gue. Pengen tahu orangnya yang mana dan kayak apa. Biar gak kaget pas ketemu. Bara: Oh. Kenapa gak tanya di grup aja? Tanya ke Bang Willy. Me: Bener juga. Bara: Ckckck… makanya Mark jangan kebanyakan kerja. Dua hari ini lo kayak orang linglung, aneh banget. Me: Biasalah. Gue lanjut di grup bang. ——— [Aderfia’s Penguasa Bumi] Me: Bang @William sibuk gak? Bryan: Ada apaan nih? Bara: Mark mau nyari orang. William: Kenapa Mark? Me: Dr. Alya Reva Pratiwi, S.Mb., MM. Orangnya yang mana? Kok gue gak tau? William: Pembimbing 1 lo ya? Me: Iya bang. William: Dia masuk pas lo cuti. Tapi sebelumnya sering jadi asisten Prof. Wahyudi. Kayaknya lo gak pernah kuliah sama dia ya. Me: kayaknya enggak deh. Dulu Prof. Wahyudi gak pernah absen di kelas gue Bang. William: Pantesan. Kalo gitu lo bisa cek web kampus. Di sana lengkap profil semua Dosen. William: Gitu doang Mark, pake nanya. Aneh banget lo Mark dari kemaren. Lagi ada masalah? Me: makasih bang Me: enggak. Bryan: Gak usah bohong. Keliatan kali Mark. Kita cuma gak mau desek lo aja. Me: cuma lagi banyak kerjaan aja bang. William: Sehat-sehat lo. Alya terkenal killer di kampus. Pastikan siapin bahan sebelum ketemu sama dia atau lo bakalan habis dicecar. Me: Kan ada lo Bang. William: Sorry urusan itu gak bisa bantu. Ngeri. Haha... Me: Yaudah entar malem kumpul di tempat biasa ya. Gue traktir. Bara: widih mantap. Bryan: ok. ——— Mark menggelengkan kepalanya, lalu mengurut keningnya sesaat. Sejak tanggal 1 pikirannya memang sangat kacau. Mark jadi kesulitan berkonsentrasi. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Mark membuka web kampus, mencari profil Dosen pembimbingnya itu. Deg! Jantung Mark tertegun lagi ketika melihat profil perempuan yang ia kenal terpampang nyata di hadapannya. Tubuhnya terpaku sesaat sebelum seulas senyuman terbentuk di bibirnya. *** Sunday January, 7rd. Liburan yang diharapkan Alya tenang menjadi tidak tenang sama sekali. Ia bahkan tidak bisa untuk sekedar menikmati pemandangan kebun teh yang biasanya terasa sangat menenangkan, tidak bisa menikmati makanan enak ibunya, tidak bisa bahkan untuk sekedar tidur nyenyak. Ibunya sampai heran saat melihat kantung matanya yang semakin tebal, dan juga saat ia sering kali kedapatan melamun dalam. “Neng yakin mau pulang Sabtu? Kenapa gak Senin pagi aja kayak biasa?” Jum’at lalu ibunya bertanya. “Eneng keliatan lagi gak baik-baik aja. Mendingan minta cuti Neng sekalian. Ya? Istirahat dulu sampe Eneng segeran.” Pinta Nur. Tapi sayang Alya tak bisa tenang, semakin melihat orangtuanya ia semakin malu dengan perbuatan yang telah ia lakukan. Rasa takut ketahuan atas perbuatan buruknya kemarin itu semakin besar. Apalagi setiap kali mengingat Mark yang terus menghantui pikirannya. Jujur. Ia takut aibnya akan tersebar jika terlalu sering berinteraksi dengan Mark. Apalagi jika ingat ada yang tahu pertemuannya dengan Mark selain mereka berdua. Ya… aib. Bagaimana pun yang malam tahun baru ia lakukan itu adalah kesalahan besar yang harus ia tutupi rapat-rapat, aib yang harus ia sembunyikan dengan rapih. Ia tidak ingin siapapun tahu kejadian itu, termasuk sahabatnya sendiri. Ia ingin menyimpan rahasia itu hanya berdua dengan Mark. Tapi… apakah Mark berpikiran sama? Atau… Mark akan menjadikan malam itu sebagai ancaman terhadapnya? Pikiran buruk di kepala Alya semakin merajalela terlebih dengan fenomena revenge porn dan doxing yang sedang marak dilakukan. Jujur saja, ia takut Mark bagian dari itu. Apalagi dengan kekuasaan yang dia miliki. Ia takut… sungguh… ia sangat takut dipermalukan. Memang bisa saja ia melaporkan Mark ke polisi jika pria itu melakukan hal tersebut, tapi jika ia melaporkan pria itu bukankah sama saja ia membuka aib sendiri juga? Semua orang akan tahu kelakuannya malam itu, semua orang pasti akan meremehkannya, bahkan mungkin—pelecehan yang selama ini terkadang ia alami akan semakin gencar terjadi. Belum lagi orangtuanya pasti akan sangat sedih, mereka pasti akan sangat kecewa padanya. Bagaimana ini? Alya mendesah pelan. Memang benar, tidak seharusnya ia melakukan kesalahan sefatal itu. Sebab masa lalu hanya bisa diingat tanpa bisa diubah. “Kenapa kemaren lo sebodoh itu sih Al?! g****k! Harusnya lo terus lurus gak usah kepengaruh ini itu. Kalo gini gimana?! Argh! Sial!” Ting! Pesan masuk mengganggu, Alya meraih kasar ponselnya, lalu membuka tanpa membaca pesan tersebut pop-up di layar. Unknown Number: Selamat malam Bu Alya, Saya Mark William Uwais, 2017181165. Ingin mengonfirmasi kehadiran anda besok. Apakah besok Ibu ada di kampus? Saya ingin melakukan bimbingan pertama saya. Saya tunggu jawaban anda Bu. Terima kasih atas waktunya. Selamat Malam. Mata Alya membesar. Glup! Bagaimana ini? Apa yang harus ia lakukan? Bisa tidak ya ia menolak membimbing pria ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN