Sejujurnya Karyna masih bingung dengan hubungan yang terjalin dalam keluarga Dave. Entah semuanya memang bisa mengikhlaskan kejadian buruk yang sempat terjadi atau semua sikap di depan satu sama lain adalah rekaan saja? Semuanya demi nama baik? Atau memang mereka semua memiliki sisi hati yang baik? Sampai sebuah tragedi perselingkuhan yang mendapatkan hasil seorang anak bisa diterima dan seolah tidak ada jejaknya untuk dibahas atau katakanlah dikuliti oleh keluarga besar Duta.
Jika melihat seorang Hayana, memang tidak akan ada yang menyangka bahwa wanita itu bisa berperilaku liar. Setahu Karyna, riwayat keluarga Hayana juga tak terlalu miskin. Tapi memang masih berada dibawah keluarga Duta. Namun, apa kekayaan bisa membeli sebuah hati? Jika Hayana memang melakukan kesalahan, harusnya wanita itu juga mendapatkan cibiran sebagai hukuman, kan? Apa pihak yang dijadikan selingkuhan oleh Hayana saja yang dihukum? Ayah dari adik Dave saja yang patut dihukum?
Pertanyaan Karyna dalam kepala itu berhenti begitu anggota keluarga Dave yang notabenenya banyak wanita menghampiri Karyna yang termenung sembari mengambil segelas jus di acara yang hebatnya bisa disiapkan dalam satu hari itu.
"Nggak betah dengan acara ini?" tanya salah satu saudara Dave yang bernama Valentina. Model, dua bulan lalu selesai merampungkan acara ajang bergengsi para model Asia.
"Bukan. Saya betah, cuma asing saja. Acaranya begitu megah untuk ukuran acara pengumuman saja."
Si Valentina ini memiliki perawakan manis, tak cantik seperti aktris Korea. Kulitnya terkesan eksotis dengan model mata yang agak sipit. Mungkin turunan dari pihak mamanya yang Karyna ketahui sebagai menantu. Sebab pihak keluarga dari Duta memang hanya adik pria saja.
"Kupikir Dave nggak akan menikah atau bisa jadi hanya adopsi anak aja. Setelah insiden dulu—"
"Val, ditunggu pacarmu. Yurisdiksi." Valentina langsung menoleh kepada sumber suara, begitu juga Karyna.
Dave membawa sepiring ice cream cake ditangan kirinya dan langsung merangkul pinggang Karyna dengan tangan kanannya.
"Dave, kamu menganggu pembicaraan antar wanita!" protes Valentina.
"Ini acara ku, ini istriku. Wajar, kan kalau suami mencari istrinya kemanapun dia pergi, apalagi ini acara kami. Kamu seharusnya nggak sibuk bicara aneh-aneh dengan istriku, Val. Ini acara kami."
Valentina mengangguki. Dia mengangkat tangan sebagai tanda tak mau mendebat Dave.
"Aku ke Yuris, Karyn. Kalau butuh teman ngobrol—"
"Don't offering my wife of anything, Val! Bukan gayamu bicara dengan menantu keluarga Duta. Pergilah, jangan buat pacarmu menunggu."
Valentina tidak menimpali lagi. Tatapannya hanya mengunci kesal pada Dave. Karyna tahu, semakin lama berada di sana maka semakin gila dirinya menebak setiap jalan cerita dalam keluarga kaya itu.
"Kenapa kamu memotong pembicaraan kami?" tanya Karyna yang berusaha melepaskan tangan Dave pada pinggangnya.
"Wasting time, Ryn. Nggak perlu kamu pikirin. Apa pun yang ada dalam keluarga ini, seperti katamu 'orang kaya punya masing-masing keanehannya' yang rumit untuk dipahami."
"Aku nggak paham. You hide something, don't you?" tebak Karyna tidak memaksa, tapi membuat Dave risih karenanya.
"Jangan bahas apa pun yang hanya membuat kita berakhir dengan perdebatan. Profesional, Karyna. And you'll never get hurt."
Keduanya terdiam. Saling tatap yang mereka hantarkan adalah neraka. Saat Karyna mencoba mencari kebenaran, Dave ingin menghentikan segala yang ingin istrinya cari.
"Terserah!" ucap Karyna pada akhirnya.
Suasana panas melingkupi keduanya, padahal ini adalah acara dimana pengumuman kebahagiaan dibuat.
Baru tadi pagi keduanya bercengkerama saling berpangkuan untuk membahas kasih sayang untuk anak mereka yang belum lahir, tapi sekarang sudah berbeda sikap menjadi beku kembali.
"Sayang, Karynaaa... ayo ke tengah! Acara inti mau dimulai." Hayana merangkul menantunya.
"Kamu juga, Dave! Ayo, temani istrimu ke tengah. Ini acara kalian berdua."
Dengan semangat yang tidak bisa disembunyikan, Hayana membuat Karyna maupun Dave harus bersikap selayaknya pasangan dimabuk cinta yang menunggu buah cinta mereka juga. Acara yang berlangsung kian ramai dan tak hanya didatangi oleh keluarga besar membuat Karyna makin pusing dan mual begitu pengumuman usai.
Tak mau bicara lebih banyak dengan sang suami, Karyna memilih menyingkir dari kerumunan tamu serta keluarga Dave yang sibuk bicara tanpa mengenal lelah.
Kafe besar dengan dekorasi menarik itu memiliki halaman samping yang asri. Setidaknya malam yang semakin naik membuat pemandangan di sana menenangkan. Karyna mengambil duduk dan menatapi hamparan langit malam. Dia memikirkan betapa banyak kekuatan yang harus terkumpul dengan semua skenario yang dirinya terima bersama Dave.
Helaan itu muncul, lelah karena harus berpura-pura menjadi bagian keluarga kaya.
"Sendirian di sini pasti akan membuat semua orang mencarimu. Apa kamu nggak takut Dave memarahimu?"
Karyna langsung berdiri. Mendapati wajah yang dia kenali mendekatinya dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.
"Dion...?"