"Dion...?"
Ya, benar. Dion Mahaka sedang berada di tempat yang sama dengan Karyna. Entah apa modusnya tapi yang pasti membuat Karyna mulai kebingungan mencari cara agar segera terlepas dari sana. Sebab, bukan hanya masalah yang akan datang jika masih berlama-lama dengan Dion. Yang ada, suaminya akan memulai drama di depan banyak orang nantinya.
"Iya, kakak ipar." Kata Dion dengan kekehan dibibirnya.
Tidak ada yang lucu. Melainkan Dion sendiri yang entah menertawakan apa. Yang jelas, Karyna tidak merasa baik meski sikap bersahabat yang Dion tunjukkan biasa saja.
"Mau soda? Gue bawain dari dalam tadi."
Gue? Setelah sebelumnya Karyna tak salah dengar Dion menggunakan sebutan yang lebih sopan, kenapa sekarang berubah menjadi gue?
"Kenapa? Lo melotot begitu malah bikin gue merinding, Kakak ipar."
"Merinding?" sahut Karyna tak percaya.
"He-em. Merinding karena lagi melototpun lo tetep cantik! Pantes aja abang gue bisa nemplok di d**a lo—oh, maksud gue nemplok jadi suami lo."
"Jaga ucapan kamu. Saya tahu kamu adik suami saya, tapi bukan berarti bisa memakai bahasa sembarangan. Sopan santun itu perlu!"
Diberi peringatan semacam itu tak membuat Dion gentar, yang ada justru adik ipar Karyna itu meneguk soda kalengnya dan sengaja meminumnya seraya menatapi wajah Karyna.
"Duduk dululah, jangan tegang gitu. Lemes dikit," Dion mendekatkan jarak dan berbisik. "Walaupun gue tahu, lo selalu bisa bikin tegang abang gue."
Karyna ingin menampar pipi adik suaminya itu. Tapi masih memikirkan adanya kemungkinan saudara-saudara Dave di sana. Dion sepertinya memang sengaja memancing emosi supaya Karyna membuat Dave malu di acara mereka sendiri.
"Gila kamu!"
Karyna buru-buru ingin segera pergi dari sana, sayangnya Dion lebih cepat mencekal tangan Karyna. Membuat mereka terjebak di taman itu lebih lama.
"Mau buat taruhan, Karyna? Kamu nggak akan bertahan lama dengan Dave."
Berubah lagi?
"Apa, sih maumu???! Bahasamu saja belum benar. Sedikit-sedikit ganti! Dasar—"
"Ngapain kalian di sini!?"
Duta. Papa mertua Karyna segera menarik Karyna dari genggaman Dion, membawa menantunya berada dibalik tubuh pria baya itu.
"Jangan kurangajar dengan kakak iparmu, Dion! Saya tahu kamu tidak datang ke acara pernikahan Dave, tapi bukan berarti kamu tidak tahu bahwa Karyna adalah istri Dave. Sembarangan merayu perempuan bersuami, cih! Kelakuanmu seperti b******n itu rupanya."
Karyna menyadari ada dendam yang papa mertuanya pendam. Semuanya dilayangkan kepada Dion, tetapi saat begini tidak akan baik untuk membiarkan amarah Duta menggelegak. Banyak orang, selain keluarga, yang datang dan menyaksikan hari pengumuman ini. Keributan hanya akan memancing aib keluarga yang terbongkar.
"Pa, sudah. Mungkin dia memang nggak tahu Karyna adalah istri Dave."
Duta melirik menantunya melalui ujung matanya. "Jangan dibiarkan kalo anak ini kurangajar, Karyna. Biar dia tahu diri! Kelakuannya selama ini tidak mencerminkan keluarga kami sama sekali! Memalukan!"
"Pa—"
"Yang papa sebut anak ini dan memalukan adalah anak papa." Dion benar-benar memantik keributan. "Jangan lupa, Pa. Akta kelahiranku tertulis nama papa di dalamnya, itu berarti papa nggak bisa seenaknya semena-mena kepadaku. Anak papa sendiri!"
Karyna tahu itu adalah nada penuh cibiran. Dion mengetahui statusnya sebagai anak selingkuhan yang dijadikan boneka agar orang-orang tak melihat busuknya keluarga tersebut.
"Kamu!"
"Pa, sudah." Karyna dengan sepenuh tenaga membawa mertuanya untuk pergi dari sana.
Semakin dibiarkan, semakin Dion bicara segalanya untuk memancing amarah saja. Duta yang sudah tua akan lebih mudah terkena serangan jantung jika dibiarkan berbalas makian dan aib mereka satu sama lain.
Begitu sampai di ruangan inti seluruh acara berjalan, Dave mendapati istri dan papanya saling bergandengan selayaknya putri dan ayah kandung. Harus Dave akui, kemampuan istri tanpa cintanya itu sangat mumpuni untuk menarik hati orangtua beserta keluarganya. Meski tak semua memandang kagum pada Karyna, tapi setidaknya tidak ada yang berani mencibir Karyna si sekretaris pendebat itu.
"Kalian habis dari mana?" tanya Dave langsung.
"Cari angin." Karyna menjawab begitu Duta memilih duduk di kursi yang tak jauh dari meja yang menumpuk makanan.
"Acara belum selesai dan kamu memilih cari angin??? Sendirian??? Sengaja kamu bikin aku khawatir!?"
Duta yang mendapati putranya dan menantunya yang saling melempar tatapan menghunus segera melerai. "Antar istrimu pulang, Dave. Kasihan dia, membawa cucuku bukan hal yang mudah. Dia kelelahan makanya mencari angin."
Dave menatap papanya dengan memicing. "Papa membela sikapnya yang suka kabur-kaburan??"
"Aku nggak kabur!"
"Sudah, sudah. Dave, Karyna... kenapa kalian malah bertengkar di acara kalian sendiri?" Duta menyorongkan kunci mobil pada putranya. "Bawa pulang! Jangan menunggu sopir dan mobil kalian, tadi mamamu pinjam mobil dan sopir kalian. Menjemput seseorang."
"Dave nggak mau pulang, Pa. Ini acara pengumuman anak Dave."
"Terserah! Aku bisa pulang sendiri tanpa perlu—"
Duta sengaja memecahkan gelas yang semula berada di meja. Menghentikan pertengkaran Dave dan Karyna. Sontak saja seluruh mata mengarah pada pria itu.
"Maaf semuanya, tapi menantu saya ternyata kelelahan. Dia ingin izin tapi tidak sanggup satu persatu. Jadi, saya wakilkan menantu saya izin pulang lebih cepat."
Karyna sempat mengira orang-orang akan berbisik mengenai itu, tapi ternyata tidak. Seolah paham bahwa begitulah cara Duta membuat pengumuman.
Dave yang kesal berjalan lebih dulu. "Ayo, kita pulang!"
Dan Karyna tahu, hubungan mereka tak dalam fase biasa-biasa saja. Melainkan ada perdebatan yang panjang luar biasa.