Sepanjang perjalanan kembali ke rumah, tidak ada satupun yang memulai pembicaraan. Karyna yang emosinya mudah naik turun karena kehamilannya memilih diam, sebab dia juga tahu suaminya tidak memikirkan keadaan mereka yang begitu dingin melainkan memiliki pemikirannya sendiri entah di mana. Yang pasti, Karyna merasakan suaminya tak bersamanya karena sesuatu.
Keheningan itupun terpecah dengan bunyi ponsel Dave yang terdengar nyaring. Karyna enggan peduli, dia semakin merapatkan diri ke pada sisi Kiri dirinya duduk dan membiarkan Dave mengangkat panggilan di ponsel pria itu sendiri.
"Ya, Ma?"
Karyna menyimpulkan bahwa panggilan itu berasal dari Hayana.
"Nggak. Dave pulang sama Karyn."
Tidak bisa mencuri dengar secara terang-terangan, Karyna hanya mendengar bagian dimana suara Hayana masih sekilas teraba oleh gendang telinga Karyna meski tipis seperti efek suara kartun yang dipercepat.
"Papa yang umumin. Karyna capek, Ma."
Nampaknya Hayana sedang menginterogasi putranya alasan mengapa mereka pulang sebelum acara usai. Padahal acara tersebut milik mereka berdua.
"Bukan! Mama jangan asal nuduh-lah. Aku pulang bukan karena dia datang."
Terdengar Dave menghela napas kasar, menghadap jendela sisi kanan pria itu.
"Iya, iya, Tante Juniela. Udah, Ma. Jangan bahas itu. Aku juga tahu dia—" Dave menatap layar ponselnya. "Sialan, dimatiin!" makinya tanpa peduli bahwa Karyna mendapatinya memaki pada sambungan Hayana yang terputus, lebih tepatnya Hayana memutuskannya sepihak.
Kembali Karyna dengar helaan napas suaminya. Namun, Karyna masih enggan menghadap Dave.
"Kita akan diem-dieman begini? Sampai kapan?" tanya Dave memulai pembicaraan.
Karyna tahu pembicaraan mereka justru malah terdengar alot. Karena nada bicara yang digunakan. Mulanya Karyna memedulikan keberadaan sopir pribadi Dave, tapi menuruti emosi, perempuan itu menjadi tak peduli.
"Terserah. Yang awalnya ngajak diem bukan aku. Nggak ada yang perlu aku jawab untuk memastikan kapan waktu yang tepat untuk kita berhenti saling diem. Kenapa juga aku peduli dengan itu? Kamu harusnya pikir sendiri sebagai pria yang menjunjung tinggi martabatmu!" balas Karyna culas.
"Apa hubungannya dengan martabat? Omonganmu melantur, lebih baik aku nggak mulai tadi. Emosi aja isinya aku."
"Siapa yang nyuruh kamu mulai? Yang nanya kapan harus berhenti diem-dieman juga siapa? Siapa yang melantur, siapa yang menuduh melantur!"
Geram dengan segala balasan istrinya, Dave memilih mengepalkan tangannya dan berjanji dalam hati untuk menyelesaikan situasi tegang itu. Tak bisa dibiarkan, jika mereka masih seperti itu, maka besar kemungkinan untuk tidak bisa menyapa anaknya dalam waktu yang tidak bisa ditentukan.
*
"Mau ke mana kamu?" Dave melihat Karyna mengambil pakaiannya dan beringsut akan keluar dari kamar.
Karyna diam.
Mereka baru saja masuk rumah, di dalam kamar. Berharap bahwa ada sesi bicara yang lebih tenang, nyatanya Karyna malah menyulut emosi Dave.
"Karyna! Saya bicara dengan kamu."
"Bukannya lebih baik kita nggak saling bicara, daripada harus mengandalkan otot leher dan kepala yang panas. Yang ada malah membuat kita semakin menyakiti dengan ucapan satu sama lain."
Dave menatapi istrinya. "Apa ada ucapanku yang menyakiti kamu? Kenapa kamu singgung begitu?"
Seingat Dave, dia tidak berkata berlebihan karena emosi. Tetapi wajah Karyna yang memerah menahan tangis ketika membalas Dave adalah malapetaka.
"Karyna..." Dave menggunakan nada yang lebih melunak.
Mendekati istrinya, menarik perempuan itu dalam dekapnya. Saat itu juga kadar airmata Karyna seperti tidak terkira. Tangisan Karyna terdengar dan bajunya terlempar ke bawah kaki begitu saja. Emosi perempuan hamil memang semakin sulit ditebak. Sayangnya, Dave sempat kalut dan tersulut emosi karena kondisi yang lain.
"Kamu berubah, Dave." Kata Karyna tiba-tiba.
"Apa?"
"Kamu... sejak di pesta tadi kamu berubah. Bertemu keluarga besar kamu sepertinya membawa dampak lain. Kamu—kamu membuat aku kesal."
Pria itu mengusap rambut hingga punggung Karyna. "Apa, iya? Aku memang ngerasa kesel di sana, tapi aku nggak ngerasa berubah. Sifatku memang begitu, Ryn." Jelas Dave.
"Nggak!" timpal Karyna dengan yakin. "Kamu nggak terlihat seperti kamu."
Memundurkan wajah dari d**a sang suami, Karyna mengusap wajah dengan agak serampangan. Dia buru-buru mengumpulkan banyak napas agar tidak tersendat-sendat oleh bekas isaknya.
"Ada hal lain yang kamu sembunyikan. Tapi aku nggak mau membahasnya kalo kamu sengaja menyembunyikan. Itu hak mu, tapi aku jelas nggak suka dijadikan pelampiasan emosi. Kalo memang kamu nggak suka aku bicara dengan keluargamu yang lain, bilang. Aku bukan cenayang dan lebih dari itu, aku sedang mangandung. Anakmu. Ini bukan fase mudah, kamu harus tahu emosiku mudah berubah. Kalo kamu ingin dimengerti, maka berusahalah juga untuk mengerti posisiku sebagai perempuan hamil yang serba labil!"
Berhasil meluapkan apa yang ada di kepalanya sejak tadi. Karyna mengambil kembali pakaian tidurnya. Mendorong Dave untuk menyingkir setelah menumpang menumpahkan tangis di d**a pria itu.
"Mau ke mana? Karyna?"
"Jangan ikuti aku, Dave!" seru perempuan itu yang membalikkan tubuh karena tahu suaminya mengikuti. "Aku akan gunakan kamar lain. Selama emosiku belum stabil karena insiden hari ini, kita nggak akan melanjutkan bicara. Kamu bisa simpan rapat rahasiamu, sampai kapanpun. Anggap saja aku bukan istrimu, tapi hanya mesin pembuat anak-anakmu, Dave!"
Dan, boom! Dave ternyata merasa begitu buruk karena ucapan Karyna mencubit dengan kecil tetapi menyakitkan melebihi cubitan yang besar. Ucapan perempuan itu menyinggung Dave.