Seperti Karyna yang kecewa. Begitu pula Dave yang kurang lebih sama. Perbedaannya, Karyna kecewa dengan cara Dave melampiaskan emosi dan sengaja menutup rapat dirinya. Sedangkan Dave kecewa pada dirinya sendiri karena telah merendahkan perempuan. Lebih tepatnya, perempuan yang dia akui begitu hebat dan cocok melahirkan keturunannya.
Mengusap wajahnya dengan rasa bersalah yang tinggi. Dave berjalan tak tenang di depan kamar yang istrinya gunakan untuk menjaga jarak. Ya, harus Dave putuskan rantai 'jaga jarak' itu karena justru dengan berjarak segalanya menjadi rumit. Komunikasi mereka semakin terperosok jika terus berjauhan dengan dalih untuk menyehatkan hubungan keduanya.
Bohong!
Yang ada justru mereka saling menjauh dan makin canggung untuk menjadi keluarga. Rencana untuk menyambut anak mereka dengan suka cita akan diubah menjadi hubungan pemberi s****a dan ibu yang teladan bagi anaknya.
Tidak bisa dibiarkan!
Dave ingin dirinya terlibat dengan pendidikan rumah bagi anaknya. Jika nantinya yang dinilai hebat hanya Karyna... dia akan tersingkirkan dimata anaknya. Membayangkan hal itu jelas membuat Dave meremang.
Lalu, tangannya memutuskan memegang handle pintu kamar sang istri. Mencoba menggerakannya dan ternyata Karyna tidak menguncinya. Hingga derit pintu mengalihkan tatapan Karyna dari bukunya yang bertengger di atas pangkuan.
"Ryn."
Karyna sengaja tak menjawabnya.
"Aku mengubah pikiran."
Memulai sebuah pembicaraan bukanlah kendala bagi Dave sebagai pemimpin di perusahaan, tetapi harus Dave akui memulai topik untuk menyelesaikan pertengkarang sangat sulit.
"Aku mau jujur." Dave menutup serta mengunci pintu kamar tersebut. "Tapi sebelumnya aku mau menjelaskan, bahwa kamu bukan mesin pencetak anak. Kamu ibu dari anakku. Aku tahu kamu perempuan yang hebat, maka dari itu aku pilih kamu. Meskipun kamu adalah seorang sekretaris yang terlalu suka mendebat sesuatu, tapi kamu adalah perempuan yang tegas. Perasaan cinta saja ternyata bukan gayamu untuk menaklukkan pria tapi ketagasanmu menempatkan diri adalah yang utama. Kamu harus tahu, Ryn. Aku menyukai gayamu yang keren itu. Maaf membuat kamu memikirkan kata-kata dan sikapku yang menyakitkan. Tapi aku ingin belajar bersama kamu untuk mencintai anak kita."
Karyna yang sedari tadi menatapi suaminya membiarkan saja apa yang ingin Dave lakukan. Mendengarkan penjelasan Dave tetapi tidak mengucap sepatah kata.
"Aku mau jujur. Tidak ada rahasia yang akan membuat hubungan kita seperti hubungan kerja. Kita akan menjadi keluarga, maka aku akan melakukan sepatutnya sosok keluarga—suami—kamu."
Meski tak sabar menunggu pengakuan kejujuran Dave, perempuan itu menahan diri. Dibalik selimut tebal yang membungkus kakinya, Karyna merasakan dingin pada ujung kukunya karena tak sabar menanti.
"Ada cerita dalam keluarga besar yang aku ciptakan. Tapi lagi-lagi keluargaku sembunyikan." Mulai Dave mengenai kejujurannya. "Ini hanya mengenai masa lalu, tapi masih terlibat hingga saat ini. Jangan terkejut, tapi aku pernah berhubungan dengan tanteku sendiri."
Karyna merasa agaknya lemas. Mendengar pengakuan ini disaat mereka belum sepenuhnya terlibat perasaan memang tidak begitu menyakitkan bagi Karyna. Namun, cukup membuat kepala Karyna berdenyut tak terima.
"Seberapa jauh hubungan kalian?" tanya Karyna. Tak bisa membiarkan hal itu hanya menjadi cerita rahasia keluarga.
"Nggak sampai berhubungan badan—"
"Berarti sampai pada lumatan di bibir." Sela Karyna dengan tegas.
Emosi perempuan itu teraduk, tapi Karyna ingin belajar mengendalikan. Walau sepertinya anak mereka memengaruhi dengan pekat.
"Aku nggak akan menyangkal bagian itu, Ryn."
"Apalagi? Tante kamu ini yang kamu sebut namanya di mobil tadi?" Dave mengangguk.
Tampaknya memang Karyna yang sedang berkuasa di sini. Dave memang tegas tapi tak bisa disamakan seperti di kantor.
"Dia cinta ke kamu sebagai wanita ke pria?" tanya Karyna, memastikan mengenai sosok tante Dave yang bernama Juniela itu.
"Aku nggak tahu untuk sekarang. Tapi yang pasti dulu Kami memiliki hubungan—"
"Oke, stop!" Karyna menghentikan ucapan suaminya. "Bisa kamu duduk di sini?" Perempuan itu memiliki pemikiran sendiri sebelum kemarahan membuatnya sakit kepala dan membahayakan janinnya.
Dengan Dave yang menuruti titahnya, Karyna menaiki Dave menjadi duduk di pangkuan suaminya. Menarik dagu Dave agar menatapnya.
"Dengar aku, Dave. Mulai sekarang ada aku yang menjadi istri kamu. Apa pun dan siapa pun sumber yang mencoba menarik kamu, akan aku pastikan tidak baik-baik saja. Karena apa? Karena kamu yang mengikat aku dengan keinginanmu mengenai keturunan. Jangan harap aku akan menangis, mengemis kepada kamu supaya nggak berpaling dari aku. Meskipun dia tantemu... aku akan menjauhkan kamu darinya. Untuk keluarga kita. Paham, Dave?"
Tak butuh waktu lama untuk membuat pria itu mengangguk. Sebab gesekkan yang disengaja Karyna dibagian tubuh bawah mereka adalah kunci. Kunci untuk membuat otak suaminya berjalan dan terikat oleh kemampuan Karyna saja.
Lihat saja. Karyna bertekad untuk membuat suaminya tergila-gila padanya saja. Lebih bagus lagi, tergila-gila pada keberadaan anak mereka. Jika Dave mencintai anak yang Karyna lahirkan dengan sangat, maka akan mudah membuat Dave mencintai Karyna pula. Sebab Karyna tahu, Dave adalah atasan yang bisa dia setir kendalinya mulai saat ini.