9. mengulur waktu

1872 Kata
| "Kamu... Kamu diapain sama Markus?" Seolah sadar apa yang telah terjadi pada Mer, lelaki itu memeluknya, panik. Lalu melepas tautan mereka, Jayusman menatap lebih intens, penampilan gadis itu benar-benar berbeda. Hampir pangling dia saat gadis itu tiba-tiba datang mengetuk pintu rumahnya. Terbiasa melihat Mer dengan penampilan tomboy, selalu jins dan kaos oblong yang melekat ditubuhnya yang kurus. Kini gaun hitam sepaha tanpa lengan membungkus tubuhnya. "Kamu nggak apa-apa?" tanyanya setelah lama diam menatap Mer. Mer mengangguk, seberani apa pun dia tetap seorang perempuan, bukan? Yang tenaganya pasti lebih dikuasai tenaga para lelaki. Jadi wajar jika saat ini gadis itu merasa lega dan kembali meraungkan tangis kelegaannya di bahu Jayusman. Belum pernah lelaki itu melihat Mer menangis, ini pertama kalinya. "L-lo ada baju nggak? Gue nggak nyaman sama baju gini," cicit Mer di tengah isaknya. "Ntar," Jayusman berbalik ke kamarnya. Mer mengeluarkan botol air mineralnya. Meneguknya hingga tandas. "Eh, sori ya ada tamu aku malah nggak peka kasih minum." Jayusman muncul dengan training pendek dan kaos. "Nggak apa-apa, Jay. Ini aja udah makasih. Gue ikut ganti baju ya?" Mer berdiri dan mengambil baju yang masih di genggaman Jayusman. "Tuh, deket dapur kamar mandinya." Lalu Mer ke sana untuk mengganti gaunnya. Dia tak terbiasa, tubuhnya malah terasa gatal-gatal. Jadi Mer memilih mandi lagi. Ternyata gaun mahal tak cocok untuk kulitnya. Begitu selesai mandi dan berganti baju, Mer kembali ke ruang tamu. Di sana Jayusman tengah menyuguhkan dua nasi bungkus. "Makan dulu, Mer. Kamu pasti belum makan," ajak Jayusman. Mer mengangguk, perutnya memang lapar. Si Kribo main jemput begitu saja saat di kosan Hana. Ingat Si Kribo, Mer jadi ingat Markus dan Hana. Bagaimana sahabatnya itu, apakah dia baik-baik saja? Apakah Markus akan mengganggunya? Oh, tidak. Mer tak ingin hal itu terjadi. Namun, dia pun harus menjauh untuk sementara waktu dari Markus. Dia tak mungkin menjadi b***k nafsu lelaki itu, bukan? Duduk bersebelahan dengan Jayusman sambil mulai memakan nasi bungkusnya. Padahal pikirannya bercabang kesana-kemari. Ponselnya sengaja ia non-aktifkan setelah menelpon Jayusman tadi. Markus pasti meminta nomor telponnya pada Hana. "Hana bakal baik-baik aja kan?" lirih Mer hanya mengaduk-aduk nasi Padang itu. "Makan aja dulu, nanti baru kamu cerita. Kalo kita mau tempur, pastikan perut harus terisi." Meskipun begitu Jayusman tetap memperhatikan Mer. Yang dia tahu gadis itu type pemakan segala. Yang tak pernah menjaga imagenya, yang begitu apa adanya. Mer patuh, dia melahap nasi Padang itu tanpa sisa. Tapi niatnya untuk curhat entah menguap ke mana. "Apa yang terjadi, Mer?" akhirnya Jayusman bertanya. "Si Kribo jemput gue, trus nganter ke butik sama salon. Disuruh Markus, katanya mau diajakin dinner. Dinner apaan? Yang ada gue udah tahu semua akan berakhir di mana selain tempat tidur gendurewo itu!" jelas Mer. Jayusman masih mendengarkan walau jantungnya ikut deg-degan. "Tadi begitu ada kesempatan gue kabur. Tapi sekarang gue mikirin Hana, ibu sama adek-adek gue Jay. Gimana mereka? Apa mereka baik-baik aja? Apa yang gue lakuin sekarang pasti bikin si Markus murka. Dan bukan nggak mungkin dia nyari celah titik lemah gue. Kalo dia nyakitin Hana sama keluarga gue--" "Hei!" Jayusman menghentak bahu Mer, lalu merengkuhnya.  "Nggak, nggak akan terjadi apa-apa, Mer." Jayusman mengecup pelipis gadis itu. Pelukan Mer mengerat, ia bingung, marah dan takut. Dipeluk seseorang yang membuatnya nyaman dan merasa terlindungi, itu yang dia butuhkan saat ini. Hingga tak sadar, Mer terlelap dalam pelukan Jayusman. Lelaki itu kemudian menggendong Mer ke kamarnya, merebahkannya di tempat tidurnya, lalu menyelimutinya. Memandangi gadis yang tengah tidur dengan posisi meringkuk. Jayusman menerbitkan seulas senyum, menyila rambut Mer yang menutupi wajahnya. Gimana caranya kamu ngalihin duniaku, Mer? * Sayup terdengar kumandang azan Subuh. Mer menatap langit-langit, sadar bahwa dirinya berada di rumah Jayusman. Mer benar-benar tak memiliki rencana. Bila dia terus maju melawan, sudah pasti babak belur. Namun, bila ia menyerah, sama artinya dia kalah dan semua perempuan kalah di mana harga diri kaumnya di injak-injak. Mereka yang kuat dan berkuasalah yang akhirnya jadi pemenang. Mer bukan pejuang gender, dia tak keberatan wanita berkarir atau tidak, yang penting dihargai, dihormati. Bukankah posisi mereka berada di rengkuhan laki-laki, karena keberadaan tulang sulbi, yang harus dilindungi, disayangi. Bukannya mereka ingin di puja-puji, dielu-elukan layaknya Dewi, karena menurut Mer mereka tak butuh itu. Mereka tetap harus dipimpin dan diimami seorang laki-laki. Lalu mereka  bukan harus berada di bawah kaki kaum laki-laki, yang artinya bisa diinjak-injak, dijadikan b***k, dianggap benda dan jadi piala bergilir. Bukan! Miris. Bagi sebagian orang perempuan tetap menjadi komoditi yang laris manis. Dijadikan ajang lelang bahkan sampai dijadikan keset bagi kaki-kaki mereka yang kotor. Kepalanya kini penuh dengan pemikiran-pemikiran yang naif. Namun, akankah kenaifannya itu bisa menyelamatkan Hana juga keluarganya? Berharap saja seperti itu tak akan cukup. Mer tahu siapa Markus. Orang yang tak tersentuh. Apa iya dia harus meminta tolong pada Komandan Iskandar seperti ide Jayusman? Sedang Mer tahu Komandan Iskandar tengah menjadi pelindung orang terkuat di negerinya ini, Darwis Santoso. Siapa tak mengenal Darwis Santoso dan Samantha? Secara kebetulan dirinya terkait kasus tersebut ketika terakhir dia menjadi kurir gadungan Purnomo. Apa dia akan mengunakan kartu As-nya itu untuk menjauhkan seorang Markus darinya? "Mer, udah bangun?" Lelaki itu berdiri di ambang pintu, mengaburkan lamunan Mer. "Eh, udah Jay." Kedua matanya mengerjap lalu meregangkan tubuhnya yang mulai segeran. "Sori ya, gue malah ketiduran. Trus, lo tidur di mana semalam?" Mer menapakkan kakinya di lantai dingin itu. Jayusman tersenyum,"Ya di sofa, mana mungkin ikutan tidur di situ." "Good boy..." Mer mengacungkan jempolnya. "Heh, aku man ya udah bukan boy lagi!" elak Jayusman. "Ya udah, good man..." ralatnya. Sahutan Mer menciptakan cengiran khas lelaki itu. "Bentar lagi gue pulang," katanya. "Loh? Katanya kamu mau menghilang dulu," Jayusman menatapnya. "Apa perlu gue bilang sama Pak Is?" tanya Mer seolah meminta pendapat lelaki itu. "Kalo menurutku, ya. Kita butuh beliau, Mer. Ingat backing  Markus, sedang kita nggak punya siapa-siapa," tukasnya. "Ada, kita punya Tuhan, Jay." "Ya itu benar, kita cuma punya Tuhan. Tapi nggak ada salahnya minta bantuan Komandan Iskandar, bukan? Anggap aja beliau bala bantuan yang Tuhan kirim buat kita," Mer mengangguk,"Nggak ada yang salah." "Oke, jadi kapan kita mau ketemu sama beliau? Aku bisa anter," Jayusman menyilangkan kedua tangannya. Pandangannya antusias dan tegas. "Gue mau ketemu Ibu dulu mastiin adek-adek gue save," ucap Mer. "Ntar aku liatin deh, atau pastiin lewat Alford." "Ah iya benar! Gue telpon deh," "Biar aku, Mer. Oke? Kamu yakin kan Markus belum tahu soal aku sama Alford?" "Menurut gue iya sih dia belum tahu kalian," angguk Mer. Jayusman mengambil ponselnya dan menghubungi Alford. "Pokoknya lo kudu ati-ati kalo ntar ketemu orang asing, siapa tahu dia anak buah Markus. Mer di tempat gue dulu--" "Modus lo ya, Jay? Awas aja Lo macem-macem sama Mer!" sela Alford dari sebrang. Jayusman berdecak,"Gue nggak macem-macem, cuma semacem doang." "Kampret, awas aja gue gibeng lo!" sungut Alford. "Ampun dah! Iyee," kekeh Jayusman, kesenangan dia menggoda Alford sampai misuh-misuh tak jelas begitu. "Berasa selingkuh gue," decak Mer. "Posesif bener temen kamu tuh," Jayusman menjawil ujung hidung Mer. "Eh, by the way nih, ada yang marah nggak aku numpang di sini?" Jayusman menggeleng,"Siapa? Aku lagi nggak ada deket sama cewek." Mer mencibir,"Boong banget sih, Jay. Yang pernah lo ceritain dulu itu, siapa tuh lupa gue namanya." "Halah, itu sih dibilang mantan juga bukan Mer..." balas Jayusman sambil tertawa. "Cowok sama aja, giliran dapet yang baru main tendang, main lupain." Mer melangkah ke dapur. "Lah, masa mantan masih dipiara? Kan nggak lucu, ya mending lupain!" sergah Jayusman. Mer terkikik, ia tahu kalau membahas masa lalu Jayusman antipati banget. "Aku masih lajang, mending nikmatin yang ada. Dan aku type cowok yang nggak neko-neko kalo bukan ceweknya yang duluan serong," tanggapnya. Jayusman pernah punya kekasih dan perempuan itu malah selingkuh dengan teman kerjanya. Pilihan hidup itu selalu berpasangan. Kalau tak mati ya hidup. Kalau tak diselingkuhi ya selingkuh. "Pacaran yuk," Jayusman menyenggol lengan Mer yang tengah menunggu air mendidih. Air termos kosong, dispenser Jayusman tampaknya rusak pula. "Lo ngajak pacaran apa ngajak nonton layar tancep, Jay?" ledek Mer. "Aku serius, Mer." Ditatapnya gadis di depannya. Mer sengaja bersikap pongah. Dia harus membentengi hatinya, bukan? Kalau hatinya sakit, lalu apa yang tersisa? "Gue belum mau serius," sahutnya. "Aku tunggu sampai kamu mau serius," desak Jayusman. "Lo akan selalu jadi nomor ke sekian," beber Mer, membalas tatapan lelaki itu. "Nggak apa-apa, emang saat ini prioritas kamu ya keluarga kamu. Apalagi dengan adanya masalah ini," timpalnya keras kepala.  "Nah itu lo tahu," Mer lalu menyeduh teh. Terbiasa minum teh manis hangat di kala pagi, Mer jadinya reflek di mana pun ia berada, akan membuat minuman itu. Jayusman berdecak putus asa,"Bener-bener kamu ya... Nolak nggak pake hati," "Lah, dari pada gue muna? Lagian kita itu temen, Jay." Mer memperingatkan Jayusman. "Temen, kalo temen nggak boleh kasih perhatian? Kalo temen nggak boleh ini?" Jayusman memberanikan diri mengecup bibir Mer. Dia bukan m***m. Dia mencium Mer karena ingin, dia sangat menyayangi Mer dan ingin menunjukkan perasaannya itu. Mer tak membalasnya, matanya menatap Jayusman. Namun Jayusman tetap membungkamnya, bermain di dua bilah ranum itu. Hampir putus asa, perasaannya ternyata tak bersambut. Jayusman akan menyudahi kecupannya tapi di detik terakhir, Mer membalasnya. "Kalau begini, yang ada gue nggak bisa tinggal di sini..." akhirnya Mer melepas tautannya. "Kenapa?" tanya Jayusman dengan suara memberat dengan bibir masih di depan bibir Mer. "Gue berasa masuk kandang buaya," sahut Mer. "Dan kamu buaya betinanya, lagian buaya itu hewan setia." Jayusman menyatukan kening mereka, sedang kedua tangannya masih mendekap Mer. "Aku lebih nggak rela kamu sama Markus, Mer." "Siapa juga yang mau sama dia?" "Jadi maunya sama aku, iya?" Jayusman mengecup pipi dan rahang Mer. "Jay..." "Hm..." "Sarung lo lepas," Mer lalu mendorong tubuh Jayusman sambil terkekeh menghindar dari kungkungan lelaki itu. "Merr...." * Janji temu dengan Komandan Iskandar sudah di atur Jayusman. Apalagi orang itu cukup antusias bertemu Mer yang telah membantunya melindungi Darwis Santoso dari usaha 'pembantaian' secara politik pihak oposisi. Tentu Komandan Iskandar sangat berterima kasih pada gadis itu. Walau begitu Mer tak serta-merta jumawa dengan niat dan bantuan Komandan Iskandar menghindarkannya dari jamahan Markus. Karena masih banyak hal yang berkaitan dengan Markus. Ini semata-mata bukan demi dirinya saja melainkan diri perempuan-perempuan di luar sana. Mer di terima dengan baik. Komandan Iskandar atau Pak Is tampak bersahaja dengan stelan safarinya.  "Akhirnya kita bisa bertemu ya Mer? Saya baru pulang dari inspeksi," kata Komandan Iskandar. "Coba jelaskan dan ceritakan semua yang kamu tahu." Mer pun menceritakan dari awal. Lelaki itu manggut-manggut paham. "Kalo bisa jangan sampai Markus tahu kalo dia dilaporkan Mer, Pak." "Iya saya paham. Pokoknya kamu tenang saja. Kita harapkan semoga dia mau kooperatif, tapi masalahnya dia tak mungkin berlama-lama dalam tahanan. Seseorang pasti akan membebaskannya," imbuh Komandan Iskandar. "Kalo itu pasti Pak, nggak masalah. Yang penting untuk sementara ini kami bisa bernapas dulu," sahut Mer. "Oke, kamu tinggal tunggu kabarnya ya Mer? Jangan sungkan kalau memang membutuhkan bantuan," cetusnya. Mer tersenyum sambil mengangguk. Ya, mendapat respon  dan jawaban yang cukup baik setidaknya membuat Mer lega dan tak terlalu ketakutan lagi. Semoga penahanan terhadap Markus memberikan ruang dan waktu bagi mereka untuk menghapus jejak. Atau setidaknya Mer bisa mempersiapkan diri untuk kelak saat berhadapan dengan Markus. Mungkin inilah yang dimaksud Zero to Hero. Yang bukan apa-apa berubah  menjadi seorang yang diperhitungkan, yang didengar, dan memberikan pencerahan serta manfaat bagi sekitar. Namun Mer sadar usahanya belum sampai sejauh itu. Masih butuh waktu. Harapnya semoga saja ia tak dikhianati. |
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN