12. DIPERMAINKAN TAKDIR
Sampai kapanpun kita adalah perpaduan dari orang-orang yang kita sayangi. Begitupun kamu dan aku..
Umi merutuki kebodohannya hingga membuat Hans pergi meninggalkannya sendiri. Dia tidak tahu Hans akan marah mendengar perkataannya. Karena Umi merasa semua yang dia katakan benar.
Satu lagi sisi dalam diri Hans yang Umi belum tahu, jika ternyata suaminya itu begitu sensitif. Padahal dulu sejahat apapun perkataan Umi padanya, Hans tidak pernah marah sedikit pun.
Dengan perlahan Umi keluar dari kamar mencari dimana Hans berada. Samar-samar dia mendengar suara Hans tengah berbicara dengan Fatah. Dari balik dinding, Umi menatap wajah Hans yang sangat kacau.
Ingin rasanya Umi mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan. Tapi sebisa mungkin Umi mendengar, tak ada sedikit pun yang Umi mengerti arah perbincangan mereka.
"Umi..." panggil Sabrin.
"Hust, kak Sabrin bikin kaget aja" Umi mengusap dadanya yang terasa debaran jantung begitu kuat. Efek dari mendengar suara Sabrin yang tiba-tiba saja ada dibelakangnya.
"Kamu ngapain disini?" Tanya Sabrin setengah berbisik.
"Tuh..." tunjuk Umi kearah Fatah dan Hans yang masih sibuk berbincang.
"Oh, alah.. lagi ngupingin mereka? Kenapa gak samperin aja sih?" Ujar Sabrin. Ditariknya tangan Umi mendekat kearah Fatah dan Hans yang tengah duduk. "Mas..."
"Kok belum tidur bu? Nanti ayah kesana..." ucap Fatah.
"Nih, bawa Umi yang dari tadi ngupingin kalian" goda Sabrin.
"Ih, apaan sih kak Sabrin. Umi gak ngupingin kok"
"Sini mi, duduk" ajak Fatah.
Umi mengambil posisi duduk terjauh dari Fatah dan Hans. Berbeda dengan Sabrin yang langsung bergelayut manja di lengan Fatah.
"Kok jauh-jauhan duduknya?" Goda Sabrin.
Hans dan Umi hanya saling menatap hingga Umi menundukkan wajahnya merasa bersalah pada Hans.
"Sini mi, duduk sebelah mas" ajak Fatah.
"Emang kenapa sih kalau Umi duduk disini. Kan sama aja" keluh Umi.
"Beda dong mi..."
"Bedanya dimana sih mas?"
"Sini dulu, biar mas jelasin" Fatah menepuk-nepuk posisi disebelahnya. Dan tentu saja posisi itu tepat disamping Hans juga.
Dengan berat hati, Umi menerima ajakan Fatah untuk duduk disebelahnya. Fatah tersenyum melihat reaksi Umi yang seperti anak kecil. Padahal adik kesayangannya itu sudah dewasa.
"Nah kan lebih enak. Lebih intim" goda Fatah.
"Terus mau jelasin apa?"
"Begini mi, mas tadi udah ngomong sama Hans. Bukannya mas mau ikut campur masalah keluarga kalian. Tapi gak ada salahnya kamu dengerin penjelasan Hans. Inget loh mi, dia suami mu. Seburuk apapun dia, dia tetap imam mu" nasihat Fatah.
Sekilas Umi melihat wajah Hans yang tengah menatap kearahnya juga. Ada sedikit gelayar aneh yang memasuki hatinya saat mata hitam Hans mengunci pandangannya itu.
"Terus? Apa hubungannya sama Umi duduk disini?" Ketus Umi.
Mendengar perkataan Umi, Fatah hanya bisa tertawa. Selama 26tahun tinggal bersama dengan Umi, dia tahu seperti apa karakter adiknya itu. Bukan Umi namanya saat dinasihati langsung menurut begitu saja.
"Dengerin mas ya mi, kenapa mas minta kamu duduk dideket Hans. Biar tubuh mu dan Hans saling bersentuhan"
"Dih, kok gak nyambung banget sih mas? Apa hubungannya sama masalah kami?" Gerutu Umi.
"Pada tahun 2012, ada sebuah peneliti University of St. Andrews di Inggris mengungkapkan sebuah hasil penelitian bahwa ketika fisik perempuan tersentuh oleh pria, suhu kulit tubuh perempuan akan meningkat, khususnya di bagian wajah dan d**a. Riset tersebut berjudul "The Touch of a Man Makes Women Hot" dan dipublikasikan di LiveScience, 29 Mei 2012 itu menunjukkan, sentuhan dari pria terbukti mampu membakar gairah seks wanita." Jelas Fatah.
Baru mendengar penjelasan Fatah, pipi Umi sudah bersemu merah. Jadi maksud Fatah mendekatkan dia dengan Hans, agar tubuh mereka saling bersentuhan.
"Kamu udah paham maksud mas? Perempuan menunjukkan peningkatan suhu ketika mereka terlibat dalam kontak sosial dengan laki-laki. Hasil riset menemukan, wajah biasanya akan memanas ketika sedang mengalami tekanan (stres), takut, atau marah. Emosi lain juga memengaruhi perubahan suhu tubuh." Sambungnya.
"Jadi intinya? Mas pengen aku nempel-nempel sama Hans?"
"Mi, kamu kan sama Hans sudah halal. Gak ada salahnya kan bersentuhan dengan suami mu. Dan kamu tahu mi, masalah suami istri itu harus selesai sebelum mereka tidur. Makannya mas terapin sama Sabrin, semarah apapun dia pada ku, sebesar apapun masalah yang kami rasakan, memeluknya ketika malam sudah menghapuskan segala masalah kami" jelas Fatah. "Mas rasa kamu juga tahu cerita Nabi Muhammad yang marah dengan Aisyah? Semua kemarahnnya lenyap ketika Nabi Muhammad meminta Aisyah untuk memeluknya"
"Tapi kan??"
"Gak ada salahnya mi mencoba apa yang dilakukan nabi" nasihat Fatah. Namun Umi dan Hans masih layaknya hewan yang tak memiliki otak. Mereka berdua masih berjuang dengan ego masing-masing sehingga tidak ada yang mau mengalah sedikit pun.
"Dalam berumah tangga harus ada yang memulai ketika dirasa ada yang tidak beres. Memulai membuka diri dan menyampaikan perasaan, memulai meminta maaf atas kesalahan, memulai memahami perasaan pasangannya, memulai dan mengawali mengajak untuk menyelesaikan masalah. Seperti yang kalian tahu, rumah tangga paling sempurna di dunia ini adalah rumah tangga manusia terbaik, Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam, meskipun tanpa dihiasi dengan harta. Itu artinya, kebahagiaannya bersifat hakiki, bukan karena motivasi dunia." Jelas Fatah.
Karena tidak ada respon dari Umi dan Hans, Fatah melanjutkan ceritanya. "Mas ceritain, kita ambil contoh rumah tangga Rasulullah selalu memulai melakukan ishlah (membangun kerukunan) setiap ada masalah.
Anas Mengisahkan,
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ إِحْدَى أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِينَ، فَأَرْسَلَتْ أُخْرَى بِقَصْعَةٍ فِيهَا طَعَامٌ، فَضَرَبَتْ يَدَ الرَّسُولِ، فَسَقَطَتِ الْقَصْعَةُ، فَانْكَسَرَتْ، فَأَخَذَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْكِسْرَتَيْنِ فَضَمَّ إِحْدَاهُمَا إِلَى الْأُخْرَى، فَجَعَلَ يَجْمَعُ فِيهَا الطَّعَامَ، وَيَقُولُ: غَارَتْ أُمُّكُمْ
"Suatu ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallamberada di rumah salah satu istrinya. Ternyata ada istri beliau yang lain, mengirim makanan kepada beliau. Spontan sang istri yang sedang mendapatkan jatah gilir ini, langsung memukul tangan Rasulullah, jatuhlah piring berisi makanan itu, dan pecah. Nabishallallahu 'alaihi wa sallam pun mengambil serpihan pecahan-pecahan itu, dan beliau kumpulkan. Beliau juga mengumpulkan makanan yang berserakan. Sambil bersabda: "Ibumu sedang cemburu." (HR. Bukhari, Nasai, dan yang lainnya).
Untuk bisa seperti ini, kalian butuh modal kejelian dalam memahami perasaan orang lain. Sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau tipe suami yang sangat peka dan mahir dalam membaca segala hal, termasuk suasana hati istrinya.
Aisyah juga menceritakan,
قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: إِنِّي لَأَعْلَمُ إِذَا كُنْتِ عَنِّي رَاضِيَةً، وَإِذَا كُنْتِ عَلَيَّ غَضْبَى . قَالَتْ: فَقُلْتُ مِنْ أَيْنَ تَعْرِفُ ذَلِكَ، فَقَالَ: أَمَّا إِذَا كُنْتِ عَنِّي رَاضِيَةً فَإِنَّكِ تَقُولِيْنَ لاَ وَرَبِّ مُحَمَّدٍ، وَإِذَا كُنْتِ غَضْبَى قُلْتِ لاَ وَرَبِّ إِبْرَاهِيمَ. قَالَتْ: قُلْتُ أَجَلْ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا أَهْجُرُ إِلاَّ اسْمَكَ
"Pada suatu hari, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadaku, 'Sungguh, aku mengetahui bila engkau ridha kepadaku, demikian pula bila engkau sedang marah kepadaku.' Spontan, Aisyah bertanya, 'Dari mana Anda dapat mengetahui hal itu?' Rasulullah menjawab, 'Bila engkau sedang ridha kepadaku, maka ketika engkau bersumpah, engkau berkata, 'Tidak, demi Tuhan Muhammad. Namun bila engkau sedang dirundung amarah, maka ketika engkau bersumpah, engkau berkata, 'Tidak, demi Tuhan Ibrahim.'' Mendengar penjelasan ini, Aisyah menimpalinya dan berkata, 'Benar, sungguh demi Allah, wahai Rasulullah, ketika aku marah, tiada yang aku tinggalkan, kecuali namamu saja.'" (HR. Bukhari dan Muslim)"
"Intinya aja deh mas, Umi udah pusing ditambah pusing sama penjelasan mas Fatah" keluh Umi.
"Intinya, komunikasi adalah ruh bagi keluarga. karena dengan ini, kalian bisa menghilangkan perasaan buruk sangka dan dugaan-dugaan lainnya terhadap pasangan. Jika kamu masih sangat malu harus menyampaikan langsung ke Hans seperti apa, kamu bisa manfaatkan sarana di sekitar. Bisa sms, email, atau inbox f*******:. Sarana ini akan sangat membantu kamu mengungkapkan perasaan, di saat kamu malu untuk menyampaikanya langsung"
"Mana ada Umi malu sama aku" gerutu Hans.
"Kamu ngomong apa Hans?" Tatapan tajam dari Umi langsung membuat Hans diam. "Cepet ngomong apa tadi kamu?"
"Mi, bisa gak sih halus sedikit. Kayak kak Sabrin contoh" keluh Hans.
"Jadi kamu minta aku jadi orang lain?" Kesalnya.
"Bukan begitu mi..."
"Sudah-sudah. Jangan kalian jadi tambah ribut dengar penjelasan dari mas" Fatah tak menyangka menasihati adiknya sendiri jauh lebih sulit dari pada menasihati Sabrin yang merupakan istrinya.
"Mi, sekali-kali coba dengerin apa kata Hans. Dia suami mu loh mi. Aku tahu mi gimana rasanya menjadi dirimu. Tahun pertama pernikahan adalah tahun-tahun yang sulit. Kamu gak pernah kan merasakan ada perempuan lain yang melamar suami mu? Bahkan perempuan itu lebih cocok bersanding dengan suami mu?" Umi dan Hans menatap wajah Sabrin yang tersenyum tapi mengisyaratkan kesedihan didalamnya.
"Maksud kak Sabrin?"
"Bu, jangan membongkar masalah lama" tangan Fatah menggenggam erat jemari Sabrin. Dia takut Sabrin merasa sakit lagi jika mengingat masa-masa itu.
"Gak papa mas, aku cuma ingin berbagi kisah ku. Aku harap Umi bisa mengambil manfaatnya"
"Coba ceritakan?"
"Kamu tahu kan mi, aku dan mas mu menikah karena dijodohkan? Jujur saja mi, pertama aku melihat kalian datang kekampus ku dulu perasaan kesal menyerang diriku. Apalagi wajah mas mu ini sungguh tidak bersahabat. Dan setelah kami menikah, banyak banget hal yang ternyata sama sekali aku gak tahu tentang dia. Kamu mah enak mi, kamu dan Hans sudah mengenal jauh sebelum kalian menikah. Sedangkan aku?" Jelas Sabrin.
"Kak Sabrin.. "lirih Umi. "Tapi Umi lihat kak Sabrin sama mas Fatah bahagia?"
"Iya sekarang kami bahagia" ucap Sabrin mantap. Ditatapnya wajah Fatah dengan senyum bahagianya. "Tapi kamu gak tahu kan gimana akhirnya kami bisa bahagia seperti ini? Itu semua berkat mas mu ini. Dia yang meyakinkan aku segalanya akan baik-baik saja jika kita menjalankannya dengan ikhlas. Awalnya aku gak percaya mi, tapi semakin hari aku semakin yakin. Memang mas mu ini yang Allah ciptakan untuk melengkapi hidup ku. Kamu tahu sendiri bagaimana aku dulu mi. Tapi dia gak pernah memaksa ku menjadi lebih baik. Satu yang buat aku selalu bangga sama dia. Dia ingin memperbaiki dirinya dulu, agar aku yakin dan percaya dialah imam ku yang paling baik"
"Tuh denger.. yang penting percaya" bisik Hans ditelinga Umi.
"Iya aku denger" ketus Umi.
"Saat ada seorang perempuan yang meminta mas Fatah untuk menikahinya, apa yang aku lakukan? Aku meminta cerai padanya. Satu dosa yang sampai saat ini masih aku ingat. Padahal nyatanya, mas Fatah tetap memilih ku yang jauh dari kata sempurna. Karena dia sudah berjanji pada dirinya. Aku adalah tanggung jawabnya hingga diakhirat nanti. Mengurus satu istri saja dia masih belum bisa, bagaimana dia berpikir untuk menikahi perempuan lain"
"Sudahlah ai..." Fatah mengusap lembut punggung Sabrin. "Jangan diterusin kalau hanya membuat mu sakit"
"Umi pikir kalian gak pernah punya masalah serumit ini"
"Gak mungkin kita gak punya masalah mi. Bukannya kamu tahu masalah aku, mas Fatah sama Adel" sahut Sabrin.
"Adel?" Kali ini Hans yang bertanya. Dia tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini.
"Itu loh bang, Adel sahabat ku. Yang dulu tinggal disini"
"Oh, Adel yang itu. Emang ada masalah apa?"
"Gak ada masalah apa-apa. Hanya salah paham" ucap Fatah.
"Salah paham sama cinta pertama ya mas?" Sindir Sabrin. Seketika Fatah bungkam dengan ucapan Sabrin. Dia tidak ingin melawan, karena memang benar Adel adalah cinta pertamanya. Tapi itu dulu sekali. Dan sekarang hanya Sabrin lah wanita yang sudah mengisi hatinya.
"Inget deh mi, didunia ini gak ada manusia yang luput dari salah atau dosa. Apalagi makhluk laki-laki. Gak perlu jauh-jauh ambil contohnya, ada mas imam, ada mas Fatah dan mungkin kamu bisa juga ambil contoh dari suami mu. Tapi seburuk apapun mereka, pernahkah terbesit dipikiran mu kenapa kita masih percaya mereka?"
Umi menganggukan kepalanya. Dia membenarkan ucapan dari Sabrin. Seburuk apapun Hans, mengapa dia tetap saja memaafkan dan percaya apa yang diucapkan Hans.
"Satu kalimat ampuh yang aku kasih untuk mu, 'percaya pada suami mu seperti kau percaya pada Tuhan mu' percaya deh mi, rumah tangga kalian pasti akan baik-baik saja" sambung Sabrin.
"Iya kak makasih" Umi menundukkan wajahnya. Malu. Dia ingat bagaimana dulu Sabrin, tapi lihatlah sekarang Sabrin telah banyak berubah. Bahkan Umi merasa jauh dibawah Sabrin saat ini.
"Aku harap kalian baikan. Jangan marahan terus" sambung Sabrin.
"Aku juga maunya begitu" keluh Hans.
"Ya sudah, kalian istirahat sana. Ayo mas kekamar. Kasian Syafiq kita tinggalin" ajak Sabrin.
Setelah Sabrin dan Fatah pergi meninggalkan Umi dan Hans berdua, tidak ada yang berniat untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu.
"Ayo mi istirahat. Aku lelah" ajak Hans.
"Bang.." panggil Umi. "Abang masih marah sama aku?"
"Aku yang salah mi, kenapa aku yang marah?" Diusapnya rambut hitam Umi dengan lembut dan sayang. "Aku gak meminta kamu percaya sama pria seperti ku mi. Tapi satu yang aku minta, bantu aku untuk menjadi imam terbaik dalam hidup mu"
"Iya bang... Umi akan terus bantu abang" Umi memeluk tubuh Hans dengan erat seakan berkata jika dia tidak mau jauh dari Hans.
"Maaf ya sayang, aku belum bisa jadi yang terbaik buat kamu" ucap Hans.
"Aku juga, aku belum bisa menjadi istri yang abang mau"
"Udah jangan saling minta maaf, ini kan bukan lebaran mi. Ayo kita kekamar. Besok aku harus kerja lagi" ajak Hans.
Umi melirik tangan Hans yang merangkul bahu nya dengan hangat. Perasaan aneh yang sejak tadi menusuk-nusuk ruang didalam dirinya kembali datang. Hanya dengan sentuhan ringan seperti ini ada perasaan terbakar didalam sana.
Andai kamu tau..
Apa yang ku tau..
Kuingin kau tau..
Apa yang ku tau..
Tapi aku tak tau..
Cara membuatmu tau..
Dan..
Kamu tetap tak tau..
Apa yang ku tau..
*****
Pagi berikutnya wajah Umi dan Hans sudah tidak seperti semalam lagi. Keduanya nampak lebih bahagia pagi ini. Sabrin dan Fatah yang melihat keduanya, nampak tertawa senang.
"Berhasil mas kayaknya nasihat kita" bisik Sabrin.
"Sudah, biarkan saja. Itu urusan rumah tangga mereka" jawab Fatah.
"Wah, pagi-pagi udah bahagia banget" goda mama.
"Iya dong ma, kalau masih pagi udah cemberut sampai malam pasti cemberut" sahut Umi.
"Itu pinter. Senyum itu ibadah loh mi" jawab mama.
Hans yang setiap pagi disuguhkan perdebatan antara Umi dan mama nampak mulai terbiasa. Kadang sekali-kali juga Hans menimpali percakapan itu. Karena dirumah ini Hans bisa menikmati makna keluarga yang sesungguhnya. Sangat berbanding terbalik dengan keluarganya disana.
"Abang, nanti pulang jam berapa?" Hans yang nampak ingin masuk kedalam mobil berhenti sejenak.
"Kenapa memangnya?"
"Gak papa. Kalau pulang cepat aku masakin kamu makan malam"
Senyum dibibir Hans terbit laksana matahari pagi. Dia merasa sedang bermimpi mendengar Umi ingin memasak untuknya. "Aku akan pulang cepatnya" diciumnya kening Umi dengan hangat.
Nikmat apalagi yang Hans nistakan dengan istri yang begitu sholehah dan diidam-idamkan oleh banyak laki-laki diluar sana. Apa yang masih Hans cari jika semua yang Hans butuhkan sudah bisa Umi berikan.
Kembali lagi rasa penyesalan lah yang menghantui diri Hans. Jika sejak awal dia menikah dengan Umi mungkin keadaannya tidak seperti ini. Tapi untuk apa menyalahkan kesalahan masa lalu, karena semua itu tidak akan mengubah apapun untuk masa depan.
"Pagi pak" sapa asisten pribadi Hans.
"Pagi. Apa jadwal ku hari ini?"
"Siang nanti bapak ada janji dengan bapak Imam di kantornya"
Hans mengangguk-anggukan kepalanya sambil sibuk menanda tangani beberapa laporan yang sudah menumpuk diatas meja kerjanya.
"Ada lagi?" Tanya Hans kepada asistennya yang masih berdiri didepan.
"Pak Ricky tadi pagi-pagi menghubungi. Beliau meminta bapak untuk menuruti semua keinginannya"
"Oke terima kasih. Kamu boleh pergi" ucap Hans.
Kedua tangan Hans terkepal kuat, dia sudah benar-benar pusing harus melakukan apalagi agar Ricky dan Selvi pergi dari kehidupan dia. Hans takut Umi akan tahu terlalu jauh hubungan dia dengan Ricky dan Selvi. Bukannya Hans ingin menutupinya, namun jika masalah ini dapat selesai sebelum Umi tahu alangkah lebih baiknya.
*****
Nissan juke hitam berhenti tepat di lobby parkir kantor Imam siang ini. Dengan santai Hans turun dari mobilnya dan melangkah masuk kedalam. Pertemuan bisnisnya dengan Imam memang bukan kali pertama. Apalagi sekarang ini Imam sudah menjadi saudara dengannya. Membuat keduanya lebih santai dalam melakukan bisnis.
"Pagi pak. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang receptionist pada Hans.
"Saya sudah ada janji bertemu dengan pak Imam. Bilang padanya Hans sudah datang" jawab Hans.
"Bapak Hans? Sudah ditunggu dengan pak Imam di ruangannya"
"Terima kasih"
Banyak dari karyawan yang menatap kedatangan Hans. Ada yang sekedar mencuri-curi pandang. Ada juga yang menatap Hans dengan terus terang. Bagaimana Hans tidak menjadi perhatian banyak orang, siang ini dia memakai kemeja berwarna soft pink pilihan Umi. Walau awalnya menolak, tapi melihat Umi dengan raut wajah sedih akhirnya Hans memakainya juga.
Tiga kali Hans mengetuk pintu, terdengar suara Imam dari dalam yang menyuruhnya untuk masuk.
"Akhirnya datang juga..." Imam bangkit dari kursinya dan berjalan menyambut Hans di pintu masuk.
"Wah, kayaknya saya mengganggu" ucap Hans. Karena dari pandangannya Hans melihat seseorang tengah duduk dikursi yang membelakangi pintu masuk.
"Oh, dia. Bukan masalah pekerjaan. Ayo duduk." Ajak Imam.
Hans dan Imam duduk disofa pojok dalam ruangan. Dua buah minuman kaleng Imam letakkan diatas meja depan Hans.
Sebelum memulai percakapan, Hans masih nampak melihat-lihat ruangan Imam yang sekarang sedikit dipenuhi foto Imam dan Sendi.
"Apa kabar mas?"
"Baik Hans. Sorry waktu itu aku sama Sendi gak bisa datang ke acara pernikahan mu"
"Gak dateng gak papa mas, yang penting hadiahnya dateng" sindir Hans.
Imam tertawa puas terkena sindiran dari Hans. "Memangnya kau mau apa?"
"Yang bisa menguntungkan" goda Hans.
"Maksud mu?"
"Mungkin bisnis yang menguntungkan atau ada hal lain yang bisa menguntungkan ku?" Kekeh Hans. Di raihnya minuman kaleng diatas meja, lalu dengan segera meminumnya. Panas siang ini begitu menyiksa tenggorokan Hans. Hingga terasa minuman kaleng ini tidak bisa menghilangkan dahaganya.
Karena merasa didiamkan, pria yang tadi duduk membelakangi Hans tiba-tiba saja berdiri. Dia ingin pamit pergi kepada Imam.
"Loh, mau kemana dek?" Tanya Imam.
"Mau keluar dulu mas.."
Telinga Hans menangkap suara yang selama ini begitu familiar untuknya. Pandangan yang tadinya menatap Imam kali ini dia arahkan pada pria yang hampir keluar dari ruangan Imam.
"Jangan kemana-mana. Sebentar lagi Sendi datang"
"Iya mas.."
"Oh iya, sini dulu dek. Mas kenalin sama temen mas" ucap Imam.
Dengan berat hati pria itu berjalan mendekat kearah Hans. Saat tiba tepat didepan Hans duduk, dia mengangkat wajahnya sampai pandangan mereka bertemu.
Tak ada suara yang keluar satupun dari Hans. Dia merasa dunia begitu sempit. Apa yang dia lihat saat ini layaknya Tuhan sedang mempermainkan dia. Mata hitam bulat itu melihat dirinya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Hans, kenalin. Ini Ricky.." ucap Imam. "Ricky Harun"
"Dek, ini temen mas. Namanya Hans. Richard Hans. Dia ini suaminya Umi. Adenya Fatah, suami Sabrin. Kamu tahu kan dek, Sabrin itu adikku" jelas imam.
Keduanya saling berjabat tangan. Wajah putih itu dilihat terus menerus oleh Hans. Tidak ada tampang menyebalkan yang ditunjukkan oleh Ricky. Apa dia selalu seperti ini didepan orang-orang yang mengenalnya-batin Hans.
"Ya sudah dek, kamu tunggu di luar. Nanti kalau Sendi datang mas kasih tahu"
Sepeninggal Ricky, Hans begitu suntuk dengan pikirannya. Dia ingin mengajukan banyak pertanyaan pada Imam tapi pria disebelahnya ini tengah sibuk membuka proposal hasil kerja sama mereka.
"Mas, Ricky itu siapa mu?" Tanya Hans.
"Oh.. Ricky... memangnya kau kenal dia?" Tanya Imam.
"Aku.."
"Assalamu'alaikum.. mas..." wajah Sendi terlihat dibalik pintu masuk ruangan Imam. Walau tubuhnya tertutup gamis dan kerudung panjang, tapi perut buncitnya masih sedikit terlihat.
"Wa'alaikumsalam.." jawab Imam. Imam berjalan menghampiri Sendi yang nampak berdiri didepan pintu masuk.
Ketika Imam sibuk berbicara dengan Sendi. Rasa penasaran dalam diri Hans semakin memuncak. Ada apa dibalik semua ini? Apa ini memang skenario Tuhan untuk kehidupan rumah tangganya?
Berkali-kali dia mengusap wajahnya gusar. Rasa takut seketika menjalar keseluruh tubuhnya. Pemikirannya tentang Ricky terus berputar. Dia takut, apa yang dia pikirkan menjadi kenyataan.
Takdir..
Seperti itulah yang ku rasa saat ini..
Ada takdir yang nyata dan pasti..
Air di takdirkan untuk mengalir..
Angin di takdirkan untuk bertiup..
Matahari di takdirkan untuk bersinar..
Dan lautan di takdirkan untuk berombak..
Semua itu nyata dan pasti..
Namun bagaimana dengan cinta ini..
Cinta yang mengisi separuh hati..
Sempat ku berpikir tak pasti..
Namun inilah takdir ku..
Seperti takdir bintang hiasi malam..
Begitu pula diri ku tuk hiasi hati mu..
Seperti takdir karang tuk menjaga lautan..
Begitulah aku tuk menjaga diri mu..
Takdir ku cintai mu..
Takdir mu cintai ku..
Takdir kita selalu bersatu..
Selaras dengan detak waktu..
Walau harus didasari dengan takdir yang lain..
----
continue