Bab 13

3129 Kata
13. PAHITNYA KENYATAAN  Jangan pernah mengeluh atas semua kekurangan mu. Karena dari kekurangan mu lah, mengingatkan mu untuk mencari kekuatan yang lain dalam dirimu..   "Woy, Hans..." Imam melambai-lambaikan telapak tangannya didepan wajah Hans. Seakan jiwa dan tubuh Hans sedang tidak menyatu saat ini. "Dia kenapa mas?" Tanya Sendi. "Gak tau. Ngelamun kayaknya" "Mas Hans.. mas..." panggil Sendi. Tersadar dari lamunannya, Hans menatap wajah Sendi dan Imam yang berdiri tepat didepan dia duduk. Wajah mereka berdua nampak bingung dengan kediaman Hans tadi. "Kamu kenapa?" Tanya Imam. "Sorry mas.." "Ngelamun apaan siang-siang gini? Ngelamun Umi ya..?" Goda Imam. "Hust.. mas Imam apaan sih?" Sendi memukul tangan Imam dengan lembut. "Loh kenapa? Kan ngelamunin istri sendiri gak salah. Udah sana pulang. Kalau pikiran lagi gak ada disini gimana kita mau ngomongin bisnis" ujar Imam. "Iya mas, saya pamit dulu. Besok kita sambung lagi" jawab Hans. "Kak Sen, saya pulang dulu. Assalamu'alaikum" "Wa'alaikumsalam" jawab Sendi. "Hans..." panggil Imam ketika Hans sudah sampai didepan pintu masuk. "Tadi kamu tanya kan siapa Ricky? Dia adik Sendi. Namanya Ricky Harun. Usianya hanya beda satu tahun dari sendi" jelas Imam Hans nampak semakin tak berkutik setelah mendengar penjelasan Imam. Entah respon atau perkataan apa yang harus dia berikan untuk menanggapi hal itu. "Kau kenal dia?" "Dia teman Lara..." lirih Hans. "Lara?" "Iya. Sudahlah mas, tidak begitu penting. Saya pamit" dengan langkah cepat Hans memilih pergi meninggalkan Imam dan Sendi. Dia tidak mau semakin banyak pertanyaan yang dilontarkan Imam. Walau dia tidak begitu mengenal Imam, tapi dia yakin pria itu tidak akan pernah puas dengan satu penjelasan singkat. Ketika didalam mobil, Hans memukul kuat kemudi mobilnya. Tidak terbesit sedikit pun jika masa lalunya menjadi sejalan dengan masa depan yang dia sedang jalani dengan Umi. Seharusnya masa lalu dan masa dengan berjalan saling berjauhan bukan beriringan. Lalu bagaimana jika sudah seperti ini? Lagi dan lagi penyesalan lah yang Hans kembali rasakan. Hans menyadari semua ini kesalahannya, tapi apa dalam hidupnya cuma hanya penyesalan dan kesalahan saja? Kemana perginya kebahagiaan dan harapan? Apa semua telah sirna bersama menghilangnya asa? Tuhan kali ini memang sedang membuat Hans sadar akan apa yang telah dia lakukan dulu. Sedikit demi sedikit masa lalu itu kembali terkuak dan menjepit Hans hingga tak mampu bergerak. Bisakah Hans lari dari masa lalu dan menghilang bersama masa depan? Tentu saja tidak bisa. Karena seburuk apapun masa lalu Hans, dia tidak akan mungkin pernah menghapus masa lalu itu dalam hidupnya. Walau sejauh apapun dia melangkah, tetap masa lalu itu seperti bayangan hitam yang sewaktu-waktu datang menghantui kehidupannya. Masa lalu ku.. Ingin kutinggalkan dalam kesendirianku, kesunyianku dan perenunganku mencari sebuah hikmah dari perjalanan hidup yang cukup sekali melelahkan.. Sangat melelahkan bahkan membuatku tak bisa berharap kembali.. Sampai pada suatu hari aku menemukanmu.. Dan mengikat mu untuk menjadi bagian dari masa depan ku..   Sekian menit Hans hanya melamun memikirkan nasib masa depannya. Jika semua terbongkar dia tidak tahu lagi bagaimana jadinya. Sudah bisa dipastikan Umi akan meninggalkannya. Dan orang-orang terdekatnya akan mencaci maki dirinya. Apalagi jika papa nya tahu, maka bisa dipastikan Hans akan di gantung hidup-hidup oleh papanya. Walau papanya bukan orang Indonesia asli, tapi beliau begitu setia pada pasangannya. Menurut papa Hans, wanita itu untuk dicintai sepenuh hati, bukan disakiti dengan segenap jiwa. Pikiran-pikiran buruk terus berputar dalam otaknya. Berkali-kali dia memutar otak untuk mencari jalan keluar dari masalahnya ini. Tapi berkali-kali pula dia gagal. "Ya Allah.. salah apa ku dikehidupan sebelumnya?" Keluh Hans. Sebuah pesan singkat masuk kedalam ponsel Hans. Dari isi pesannya saja dia tahu siapa yang mengirimkannya. Sebuah ancaman yang tak berarti memang. Karena ancaman itu tidak pernah membuat Hans takut, tapi bagaimana pun juga dia memikirkan isi ancaman itu. "Perempuan sialan !!!!" Maki Hans. Dengan kecepatan tinggi Hans memacu mobilnya menuju rumah. Jika kembali kekantor dia tidak yakin akan menyelesaikan semuanya tanpa emosi. Saat ini yang dia butuhkan pelukan hangat dari Umi agar dia mampu meredam semua amarahnya. Bukannya Hans tidak percaya dengan Umi, bisakah Hans yakin perempuan itu tidak bersikap anarkis padanya kali ini? "Assalamu'alaikum.." "Wa'alaikumsalam.. loh Hans, sudah pulang?" Wajah mama nampak kaget melihat menantunya sudah berada dirumah tepat pukul 3 sore. Pikirannya mulai menerka-nerka, ada masalah apa kali ini? "Iya ma, Hans udah janji pulang cepat sama Umi" jawab Hans. "Kamu janji pulang cepat? Tapi Umi tadi siang pergi" "Pergi ma? Sama siapa?" "Tadi sama Adel, katanya janjian ketemu sama temen. Mama gak tahu siapa" jelas mama. "Ya udah biarin ma kalau perginya sama Adel. Biar Hans tunggu aja dikamar" Rasa penat yang menyiksanya membuat Hans memilih untuk tidur sejenak. Tanpa membuka sepatu dan pakaiannya dia membaringkan tubuhnya diatas ranjang hingga alam bawah sadar datang menghampirinya.   *****   Umi dan Adel duduk diam didepan seorang wanita yang terus menerus menatapnya. Rambut hitam panjang dari wanita tersebut diikat tinggi hingga lehernya yang putih terlihat sangat jelas. Wajahnya yang terpoles make up begitu berbeda jika dibandingkan Umi dan Adel. Siang ini Umi dan Adel hanya mengenakan gamis sederhana namun tetap cantik. Karena bagi mereka kecantikan bukan dari apa yang kita pakai melainkan dari apa yang kita miliki dari dalam tubuh kita. Tidak perlu barang mahal untuk menjadi cantik. Tidak perlu memakai pakaian terbuka untuk menarik perhatian orang. Untuk Umi dan Adel yang mereka butuhkan adalah perhatian Tuhan bukan perhatian dari makhluk Tuhan. "Maaf sebelumnya, jika aku boleh tahu anda mengapa bisa menghubungi nomor ponsel ku?" Tanya Umi. Wanita didepannya hanya tertawa mengejek kepada Umi. Seakan berkata jika Umi hidup dijaman batu. Bagi wanita ini memiliki nomor ponsel Umi bukan sesuatu yang harus dibanggakan. "Tidak penting dari mana aku tahu. Yang ku mau saat ini kamu mengikuti semua permainan ku" Kali ini Umi yang mencibir perkatannya. "Permainan? Bahkan aku bukan anak berumur 5 tahun yang suka bermain" ejek Umi. "Wow, jadi seperti ini wanita yang sekarang membelenggu Hans" "Maksud mu?" "Hahaha... kamu terlihat pintar tapi ternyata pemikiran mu lambat. Ku ajak kamu bermain, tapi kamu menolaknya. Dan lihatlah sekarang, siapa yang terjun langsung dalam permainan itu?" "Maksud anda apa?" Adel mengambil bagiannya untuk menyudutkan wanita itu. "Diam kau !!! Siapa kau berani-berani bertanya pada ku?" "Sudah intinya saja, aku malas berurusan dengan mu" keluh Umi. "Aku hanya ingin satu hal, jangan belenggu Hans dengan kata yang kau sebut cinta. Karena aku muak mendengar Hans menolak semua keinginan ku" makinya. "Loh, anda siapa main suruh-suruh begitu" sahut Adel tak kalah galak. "Kalian belum mengenal ku? Aku Selviana Bilqis. Ingat aku mi?" "Selviana Bilqis?" "Aku yakin kau tidak ingat. Aku hanya seorang adik kelas mu dulu di kampus. Ah iya, yang kau kenal hanya Lara kan? Tapi apa kamu tahu Lara terkenal berkat diriku? Lara banyak dicintai karena aku? Karena aku yang selalu ada untuknya. Karena aku yang membuat Lara seolah menjadi pahlawan karena mau berteman dengan ku yang selalu dikucilkan oleh semua mahasiswa. Tapi..." "Tunggu-tunggu.. maksud mu kita satu kampus?" Tanya Umi tak mengerti. "Iya, aku adik kelas mu di jurusan psikologi. Aku yang pernah duduk disebelah mu ketika mas mu Fatah Al Kahfi menyampaikan seminarnya waktu itu. Aku yang mencoba tersenyum pada mu, tapi ternyata kamu seperti tak melihat aku" sindir Selvi. "Apa semua orang popular akan memiliki sifat sombong seperti itu? Aku pikir kamu akan sehangat mas mu. Ternyata tidak" "Jadi kamu kenal mas Fatah juga?" Umi mulai merangkai-rangkai kerjadian yang terjadi hampir 4tahun yang lalu. Tapi semua tak terjangkau oleh otaknya yang nyatanya tak mengingat apapun. "Siapa yang tidak kenal mas mu itu? Fatah Al Kahfi? Seorang dokter muda yang pernah mengisi seminar dikampus kita? Seorang laki-laki yang menjadi primadona. Bahkan ketika sehabis seminar itu aku pernah berfoto dengannya" "Idih.. kamu jadi suka sama mas Fatah? Mas Fatah mah gak suka sama perempuan macem kamu. Yang hijabnya panjang aja jelas-jelas ditolak" celetuk Adel. "Aku tahu. Dan aku tahu pasti siapa yang kamu maksud. Maksud mu Rasha kan?" "Loh.. kamu kenal Rasha juga?" "Aku tahu semua. Bahkan apa yang kamu tidak tahu, aku pun tahu" kedua tangan Selvi terlipat didepan dadanya. Mata hitamnya menatap tajam kearah mata bulat Umi. "Lalu mau mu apa?" "Bukannya tadi sudah ku jelaskan. Jangan pernah mengatur Hans apapun itu. Jangan pernah menghasutnya dengan mengatasnamakan cinta. Karena cinta bagi Hans sudah tiada. Bersama dengan perginya Lara" "Kamu tahu dari mana aku mengaturnya? Aku memang istrinya, tapi aku tidak pernah mengatur hidupnya. Menurut ku menikah itu bukan berarti mengikat seorang laki-laki untuk tidak terbang kemana-mana. Dia bukan hewan. Tapi dia imam. Seharusnya kita sebagai seorang perempuan yang mempercayakan hidup kita pada mereka. Pernikahan itu bagaikan sebuah perahu mengarungi perjalanan menuju samudera kehidupan. Dan laki-laki adalah nahkodanya. Jika nahkodanya berbelok dan membentur karang maka layarlah yang membantunya untuk memutar arah untuk kembali kejalan semula. Layar itulah perumpamaan kita sebagai makhluk perempuan" jelas Umi. "Aku tidak peduli dengan kehidupan rumah tangga kalian. Yang aku pedulikan agar Hans terus menuruti semua keinginan ku" jelas Selvi. "Mengapa tidak kau gunakan saja tubuh mu agar Hans menuruti mu lagi" sindir Umi. Raut wajah Umi mendadak menjadi aneh ketika suara tertawa Selvi begitu menggema didalam restaurant sore itu. Tak ada ekspresi penyesalan dari Selvi. “Tak ku sangka, wanita seperti dirimu bisa menuduh seorang wanita hina seperti ku” ejek Selvi. "Apa begitu bangga dirimu pernah melakukan hal kotor dengan Hans?" "Harusnya Hans mendengar hal ini. Karena tidak selamanya yang tertutup itu baik. Bahkan hati perempuan seperti mu jauh lebih buruk dari pada diriku yang terbuka. Ingat mi, fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan" Selvi menatap wajah Umi dan Adel secara bergantian, baginya percuma saja Umi dan Adel memakai hijab panjang jika kemampuan mereka hanya bisa menuduh sembarangan tanpa adanya bukti nyata. “Kasihan sekali kalian, yang mengaku cinta pada Tuhan tapi melakukan sifat yang dibenci Tuhan. Kamu memfitnah ku, Mi” "KAMU BOLEH HINA KAMI, TAPI JANGAN HINA HIJAB KAMI" maki Adel. Diarahkan telunjuknya tepat didepan wajah Selvi. "Sudah del, percuma kamu marah dengan perempuan seperti ini" Umi menahan tangan Adel agar tidak terbawa emosi. "See.. apa yang aku katakan memang benar" cibir Selvi. "Walau agama ku tidak sepadan, tapi aku tahu. Muslimah itu bukan dari penutup kepala, tapi dari hati" sambungnya. "MAKSUD MU? KAMI SALAH MENGARTIKAN MUSLIMAH YANG BAIK SEPERTI APA???" Adel benar-benar sudah lepas kendali. Dia rasanya ingin mencakar-cakar wajah Selvi dengan tangannya. "Aku tidak pernah mengucapkan seperti itu" "Asal kau tahu. Seorang wanita dan penutup kepala seperti yang kau bilang tadi, keduanya bagaikan udara dan kehidupan. Jika yang satu ada, maka satunya lagi harus melengkapi agar semuanya sempurna" cecar Adel. "Kali ini aku bertanya padamu, apa yang kau banggakan dari bentuk tubuh mu itu? Apa yang ingin kau perlihatkan pada semua orang dari apa yang melekat pada tubuh mu? Aku tidak melihat emas disana, aku tidak melihat berlian yang menyilaukan mata. Lalu, untuk apa kau obral seperti barang murahan? Kau tahu emas dan berlian yang bernilai tinggi tidak pernah akan bisa dinikmati oleh semua orang. Bahkan tidak juga dengan manusia seperti mu" ketus Adel. "Sudahlah del. Maaf kalau kami memang bukan muslimah yang baik? Agama kami bahkan tidak ada seujung kuku. Lantas apa yang dibanggakan? Kami masih belajar menuju ridhoNya. Jika menurut mu, dirimu lebih baik dari kami tolong ajarkan kami?" "Umi.. yang bener aja kita mau belajar dari dia?" Tanya Adel dengan raut wajah tidak percaya. "Ingatlah ilmu itu datangnya dari mana saja" "Cih, aku gak mau kalau belajar dari dia" ketus Adel. "Kau bisa berucap seperti itu, tapi pernahkah kamu tahu dirimu bahkan lebih hina dari ku. Mencintai pria yang sudah menikah" sindir Selvi. “Dunia memang kejam ya bagi wanita seperti kalian, sama-sama terbelenggu dengan masa lalu” Deg... Adel dengan segala kemarahannya seketika diam seribu bahasa. Masa lalu yang telah dia kubur baik-baik telah berhasil dibangkitkan kembali oleh Selvi. "Diam? Maling memang seperti itu jika sudah tertangkap" "Kamu tahu, dirimu itu layaknya seorang penguntit hidup orang lain. Terutama hidup keluarga ku" ucap Umi. "Aku bukan penguntit. Aku hanya sekedar masa lalu yang meminta sedikit ruang agar bisa berjalan beriringan dengan masa depan. Karena tidak selamanya masa lalu harus ditinggal begitu saja saat masa depan telah datang menjemput" "Kamu tahu, masa lalu itu bukan tentang apa yang terjadi pada dirimu. Tapi yang pernah kamu lakukan kepada masa lalu itu. Dan ingatlah wahai saudara muslim ku, bagaimana pun masa lalu mu, mau itu baik atau buruk karena keduanya akan menjadi ladang untuk mu mendapatkan pahala bukan untuk mendapatkan dosa" jelas Umi. "Belajar menasihati ku? Aku tidak butuh semua itu. Yang ku butuhkan satu, Hans menuruti semua keinginan ku" ucapnya sebelum berjalan pergi. Saat Selvi sudah tak ada lagi didepan mereka, tangan Umi mencengkram kuat d**a kirinya. Rasa sesak yang kali ini dia rasakan. Selama 6 tahun ini memang dia tidak pernah tahu apa-apa tentang Hans. Apalagi dengan masa lalu pria itu. Berani mengucap cinta dalam diam saja itu sudah merupakan hal yang salah bagi Umi. "Mi.. sudahlah.. jangan nangis" "Aku gak nangis del" cicitnya. "Gak nangis gimana? Terus air yang netes dipipi mu itu apa? Masa air liur dari mak lampir tadi" sindir Adel. Umi mengusap air mata dengan punggung tangannya. Jujur saja dia sangat kacau saat ini. Fakta yang waktu itu dia temukan ternyata terungkap. Hans memang selingkuh dengan perempuan ini. Tapi mengapa Hans melakukan ini? Apa alasannya? Tidak mungkin semua terjadi jika tidak ada sebabnya. "Kita pulang aja yuk del" ajak Umi. "Ya udah, jangan nangis lagi ya. Nanti kalau mama tanya aku yang bingung jawab apa" keluh Adel. "Iya gak..."   Hembus angin tak tentu arah.. Menerbangkan pikiran hampa bersama bimbang.. Ketenangan jiwa hilang sekejap mata.. Kali ini berganti sedihlah yang menyerang.. Menusuk jiwa yang telah mati.. Merasa ingin pergi dan menghilang.. Hingga ujung dunia tak mampu dikejar..   *****   Mendengar suara air keran yang berasal dari kamar mandi, Hans membuka matanya. Kamarnya masih nampak gelap seperti saat sebelum dia tertidur. Cahaya matahari dari luar sudah berubah senja menghitam. Wangi tubuh Umi sudah memenuhi aroma kamar tidur mereka. Hans yakin yang tengah mandi saat ini adalah Umi. Dia tidak sabar melihat wajah Umi yang pastinya akan bahagia. Karena jam segini dia telah setia dirumah menemani Umi. "Kamu udah pulang sayang?" Tanya Hans. Suara serak khas orang baru bangun tidur ditambah rambut acak-acakan membuat Hans tampak kacau. "Iya tadi. Kamu tidur jadinya aku gak bangunin" jawab Umi. Tubuhnya masih terbalut handuk hingga menutupi bagian d**a. Umi Memilih duduk didepan meja rias hanya sekedar menyisir rambut hitamnya yang panjang dan memakai peralatan setelah mandinya. "Kamu tadi kemana sama Adel?" "Belanja buat masak. Tapi gak jadi. Mendadak gak mood masak. Kamu makan masakan mama gak papa kan?" Ditatapnya pantulan wajah kusut Hans dari balik cermin. Hans nampak menganggukan kepala menjawab pertanyaan Umi. Dia memang tidak pernah memaksa Umi memasak untuknya. Karena baginya, Umi berada disampingnya saja sudah lebih dari cukup. "Hans..." "Ya sayang.." jawab Hans yang sibuk membuka kancing kemejanya sebelum masuk kedalam kamar mandi. "Menurut mu, apa mungkin ada akibat tanpa ada sebab?" "Gak mungkin dong mi. Sebab akibat itu gak bisa dipisahkan. Termasuk dalam kalimat induksi atau induktif. Masa kamu gitu aja tanya sama aku" jawab Hans santai. "Aku lupa..." bohongnya. "Bisa jelasin gak lebih detail. Aku takut salah mengartikan. Karena aku banyak mendapatkan contoh akibat tapi aku gak tau apa sebabnya" "Artikan apa? Artikan kalimat induksi?" Hans mengambil posisi berdiri dibelakang Umi. Saat ini tubuhnya sudah polos dililit handuk pada bagian pinggang. Kedua tangan Hans bersedekap didada bidangnya. Lalu tatapannya melihat Umi dari balik pantulan cermin. "Yang ku ingat paragraf sebab akibat itu terdiri dari 3 bagian, yang pertama menimbulkan satu akibat. Lalu yang kedua, menimbulkan banyak akibat. Dan yang ketiga, sebab dan akibat yang berantai terus menerus" "Coba contohin untuk yang kedua dan ketiga?" "Kamu lagi kenapa? Aneh banget" Hans merasa Umi sedang tidak wajar saat ini. Perlakuan Umi yang suka anarkis sama sekali tidak terlihat. "Cepet abang sayang contohin" "Contoh gampangnya ya, untuk yang kedua. Ada anak tetangga namanya si Budi, dia anak yang baik. Ia suka membantu orang tua kapanpun. Kebiasaan menabung, belajar, dan suka menolong selalu dia lakuin. Lalu setelah besar dia tumbuh menjadi seorang pemuda yang siap menjalani hidup. Karena dari kecil dia udah nabung, waktu besar ketika ada keperluan mendadak dia bisa menghadapinya. Seperti saat adiknya butuh uang untuk sekolah atau uang untuk dia nikah. Jadi masalah yang silih berganti sudah siap dia hadapi" "Kok aku gak nyambung ya bang" "Gak nyambungnya?" Kali ini Hans sudah berjongkok didepan Umi. Diputarnya tubuh Umi agar menghadap dirinya. "Kan tadi nomor dua itu, akibatnya banyak. Nah dari contoh kamu itu akibatnya apa?" "Akibat dia nabung dari kecil dia jadi punya uang banyak. Bisa buat biaya adiknya sekolah, bisa buat modal dia nikah, dan keperluan lainnya. Kamu gitu aja gak paham" "Oh, iya bener juga. Jadi dari satu sebab dia menabung, dia jadi punya modal untuk masa depan" "Exactly" "Kalau nomor 3?" "Cium dulu baru aku jelasin lagi" goda Hans. "Hans. Aku serius.." "Aku juga serius sayang" kerlingan mata nakal Hans membuat takut Umi. "Idih.. gak jadi deh" "Ya udah kalau gitu" Melihat Hans yang tidak merespon rajukannya, Umi kembali mengajukan pertanyaan. "Hans apabila masa lalu dan masa depan berjalan beriringan apa yang akan kamu pilih?" Langkah kaki Hans terhenti begitu saja setelah kalimat menakutkan dari Umi terucap. "Hans.." "Masa lalu ku adalah masa depan ku..." Setengah terkejut wajah Umi berbalik menatap punggung Hans yang telah masuk kedalam kamar mandi. Apa maksud dari kalimat Hans tadi? Bagaimana bisa masa lalu Hans adalah masa depannya? Apa mungkin? Pikiran buruk tentang Hans menusuk masuk kedalam sistem syaraf Umi. Mematikan rasa cintanya menggantikan perasaan sakit yang tidak pernah dia rasakan. Perasaan diam-diam yang dulu Umi sebut cinta kini telah hilang. Umi tahu memang sejak awal Hans tidak mencintainya. Tapi haruskah Hans pergi bersama masa lalunya? Mengapa dalam sebuah kisah percintaan selalu berakhir seperti ini. Saat laki-laki dan perempuan terikat dalam pernikahan tanpa cinta, mengapa harus perempuan yang terlebih dahulu merasakan perasaan aneh ini. Mengapa bukan laki-laki? Apa karena laki-laki selalu menggunakan pikirannya bukan perasaan? Lalu.. Bukannya semua berasal dari pikiran? Benci, cinta, sakit, sayang, rindu. Semua berasal dari satu tempat yaitu otak. Dari otaklah yang mengantarkan ransangan kepada organ-organ inti dalam tubuh kita. Bulshit jika ada yang bilang patah hati itu yang sakit hatinya. Harusnya yang sakit itu otaknya. Dari otaklah yang mengirimkan sugesti jika hati yang merasa sakit. Lalu bagaimana dengan cinta? Sama saja semuanya. Dari mata kita melihat, lalu diantarkan kepada otak. Dan dari otak semuanya diolah. Dipilah-pilah, mana yang harus diambil mana yang tidak. Jadi kembali lagi ke awal, mengapa bukan laki-laki yang merasakan cinta terlebih dahulu? Jawabannya hanya pria-pria lah yang tahu. Bahkan Umi sebagai psikolog pun harus melakukan study kasus terlebih dahulu untuk mendapatkan jawaban ini. Lalu bagimana kah kisahnya kali ini?   Diantara tawaku ada duka.. Diantara senyumku ada tangis.. Menyelinap pada hari ini dengan penuh sesak.. Dari sebuah kata cinta.. Berubah menjadi debu.. Terbang dan menghilang.. Hatiku pernah bergelora mencintaimu.. Dari kejauhan aku mengagumimu.. Karena cintaku tak akan berhenti.. Sekalipun telah kau toreskan bara diatas luka.. Ku mohon.. Temui aku.. Datangi aku.. Ungkapkan rasa yang sama kepada ku.. Rasa yang selalu ku sebut cinta.. ----- continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN