8. KHILAF
Disepertiga malam Hans bangun lebih dulu dari Umi. Sebenarnya ia ingin melakukan ibadah malamnya yang sudah sangat lama ia tinggalkan. Apalagi semenjak Lara pergi untuk selamanya, rasanya Hans sangat jauh dari sang pencipta.
Sebelum bangun, Hans mencium kening Umi. Rasa bersalahnya begitu besar. Umi yang tidak tahu apa-apa harus merasakan dampak sifat negatifnya selama ini. Hans benar-benar ingin bertaubat dan memulai dari awal dengan Umi. Tapi semua itu bukanlah perkara mudah. Mengembalikan kehidupan normalnya seperti dulu sangat tidak mungkin hanya dalam waktu singkat. Semua pasti butuh proses. Namun yang Hans takutkan, mampukah dia bertahan dalam proses waktu pengembalian jati dirinya menjadi pria yang baik seperti dulu.
"Hans..." lirih Umi.
Dari pancaran matanya, Umi menatap Hans khawatir. Walau semalam dia begitu marah pada Hans, tapi tetap saja dia ingin jadi istri yang baik untuk suaminya.
"Ya sayang.." tangan Hans mengusap lembut rambut hitam Umi dengan sayang.
"Maafkan aku semalam. Aku keterlaluan. Seharusnya aku mendengarkan dulu penjelasan dari mu" ujar Umi yang bersandar pada d**a Hans.
Bibir Hans sudah terbuka sempurna untuk menjelaskan semuanya pada Umi. Tapi suaranya seperti tercekak ditenggorokannya hingga sulit untuk dikeluarkan.
"Hans, apa kamu maafin aku?" Umi menatap lekat wajah pria yang baru 2 hari menikah dengannya. Kedua alis hitam Hans bertautan menandakan dia sedang berpikir keras. "Kenapa diam Hans?"
"Aku yang seharusnya minta maaf mi. Aku yang salah. Aku yang..." Hans berhenti sejenak, menunggu reaksi dari Umi. Dia takut istrinya ini akan mengamuk lagi seperti semalam.
"Aku yang apa?"
"Aku.. aku khilaf" lirih Hans. Dia menundukkan wajahnya sesaat karena dia tahu saat ini Umi pasti tengah menatapnya marah.
"Khilaf? Jadi benar?" Histeris Umi.
"Mi.. dengerin aku dulu" mohon Hans. Di tangkupnya pipi Umi dengan kedua tangannya. Mata hitam Hans menatap lekat mata bulat Umi. "Aku sudah mengakui kesalahan ku, aku sudah memohon ampun kepada mu mi. Jadi aku mohon jangan marah. Bantu aku mi. Aku hanya manusia biasa. Bahkan mengakui kesalahan ku saja aku sangat sulit"
Tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir Umi. Hanya hujan air mata yang keluar sebagai jawaban dari perkataan Hans. Mata Umi yang biasanya selalu terpancar keceriaan tapi kali ini bagaikan tertutup hujan badai.
"Mi.. abang mohon. Jangan tinggalin abang karena hal ini. Asalkan kamu tahu mi, aku juga gak mau seperti ini. Aku juga gak mau menjadi pria buruk dimata istri ku. Sekarang yang paling aku takutkan, aku takut bertemu Tuhan karena semua kelakuan yang sudah aku perbuat" jelas Hans.
"Bang, semua yang abang ucapin tadi itu sebuah kebenaran apa pembenaran dari abang?" Tanya Umi dengan tenang namun terlihat sangat menyudutkan bagi Hans.
"Kebenaran.."
"Kalau menurut abang itu sebuah kebenaran, berarti sifatnya pasti dan tidak bisa terbantahkan. Abang tahu kan kebenaran berlaku untuk siapa saja. Bukan hanya berlaku untuk orang yang mengucapkan tapi berlaku juga untuk orang yang mendengarkan ucapan itu. Memang sebuah kebenaran merupakan hal yang paling menyakitkan, tapi insha Allah aku mampu untuk mendengarkan semuanya. Coba ceritakan kepada ku semuanya. Kesalahan apa saja yang sudah abang lakukan?"
"Mi. Itu bukan kesalahan ku. Tapi kekhilafan ku" bela Hans.
"Apa kata abang? Khilaf? bukan salah? Sekarang Umi tanya, abang tahu gak arti kata khilaf itu apa?" Nada bicara Umi sudah tidak bisa terkontrol lagi. Dia semakin emosi mendengar pengakuan Hans yang berkata dia hanya khilaf.
"Khilaf itu yang dilakukan tanpa sengaja mi"
Umi tertawa menyindir Hans yang menatapnya dengan tatapan ingin tahu. Tak pernah Umi sangka, suaminya yang bergelar MBA begitu bodohnya berkata dia khilaf. Dan kata tersebut dia definisikan namun tidak sesuai dengan apa yang dia lakukan.
"Apa seperti ini imam yang harus aku hormati? Bahkan membedakan kata khilaf dan salah saja tidak bisa" cibir Umi. "Khilaf, artinya menurut kamus bahasa Indonesia adalah perbuatan salah yang tidak disengaja. Iya betul, YANG TIDAK SENGAJA" kata-kata terakhir Umi sengaja ditegaskan didepan wajah Hans agar Hans paham maksud dari ucapannya.
"Khilaf itu bukan perbuatan yang melalui proses pemikiran apalagi direncanakan sebelumnya dan bahkan ada yang dilakukan berulang-ulang” ucap Umi dengan tatapan mematikan kepada kedua mata Hans. “RASANYA AKU INGIN SEKALI BERTERIAK DI WAJAH MU !!!” Teriak Umi. “Dan bodohnya kamu bilang apa yang kamu lakukan adalah khilaf !!!" Maki Umi dengan suara yang semakin meninggi.
Sedangkan yang Hans lakukan hanya menatap wajah Umi dengan datar. Tak ada terlihat raut wajah bersalah kepada Umi. Apalagi ego dalam diri Hans semakin meninggi dikala Umi mulai memaki-makinya kembali.
"Kamu tahu bang, rasanya gak adil ya saat kamu bilang "khilaf" sebagai tameng untuk pembenaran, atau sebagai alasan untuk meminta maaf sekenanya pada ku. Ah, jika saja kamu tahu memaknai dengan sungguh-sungguh arti khilaf itu, tentunya "khilaf" tidak akan terucap dengan mudahnya karena khilaf haruslah diikuti dengan rasa penyesalan yang mendalam dan janji tidak akan mengulanginya lagi. Kenapa? Karena khilaf adalah perbuatan keliru, perbuatan salah yang jika kita semua memang benar manusia normal, maka kita akan malu dan tidak akan merelakan diri kita direndahkan oleh binatang (karena konon katanya ada jenis binatang-binatang tertentu yang tidak pernah jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya)." Tegas Umi.
"Oh iya, ada satu lagi contoh yang lebih hebat yang harus kamu tahu bang. Ada seorang laki-laki bilang khilaf kepada istrinya karena dia telah berselingkuh kepada wanita lain . Hahahaha.. Khilaf yaa? Aku heran bang, Kok bisa bilang khilaf ya dia. Setahu aku kegiatan yang mereka lakukan seperti perselingkuhan itu adalah jenis kegiatan yang melibatkan alam sadar sepenuhnya (ini jelas sengaja), bukan tindakan impulsif seperti saat kita membantah tuduhan yang tidak kita lakukan. Kalau yang seperti ini masih berani dikategorikan sebagai khilaf, lambat laun definisi khilaf akan absurd dengan sendirinya. Sewajarnya jika maling yang bilang khilaf, ada pemakluman karena jika dia pintar, tentunya dia tidak akan jadi maling, tapi jika yang bilang adalah laki-laki terpelajar dengan ilmu yang cukup tinggi, mau jadi apa dia?" Sindir Umi yang membuat Hans semakin membungkam mulutnya.
Wajah Umi tersenyum puas telah menjatuhkan Hans dengan kata-katanya. Tak perlu menggunakan otot untuk melawan laki-laki seperti Hans. Laki-laki yang hanya melemparkan kesalahannya pada sebuah kata khilaf.
"Sudah marahnya?"
"BELUM !!!" bentak Umi. "Sebelumnya memang aku akui, masa muda adalah masa penuh dengan kekhilafan karena banyak proses pembelajaran di dalamnya. Proses yang melibatkan salah dan benar. Jika tidak salah, ya benar, hanya itu pilihannya. Tapi bukan berarti kita bisa menggunakan kata khilaf seenaknya, karena beberapa kesalahan diambil dengan keputusan yang sadar. Dan mereka yang menggunakan khilaf sebagai alasan adalah mereka yang tidak punya muka atau harga diri untuk sekedar mengakui bahwa dia memang salah. Tidak cukup berani atau dia adalah pecundang yang memilih berlindung di balik kata khilaf. Seorang pemuda itu harus berani berkata lantang "IYA, MAAF. SAYA SALAH DAN SAYA SIAP MENANGGUNG KONSEKUENSI ATAS KESALAHAN YANG SAYA PERBUAT", karena kata orang, sesungguhnya idealisme adalah kemewahan yang hanya dimiliki oleh kaum muda. Jika saat mudanya saja tidak punya prinsip hidup yang mengakar, tinggal tunggu waktu untuk angin membawa dirinya ke sana kemari saat tua nanti, dan dia akan mengikutinya tanpa perlawanan apalagi tanya." Ketus Umi.
Tangan Hans rasanya sudah gatal ingin menampar bibir Umi yang tidak tahu dirinya terus menerus memojokkan Hans. Jika tidak ingat perjanjiannya dengan Allah, Hans sudah memukul Umi dengan kuat. Semua kemarahan yang Hans rasakan di tekannya kuat-kuat agar bukan Umi lah yang menjadi pelampiasan kemarahannya saat ini.
"Kenapa diam? Aku salah?"
"Andai engkau tahu, ku pikir ini adalah sebuah kebingungan saat diriku kehilangan pusat hidup ku. Tapi ternyata ini semua sebuah khilaf yang tak terbayarkan. Khilaf yang terus ku ulangi berkali-kali hingga aku terlempar dalam lubang nestapa ini" lirih Hans. "Maafkan aku mi, aku bukan pria baik. Aku bukan suami yang baik. Dan aku juga bukan imam yang baik. Aku sudah hancur saat kegelapan menyerang alam bawah sadar ku. Saat ini semuanya ku serahkan pada mu mi"
Seketika Umi merasa kecewa menatap Hans yang tidak mampu membalikkan semua kata-katanya. Perkiraan Umi salah, dia berpikir Hans akan mengamuk padanya atau memukulnya. Tapi yang Hans lakukan hanya menunduk malu atas semua kebodohannya selama ini. Lalu apa Umi mampu mengambil keputusan pahit ini?
"Hans.."
"Katakanlah mi, apa mau mu?"
"Bang.." tangisannya semakin tak terkendali. Jujur saja dia takut jika Hans akan memilih bercerai dengannya. Seumur hidupnya tidak pernah terpikir jika harus bercerai. Umi tidak ingin pernikahannya gagal. Tapi dia juga tidak ingin sakit terus menyiksa hatinya. Apalagi tahu Hans pernah berselingkuh dibelakangnya.
Ibu jari Hans mengusap lembut air mata yang mengalir dipipi Umi. Dia pun tidak tega jika harus membuat Umi menangis seperti ini. "Jangan menangis sayang..."
"Apa abang tahu butuh dua orang untuk membentuk sebuah pernikahan. Dan butuh dua hati juga untuk melengkapi pernikahan itu agar tetap bahagia. Tapi hanya butuh satu orang untuk menghancurkannya. Jika dilihat dari logika, apa 2 orang akan kalah dari satu orang?"
"Jika 2 orang akan kalah dari satu orang, maka kedua orang itu akan bergabung membentuk sekutu yang menghasilkan satu orang lagi. Jadi 3 lawan 1" jawab Hans dengan sedikit godaan pada Umi.
"Maksud mu?"
“Kita akan membuat dua menjadi tiga” goda Hans sekali lagi namun Umi tetap saja tidak paham maksud dari Hans.
“Aku gak paham Hans..”
“Anak psikolog tapi jalan pikirannya lambat” cibir Hans.
“Kalau aku gak paham emang harus bawa-bawa jurusan kuliah ku. Kamu ngaco” keki umi.
"Ya sudah. Kalau kamu kasih aku satu kesempatan lagi, kita pasti akan menang mi melawan satu orang itu" ditariknya tubuh Umi masuk kedalam pelukannya lagi. "Aku mohon mi, percaya pada ku sekali lagi" ucap Hans yang terlihat seperti permohonan.
"Aku hanya makhluk Allah bang, Allah saja selalu mengampuni umatnya yang bersungguh-sungguh dalam bertaubat. Masa aku tidak bisa memaafkan mu. Aku hanya makhluk ciptaanNya dengan segudang kekurangan. Harusnya aku sadar, aku juga butuh memperbaiki diri"
"Ayo kita sama-sama memperbaiki diri mi" ajak Hans.
"Yang penting niat, lalu tindakan. Bukan hanya perkataan belaka tanpa adanya bukti" cibir Umi.
"Semua untuk mu mi, akan ku lakukan" dikecupnya singkat kening Umi.
"Cepat, jadi sholat malam gak kamu" maki Umi.
"Jadi dong..." dengan cepat Hans berlari masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Perasaan haru bercampur bahagia memenuhi hati Hans. Dia tidak menyangka Umi akan memaafkannya. Terlebih memberikannya kesempatan sekali lagi. Sungguh rasanya Hans begitu bahagia memiliki Umi sebagai istrinya.
*****
"Pagi semua..." sapa Umi riang sambil menyium kedua pipi Syafiq yang berada dipangkuan Sabrin.
"Pagi, kamu udah gak papa mi?" Tanya Sabrin hati-hati.
"Umi gak papa kok kak" kedua mata Umi menatap Fatah yang tersenyum bahagia kepadanya. "Mas Fatah, jangan senyum-senyum gitu dong. Aneh banget"
"Emang kenapa kalau mas senyum?"
"Kayak om-om genit tau gak" kesal Umi.
“Bukan kayak bapak-bapak ganteng?” kata Fatah sambil terus tersenyum kepada Umi. “Aku hanya ingin menabung pahala ku, seperti istri ku ini. Selalu bersemangat kalau diajak menabung pahala” cerita Fatah.
“Terus maksud mas, aku nggak mau nabung pahala?”
“Kalau gitu ajak Hans menabung pahala bersama. Buat bekal diakhirat nanti”
“Duh, setiap pagi kalau mas Fatah bisa gabung makan pagi bareng pasti sarapannya ditambah bumbu ceramah. Untung papa nggak ikutan” keluh Umi sambil melirik papa Hadi yang sibuk membaca koran pagi.
“Mendengarkan ceramah dipagi hari bisa buat semangat kerja” sindir Fatah.
“Apaan sih mas” kesal Umi.
“Udah.. udah, kamu mas ngalah dikit sama adiknya” lerai Sabrin.
"Loh, nduk. Hans mana?" Mama bingung mencari dimana keberadaan menantunya itu. "Dia gak sarapan?"
"Tuh abis mandi orangnya. Kesiangan" tunjuk Umi kearah Hans yang terburu-buru.
"Pagi semua.." ucap Hans yang sibuk memasang dasinya tak tentu arah.
"Kesiangan kamu Hans? Apa ada meeting?" Papi menatap lekat menantunya itu yang tengah dibantu Umi dalam memasangkan dasi. "Mau kepabrik pa, papa tahu sendiri kan kalau gak pagi-pagi bisa kena macet ditol. Apalagi jarak jakarta cilegon cukup jauh" jelas Hans. Setelah dasinya terpasang rapih, tangannya dengan cepat menyendok nasi goreng didepannya dengan lahap.
"Pelan-pelan bang"
"Iya mi. Kamu gak papa kan kekantor sendiri?" Semua yang berada diruang makan itu hanya menjadi saksi keromantisan pengantin baru pagi ini. Tidak ada yang berani menyela mengingat semalam mereka berdua telah bertengkar hebat.
"Sebelum menikah juga aku berangkat sendirian" cibir Umi.
"Kalau mama melihat begini rasanya adem. Gak kayak semalam" goda mama.
"Semalam Umi terlalu..."
"Namanya juga manusia ma, pasti pernah melalukan salah" potong Hans. "Iya gak mi. Tapi aku dan Umi usaha untuk bicara baik-baik. Jika mengikuti emosi tidak akan ada habisnya" jelas Hans.
"Memang seperti itu seharusnya. Belajarlah untuk memahami satu sama lain Hans" sambung mama. Hans dan Umi nampak tersenyum bersamaan kepada mama. Memang seperti itu yang harus mereka lakukan. Saling memahami satu sama lain. Bukan hanya saling menghakimi saja.
"Aku jalan dulu ya sayang, nanti kalau aku cepat balik aku jemput kamu" diciumya sayang kening Umi yang tertutup hijab berwarna biru muda itu. Wajah Umi nampak begitu berseri melepaskan kepergian Hans.
"Iya bang, hati-hati"
"Assalamu'alaikum.." salam Hans.
"Wa'alaikumsalam.."
Ditengah perjalanan Hans menuju pabriknya, Hans berusaha menghubungi asisten pribadinya. Banyak masalah yang harus dia perintahkan. Karena jika ingin hidupnya dimulai dari awal, dia harus menghapus semua masa lalunya.
"Halo.. pagi pak..."
"Tolong bantu saya untuk menutup semua kartu kredit saya. Bukan hanya kartu utama yang ditutup, tapi kartu tambahan juga. Lalu tolong hentikan transferan dana kerekening bank A. Saya ingin menuntup rekening di bank itu" tegas Hans.
"Baik pak. Ada lagi?"
"Jika ada orang yang datang kekantor saya, mengatasnamakan siapapun itu. Bilang saya sedang berada di Jerman"
"Rekan bisnis juga?"
"Kecuali rekan bisnis yang sudah membuat janji dengan saya"
Hans menutup ponselnya. Dia lemparkan ponselnya ke kursi belakang mobilnya. Ponselnya saat ini sudah tidak dibutuhkan lagi. Karena Hans tahu cepat atau lambat pasti orang itu akan menghubunginya. Dia tidak ingin itu terjadi. Cukup sudah masa lalu kelamnya. Selama 2 tahun ini Hans sudah terangkap, sekarang saatnya dia keluar dari belenggu masa lalunya.
*****
Senyum di wajah Umi tidak pernah lepas saat dia baru saja tiba di kantornya pagi ini. Puluhan karyawan baik yang dia kenal maupun tidak menyapa nya dengan sopan.
Ketika dia berjalan menuju meja kerjanya, banyak sekali bunga-bunga besar yang diletakkan disana. Tangan Umi meraih salah satu bunga yang menurutnya paling indah. Disana terselip sebuah puisi cinta yang dia tahu dari mana asalnya.
Sayang..
Aku bukan gelap yang mencuri mimpi semesta..
Aku pun bukan cahaya lamuri sepi di malam yang renta..
Aku hanya senyap yang coba berisik dalam senja..
Bisikan ku akan sebuah mimpi..
Mimpi ku dengan mu yang mewarnai indahnya cinta..
Di tidurku yang resah..
Aku terbangun..
Dan berbisik jika kau adalah bukti nyata cinta ku..
-RH-
Seulas senyum terbit dibibir mungil Umi. Dia sama sekali tidak meminta Hans menjadi romantis seperti ini. Cukup menjadi Hans yang apa adanya sudah cukup bagi Umi.
Lalu, Umi meraih bunga kedua yang berada diatas mejanya. Masih dengan warna note yang sama yaitu putih, Umi membuka note itu.
Tak akan ada pelangi, jika hujan tak menghampiri. Akan selalu ada bahagia setelah kamu meneteskan air mata. Tidak akan ada senyuman mu sebelum aku berada didekat mu..
-RH-
Umi mencibir kalimat terakhir Hans. Bagaimana bisa pria ini begitu dengan percaya dirinya berkata seperti ini setelah semalam menyiksa Umi dengan semua fakta yang terungkap.
"Wah.. pagi-pagi sudah banyak bunga" ucap bos Umi yang selalu menatap dengan penuh napsu.
"Iya dari suami ku" tegasnya.
"Wow. Suami mu menghabiskan banyak uang hanya untuk bunga-bunga yang akan layu? Tidak bisa dipercaya. Masih ada pria semacam ini. Pasti dia melakukan ini karena menebus kesalahannya" ucapan dari atasan Umi memang benar adanya. Tapi sungguh Umi tidak suka dalam penyampaian kalimatnya.
"Bagaimana pun dia, aku terima dia apa adanya. Seperti dia menerima semua kekurangan ku. Karena dari kekurangan kami mulai mencintai satu sama lain" ketus Umi.
Umi merogoh saku tasnya mencari keberadaan ponselnya. Dia ingin sekali menghubungi Hans untuk mengucapkan terima kasih atas semua kirimannya.
"Assalamu'alaikum.. ada apa sayang?" Jawab Hans.
"Wa'alaikumsalam bang. Makasih bunganya. Bagus" ucap Umi.
"Apa mi? Bunga?"
"Iya bunga yang abang kirim kekantor ku. Banyak banget sih. Satu aja cukup bang"
Lama Hans terdiam tak menjawab suara Umi. "Hans.. kok diem sih?"
"Ah, iya.. iya.. nanti aku sambung lagi ya mi. Aku sedang di pabrik. Signalnya jelek." Jelas Hans.
"Ya sudah. Assalamu'alaikum bang.." Umi menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia seperti gadis belia yang sedang dimabuk cinta. Tidak mengerti situasi dan kondisi masih saja menghubungi kekasihnya. Sudah tahu Hans sedang sibuk berada dipabrik saat ini.
"Aku mencintai mu Hans.." gumam Umi sambil menggenggam erat ponselnya. Biarlah dia ditertawakan orang lain dengan meja yang dipenuhi bunga ditambah dengan senyumnya yang tak pernah lepas dari bibirnya.
Yang Umi tahu pasti, Allah tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan hidup umatnya.
Meski jiwa menyayat kalbu..
Perihnya akan selalu kurasakan..
Sebagai ganti dari sentuhan lembut cintamu..
Kau imam ku..
Yang selalu terlihat diujung mata..
Ku tetap menyayangi mu hingga akhir hidupku..
Tetesan air mata ini menjadi saksi..
Ketika setiap asa yang ku himpun..
Berubah menjadi wujud cinta..
Semuanya akan ku persembahkan hanya untukmu..
Wahai imam dihatiku..
------
continue