7. PERANG MELAWAN HAWA NAPSU
Dari luar pintu kamar Umi, muncul sosok mama bersama Fatah yang menatap cemas kepada Umi. Bukannya mereka tidak mendengar suara pintu yang tertutup kencang, tapi masalahnya mama dan Fatah tidak tahu ada masalah apa dengan Umi.
Bentuk kamar Umi sudah sangat berantakan. Pecahan gelas kaca sudah berserakan dilantai. Selimut sudah jatuh kelantai.
Lalu raut wajah Umi sudah tidak bisa terdefinisikan. Air matanya terus saja mengalir, bibirnya digigit kuat menahan isak tangisnya. Rambut panjangnya sudah kusut tak berbentuk.
"Kamu kenapa toh nduk?"
Umi menangis sambil memeluk mama dengan erat. Bagi Umi ini semua terasa seperti mimpi. Kemarin dia begitu bahagia karena akhirnya dia bisa menikah dengan seorang pria, namun malam ini semua berubah menjadi duka. Hans sudah menebarkan benih kebencian didalam hati Umi. Tak sedikit pun Umi menyangka Hans akan begitu tega kepadanya.
"Jawab mama nduk, kamu kenapa?" Mama mengulang pertanyaannya. Namun bibir Umi begitu rapat terkunci.
"Ya Allah, Umi kenapa mas?" Sabrin ikut masuk kedalam kamar Umi dengan Syafiq dalam gendongannya. Dari matanya, Fatah mengisyaratkan agar Sabrin tidak ikut histeris melihat Umi dalam keadaan seperti ini.
"Ma, temani Umi. Dia butuh istirahat. Biar Fatah yang cari Hans" ujar Fatah. Tangan Fatah menarik tubuh Sabrin untuk keluar. Fatah mengerti Umi butuh waktu berdua dengan mama untuk menceritakan semuanya.
"Tapi mas..." celaan dari bibir Sabrin tak dihiraukan Fatah.
Sampai akhirnya tinggal mama dan Umi berdua didalam kamar, barulah Umi membuka suaranya.
"Ma, Umi salah apa? Kenapa Hans jahat sama Umi" rintih Umi.
"Menangis lah nduk, menangis lah dulu sampai hati mu lega. Baru kamu ceritakan semuanya sama mama. Mama akan temani kamu terus semalam ini" tangan mama dengan lembut mengusap rambut hitam Umi dengan sayang. Perlakuan mama seperti ini sedikit mengobati rasa sakit Umi.
"Hans ma. Dia.. dia.." Umi menutup mulutnya karena dia begitu tidak sanggup menceritakan keburukan yang Hans lakukan. Bagaimana pun Hans saat ini, dia tetap suami sah Umi dimata agama dan negara.
"Jangan dipaksakan untuk bercerita nak, jika memang itu tidak baik" mama mengusap air mata Umi. Ditatapnya sayang anak perempuannya itu. "Dengerin mama nduk, bagaimana pun Hans saat ini atau masa lalunya dia tetap suami mu nduk. Mungkin kamu akan kaget karena setelah menikah pasti semua keburukan akan terbongkar. Tidak mudah nduk menyatukan dua kepala yang memiliki segala bentuk perbedaan. Dari mulai pemikiran, gaya hidup, atau tutur kata. Kadang kata yang menurut pasangan mu hanya bercanda, tapi beda pemahaman bagi kita. Ini lah tugas mu nduk. Seumur hidup harus kamu gunakan untuk mengerti dan mengalah untuk suami mu. Begitupun dia. Jangan hanya karena masalah kecil saja kalian berpisah." Nasihat mama.
"Tapi ma, ini semua diluar yang mama pikirin. Ini terlalu.."
"Jika itu keburukan suami mu jangan kamu ceritakan kepada siapapun. Pada asalnya, tidak boleh bagi seseorang untuk membuka dan menyebarkan aib seorang muslim yang lain kepada orang lain. Jika dia melakukannya berarti dia telah terjatuh kepada dua penyelisihan. Yang pertama, dia telah melanggar perintah untuk menyembunyikan aib seorang muslim dan larangan untuk menyebarkannya tanpa ada keperluan yang mendesak. Yang kedua adalah larangan untuk membicarakan kejelekan seorang muslim (ghibah).
Perintah untuk menyembunyikan aib seorang muslim dan larangan untuk menyebarkannya tanpa ada keperluan yang mendesak telah disebutkan di dalam Al Qur'an dan hadits. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
"Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat." [QS An Nur: 19]
Di dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, Rasulullah bersabda:
وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
"Barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim maka Allah akan menutupi (aib)nya di dunia dan akhirat." [HR Muslim (2699)] . Mama percaya kamu dan Hans sudah sama-sama dewasa, jangan bertindak sembarangan. Selesaikan dulu masalah kalian berdua. Jika memang tidak bisa, mama akan bantu sebisa mama"
Setelah mendengar perkataan mama, pikirannya kembali memutar kejadian cepat tadi. Apa dia salah menuduh Hans meniduri wanita lain? Lantas merah-merah pada d**a Hans dari mana asalnya?
"Apa ada lagi yang mengganjal hati dan pikiran mu?"
"Ma, apa seorang istri mampu memaafkan kesalahan suaminya?"
"Nduk, seorang istri itu sangat peka atas apa yang dilakukan suaminya, mereka akan menjadi sangat begitu sensitif apabila berkaitan dengan imam dalam hidup mereka. Sekasar-kasarnya seorang istri pasti dia juga memiliki sifat yang sangat lembut. Sering sekali istri di sakiti oleh para suami, tapi seorang istri mampu untuk memaafkannya. Memaafkan itu adalah bentuk rasa cinta yang tertinggi dan yang terindah, sebagai imbalannya kita akan menerima kedamaian dan kebahagiaan yang tak terhingga. Kadang memang sulit membiarkan cinta membimbing kita pada saat hati kita disakiti oleh orang lain. Tetapi, biarpun luka hati itu kecil atau besar kita tidak akan bisa benar-benar bahagia sebelum mau memberi maaf" jelas mama.
Kening Umi berkerut mencoba mencerna semua perkataan mama. Sedikit demi sedikit dia paham. Hanya cinta yang tulus lah yang mampu melapisi hati agar tidak menyakiti lebih dalam. Tapi Umi tahu juga, dari cintalah rasa sakit bisa berawal. Cinta bisa menjadikan hati sakit sekaligus menyembuhkan hati seperti layaknya obat. Masya Allah begitu dasyat kekuatan cinta, apalagi kekuatan cinta dengaNya.
Mama mulai melanjutkan nasihatnya kembali, "Banyak orang mengira bahwa merasakan perasaan benci, marah dan kesal terhadap seseorang yang menyakiti adalah cara untuk menghukum orang tersebut, padahal justru sebaliknya! Memendam terus perasaan itu ibarat menelan racun dan mengharapkan racun itu menyakiti orang itu padahal kitalah yang justru disakiti.."
"Sudah pasti kita yang sakit ma, kan kita yang menelan racun. Kalau mau dia yang sakit, suruh dia yang menelan racunnya" potong Umi.
"Iya, itu kamu tahu, mama lanjut ya" ujar mama. "Dan hati seorang wanita yang sudah tersakiti akan susah untuk sembuh. Mungkin butuh waktu yang sangat lama untuk menyembuhkannya, dan yang bisa menyembuhkannya adalah dia yang di cintainya, dia yang diharapkannya, dia yang dinantinya, dia yang dibanggakannya, dan dia yang dulu telah menyakitinya juga"
"Berarti menurut mama, Umi mampu?"
"Semua yang dilakukan dengan niat yang ikhlas karena Allah, insha Allah akan berhasil sayang" jelas mama.
"Tapi kalau Hans nya gak berubah sama aja bohong ma" keluh Umi.
"Kamu belum berjuang sudah angkat bendera kekalahan. Berjuang dulu sekuat tenaga, baru bisa tahu makna dari kata menyerah." Tutur mama. "Ingat nduk, jika rumah tangga kamu dan Hans belum dihiasai pohon-pohon cinta yang menebar kesejukan, maka jangan terburu-buru membuka pintu perceraian atau merasa pesimis dengan kebahagiaan keluarga. Kamu dan Hans harus ingat, bahwa cinta itu terlahir ketika ada kecocokan setelah melihat keindahan kekasih dan keluhuran sifat-sifatnya, ada kecocokan batin, dan setelah mendapatkan kebaikan dari sang kekasih. Cintai perbedaan antara kamu dan dia, maka kamu akan tahu makna cinta yang sesungguhnya"
"Iya ma..." lirih Umi.
"Sudah jangan nangis lagi, mas Fatah lagi mencari Hans. Nanti kalau Hans kembali jangan langsung dimaki-maki. Tapi bicarakan dengan kepala dingin"
"Maksud mama kepala Umi dimasukin kulkas dulu?" Ketus Umi.
"Mama gak habis pikir, lulusan psikolog begini" ditepuknya jidad putih Umi dengan kuat.
"Ahh, mama sakit" keluh Umi.
"Mama gemes sama kamu nduk, lebih tua dari Sabrin, tapi pikiran mu lebih kanak-kanak" pipi Umi yang putih bersih akhirnya memerah karena dicubit gemas oleh sang mama. Yang bisa Umi lakukan hanya meringis, dia tidak mungkin mencubit atau mengkasari mama nya.
"Ma, please. Kak Sabrin itu dewasa sebelum waktunya" keki Umi.
"Tapi setidaknya dia dewasa dalam menghadapi masalah"
Mama melangkah pergi keluar kamar Umi. Tapi kakinya terhenti di anak tangga terakhir ketika dia mendengar dua suara pria tengah berselisih di ruang makan.
"Mas, saya gak seperti yang mas bayangin" keluh Hans.
"Hans, bukan mas yang butuh penjelasan tapi istri mu. Mas disini bukan untuk membela Umi, tolong mengertilah Hans. Pria itu harus mempertanggung jawabkan apa yang telah dia lakukan. Bukan setelah berbuat ditinggal pergi begitu saja. Jangan menjadi laki-laki pengecut. Tunjukkan pada Umi kamu bisa jadi imam yang baik dalam rumah tangga kalian. Seberat apapun masalah kalian berdua, selesaikan dengan baik-baik"
Hanya hembusan napas berat Hans yang terdengar. Pria itu dibuat tidak berkutik saat mendengar semua nasihat Fatah padanya. Walau masih ada amarah pada hatinya, tapi dia berusaha menahan agar masalah ini tidak berlanjut menjadi luas. Bukannya Hans tidak tahu semua masalah disebabkan oleh dia, tapi kembali lagi dia juga ingin berubah. Yang Hans mau Umi lah yang mengubah dia jadi lebih baik. Tapi apa? Bahkan Hans belum bisa menjelaskan apa-apa Umi sudah menamparnya. Bagi Hans, tamparan itu sama saja Umi sudah menghina harga dirinya.
"Mas berkata begini karena mas juga pernah merasakan. Tapi yang mas lakukan adalah saling percaya. Karena sebuah kepercayaan itu mahal harganya"
Hans tersenyum sinis pada Fatah, "Apa setelah berkelahi fisik, masih ada kepercayaan satu sama lain?"
Fatah menjawab senyum sinis Hans dengan senyum penuh hangat, "Kita sebagai seorang laki-laki serta seorang suami adalah pemimpin dalam hidup kita maupun pemimpin dalam hidup istri dan anak kita kelak. Contoh saja seorang presiden, dia adalah sosok pemimpin bagi rakyat dinegaranya. Dia lah yang mengambil keputusan yang harus atau tidak boleh di lakukan oleh rakyatnya. Tapi jika presiden tersebut melakukan tindakan yang diluar akal sehat, misalkan membuat semua harga sembako naik, atau harga bbm yang melambung. Ada juga yang saat ini sedang heboh, mahalnya harga daging sapi dan daging ayam. Apa rakyatnya tidak boleh protes pada presiden itu? Jelas boleh. Posisi presiden ada karena rakyatlah yang memilih. Maka jika yang dilakukan presiden hanya menyakiti rakyat, sangat diperbolehkan untuk rakyat memprotes" jelas Fatah.
"Jadi menurut mas, boleh istri menampar suami? Apa tindakan istri melempar gelas kaca ke suami tindakan baik?" Marah Hans. Kedua tangannya sudah terkepal dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Hans, seseorang marah pasti ada sebabnya. Seorang istri menjadi keterlaluan pada suami pasti ada salah satu sifat atau kelakuan suami yang dilewat batas"
"Oh jadi mas Fatah nuduh saya sekarang?"
Fatah menutup kedua matanya sejenak, menasihati seseorang yang sedang emosi memang sangat susah. Tapi bukan Fatah namanya jika putus asa.
"Mas tidak pernah menuduh mu. Bahkan mas tidak menyebut namamu. Oke, kita kembali ke contoh saja biar lebih enak. Agar kamu tidak merasa dituduh" goda Fatah. Hans mencibir kelakuan kakak iparnya itu, namun Hans tetap mendengarkan dengan seksama semua yang Fatah katakan.
"Apa kamu tahu Hans, sekarang seorang presiden membuat pasal-pasal perlindungan kepada rakyat yang bisanya hanya mencaci maki, atau menyindir dia?"
"Iya aku tahu" angguk Hans. "Itu presidennya saja yang berlebihan menanggapi semua itu. Menurut saya itu bukan caci maki atau menjelekkan nama baik presiden. Tapi lebih kepada luapan perasaan seorang rakyat kepada pemimpinnya"
"Yup, benar sekali" jawab Fatah cepat. "Mengapa rakyat seperti itu kepada presidennya?" Tanya Fatah sekali lagi.
"Karena... mereka merasa tidak sesuai dengan semua keputusan presiden"
"Benar.. benar.. lebih tepatnya itu semua adalah luapan kekecewaan rakyat kepada pemimpinnya" senyum Fatah membuat Hans jengah.
"Mas senyum-senyum gak haus?" Cibir Hans.
"Mas hanya sedang beribadah" jawab Fatah santai. "Tadi katamu, presiden itu berlebihan menanggapi keluh kesah rakyatnya. Tapi mengapa kamu juga berlaku seperti presiden pada istrimu sendiri?" Pertanyaan Fatah tepat mengenai sasaran. Hans sama sekali tak menyangka jika cerita tentang presiden oleh Fatah masih berhubungan dengan kisahnya.
"Mas yakin, adikku Umi seperti itu hanya luapan kekecewaan dalam hatinya. Jujur saja mas gak percaya Umi melakukan itu dengan seenaknya. Bukannya mas membelanya. Tapi mas sudah hidup bersamanya 26 tahun lebih. Apa kamu masih meragukan mas?"
"Mas boleh 26th hidup bersama Umi. Tapi saat ini akulah suaminya. Jika memang aku yang salah, harus Umi berlaku seperti itu?" Keluh Hans.
"Ajarkan dia yang menurut mu baik untuk kehidupan rumah tangga kalian. Ingatkan dia jika dia salah. Karena kamu saat ini imam dalam hidupnya. Sesuai dengan salah satu sabda Rasulullah, "Seandainya aku (dibolehkan) memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada seseorang pastilah aku perintahkan para istri untuk bersujud kepada para suaminya dikarenakan hak yang diberikan Allah kepada para suami itu terhadap para istrinya." (Tafsir al Qur'an al Azhim juz II hal 294). Contohkan hal baik padanya, dia pasti dengan sendirinya akan menunduk padamu"
Melihat Hans yang tertunduk lesu, Fatah bangkit dari kursinya. Sebelum pergi dari hadapan Hans, Fatah mengucapkan sebuah kalimat yang menusuk hati.
"Kebahagian bukan diciptakan, tapi harus diperjuangkan dengan usaha keras dan ikhlas. karena bahagia itu mahal, apalagi bahagia bersama orang yang dicintai" senyum Fatah bahagia.
Hans yang ditinggal sendiri oleh Fatah semakin terpuruk. Hati dan egonya saling berperang. Satu sisinya dia mau meminta maaf kepada Umi, karena semua itu salahnya. Tapi disisi lain dia juga tidak mau diinjak-injak begitu saja oleh Umi.
"Arrrggghhh..." Hans menggeram kesal. Perang yang sangat sulit menurut Hans, bukan perang antara negara seperti perang dunia. Bukan pula perang antara saudara yang gencar-gencar akan terjadi diakhir zaman. Tapi yang lebih menakutkan lagi adalah perang melawan hawa napsu. Hawa napsu yang sulit di kendalikan terlampau sering mempengaruhi alam bawah sadar kita. Karena itu lah yang Hans rasakan setelah Lara meninggal. Berdasarkan hawa napsu, Hans menjadi terikat dengan orang itu.
Lewat tengah malam, Hans berniat keluar dari rumah. Namun sebelumnya ada rasa ingin tahu, apa Umi tidur dengan nyenyak malam ini atau tidak.
Ketika pintu terbuka, punggung Umi lah yang terlihat dari arah pintu. Napasnya yang begitu teratur menandakan dia sudah tidur. Dengan perlahan Hans mendekat pada Umi, ditariknya selimut untuk menutupi tubuh kurus yang sedang meringkuk seperti seorang bayi. "Hans..." lirih Umi.
Ternyata Hans salah, Umi belum tidur. Dia masih terjaga menunggu Hans kembali kekamar.
"Maafkan aku..." ucapnya bagaikan angin yang berhembus.
Dengan segenap upaya, akhirnya Hans mengalahkan egonya. Dibaringkan tubuhnya percis disebelah Umi. Sebelah tangannya menyelinap dibawah kepala Umi. Sedangkan yang sebelah lagi memeluk Umi dengan hangat.
"Maaf.. maafkan aku.." isak Umi dalam pelukan Hans.
"Hus... sudah lah, besok saja kita bahasnya. Kamu harus istirahat." Jelas Hans.
"Tapi.." Umi benar-benar sudah merasa bersalah, karena sudah menuduh Hans dengan bukti yang tidak lengkap. Dia menyesali semua yang dia lakukan.
"Diamlah. Jangan ribut. Aku ingin istirahat mi.." keluh Hans. Hans mencium kening Umi dengan sayang. Lalu berusaha memejamkan matanya. Hembusan napas Hans yang teratur tepat mengenai leher putih Umi.
Kasih..
Kata-kata yang kau ucap begitu indah..
Dalam sekejap aku terlena akan semuanya..
Mengikat menjerat erat logikaku yang sedang lemah..
Menceburkanku dalam lautan kebuntuan yang penuh pasrah..
Kasih ku..
Kau mencekik semangat hidupku agar menyerah..
Disaat ku sedang bimbang tuk tentukan arah..
Kau buaikan angan-anganku dengan impian kosongmu..
Dengan sepenuh hati kau yakinkan aku..
Kini, telah terkuak sudah semua omong kosong dari mulutmu..
Semua yang kau janjikan tak kunjung jua kau lakukan untukku..
Semua janjimu hanyalah kepalsuan besar yang menipu..
Semua cinta yang kau ucapkan tak pernah terbuktikan..
Hanya berisi bualan-bualan gombal tanpa perlakuan..
Busuknya hatimu kau tutupi dengan topeng indah penuh kepalsuan..
Yang tersamarkan indah wajahmu yang rupawan..
Kekasih halal ku..
Apa seperti ini rasa cinta yang ingin kau ajarkan padaku?
Penuh kebohongan dan kemunafik kan..
Masih kah aku mampu berdiri dibawah payung kebohongan mu..
Menggenggam harapan yang tak pernah ada..
Biarlah waktu yang akan menjawab ku..
Wahai cinta ku kasih..
-----
continue