Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, wajah Umi sudah berubah gelisah. Bagaimana bisa Hans belum juga menghubunginya? Apa dia lupa jika Umi tidak membawa motornya sendiri. Umi mencibir dalam hati, baru satu hari dia dan Hans menikah tapi lihatlah kelakuan Hans. Pria itu seperti lupa akan tanggung jawabnya terhadap istrinya.
"Dasar pria tidak ada gunanya" gerutu Umi.
Dengan jari-jarinya Umi menghubungi rumahnya. Jika pak Kardi berada dirumah, Umi meminta agar dijemput sekarang juga. Tapi memang nasib tidak berpihak pada Umi, supir yang biasanya mengantarkan Sabrin kemana pun sedang tidak berada dirumah.
"Mi, belum pulang?" Tegur salah satu atasannya.
"Belum pak"
"Gak bawa motor memangnya? Mau bareng saya?" matanya mengerling genit kepada Umi. Umi hanya bisa menggelengkan kepalanya. Pria yang sudah hampir sama umurnya dengan papa masih saja berbuat tidak sopan kepada wanita. Apa lelaki didunia ini sudah tidak bisa menjaga kesopanannya didepan wanita? Bahkan Umi heran, apa benar Indonesia negara yang masih menjujung adat ketimuran? Tapi lihatlah kelakuan pria-pria macam begini. Kenapa tidak dimusnahkan saja dari muka bUmi ini.
"Gimana mi?"
Sebuah panggilan dari ponselnya dapat menyelamatkan Umi kali ini dari bos mata keranjangnya. Dilayar tertulis nama Hans dengan foto wajah Hans yang baru bangun tidur terpampang dengan jelas.
"Maaf pak, suami saya telepon" ijin Umi untuk mengangkat teleponnya.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam.. mi, aku masih terkena macet dijalan"
"Terus?" Potong Umi cepat.
"Tunggu abang datang sayang. Jangan ngambek dong. Kamu kayak gak tau jakarta kayak apa aja" terdengar suara cekikikan Hans dari seberang ponselnya.
"Cepat. Gak pakai lama" ketus Umi.
"Siap princes"
Umi tersentak kaget melihat wajah bos nya masih berduduk didepan mejanya.
'Benar-benar pria gila' rutuk Umi dalam hati.
"Jadi dijemput suami mu nih?"
Jika diijinkan rasanya Umi ingin sekali menampar tipe pria seperti ini. Untung saja Hans bukan termasuk kategori p****************g. Karena yang Umi tahu selama mengenal Hans, dia adalah tipe laki-laki yang setia dengan komitmennya. Waktu Hans berpacaran dengan Lara, jarang sekali terdapat gosip tidak enak dari mereka. Untuk itulah Umi percaya menyerahkan sisa hidupnya untuk menjalaninya bersama Hans.
"Menurut bapak bagaimana? Apa saya kelihatan ingin dijemput dengan om-om" ketus Umi. Bosnya hanya bisa mencibir perkataan Umi. Wanita seperti Umi selalu menjual harga mahal kepada pria yang tidak disukanya, namun jika wanita seperti ini bertemu dengan pria yang dicintainya bisa dipastikan mereka yang mengemis-ngemis untuk tetap dipertahankan bersama pria itu.
*****
Hans yang baru saja mematikan panggilan teleponnya tersenyum kecut kearah pantulan dirinya didepan cermin besar. Rambutnya sangat acak-acakan. Pakaiannya sudah entah ada dimana, sedangkan kain penutup tubuhnya hanya menyisakan boxer hitam. Tangan Hans menyentuh bagian dadanya yang memerah akibat ulah dari orang itu.
Hari ini memang Hans sedang bersama dia. Menyalurkan segenap hasrat terlarangnya pada orang itu. Bagi Hans, dia adalah malaikat sekaligus iblis dalam satu tubuh. Bayangkan saja, dia bagaikan malaikat yang mampu membawa Hans dari keterpurukan ditinggal mati oleh Lara. Tapi disisi lain, dia juga memberikan neraka kepada Hans layaknya seorang iblis. Jika Hans mengingat bagaimana mereka bisa bertemu rasanya hanya menyungkil luka lama yang telah mengering.
"Dia bodoh, dan aku lebih bodoh" gumam Hans.
Dengan saleb lebam, Hans mengoles bagian tubuhnya yang terdapat bercak-bercak merah. Dia harus buru-buru datang kekantor Umi jika tidak ingin Umi kecewa.
Setelah memakai pakaiannya kembali, Hans pamit pada seseorang yang masih terlelap tidur. Punggung putih orang itu hanya tertutup setengah dengan bedcover.
"I have to go now, see you soon" Hans mencium kepala orang itu yang bergumam tak jelas kepada Hans. "Tenang saja, nanti kartu mu yang ku blockir kemarin akan ku buka kembali" jelas Hans yang seperti paham apa yang dibicarakan.
Dengan kecepatan penuh, Hans memacu mobilnya menuju kantor Umi. Walau sudah terburu-buru, tetap saja memakan waktu lama untuk sampai disana.
Ketika kaki Hans sudah menginjak lobi kantor Umi, dia melihat arloginya menunjukkan pukul 7 malam. Hans mendesah pasrah. Sudah bisa dipastikan Umi akan mengamuk padanya kali ini.
"Malam pak" sapa satpam. "Bapak cari siapa?"
"Saya cari istri saya, Umi"
"Bagian apa pak?"
Hans merutuki kebodohannya, dia sama sekali tidak tahu Umi berkerja sebagai apa dikantornya ini. "Saya tidak tahu pak dia bagian apa?"
"Lalu bagaimana saya membantu mengecek apa dia sudah pulang atau belum"
"Pakai nama saja pak, namanya Umi Marifah Al Kahfi" jelas Hans.
"HANS....." teriak Umi yang terlihat baru saja keluar dari lobby tunggu kantor. "Lama banget sih. Kemana aja kamu !!!" Ketus Umi.
"Maaf sayang, macet banget jakarta. Aku juga abis dari pabrikku" jelas Hans. Dirangkulnya tubuh Umi yang jauh lebih pendek darinya. "Ayolah jangan ngambek"
"Kali ini aku maafkan" ucap Umi. Bibirnya tersipu malu melihat wajah Hans yang berada begitu dekat dengannya.
Ketika Hans dan Umi sudah sama-sama berada didalam mobilnya, Hans memulai percakapannya dengan Umi. Sebenarnya sudah sejak lama ingin dia tanyakan langsung namun waktunya terasa tidak tepat.
"Mi, kamu cinta gak sama abang?" Tanya Hans tepat sasaran. Umi yang sedang menikmati alunan lagu dari Judika yang keluar dari radio mobil Hans tiba-tiba saja menatap pria yang sudah menjadi suaminya itu.
"Kamu denger gak? Kamu cinta gak sama abang?" Tangan kiri Hans menggenggam tangan kanan Umi yang berada diatas paha nya. Walau hanya sekilas, Hans bisa melihat sorot mata takut dari Umi.
Alunan dari lirik lagu yang dinyanyikan oleh Judika menjadinya backsound hal romantisnya malam ini dengan Hans.
Selama nafasku masih berdesah..
Dan jantung ku terus memanggil indah namamu..
Takkan pernah hati ini mendua..
Sampai akhir hidup ini...
"Kamu kenapa sayang?"
Umi terus menyelami setiap bait yang dapat didengarnya. Mengapa dari setiap lirik yang dinyanyikan oleh Judika bagaikan jawaban dari hubungan dirinya dan Hans.
"Kenapa abang tanya Umi cinta gak sama abang?" Dari suara serak Umi tidak menutup kemungkinan dia sedang menahan tangisannya.
"Loh, itu kan pertanyaan wajar sayang. Aku suami mu, salah aku bertanya kamu mencintaiku atau tidak"
"Aku mencintai Allah, maka aku bisa mencintai mu dengan tulus. Buat dirimu juga lebih mencintai Allah bang. Baru aku yakin abang bisa berbicara cinta padaku"
Hans hanya mencibir penjelasan dari Umi yang terus saja menyindirnya akan agama. Hans memang bukan pria muslim yang seperti Fatah kakak iparnya, tapi Hans juga bukan hanya mengaku muslim pada kartu tanda penduduknya saja.
"Honey, you believe when we repair our relationship with Allah, Allah will repair everything else for us?"
"I believe Allah never sleep, Allah always knows what i'm doing"
"Good girl" tangan kiri Hans dengan seenaknya sudah mencubit pipi Umi dengan gemas. "Kalau aku boleh tahu sejak kapan kamu mencintai ku?"
"Kenapa sih abang bicara cinta terus?" Kesal Umi. Dia terlihat risih jika berbicara masalah cinta dengan Hans. Sama saja dia membuka luka lamanya kembali.
"Ayolah mi, aku ini suami mu. Masa kamu..."
"Sejak kita sama-sama dihukum waktu itu" potong Umi. Kedua alis Hans saling bertautan, dia bahkan lupa memangnya dia pernah di hukum bersama Umi?
"Kapan?"
Umi tertawa sangat miris kepada dirinya sendiri. Hans pria yang memang sejak dulu dicintainya, sudah lupa akan pertemuan pertama mereka.
"Gak penting"
"Ya Allah mi, abang kan tanya baik-baik" bujuk Hans. Dia ingin mengulang masa-masa lalunya bersama Umi yang pernah terlupa olehnya. "Ah, aku tahu. Karena abang ganteng kan kamu jadi suka aku" ucap Hans dengan sangat percaya diri.
Dengan cepat tangan Umi sudah mencubit perut Hans dengan kesal. Bisa-bisanya Hans mengatakan hal tidak penting seperti itu dengan percaya diri. "Awww.. sakit mi" teriak Hans.
"Abang tahu gak, mencintai seseorang karena fisik tidak akan selamanya bahagia. Pernah dengar cerita tentang Abdurrahman bin Abi Bakar yang jatuh cinta pada seorang wanita. Tak bisa di pungkuri beliau, wanita yang dia lihat saat perjalanan berniaga memang begitu menarik hati. Bentuk tubuhnya yang bagus, wajahnya yang indah nan rupawan, bibirnya yang semerah delima, alisnya yang hitam bak semut yang beriringan, hidungnya yang mungil tapi begitu tinggi. Bahkan Abdurrahman bin Abi Bakar menyangka bahwa wanita itu adalah bidadari" cerita Umi.
"Lalu? Jangan-jangan Abdurrahman bin Abi Bakar salah lihat kali" ucap Hans.
"Tidak bang, wanita itu memang benar ada, namanya Laila bintu Al Judi. Tepatnya saat Umar bin khattab berperang membawa pasukannya ke negeri syam, laila menjadi b***k perang Umar bin khattab. Lalu beliau menyerahkan Laila pada Abdurrahman bin Abi Bakar. Setelah mereka menikah, Abdurrahman bin Abi Bakar sampai lupa akan semua istri terdahulunya. Karena kecantikan laila Abdurrahman bin Abi Bakar mengabaikan semua istrinya"
"Masalahnya dimana?" Tanya Hans tidak sabaran.
"Karena perlakuan Abdurrahman bin Abi Bakar yang tidak bisa adil, Allah membuat laila jatuh sakit. Bibir yang tadinya begitu indah berubah menjadi besar dan membengkak. Paras wajahnya pun tak cantik lagi. Karena merasa tidak membutuhkan laila lagi, Abdurrahman bin Abi Bakar mengembalikan laila kerumah orang tuanya. Abdurrahman bin Abi Bakar pun ditegur Aisyah karena sudah bersikap tidak adil dan hanya mempermainkan perasaan wanita. Sejak saat itu, Abdurrahman bin Abi Bakar taubat atas semua kesalahan yang dia ambil" seulas senyum terpatri dibibir Umi ketika dia menyelesaikan ceritanya. Ditatapnya wajah Hans yang juga tersenyum padanya. Keadaan jalanan ibukota yang padat membuat mereka bisa saling menatap satu sama lain.
"Satu kesimpulan yang abang bisa ambil, jangan percaya akan rumput tetangga yang lebih bagus. Belum tentu itu rumput asli, bisa saja rumput sintetis" jelas Hans. Umi tertawa sambil memegang perutnya, memang sosok Hans seperti inilah yang dia suka sejak dulu.
"Bukan begitu bang, cinta yang tumbuh karena iman, amal sholeh, dan akhlak yang mulia, akan senantiasa bersemi. Tidak akan lekang karena sinar matahari, dan tidak pula luntur karena hujan, dan tidak akan putus walaupun ajal telah menjemput. Bandingkan jika cinta hanya sebuah napsu, saat hasrat tersalurkan maka tidak ada cinta lagi disana. Yang ada hanya kepuasan sesaat"
"Kamu ngomongin napsu, emang udah siap?" Goda Hans.
"Kapan pun untuk suami ku, aku siap" tegas Umi.
"Abang juga siap sayang, mau dari depan, belakang, atau samping" godanya lagi.
"HANS...!!!" Maki Umi.
"Apa sih? Aku tanya masuk kedalam komplek rumah kamu mau lewat jalan depan, belakang apa samping. Pikiran mu itu yang perlu dicuci" cibir Hans. Keduanya nampak terus diam sampai mobil Hans sudah terparkir disebelah fortuner putih milik Fatah.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam. Malem banget kamu nduk?"
"Iya ma, tuh supirnya kena macet" tunjuk Umi pada Hans yang sedang membuka sepatunya"
"Ya sudah istirahat sana"
"Mi..." panggil Hans yang sudah merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
"Apa?"
"Satu pertanyaan lagi yang mau ku tanyakan padamu" Umi mempersempit jarak antar mereka berdua.
"Apa cinta bisa mengalahkan benci?"
"Cinta dan benci itu bagaikan 2 kutub magnet yang berbeda. Semakin kuat cinta dalam hidup mu, semakin kuat juga rasa benci yang kamu rasakan. Cinta dan benci tidak bisa saling mengalahkan. Karena cinta itu saat otak yang memerintah hati untuk merasakan kelembutan. Sedangkan benci itu saat hati yang mengantarkan perasaan sakit kepada otak untuk membencinya"
"Wow.. anak psikolog emang enak diajak diskusi ya " cengir Hans.
"Aku disini bukan menempatkan posisi ku sebagai seorang master of psicology, tapi aku disini sebagai seorang istri yang ditanya oleh suaminya"
"Walau nanti kamu membenci ku, aku akan tetap mencintai mu. Karena cinta itu sudah seperti oksigen bagi manusia. Khususnya aku" Umi menatap aneh wajah Hans. Insting wanita sebagai seorang istri terasa ada yang janggal. Entah karena pengucapan Hans barusan atau ada hal lain yang Umi tidak tahu.
"Lalu kamu, sejak kapan kamu mencintai ku?"
"Sejak wajahmu bisa menghilangkan marah ku, saat senyuman mu bisa menghilangkan rasa lelahku. Dan sejak saat kamu membacakan puisi cinta didepan acara MABA pada waktu itu" Semburat merah terlihat jelas dipipi putih Umi. Karena sudah gemas dengan wajah istrinya malu-malu, Hans menarik Umi terjatuh diatas tubuhnya. Digulingkannya tubuh Umi lalu memeluknya erat.
"Pangeran hidupku..
Jika engkau mengharapkan harta menggunung tinggi, aku pasti akan mengecewakanmu..
Jika engkau mengharapkan wajah secantik puteri, aku pasti akan mengecewakanmu..
Jika engkau mengharapkan teman yang setia di sisi, aku pasti akan mengecewakanmu..
Wahai pangeran ku..
Adakah secercah harapan yang kau titipkan untukku..
Adakah sekeping hati yang bisa aku singgahi..
Adakah segenggam mimpi yang bisa kau simpan untukku..
Wahai pangeran ku..
Engkau terlalu indah untuk disakiti..
Engkau terlalu berharga untuk dipermainkan..
Engkau terlalu sempurna untuk dicampakkan..
Wahai pangeran ku..
Jadilah engkau seperti mutiara dilautan..
Yang selalu bersinar..
Memancarkan cahayanya yang berkilauan..
Walau engkau berada dalam lumpur yang paling dalam..
Bias mu tetap terus terlihat..
Semoga engkau pangeran ku dapat langsung bisa menemui ku, si penjaga hatimu.."
Umi yang terkurung didalam pelukan Hans hanya bisa menutup mulutnya. Dia begitu haru pada Hans yang masih saja hapal dengan puisinya waktu itu. Rasanya begitu seperti mimpi ketika Hans mengucapkannya.
"Kenapa diam? Ada bait yang salah?" Tubuh mungil Umi diputar balik oleh Hans. Pada posisi seperti inilah baru Hans tahu Umi tengah menangis. "Jangan menangis sayang, aku hanya ingin mengulang masa lalu kita" jelas Hans.
"Aku.. aku.." Dengan lembut Hans mengusap air mata Umi. Diciumnya kening Umi dengan sayang, "Sudah berapa kali ku buat kau bersedih, sudah berapa kali pula ku buat kau menangis, sudah berapa kali hatimu ku gores, sudah berapa kali semua nasihatmu ku tepis, sudah berapa kali teguranmu ku pandang sepi, dan sudah berapa kali tingkahku memberi luka. Lantas masih sanggupkah aku mengungkapkan cinta? Dapatkah kamu percaya, hanya kamu perempuan terakhir ku." Ucap Hans.
"Jangan gombal deh" gerutu Umi.
"Aku bukan menggombal, hanya me..."
"Sudahlah, aku capek mendengar alasan mu!!" Ketus Umi. Ketika Umi sudah bangkit dari ranjang, dia menegang saat mendengar Hans mengucapkan sesuatu. "Di gombal tidak suka, dibenci tidak suka. Dasar wanita" Lebih baik pria dari pada wanita... sambung Hans dalam hati.
"APA !!" marah Umi. Ditariknya tubuh Hans mendekat kearahnya. Kancing kemeja yang Hans pakai sudah terlepas semua karena perlakuan Umi pada Hans.
"Abang menyebalkan"
Kedua tangan Umi memukul-mukul d**a Hans dengan kuat. Saat kedua matanya tepat melihat kearah d**a Hans, ada banyak bercak merah didadanya itu.
"Abang.."
Plaakk..
Bunyi tamparan kuat begitu menggema dikeheningan malam. Tak ada suara yang mengikuti bunyi tamparan itu. Hanya suara deru napas yang menggebu seolah mengikutinya.
Detik terus berlalu, namun dari sepasang suami istri ini masih diam. Tatapan mata tajam sang wanita yang tak henti-henti terarahkan pada bidang d**a sang suami. Bagai ribuan pisau yang menikam tepat dijantung hingga tidak ada rasa sakit yang terasa. Bahkan pria ini ragu apa rasa sakit akan dia rasakan walau wanita itu membunuhnya saat ini juga.
"Ceraikan aku bang..." lirih sang wanita.
"Tidak akan. Tolong maafkan abang... "
"Abang apa? Abang khilaf gitu? Hingga seperti ini? Iya??" Bentaknya.
Dengan jari-jari telunjuknya didorongnya bidang d**a Hans didepannya yang terdapat banyak tanda merah. "Sungguh abang pintar menyembunyikan ini semua dari ku !!! Perempuan mana yang sudah abang tiduri?"
Dipegangnya erat tangan wanita itu, lalu ditatapnya tajam kedua matanya.
"Jangan asal memfitnah ku !!!"
Hans mendorong tubuh Umi hingga jatuh kelantai. Perlakuan Hans yang tidak pantas kepada Umi membuat Umi merasa jijik pada Hans. Pria yang tadinya dirinya pikir berbeda dengan pria lainnya ternyata sama saja.
"Jangan asal bicara jika kamu tidak tahu yang sebenarnya"
“AKU TIDAK TAHU APALAGI? SEMUA SUDAH JELAS. TANPA KAMU MENJELASKAN JUGA SUDAH TERLIHAT. KAMU MASIH BERKILAH DENGAN MERAH-MERAH DI d**a MU??” teriak Umi.
Umi berusaha bangkit, lalu meraih sebuah gelas diatas nakas ranjangnya. Dilemparkan dengan sekuat tenaga gelas itu yang hampir saja mengenai kepala Hans.
“KAU !!!!!” tunjuk Hans kedepan wajah Umi. “AKU SALAH MENIKAHI PEREMPUAN !!!”
Hans keluar membanting pintu kamarnya. Saat pintu itu tertutup terdengar bunyi dentuman yang sangat kencang. Hati Umi begitu sakit bukan karena kepergian Hans, tapi sakit atas semua kebodohan Hans.
"Aku membenci mu Hans" lirih Umi. “kau… kau membuat ku merasakan sakit itu lagi” isaknya tertahan, namun air matanya terus mengalir membasahi pipi Umi.
Sejak saat ini, Umi berjanji akan menghapus nama Hans dari ingatannya. Cukup sudah dia dibohongi oleh laki-laki. Karena pengalaman seperti ini bukan pertama kali untuk Umi. Karena itu, Umi berharap tidak akan ada angka 3 hingga seterusnya untuk rasa bencinya akan seseorang.
Cinta dan Benci. Suka dan tidak suka. Positif dan negatif. Semuanya bertolak belakang, tetapi ternyata semua saling berhubungan, hampir tak ada tembok pembatas. Tetapi saat cinta dan benci menyerang secara bersamaan, pilihan yang paling tepat adalah menghindar.
----
continue