5. SALING MENGERTI
Apapun akan terasa indah jika dikerjakan bersama orang yang dicintai _Umi
Malam pertama dimana Umi dan Hans sudah resmi menjadi suami istri. Keduanya nampak salah tingkah akan apa yang harus mereka lakukan. Bahkan Umi nampak ragu hanya untuk sekedar melepas hijab yang melekat dikepalanya.
"Aku mandi dulu ya" ucap Hans basa basi. Dia menggaruk kepalanya sekilas sambil menatap pantulan wajah Umi dari cermin meja rias kamar mereka. Umi tak bersuara sedikit pun, yang dia lakukan hanya mengangguk pada Hans.
Ketika tubuh Hans sudah masuk kedalam kamar mandi, Umi memegang dadanya yang berdegup sangat kencang. Jika diibaratkan, dia terasa sehabis lari maraton dari Jakarta hingga Anyer. Sungguh sangat jauh bukan. Tangan Umi baru saja berniat melepas jarum pentul yang melekat dihijab nya. Namun suara ketukan pintu kamar terdengar. Dari ketukannya yang tidak sabaran, dia tahu pasti ini mamanya.
"Sebentar ma..." Umi membuka kunci pintu kamarnya. Dan melihat sang mama sudah berdiri tegap sambil membawakan minuman yang entah apa. Dari bentuknya dan baunya sudah pasti Umi tidak menyukainya. "Itu apaan ma?" Umi melihat jijik pada gelas minuman yang mama nya bawa.
"Buat suami mu" ucap mama yang sudah dengan enaknya masuk kedalam kamar Umi. Diletakkannya minuman itu diatas nakas kamar Umi. Kedua tangan Umi melipat didada ketika dia menangkap mata mamanya yang sudah menjelajah kamarnya. Umi tidak tahu apa yang mamanya cari malam-malam begini dikamarnya.
"Mama cari apaan sih?"
"Suami mu mana toh nduk?"
"Tuh Hans lagi mandi" jawab Umi santai. Dia kembali duduk dikursi meja rias. Tangannya meraih ponselnya lalu membalas beberapa pesan dari sahabat yang mengucapkan selamat padanya.
Saat Umi sadar, ternyata mama belum juga beranjak dari kamarnya. "Mama kok masih disini?"
"Dasar kamu itu nduk. Mentang-mentang udah nikah mama diusir dari kamar. Biasanya minta ditemenin tidur" cibir mama.
"Ih, mama sok tau. Umi capek ma. Pengen istirahat" keluh Umi. Memang sejak pagi dia sama sekali tidak istirahat. Setelah acara ijab kobul yang membuatnya tegang setengah mati, siangnya dia kaget melihat teman-teman kampus dia dan Hans yang pada datang untuk mengucapkan selamat. Padahal acara resepsi mereka masih sebulan lagi.
"Mama.." ucap Hans kaget. Dia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk kecil yang melilit pinggangnya. Sedangkan sebelah tangannya juga sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Waduh mama ganggu nih kayaknya" ucap mama dengan tersenyum penuh arti. "Oh iya Hans, mama buatin kamu minuman. Itu mama taruh dimeja. Kamu minum ya. Biar gak sakit kamu" jelas mama.
"Minuman?" Hans menatap Umi meminta penjelasan. Namun Umi hanya mengerdikan bahunya tanda bahwa dia tidak tahu maksud minuman yang mama bicarakan.
"Sudah pokoknya kamu minum" cecar mama sebelum keluar dari kamar.
Hans mendekati Umi yang masih sibuk dengan ponselnya. Tak bisa Umi pungkiri, wangi aftersave yang begitu menusuk indera penciumannya. Ditambah wangi cologne yang digunakan Hans benar-benar membuat Umi menjerit. Apa dia bisa menahan diri jika terus seperti ini.
"Ngapain?" Tubuh Hans sudah menempel pada punggung Umi. Tangan Umi yang tadinya sibuk mengetik balasan untuk temannya tiba-tiba saja kaku. "Dari siapa?"
"Hm.. itu.. teman kampus" mendengar ucapan Umi yang terbata, Hans menatap heran kearah Umi.
"Temen kampus? Siapa? Aku kenal?" Cecar Hans.
"Ih, kepo banget" sungut Umi kesal. Dia melempar dengan kasar ponselnya diatas meja. Lalu bergerak menuju kamar mandi. Hans yang melihat tingkah aneh Umi hanya bisa mengerutkan keningnya. "Aneh.." gumam Hans
Umi keluar dari kamar mandi setelah hampir satu jam lamanya. Dia memang sengaja berlama-lama dikamar mandi untuk menghindari Hans. Tetapi saat dia keluar, hanya wangi tubuh Hans yang masih melekat diudara kamar. Entah kemana perginya pria itu. Umi berusaha tidak memperdulikan.
Ketika Umi mengucap salam diakhir sholat isya nya, Hans masuk dengan senyum merekah dibibirnya. "Udah sholatnya?" Tanya Hans.
"Kamu liatnya gimana?" Walau terdengar ketus, tapi Umi tetap mencium punggung tangan Hans sehabisnya sholat.
"Gitu aja galak banget kamu" goda Hans. Dia tahu Umi tengah memperhatikannya yang dengan santai membuka kaos putihnya. Lalu Hans tak banyak bicara, dia telah membaringkan tubuhnya diranjang.
"Hans, kamu tidur..." ucap Umi terpotong begitu saja. Dia enggan berbicara mengenai penampilan Hans saat tidur. Bayangkan saja Hans hanya memakai celana pendek hitam yang sangat pendek dan tanpa baju. Tubuh putih Hans sungguh membuat Umi hilang akal.
"Memangnya mau apalagi?" Tanya Hans. Walau matanya telah terpejam tetapi Hans tahu Umi terus menatap kearahnya.
"Ya udah tidur sana" ketus Umi.
Hans membenarkan posisinya diatas ranjang, mencari tempat ternyaman agar dia bisa langsung terlelap dalam mimpi indah.
Suara dengkuran halus membuat Umi tak percaya melihat Hans yang sudah tertidur pulas. Walau wajah tampan Hans sudah menghipnotis banyak kaum hawa, namun itu tidak berlaku bagi Umi. Apalagi Umi tahu benar keburukan Hans, selain makannya banyak Hans juga tukang tidur.
"Kebo dasar" dilemparkannya sarung milik Hans tepat mengenai wajah Hans yang tengah tertidur. "Mantap, tepat sasaran" bangga Umi. Hans mengerang didalam tidurnya, sebelah tangannya meraih sarung itu lalu dililitkan ketubuhnya.
"Ya ampun, gak bangun juga. Bisa gila aku nikah sama pria satu ini" keluh Umi.
Umi yang merasa belum mengantuk lebih memilih keluar kamarnya. Mungkin menonton acara televisi sejenak bisa membuatnya mengantuk. Atau mungkin memakan camilan sebelum tidur bukan hal buruk baginya.
"Kamu ngapain mi?" Fatah nampak kaget melihat Umi yang berjalan mendekat kearahnya.
"Gak bisa tidur mas, belum ngantuk"
"Terus Hans?" Awalnya Fatah berpikir buruk diantara Umi dan Hans terjadi keributan di malam pernikahan mereka. Dia tidak ingin pernikahan Umi seperti pernikahan dia dan Sabrin diawal.
"Ya udah tidur mas..." ucap Umi malas. "Kok kamu gak temani dia?" Fatah menyipitkan sebelah matanya. "Gak boleh loh ninggalin suami tidur sendirian"
"Ya Allah mas, dia tuh udah pules banget tidurnya. Dan aku belum ngantuk. Masa aku ikutan tidur juga" keluh Umi.
"Astagfirullah al'adzim mi, kamu jangan ngomong begitu. Hans begitu karena dia lelah, harusnya kamu bertanya padanya dengan baik-baik. Bantu dia menghilangkan lelahnya. Bukan ditinggal seperti ini" ucap Fatah. Kedua matanya mengunci tatapan Umi padanya.
"Terus aku harus gimana mas? Bangunin dia gitu?"
"Buat hati mu ikhlas untuk melayani semua kebutuhan suami mu. Rangkul dia dalam pelukanmu ketika dia lelah. Biarkan hangatnya pelukan mu menjalar keseluruh tubuhnya, niscaya semua lelahnya akan hilang. Semua rasa kesalnya akan lenyap. Jangan remehkan pelukan hangat dari seorang istri. Bagi suami, senyuman istri adalah segalanya. Kasih sayang istri adalah obat mujarab penghilang segala beban yang menempel dipundak kami. Celotehan istri adalah bagaikan nyanyian surga yang kami nantikan"
"Itu kan menurut mas, tapi menurut Hans beda..." lirih Umi. "Dimasa lalunya dia ada wanita yang dia cintai.. sedangkan Umi hanya perempuan baru yang terikat janji suci dengannya" kedua tangan Umi saling bertautan. Dia berusaha keras agar tidak menangis pilu didepan Fatah.
"Dengerin mas, kamu itu udah kalah sebelum berjuang. Perempuan itu hanya masa lalu bagi Hans. Lagi juga setahu mas, perempuan itu udah..."
"Meninggal mas..." potong Umi.
"Nah itu kamu tahu, lantas apa lagi?" Umi menggerakkan kedua bahu nya, dia juga tidak tahu mengapa dia belum bisa percaya dengan Hans. Fatah mengusap kepala Umi yang tidak tertutup hijab. Rasanya baru kemarin ini dia menggendong Umi dalam pelukan, sekarang Umi sudah besar. Apalagi statusnya sudah berubah menjadi istri orang. Ada rasa bangga bisa menjadi sosok kakak yang begitu disayangi adik satu-satunya itu.
"Mas tanya sama kamu, apa yang menyulitkanmu jika kamu menemui suamimu ketika dia masuk ke rumahmu dengan wajah yang cerah sambil tersenyum manis?" Umi menggelengkan kepalanya.
"Beratkah bagimu untuk menghilangkan debu di wajah, kepala, dan pakaian suamimu kemudian engkau menciumnya?" Sekali lagi Umi menggelengkan kepalanya.
"Jadi mas mau berhiaslah untuk suamimu dan raihlah pahala di sisi Allah Ta'ala. Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan, gunakanlah wangi-wangian! Bercelaklah! Berpakaianlah dengan busana terindah yang kau miliki untuk menyambut kedatangan suamimu. Ingat, janganlah sekali-kali engkau bermuka muram dan cemberut di hadapannya!" Jelas Fatah.
Ketika Umi ingin mengeluarkan pendapat, Fatah menekan telunjuknya di bibir Umi. "Mas belum selesai mi"
"Jagalah lisan mu didepan laki-laki yang bukan mahram sehingga terfitnahlah orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit, sehingga ia berprasangka buruk kepadamu. Jadilah seorang istri yang memiliki sifat lapang d**a, tenang, dan selalu ingat kepada Allah di dalam segala keadaan. Ringankanlah segala beban suami, baik berupa musibah, luka, dan kesedihan. "Jelas Fatah.
"Mas, Umi itu istri bukan pembantu. Segala-galanya Umi yang lakuin. Hilangin beban lah, ini lah, itu lah" kesal Umi.
"Umi adikku, seorang istri itu bagaikan superhero untuk suaminya. Bukan karena istri bisa melawan kejahatan. Tapi istri itu mampu melakukan segala hal yang tidak mampu dilakukan suami. Istri bisa jadi manager keuangan, istri bisa menjadi chef handal, istri bisa menjadi seorang psikolog..."
"Terus suami apa tugasnya?" Potong Umi cepat.
"Tugas suami jelas mencari nafkah. Membahagiakan istri dan anak. Mendidik istri dan anak agar selalu dijalan Allah"
"Enak dong, dikit yang dilakuin. Kenapa Umi dilahirin jadi perempuan, bukan laki-laki"
"Gak boleh ngomong gitu mi. Kamu kan tahu, surga dibawah telapak kaki ibu. Menurut mu tugas suami dikit? Tapi lihat tanggung jawabnya. Jika istrinya berjalan di jalan yang tidak benar, maka bukan istrilah yang di hukum oleh Allah, tapi suami. Suami yang akan terlebih dulu disiksa diakhirat. Innalillahi.. jangan sampai suami mu merasakan itu mi, bantu dia. Jangan pernah lelah mengingatkan dia"
Umi menarik nafas sejenak, dia memikirkan semua yang Fatah ucapkan. "Iya mas, makasih nasihatnya" lirih Umi. Disandarkan kepalanya didada Fatah dengan nyaman. Pikirannya menerawang apa dia mampu menjadi istri yang baik untuk Hans kelak.
"Loh, ini ada acara apa?" Tanya sabri yang baru turun dari lantai atas.
"Biasa ada yang galau" goda Fatah.
"Ih mas apaan sih" Gerutu Umi. Umi melihat Sabrin yang sudah rapi dengan baju tidur berbahan sutra. Dia yakin, malam ini kakak iparnya itu ingin berduaan dengan kakaknya.
"Sudah sana, temani Hans" ucap Sabrin.
"Bilang aja mau berduaan sama mas Fatah" cibir Umi.
"Kamu kan juga bisa berduaan dengan Hans, sana bangunin dia"
"Biarin aja dia tidur mas, biar gak ribut" kesal Umi. Saat Umi sudah masuk kedalam kamar, dia masih melihat Hans dengan lelapnya tertidur. Umi menutup matanya sejenak mulai saat ini dia harus terbiasa dengan kehadiran Hans dalam hidupnya.
Lampu kamar dibiarkan padam oleh Umi, hanya lampu tidur saja yang menyala. Walau keadaan tak begitu jelas Umi masih mampu melihat bentuk wajah Hans dari dekat. Jari-jarinya terulur begitu saja mengusap rahang Hans yang bersih tanpa bulu. Tidak seperti Fatah atau mas imam.
"Kamu ngapain hm?" Gumam Hans sambil menangkap tangan Umi. Mata Hans yang tadinya terpejam seketika terbuka lebar. Jaraknya dengan Umi begitu dekat hingga Hans bisa mencium wangi shampo yang Umi pakai.
"Ke.. kenapa?" Tanya Umi terbata. "Aku gak boleh pegang" ketus Umi.
"Ya Allah mi, udah malem. Aku gak mau kita ribut" keluh Hans. Ditariknya tubuh Umi dalam dekapannya. Umi merutuki debaran jantungnya yang begitu kencang. Dia takut Hans bisa merasakan. Jika Hans sampai mendengar debaran jantungnya, bisa-bisa pria itu akan besar kepala karena menyangka Umi mencintainya.
"Tidurlah. Ritual malam pertama kita bisa ditunda" goda Hans.
"Hans..." tangan Umi dengan gampangnya mencubit perut Hans.
"Awwww.. sakit mi.."
"Lagian, nakal banget"
"Aku kan nakal sama istri ku sendiri" goda Hans kembali yang membuat kedua pipi Umi bersemu merah. Dia seakan lupa dengan status barunya menjadi istri Hans.
"Awas ya nakal sama yang lain. Aku pites kamu" Bukannya menjawab, Hans tertawa mendengar ancaman Umi. Apa Umi pikir dia adalah anak kecil.
"Iya bawel ku sayang" Hans mencium kening Umi sebelum tertidur sambil memeluk tubuh Umi dengan sayang. Baginya, kehidupan seperti ini yang dia dambakan sejak dulu. Namun takdir berkata lain, dia harus merasakan kehilangan terlebih dahulu baru bisa merasakan bahagia. Berarti Tuhan sudah sangat adil pada dirinya.
*****
Pagi harinya, Hans terlihat sudah sangat rapi dengan pakaian kerjanya. Begitu juga dengan Umi. Dia tengah sibuk dengan model hijab yang tengah dia pakai.
"Hans..."
"Iya sayang" jawab Hans yang sibuk dengan dasi dilehernya.
"Apa aku boleh berhenti bekerja?" Tanya Umi hati-hati.
"Kenapa tiba-tiba?" Umi mendekat kearah Hans. Dibantunya Hans yang sedang kesusahan menggunakan dasi. "Begini Hans, mama ku setelah menikah dia fokus menjadi ibu rumah tangga. Lalu kak Sabrin juga memang tidak diijinkan mas Fatah untuk bekerja sedikit pun. Apa aku boleh gak kerja?" Sambil bicara tadi tangan Umi sibuk memakaikan Hans dasi. Dia ragu Hans akan menyetujuinya atau tidak. Tapi keputusannya sudah bulat, dia ingin menjadi istri dan ibu yang baik kelak.
"Aku sih terserah kamu. Aku gak maksa kamu untuk kerja, aku juga gak maksa kamu dirumah" ucapnya.
"Kamu itu jangan ngomong terserah dong" kesal Umi.
"Lalu aku harus ngomong apa?" Mata Hans melihat Umi dengan tatapan bingung. Dia berusaha membaca pikiran Umi namun nihil. Tak ada satu pun pikiran Umi yang dapat perbaca olehnya.
"Ada kala nya suami itu tegas menentukan pilihan, bukan hanya bisa ngomong terserah. Karena itu memang tugasnya seorang suami" gerutu Umi.
"Benar memang. Tapi mi ingat, aku menikahi mu bukan untuk mengatur jalan hidup mu. Jika kamu masih mampu membagi waktu antara keluarga dan kerja, aku no problem. Jika menurut mu, kamu tidak mampu. Lebih baik dirumah saja. Temani mama mu sayang" jelas Hans. Dikecupnya sayang kening Umi.
"Bener ya, tapi kalau aku minta uang dikasih gak?" Todong Umi. Dia tidak ingin munafik, semua manusia pasti butuh uang untuk membeli kebutuhannya. Begitu juga dirinya. Apalagi Umi suka sekali berbelanja untuk menghilangkan kepusingannya.
Hans tertawa mengejek kepada Umi, "kamu pikir aku gak mampu kasih makan kamu?"
"Kan siapa tau Hans.."
Melihat Umi yang sudah sibuk kembali dengan hijabnya, Hans memanggil Umi.. "Mi.."
"Iya Hans"
"Apa gak bisa kamu panggil aku jangan Hans saja. Tapi abang Hans"
Umi sekuat tenaga menahan tawa nya. Dia merasa sangat lucu memanggil Hans dengan abang. Lidahnya terasa kaku ingin mengucapkan kata itu. Apalagi dikarenakan keluarga Umi merupakan keluarga yang berasa dari daerah Jawa. Di Jawa semua orang memanggil pria dengan panggilan mas.
"Kenapa? Aneh ya? Aku kan bukan orang jawa mi. Jangan panggil aku mas. Kamu juga kan udah punya mas Fatah sama mas Imam"
"Bilang aja pengen beda sendiri" cibir Umi.
"Bukan pengen beda sendiri. Tapi..."
"Iya, iya. Abang Hans. Udah denger kan aku panggil abang"
Wajah Hans mendadak bahagia mendengar Umi memanggilnya abang. Selama ini berteman dengan Umi baru kali ini dia merasa berbeda. 'Abang' hanya panggilan sederhana namun bisa membuat hati Hans berdebar tak karuan.
Apa dia jatuh cinta lagi? Jatuh cinta yang kesekian kalinya pada Umi?
"Bahagia banget sih. Kenapa?" Umi mendadak curiga, dia takut Hans akan masuk rumah sakit jiwa.
"Pasti bahagia dong. Pagi-pagi ditemani istri cantik.." goda Hans. "Yuk kemeja makan, mereka pasti udah nunggu"
"Abang semalam gak minum yang dibuatin mama ya?"
"Oh iya aku lupa mi. Karena terlalu lelah lupa segalanya" keluh Hans. Tanpa ragu dia meminumnya dengan cepat. Hingga tak ada sisa gelas yang cukup besar itu.
"Enak?" Tanya Umi ragu.
"Lumayan lah. Rasa gingseng" jujur Hans.Umi yang awalnya berpikir itu minuman aneh-aneh menjadi bingung karena tidak terjadi apa-apa dengan Hans. Mungkin Umi salah presepsi kebaikan mama nya. Mana mungkin mamanya melakukan hal aneh pada Hans.
"Pagi semua..." sapa Umi pada keluarganya. Mama yang sedang sibuk melayani papa menyunggingkan senyum anehnya. "Gimana mi? Nikah enakkan?" Goda mama.
"So far so good" jawab Umi. Dia dengan sigap sudah melayani Hans dengan baik. "Abang mau ayam gak?"
"Boleh..."
"Abang?" Mama mengulang kata abang dengan tatapan menilai raut wajah Umi.
"Iya abang ma, kenapa?"
"Kamu buat dia berubah dalam satu malam Hans. Good job" ucap Fatah tak percaya.
"Aku gak melakukan apa-apa. Hanya saja..
"Sudah-sudah mama kok jadi inget masa muda mama kalau begini" goda mama sambal melirik kearah papa.
"Aduh ma, pagi-pagi jangan mulai berkutbah deh" perdebatan seperti ini akan menjadi makanan sehari-hari Hans.
"Hus, Umi. Jangan begitu sama mama mu" tegas papa. "Kamu baru akan menyesal kalau udah gak ada mama nantinya" sambung papa.
"Kok papa doain mama sih?" Kesal Umi.
"Mi, mama itu bisa mengantikan siapapun, tapi mama tidak bisa digantikan oleh apapun. Contohnya begini, dulu ada anak kecil yang kesal mendengar nasihat ibunya agar tidak begini begitu. Kamu tahu sendiri kan, anak kecil itu semakin dilarang, dia akan semakin menjadi. Yang anak itu lakukan bermain dengan ayahnya tanpa menghiraukan ibunya. Bahkan dia merasa benci dengan semua ucapan ibunya itu. Namun, saat ibu tidak ada dia akan datang kepada ayah. Bukan untuk bermain melainkan dia akan bertanya dimana ibu. Karena dia baru saja sadar, tanpa ibu dia bukan apa-apa. Ibu bisa membuat anak itu bahagia, menangis, marah, dan hal yang paling menyakitkan adalah membenci ibu. Jadi ingat-ingatlah masa ini, kelak kau akan merasa kehilangan akan moment ini. Percayalah.." jelas papa.
Mendengar hal itu Umi lebih memilih bungkam. Semua yang dikatakan papa memang benar. Cinta seorang ibu kepada anaknya seperti angka 0/1 sama saja tidak bisa terdefinisikian. Sedangkan cinta anak kepada ibu adalah 1 atau sebuah garis lurus. Kedua ujung garis itu bukan menjadi tarik menarik, melainkan menjadi saling mengendurkan hingga tak terlihat lagi angka satunya alias nihil.
"Maafin Umi ma..." lirih Umi.
Tangan Umi yang berada diatas meja, digenggam erat oleh Hans. Dia seperti tau apa yang Umi tengah rasakan saat ini. Bagi Hans, Umi hanya sosok perempuan yang penuh kepalsuaan. Umi bisa tersenyum dan tertawa bahagia, tapi tidak tahu hatinya seperti apa.
Umi membalas genggaman tangan Hans. Lalu ditatapnya wajah Hans yang tersenyum menenangkan bagi Umi. Dari kedipan mata Hans, dia seperti berbicara pada Umi bahwa semua akan baik-baik saja.
"Sudah, pagi-pagi jadi adegan sedih begini" ucap Fatah memecah kebisuan pagi. "Hans, kamu gak ada rencana pindah kan sama Umi?" Sambung Fatah.
"Untuk saat ini belum mas, saya gak mau langsung pisahin Umi dari mama" senyumnya pada semua. "Umi juga masih harus belajar gimana menjadi istri yang baik" Bibir Umi mencibir pada Hans karena tidak suka dengan kata-kata Hans.
"Benar itu Hans" ucap papa.
"Kamu tenang aja Hans, nanti Umi mama ajarin semuanya"
"Ih, mama. Mau ngajarin Umi apa sih? Jangan aneh-aneh deh..." alarm bahaya didiri Umi berbunyi. Dia sudah bersiaga jika mama nya ingin mengubahnya jadi istri yang aneh untuk Hans.
"Oh iya. Semalam kamu minum kan Hans yang mama bawain?" Tanya mama yang tiba-tiba saja ingat.
"Iya minum ma" jawab Hans santai sambil menyuap makanannya. "Tapi minumnya baru tadi pagi" lanjutnya.
"Kamu minum pagi ini?"
"Iya ma, emang kenapa sih kalau Hans minum pagi ini?" Umi kembali curiga melihat reaksi berlebihan mama.
"Gak.. gak papa..." Hans menatap mama mertuanya sekilas, lalu melihat Umi yang duduk disampingnya.
"Emang minuman apa ma?" Tanya Sabrin.
"Cuma minuman penjaga stamina" Fatah yang langsung mengerti arah pembicaraan mama menatap Hans iba. Dia tahu akan seperti apa yang Hans rasakan nanti.
"Tapi enak ma.." jawab Hans jujur.
"Stamina untuk apa ma? Kok mama gak buatin mas Fatah?" Sabrin menjadi bingung mengapa hanya Hans yang dibuatkan mama.
"Aku kan udah kebukti bu staminanya..." goda Fatah.
"Tapi kan mas, kamu sering lembur, terus kurang tidur. Butuh stamina lebih juga kan?" Protes Sabrin.
"Iya, nanti malam mama buatin untuk Hans, Fatah sama papa juga" jelas mama.
"Itu baru adil..." gumam Umi. Setelah selesai makan, Umi melihat wajah Hans yang memerah seperti orang terkena demam tinggi.
"Abang sakit?" Ditempelkan punggung tangan Umi dikening Hans. "Gak usah kerja kalau gitu"
"Aku gak papa sayang. Ayo kita berangkat"
"Nanti kalau sakit hubungi aku ya" Umi terlihat khawatir dengan kondisi Hans saat ini.
"Iya sayang. Lagi juga aku mau ke kantornya mas Imam" jelas Hans
"Ngapain kamu kesana?" Tanya Umi curiga. Dia tidak ingin Imam mengajarkan hal buruk pada Hans. Mengingat reputasi pernikahan Imam lah yang paling buruk, membuat Umi waspada dengan pernikahannya.
"Mas Imam mau kerja sama lagi" jelasnya singkat.
Selama perjalanan tidak ada yang memulai pembicaraan. Mungkin Umi dan Hans sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing. Dan tidak ada yang berani mengucapkan kepada satu sama lain.
"Nanti aku jemput jam berapa?" Tanya Hans saat sampai didepan kantor Umi.
"Jam 4 ya.." jawab Umi. Diciumnya punggung tangan Hans dengan ikhlas dan sayang. Lalu Hans tak lupa mencium kening Umi. Satu kata yang bisa Umi katakan saat ini adalah bahagia. Memang benar kata orang, jika melakukan apapun bersama seseorang yang dikasihi akan terasa menyenangkan. Jadi dia bersyukur kepada Tuhan telah mengijinkannya bahagia dengan cara yang halal.
Setelah mengantar Umi, Hans langsung membawa mobilnya kearah kantor Imam. Sebenarnya dia merasa tidak enak badan pagi ini. Tubuhnya terasa panas dari dalam hingga mengeluarkan keringat dingin. Hans berpikir dia terlalu lelah karena pernikahannya kemarin ini. Dan hari ini dia langsung masuk kerja tanpa cuti. Karena memang sejak awal keputusan ini yang dibuat olehnya dan papa Hans. Tidak ada cuti setelah menikah, karena perusahaannya memang membutuhkan sosok Hans.
"Sial....." geram Hans. Kedua tangannya mencengkram kemudi dengan keras. Hans merasa ada yang aneh dalam tubuhnya tapi dia tidak tahu apa itu. Yang jelas saat ini dia merasa sangat panas dalam tubuhnya.
"Aku butuh seseorang...." kesal Hans.
Jemari tangannya dengan cepat menekan kombinasi nomor pada ponselnya.
"Halo..."
"Aku ketempat mu sekarang...." dimatikannya dengan cepat sambungan telepon itu. Mobil Hans yang tadinya mengarah pada kantor Imam, diputar balik menuju arah sebaliknya.
Hans berpikir, biarlah ini yang terakhir Hans berbohong pada Umi. Karena untuk kedepannya Hans akan mencoba jujur tetang apapun pada Umi yang sudah berstatus sebagai istrinya saat ini.
Berbohong bukan berarti tak mencintai, namun berbohong mengartikan agar cinta tak melukai siapapun_ Hans.
----
Continue