Tidak terasa waktu semakin cepat berlalu. Persiapan pernikahan Davira dan Willy pun sudah hampir selesai.
Benar yang diperkirakan Icha dan Naena, banyak sekali wartawan yang bulak-balik datang sejak seminggu lalu ke Balai Sabrina. Sekedar untuk meliput persiapan pernikahan ini.
Pagi ini Bianca sedang meeting bersama tim yang akan bertugas minggu ini di pernikahan Davira. Bianca tidak ingin ada kekurangan apapun. Karena banyak wartawan yang meliput.
"Oke, saya ingin kita semua fokus. Ini memang bukan yang pertama untuk kita. Tetapi acara kali ini akan banyak sekali wartawan. Kita harus membuat Bianca Management menjadi lebih terkenal lagi. Bukan karena kita pansos, tetapi karena kualitas dan service dari kita semua. Saya yakin kalian semua pasti bisa memberikan yang terbaik untuk BM. Semangat untuk kita semua" ucap Bianca dengan tegas dan semangat.
"Semangat" ucap seluruh tim yang hadir diruang meeting.
Tim dekorasi sudah bersiap ke Hotel Sabrina untuk memasang dekorasi disana.
Naena bersama sepuluh orang timnya merapikan barang-barang dan gaun yang akan dipakai oleh calon pengantin dan keluarganya.
Nathan dan 20 orang tim catering juga menyiapakn peralatan dan seluruh bahan masakan untuk dibawa ke hotel.
Bianca memanggil Damara untuk ke ruangannya. Damara adalah salah satu MC di pernikahan Davira nanti. Damara adalah MC terbaik disini. Bianca yakin Damara sudah menyiapakan naskah dengan baik.
"Untuk nama penghulu, saksi, pemberi sambutan apakah semua sudah ada lengkap dengan gelarnya?" tanya Bianca.
"Sudah Mbak. Susunannya juga sesuai dengan permintaan Mbak Davira" jawab Damara.
"Boleh lihat susunan acara yang dia minta" pinta Bianca.
"Ini Mbak" ucap Damara memberikan selembar kertas yang minggu lalu Davira berikan padanya.
"Jadi dia minta sesi foto bersama teman-teman SMA lebih awal" ucap Bianca ketika melihat daftar susunan acara yang diminta Davira. Damara pun menganggukkan kepalanya.
"Tidak bisa. Setelah akad harus foto keluarga dulu. Setelah sesi foto keluarga baru bisa foto bersama dengan teman-temannya" ucap Bianca tidak suka karena Davira mencoba mengatur susunan acaranya dua minggu sebelum pernikahan. Padahal Bianca sudah katakan akan mengatur semuanya dan tidak terima perubahan satu bulan sebelum acara.
"Tapi Mbak" ucap Damara bingung.
"Ganti. Aku tidak mau ada sambutan teman SMA, memang ini acara reuni. Ini acara akad nikah. Dan apa ini meminta waktu khusus untuk sebelum akad untuk penampilan penyanyi. Tidak bisakah dia mengerti ini acara akad nikah yang saklar bukan acara pentas seni. Apa-apaan ini. Masukkan semuanya di acara resepsi, jangan diacara akad nikah" titah Bianca menggelengkan kepalanya.
"Baik Mba" ucap Damara mengambil kertasnya.
Damara pun keluar dari ruangan Bianca. Bianca tak habis pikir dengan jalan pikiran Davira. Bianca membuka laptopnya, dia membuka beberapa email. Wajahnya berubah sedikit sedih. Dia lupa dia memberikan setengah harga untuk acara besar ini. Sehingga resikonya dia harus menanggung setengahnya.
Ya, kalau di bilang Bianca tidak mendapatkan keuntungan kali ini. Karena dia juga harus membayar seluruh timnya yang terlibat dalam acara ini. Bianca menutup wajahnya. Harusnya dia tidak gegabah seperti ini. Untuk mendirikan WO ini saja dia menggunakan pinjaman Bank dan masih berjalan 3 tahun mendatang.
Bianca mencoba mengambil ponselnya. Dia menghubungi Icha untuk datang ke ruangannya. Tak butuh waktu lama Icha datang membawa laporan yang Bianca minta. Icha duduk di depan meja Bianca dan memberikan laporan keuangan yang Bianca minta.
"Cha, bulan ini kita sedikit banyak pengeluaran ya?" tanya Bianca melihat jumlah pengeluaran yang begitu banyak. Apalagi untuk pernikahan Davira dan WIlly yang memakan buget yang tidak sedikit.
"Harusnya, Loe jangan memberikan setengah harga" ucap Icha dengan nada takut Bianca tersinggung.
"Iya. gue salah. Gue kira dia tidak akan setuju. Ya, semoga bulan depan kita lebih banyak mendaptkan clien" ucap Bianca pasrah.
"Pasti Bii. Bulan depan Alice akan melunasi pernikahannya. Dan Dewi mau membayar uang mukanya" ucap Icha memberikan secercah harapan.
"Cha, untuk bulan ini berapa kekurangan untuk bonus dan gaji karyawan kita?" tanya Bianca.
"Sekitar 50 juta Bii. Karena Tim yang ikut kali ini lebih banyak dari biasanya. Bahan untuk gaun pernikahan kemarin baru dilunasi. Untuk Tiara yang nanti digunakan pun besok harus kita bayar" jelas Icha.
"Baiklah. Lunasi Tiaranya. Jangan sampai ada pembiyaaan yang tertunda" ucap Bianca.
Icha menganggukkan kepalanya. Lalu dia kembali ke ruangannya. Bianca memijit keningnya. Dia harus bisa mendapatkan uang 50 juta untuk menutupi pengeluarannya bulan ini. Dia tidak mungkin meminta kepada orang tuanya sebesar itu. Bianca berpikir keras.
Drrrrt Drrrt
Bunyi ponsel mengagetkan Bianca. Bianca pun membuang nafasnya. Lalu dia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya sekarang.
"Hallo, Dimas" ucap Bianca ternyata Dimas yang menghubunginya.
"Bii, mobil kamu sudah ada yang mau meminangnya"
Seketika ucapan Dimas menjadi angin segar untuknya saat ini. Mobil bututnya itu menjadi penolong dirinya saat ini.
"Alhamdulillah. Oke. Tolong kamu urus semuanya ya"
"Oke. Lalu kamu jadi mau membeli Mini Cooper?"
"Dim, sepertinya tidak untuk saat ini aku membeli mobil baru"
"Baiklah. Dua hari lagi kamu bisa datang untuk tanda tangan suraat-suratnya ke kantorku ya"
"Oke" ucap Bianca mengakhiri teleponnya dengan Dimas.
Bianca bisa bernafas lega. Biarlah untuk saat ini dia tidak perlu menggunakan mobil. Transportasi umum sudah banyak saat ini. Bianca pun kembali ke aktifitasnya siang hari ini.
Bianca senang sekali setelah selesai menandatangani semua surat-surat penjualan mobilnya. Saat ini dia sedang berjalan keluar dari kantor Dimas. Bianca menyusuri jalanan sendirian. Dia hendak mencari taksi disekitar sini. Tapi lebih baik Bianca membeli kue untuk Naena dan Icha.
Bianca pun menyusuri jalanan karena tidak jauh dari kantor Dimas ada toko kue yang sangat terkenal dan rasanya sudah pasti enak. Lima menit Bianca berjalan kini dia sudah memasuki toko kue yang sangat ramai siang hari ini.
Bianca melihat etalase yang berjejer beraneka macam cake yang terlihat lezat. Perut Bianca sepertinya tidak bisa diajak kompromi untuk saat ini. Lidahnya sudah tidak sabar untuk menikmati cake dengan balutan krim karamel.
Akhirnya setelah antrian kelima Bianca sudah di depan kasir. Bianca memilih sepotong cake caramel dan kopi Americano untuk makan di tempat. Dan memesan cake strawberry untuk Naena, cake coklat untuk Icha.
Bianca sedikit menyesal karena Icha dan Naena sibuk mengurusi acara pernikahan itu. Andai saja Icha dan Naena ada saat ini pasti mereka bisa menikmati cake bersama. Bianca pun menaiki tangga menuju lantai dua dengan membawa nampan yang berisi pesanannya.
Bianca melihat ternyata cukup ramai juga diatas sini. Bianca pun melihat ke pojok. Disana ada bangku kosong. Bianca pun melangkah menuju bangku kosong itu. Bianca meletakan nampan berisi cake karamel dan minumannya. Lalu dia duduk di sofa bewarna coklat.
Bianca sudah tidak sabar menikmati makanannya saat ini. Bianca pun mengambil sendol kecil dan mulai memotong cake-nya. lalu Bianca memasukkan ke dalam mulutnya. Nikmat itu yang Bianca rasakan. Apalagi dari pojok Bianca bisa memandang ke luar jendela.
Bianca terus menikmati cake-nya hingga sudah tidak bersisa lagi di piringanya. Tanpa Bianca sadari pengunjung di sini sudah sepi dengan begitu cepat. Bianca punt tidak berpikir macam-macam. Ya mungkin saja waktu makan siang sudah selesai dan para pengunjung sudah harus kembali ke kantornya.
Apalagi Bianca juga masih dapat melihat dua orang masih duduk di pojok kiri sebelahnya. Bianca menyeruput kopinya. Sepertinya dia juga harus segera pergi dari sini. Bianca pun berdiri. Baru saja dia hendak melangkah, Bianca menghentikan langkahnya melihat dua orang yang masih di pojok sana.
"Davira" ucapnya pelan tak percaya.
Bianca pun melangkah dengan cepat, lebih baik dia tidak melihat dua orang yang membelakanginya itu. Bianca dengan sedikit berlari menuruni anak tangga dangan hati yang terkejut. Bagaimana dia tidak terkejut, Bianca melihat Davira berciuman dengan seorang pria dan Bianca akui itu bukanlah Willy.
Bianca pun mengambil pesanan kue yang dia beli untuk Icha dan Naena di kasir. Lalu dia melangkah cepat keluar dari toko itu. Baru saja dua langkah Bianca keluar dari pintu tiga orang berbaju hitam langsung masuk dengan terburu-buru. Tanpa peduli apapun yang terjadi, Bianca mempercepat langkahnya.
Bruuk
"Auuuw" jerit Bianca yang terjatuh karena menubruk seseorang.
"Kalau berjalan perhatikan langkahmu" ucap seorang pria dengan ketus.
Bianca pun sangat mengenal suara pria ini. Dan benar saja saat Bianca menatap pria itu adalah Willy. Tanpa berkata lagi Willy segera pergi meninggalkan Bianca dan masuk ke dalam toko kue itu.
"Ya Tuhan. cake-nya" ucap Bianca terkejut menatap kuenya jatuh ke aspal.
"HEi" teriak Bianca ke arah Willy.
Sayangnya Willy tidak mendengarnya dan sudah masuk ke dalam toko itu. Bianca berdiri dan hendak masuk kembali kesana. Tetapi dia mengurungkan niatnya tiba-tiba. Apalagi Bianca melihat tiga orang berbaju hitam tadi sedang berjaga di luar pintu seperti melarang seorang pun masuk kesana.
"Davira"
Terlintas dipikiran Bianca. Bianca menutup mulutnya tak percaya. Pasti Willy sedang melabrak Davira dan pria yang Bianca tahu itu adalah Jason. Bianca pun masih menatap ke dalam toko itu. Dia benar-benar tak percaya. Bianca tidak dapat memikirkan apa yang akan terjadi pada Willy jika melihat apa yang Bianca lihat tadi.
Dengan cepat Bianca lebih memilih meninggalkan toko itu. Walau di dalam hatinya dia ingin sekali tahu apa yang terjadi disana. Rasa penasaran itu sangat besar, untung saja logika Bianca lebih dominan saat ini. Dan dia lebih memilih tidak ingin mencampuri masalah orang lain.
Jika mengingat aura menyeramkan Willy tadi Bianca sedikit merasa takut. Willy terlihat sangat marah. Bianca menelan salivanya dan menggelengkan kepalanya berkali-kali ketika membayangkan apa yang akan terjadi pada Davira dengan kemarahan Willy itu.
Bianca pun dengan cepat memanggil taksi yang melewatinya dan segera naik. Sebelum taksi itu melaju Bianca sempat menoleh kebelakang ke arah toko kue itu. Bianca memejamkan matanya, dia baru sadar kenapa pula dia harus memikirkan masalah mereka.